
"Mas mau ke manaaaahh?" tanya Kanaya yang baru bangun tidur dan menguap -lantaran melihat sang suami telah berpakaian rapi. Dia yang masih mengantuk, makin merapat dan memeluk gulingnya. Tetapi tetap berjuang agar tak terlelap kembali, dengan sesekali mengedipkan matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang masuk menerobos dari jendela besar kamar yang telah disingkap gordennya.
"Kampus," jawab Adhi singkat sembari menyisir rambutnya dan memakaikan gel.
Kanaya segera beranjak dari tempat tidur dan menghampiri sang Suami, lalu dia berjinjit untuk menggapai kening Suaminya. "Mas masih anget juga!" tuduhnya.
"Udah mendingan kok, Neng."
"Gak, pokoknya Mas hari ini belum boleh ke kampus -masih harus istirahat!" titah Kanaya.
"Kelas Mas hari ini full, loh … masa gak ngajar seharian. Terus bimbingan juga banyak," dalih Adhi.
"Nah!! Justru karena itu, Eneng makin gak ngijinin Mas pergi. Masa gitu aja, Mas gak ngerti," omel Kanaya. "Kalo belum pulih bener, gimana bisa nge -handle kerjaan yang segitu banyaknya?"
Adhi yang sudah siap-siap hendak berangkat ke kampus, namun dia dicegah dan tidak bisa masuk mengajar hari ini -dia menanggalkan kembali setelan kemejanya. Ucapan sang istri tak mampu dia bantah, selain karena benar … itu juga untuk kepentingan dirinya sendiri guna memulihkan kesehatan.
Akhirnya sebagai pemberitahuan, dia mengirim pesan pada setiap ketua kelas di jadwalnya mengajar hari ini dan termasuk membatalkan bimbingan skripsi.
"Udah sarapan belom?" tanya Kanaya sebelum dia masuk ke kamar mandi hendak membasuh wajahnya.
"Belum."
"Bener-bener deh, Mas … kamu mau masuk UGD ya?" geram Kanaya.
"Gak sampe segitunya kali, Neng."
Braakkk!!
Kanaya menutup keras pintu kamar mandi saat dia masuk dan tak bicara apapun.
o
o
o
Adhi menyantap sarapannya dengan lambat lantaran sering kali melirik ke arah wajah gadis di seberang meja makan. Wajah istrinya itu, belum berubah setiap kali dia memperhatikannya -bahkan saat mengunyah makanan masih memasang wajah cemberut. Belum lagi situasi yang sangat hening, hingga dia mendengar helaan nafas gadis itu.
Sruukk …
Kanaya mendorong kursinya dan beranjak bangun untuk mencuci piring yang telah dia pakai dan menaruh kembali di rak setelah bersih. "Kalo udah selesai sarapannya, mending Mas istirahat. Terus kalo ada perlu apa-apa, langsung panggil aku aja. Eneng ada di kamar sebelah, mau ngerjain skripsi," ucap Kanaya sebelum meninggal dapur.
"Neng, kamu marah sama Mas?"
"Iya," jawab Kanaya singkat tanpa bicara lainnya, yang membuat Adhi tak bisa berkutik.
Bahkan sampai menjelang makan malam pun, sang Istri masih mendiaminya. Tetapi tentu saja Adhi tak mau berada dalam situasi tersebut terlalu lama, dia akan mengupayakan berbagai cara untuk membujuk dan berbaikan dengan istrinya.
o o o x o o o
Pasangan tersebut sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam, mereka melakukannya bersama -meski sang pria hanya sebagai pembantu saja. Namun di tengah kegiatan mereka, lampu tiba-tiba padam dan menghentikan pergerakan mereka.
"Biar aku ambil lilin dulu," ucap si Pria sigap dan segera pergi untuk mencari penerangan. Sementara sang gadis masih menunggu di tempatnya dan dia mematikan kompor.
Tak lama pria itu kembali ke dapur, namun alih-alih lilin, dia membawa lampu belajar dan meletakannya di atas meja makan. Lalu setelah mendapatkan kembali penerangan, sang gadis menghidupkan kompor lagi dan lanjut memasak.
"Nanti aja lagi masaknya, kalau lampu sudah menyala lagi." Tahan si Pria sembari mematikan kompor dari belakang tubuh sang gadis.
"Tadi katanya udah laper!" seru sang gadis protes dan berbalik menghadap si pria. "Kalo nunggu sampe lampu nyala, kapan makannya?"
"Kalo sekarang aku makan kamu dulu, gimana?"
Si gadis meliukkan alisnya ketika mendengar ucapan tersebut dari prianya, namun tanpa disangka … dia mendapat kejutan singkat dengan mendaratnya bantalan kenyal di bibirnya. Seketika kerja otak dan saraf tubuhnya seperti terputus, hingga tak mampu bergerak.
Sementara itu, melihat pasangannya mematung di tempat -hal itu semakin membuat si pria gemas dan ingin lebih menggodanya.
Lantas dia mengangkat sang gadis dan mendudukkannya di atas meja makan dan berdiri di hadapan, lalu dia langsung saja melahap makanan pembukaannya -bibir ranum milik sang gadis dengan rakus. Sesekali dia menekan tengkuk gadis tersebut untuknya agar lebih mudah menjelajah.
Sementara kaki si gadis yang menggantung di sisi meja, dia melingkarkannya di pinggang sang pria dan merapatkan tubuh mereka. Bahkan tangannya kini ikut bermain di kepala pasangannya dan menyisir tiap helaian rambut pendeknya.
Ciuman mereka semakin intens, sampai sang pria mendorong tubuh gadisnya berbaring di permukaan keras meja makan.
"Mau coba di dapur?" tanya sang Pria.
Sebuah gelengan lemah dan dada yang tampak naik turun sebagai penolakan sang gadis. "Badan aku nanti sakit," jawabnya.
Mengerti kesusahan pasangannya, si pria menggendong gadisnya di bagian depan tubuhnya dan berjalan untuk berpindah ke kamar mereka -sembari itu dia kembali memagut bibir mereka. Sementara itu sang gadis tak melepaskan lingkaran kaki di pinggang dan kalungan lengannya di leher sang pria sembari membalaskan ciumannya.
Meskipun tak memperhatikan jalan atau bahkan tanpa penerangan karena terlalu sibuk dengan aktivitas mereka, tetapi sang pria berhasil mendaratkan tubuh mereka dengan aman di atas ranjang -tanpa harus melepas kontak di bibir mereka.
Namun anehnya, entah kenapa sejak masuk ke kamar -atmosfernya menjadi semakin panas. Hingga dia terpaksa berhenti sejenak untuk melepaskan pakaian bagian atasnya yang mempertontonkan otot perut dan dada bidangnya. Tetapi setelah itu, dia tak menyia-nyiakan waktu dan kembali menyalurkan hasrat membaranya.
Di sisi lain, ada seorang gadis lainnya yang memperhatikan mereka dengan tatapan serius penuh debaran dan sangking hanyutnya pada adegan tersebut -dia tak menyadari ada seseorang orang masuk di ruangan yang sama dengannya dan menghampirinya.
"Neng, ngapain?"
Rasanya gadis itu seperti tertangkap basah saat melakukan sesuatu yang terlarang, dia lantas segera bertindak untuk menyembunyikan barang bukti kejahatannya.
Dreebb!!
Kanaya menutup layar laptopnya dengan cepat. Sementara sang suami yang tiba-tiba muncul, dia menatap penuh tanya padanya. Tetapi tak ada sepatah kata yang keluar, melainkan Suaminya itu langsung mengambil laptopnya.
"Mas ngapain? Aku lagi ngerjain skripsi," ujar Kanaya gelagapan dan beranjak naik ke atas sofa yang sebelumnya dia duduki untuk menggapai laptopnya.
"Ihhh~ itu tuh gak ada apa-apanya, Mas!!" elak Kanaya membela diri.
"Tapi masa kamu masih nonton beginian, udah nikah sama punya suami juga," ucap Adhi yang tak dapat Kanaya pahami maksud.
"Apa?"
"Emang sama Mas, masih kurang?" tanya Adhi dan mengurung Kanaya diantara dua lengannya.
Grep!!
Kanaya menahan tangan Suaminya. "Mas, aku lagi pusing dan gak mood," ujar Kanaya dingin. "Dan aku masih marah ya, sama Mas."
"Maaf," sesal Adhi segera. "Jadi Eneng masih marah sama Mas dari tadi pagi? Tapi kan, Mas udah nurut gak pergi ngajar ke kampus hari ini dan istirahat seharian."
"Mas tau gak, apa yang dibilangin sama Ibunya Mas pas Eneng telepon semalam dan gimana khawatirannya Eneng setelah itu sampe gak bisa tidur?" tanya kanaya lirih.
Adhi menggeleng pelan.
"Ibu bilang, Mas pernah kena Tipes komplikasi dan sampe harus di operasi," tutur Kanaya seakan nafasnya tercekat. "Aku takut banget semalam itu, takut kalo Mas kenapa-napa. Jadi sepanjang malam, aku terus kompresin sambil ngecek suhu tubuh Mas."
"Ya Allah~ Neng, maafin Mas." Adhi memeluk Kanaya seraya untuk menenangkan Istrinya. Lalu beberapa kecupan dia berikan juga sebagai rasa terima kasih dan sayangnya.
"Kalo Mas beneran minta maaf, janji jangan sampe ngeporsir kerja."
"Iya, Mas janji … janji bukan cuman untuk diri Mas sendiri, tapi juga kamu biar gak khawatir," jawab Adhi.
"Ya udah, kalo gitu, sekarang Mas tidur!" titah Kanaya.
"Terus Eneng?" tanya Adhi yang melihat Istrinya tak ikut beranjak.
"Revisian Skripsi aku belum kelar, nanti kena marah Dosen kalo kelamaan setor bimbingannya," jawab Kanaya dan menunjukan hamparan buku dan jurnal yang berserakan memenuhi hampir seluruh ruang Studi.
"Siapa sih Dosen Pembimbingnya?" balas Adhi menimpali keluhan sang istri. "Lagian kata Eneng, kerja jangan diporsir," ucapnya kini membalik ucapan Kanaya.
"Kalo aku tunda-tunda, nanti keburu ilang moodnya dan gak kelar."
"Terus tadi ngapain pake nonton?Malah buang-buang waktu."
"Ngilangin suntuk," jawab Kanaya singkat. "Udah deh, Mas … istrirahat!!"
"Gak mau sendiri," dalih Adhi. "Kamu bawa aja revisian kamu ke kamar, barang kali nanti ada yang mau tanyain."
Ya ampun~ Suaminya kalo lagi sakit, lebih-lebih dari bocah manjanya.
Tetapi sebelum Kanaya bilang, Iya. Suaminya sudah mengangkut barangnya menuju kamar mereka. Dan ternyata benar, Kanaya beberapa kali bertanya pada sang Suami perihal skripsinya. Hanya saja tak ada yang gratis, sebagai bayarannya Kanaya harus mencium Suaminya lebih dulu sebelum mendengar jawabannya.
Dasar modus!!
Apa ini yang dinamakan bimbingan skripsi plus-plus??
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Kanaya, itu yakin bimbingannya lancar?
x x x x x
Part ini terinspirasi dari aku yang terciduk sama Bokap pas nonton Drama Korea ada Kissing scene. And that time, I'm freezing!!
Wkwkwk
o x o x o x o x o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~