
Kanaya sengaja minta pergi lebih pagi ke kampus, alasannya? Tentu saja menghindari perhatian publik karena hari ini perdana dia berangkat bersama sang Dosen/Suami. Itu pun dia harus dipaksa dulu, karena sebelumnya Kanaya memilih untuk pergi dengan Ojek saja.
"Kenapa gak naik motor aja sih, Mas? Kan jalannya bisa nyalip-nyalip, jadi lebih cepet nyampe," protes Kanaya lantaran mereka sempat terjebak macet. "Kalo kebijakan Three in One masih berlaku, Mas bisa kena tilang. Boros jalan! Padahal penumpangnya cuman dua," tambahnya mengompori.
"Kalau kamu tanya kenapa Mas gak naik motor aja; pertama, gak punya motor. Terus nanti gampang kena polusi dan baju juga bau asap," dalih Adhi. "Lagian Mas level pengendara F1, bukan MotoGP," imbuhnya menyombong.
Kanaya mendengus. "Gak salah sih, malam itu juga Mas bawa motornya kayak Keong -malah anak SD lebih lancar naik motornya dari Mas. Tapi masa cuman karena alasan itu? Mas kebeli mobil sama apartemen, masa motor yang harganya lebih murah gak bisa beli! Lagian kalo takut polusi sama baju bau, bisa pake masker sama jaket."
"Ya~ terserah Eneng mau komentarin segimana buruknya Mas bawa motor, Mas gak bakal ngelak -toh emang gak bisa," aku Adhi.
Kanaya langsung menatap sang Dosen/Suami yang sedang duduk menyetir. Itu fakta mengejutkan baru lainnya, setelah ngaku takut Kecoa. "Boong kali!!" Kanaya tidak percaya.
"Iya. Mas susah seimbang kalo naik kendaraan roda dua, malah naik sepeda juga susah."
"Parah juga ya, ternyata. Tapi emang berasa kaku banget sih, pas malam itu Mas bawa motor," komentar Kanaya dan berdecak. "Tapi tenang aja Mas, kalo Mas mau belajar naik motor -nanti Eneng ajarin."
"Kamu bisa naik motor?" tanya Adhi kali ini yang tidak percaya.
"Seenggaknya masih lebih lancar dari Mas," ujar Kanaya ikut menyombong juga.
"Masa? Mas gak percaya, kalau belum liat buktinya," ucap Adhi meragukan sang Istri.
"Ya udah, Mas kapan mau aku ajak jalan-jalan naik motornya?" tanya Kanaya terdengar antusias.
"Ngapain repot-repot nunggu nanti, tunjukin aja sekarang buktinya," tantang Adhi.
Kanaya mengerutkan keningnya. Gimana caranya buktiin sekarang?
"Kalo kamu bisa bawa motor, seharusnya SIM punya dong," ujar Adhi.
Kanaya mendengus. "Gak punya -belum bikin," jawabnya cemberut.
"Wah~ Bandel ya!! Bisa kena razia polisi kamu nanti, Neng," balas Adhi.
"Lah~ Emang Mas sendiri punya SIM? Naik motor aja masih kagok gitu, mana bisa lolos tesnya," sahut Kanaya tak mau kalah.
Adhi berdecak. "Oke … kita impas ya, berarti?" ujarnya lantaran ingin mengakhiri perdebatan.
"Enggak lah, belom! Liat aja nanti Eneng buktiin, kalo Eneng beneran bisa bawa motor."
"Nah, terus kalau enggak bisa?" tanya Adhi meremehkan.
"Pasti bisa lah!! Gak mungkin, enggak," kukuh Kanaya.
"Kalau kamu gak bisa, kamu harus kabulin permintaan Mas."
"Emang aku Jin Teko?" balas Kanaya. "Tapi kalo aku beneran bisa, gantian Mas yang kabulin permintaan aku."
"Kamu mau apa?"
"Bantuin ngerjain skripsi," jawab Kanaya cepat.
"Kalau itu, gak bisa! Curang dong -gak adil, itu Nepotisme namanya. Mas kan, selain Suami
juga Dosen kamu. Ganti yang lain," tolak Adhi.
Kanaya tampak berpikir. "Ya udah, ajarin aku nyetir mobil."
"Buat apa kamu belajar nyetir mobil?"
"Kali aja, nanti aku dibutuhkan buat nyetir mobil. Siapa tau, Mas lagi capek atau ngantuk -jadi kan bisa gantian," dalih Kanaya. "Aku ajarin Mas juga dah, bawa motor," imbuhnya merayu.
"Mending minta ajarin sama yang sudah punya SIM aja, lebih aman dan terjamin," tolak Adhi.
"Gih dah, sana~ tapi janji Mas buat ngajarin aku nyetir mobil tetep harus ditepati ya, kalo Eneng bisa bawa motor lebih lancar dari Mas," kukuh Kanaya seraya menunjukan jari kelingkingnya.
"Oke," jawab Adhi dan menautkan jari kelingking mereka.
Akhirnya, tanpa terasa mereka sebentar lagi sampai di dekat kampus lantaran terus mengobrol sepanjang jalan.
"Eee~ Mas … stop-stop! Aku turun di sini aja," tahan Kanaya sebelum masuk ke kawasan kampus.
"Kamu mau ngapain turun di sini? Nanggung banget."
Kanaya menghela nafas. Masa dia harus jelasin lagi?
"Ya udah … nanti kalau kuliahnya sudah selesai, kabarin Mas -pulang bareng."
"Mas kan ada bimbingan, banyak pula -dua belas orang dan aku gak bimbingan hari ini," jawab Kanaya.
"Kalau begitu, kamu tunggu Mas."
"Enggak mau, mending aku pulang duluan. Nanti bisa rebahan atau gak, ngerjain skripsi," tolak Kanaya. "Lagian kan, Mas gak mau bantuin aku ngerjain skripsi," imbuhnya terdengar merajuk.
"Terserah Eneng aja lah," jawab Adhi pasrah.
Kanaya turun dari mobil. "Ya udah Mas, jalan sana."
"Gak salim dulu sama suami?" tanya Adhi dari dalam mobil yang jendelanya dia buka.
Kanaya kembali mendekat pada mobil, Adhi mengeluarkan tangannya melewati jendela mobil. Kanaya mencium punggung tangan sang Dosen/Suami, sementara itu Adhi mengecup puncak kepala gadis tersebut, lalu mengusapnya.
Hal tersebut wajar jika dilakukan oleh sesama keluarga atau pasangan, tetapi cukup untuk membuat salah paham bagi orang lain yang melihat -ditambah orang itu tak tahu hubungan mereka. Sementara itu, baik Kanaya dan Adhi tak tau, jika ada orang yang datang sama paginya dan tengah berdiri terpaku di belakang sembari menatap mereka dengan penuh curiga.
Adhi hanya duduk di mejanya sembari melihat berita pagi melalui ponselnya di Ruang Dosen yang hanya berisi dirinya seorang. Hah~ benar-benar, karena istrinya itu tak mau ketahuan sudah menikah dengannya.
Tak lama ada seorang dosen pria masuk, Pak Joko.
"Eh … Pak Adhi sudah datang duluan. Apa kabar Pak Adhi? Tumben sekali sudah datang, biasanya lima belas menit sebelum kelas mulai baru datang," sapa Pak Joko ketika melihat Adhi.
"Alhamdulillah, kabar saya baik Pak Joko. Bapak sendiri bagaimana?" balas Adhi sembari beranjak dari duduknya lalu menjabat tangan rekan sejawatnya.
"Kabar saya juga baik, Alhamdulillah," jawab Pak Joko dan menerima jabat tangan Adhi. Lalu tiba-tiba jempolnya mengusap jari Adhi -merasa ada yang aneh, Pak Joko membalik tangan Adhi dan menemukan sesuatu yang melingkar di jari manis. "Ada yang baru nih, Pak Adhi~ kapan dipasangnya?" tanya Pak Joko seraya menggodanya dengan alis yang dia gerak-gerakan naik/turun.
Adhi tersenyum kikuk, dirinya sudah ketahuan. Lalu dalam hati, diam-diam dia berucap maaf pada sang istri. "Oh … iya Pak Joko, masih baru," jawabnya sekenanya.
"Kok gak ngundang sih, Pak Adhi?" tanya Pak Joko terdengar seperti gerutuan.
"Maaf sebelumnya Pak Joko, bukan saya tidak mau mengundang. Tapi kami memang sengaja mengadakan Akad Nikah lebih dulu, karena untuk menyiapkan resepsinya perlu waktu yang lebih lama."
"Udah gak sabar ya, Pak Adhi?" goda Pak Joko sembari menyenggol bahu Adhi. "Ngomong-ngomong, istrinya orang mana memangnya? Sampai ditunda hajatannya."
"Bukan orang jauh kok, Pak Joko -masih orang sini."
"Masih orang sini? Saya kenal gak? Dosen atau mahasiswi?"
"Bisa dibilang seperti itu."
"Eyy~ Ya ampun, Pak Adhi! Susah banget tinggal ngomong aja. Jangan sampe nanti saya tanya ke Pak Dekan, nih."
"Bukan apa-apa Pak Joko, soalnya Istri saya itu masih kuliah -dia mahasiswi. Saya takutnya nanti perkuliahan dia terganggu dengan omongan orang tentang pernikahan kami, selain itu juga karena khawatir ada kecurigaan nepotisme -disangkanya nanti saya pilih kasih sama nilai," jelas Adhi.
"Baik Pak Adhi, saya paham kalau misalnya Pak Adhi belum bisa terbuka dengan pernikahannya. Saya turut bahagia dan mengucapkan selamat telah menempuh hidup baru, semoga jadi keluarga Sakinah Mawadah Warahmah," ucap Pak Joko dan mendoakannya. "Tapi Istrinya jangan kelamaan diumpetin ya, Pak Adhi. Terus jangan lupa undangannya ya, kalo ngadain resepsi," imbuhnya penuh guyon dan tertawa.
"Siap Pak Joko, insyaAllah akan segera saya umumkan," jawab Adhi dan sama tergelaknya.
"Dan satu lagi, kalau mau dirahasiain dulu … itu cincin nikahnya disimpen dong -jangan dipamerin," ingatkan Pak Joko.
"Ya ampun~ iya, ya! Terima kasih Pak Joko," ujar Adhi dan melepas cincin pernikahan.
"Taruh di tempat yang benar dan aman, Pak Adhi! Hati-hati, kalau ilang nanti istrinya ngambek loh~ Bahaya, nanti gak dikasih jatah."
Adhi geleng-geleng kepala mendengar bercandaan Pak Joko, tapi sebenarnya dia juga membenarkan ucapan tersebut.
Adhi mengeluarkan dompetnya dari saku celana, dia berniat menaruh cincinnya di bagian tempat uang koin. Namun saat dia membuka dompetnya, foto pernikahan mereka terpasang di sana -Adhi segera menutup dompetnya sebelum dilihat oleh Pak Joko.
Ya ampun~ taruh di mana ya?
Adhi mengeluarkan isi tasnya, mencari tempat lain yang cukup aman untuk menyimpan cincin pernikahan. Lalu dia melihat tempat kacamata dan dia menyimpannya di situ, lantaran kacamata tersebut jarang dia pakai. Selain untuk membaca pada layar terang seperti; ponsel, laptop atau komputer -karena itu Kacamata Anti Radiasi.
Dan setelah Pak Joko meninggalkan mejanya, Adhi menukar Foto pernikahan yang terpasang di dompet menjadi Foto dirinya sendiri -seperti sebelumnya.
Ya ampun~ segininya banget dia ya, nyembunyiin pernikahan. Ngomong-ngomong si Eneng, gimana ya? Dia udah beresin cincinnya, belum?
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Pak Adhi, kan~ lupa beresin cincinnya, jadi ketahuan sama Pak Joko -padahal udah janji sama Kanaya.
Kanaya apa kabar? Amankah dirimu?
Bae-bae dah, ya~
x x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you soon~