
Kanaya, dia hanya berdiri di tengah kerumunan orang lalu lalang setelah dia keluar begitu saja meninggalkan sang suami dengan seorang wanita yang dia ketahui adalah mantan dari suaminya. Rasa terkejut bercampur kalut membuatnya tak dapat berpikir jernih dan gundah, hingga dia memutuskan untuk menjauh lantaran tak tau harus bagaimana menanggapi situasi tersebut.
Dugh! Brukkk!!
Tubuh Kanaya tertabrak cukup keras dengan seseorang hingga dia oleng dan jatuh.
"Jangan ngalangin jalan dong, Mbak!" omel seorang pria paruh baya.
Kanaya yang masih tampak linglung, dia hanya diam dan tak merespon. Setelahnya dia beranjak bangun dan berjalan kembali, meski tak pasti arah tujuannya -bahkan dia tak memperhatikan jalan, hanya mengikuti ke mana langkah kaki membawa dirinya.
o
o
o
Sementara itu, Adhi berjalan dengan tergopoh-gopoh sembari membawa belanjaan banyak seorang diri, belum lagi dengan pikirannya yang saat ini yang diliputi kekhawatiran lantaran sang istri yang pergi entah ke mana. Syukurnya, dia bisa segera menarik nafas lega -sebab tak jauh dari pintu keluar kedai minuman, sang Istri sudah terlihat olehnya.
Namun sayangnya, perasaan lega itu tak bertahan lama dan berubah menjadi kepanikan yang menyerang hingga mendorongnya untuk melakukan tindakan implusif. Adhie jatuhkan barang belanjaan begitu saja dan meninggalkannya, lalu dia segera berlari menghampiri sang Istri.
"NENG AWAS!!" teriak Adhi dan menarik lengan sang Istri ke tepi jalan untuk menghindari kendaraan di depannya.
Mereka berdua jatuh, dengan Adhi yang ada di bawah dan menahan sang istri juga dirinya -melindungi kepala agar tak langsung menyentuh aspal yang keras.
"Neng, gak apa-apa?" tanya Adhi masih merengkuh Kanaya.
"Mas?" panggil Kanaya ketika menyadari orang tersebut. "Iya," jawabnya kemudian.
Mereka bangun dan dibantu beberapa orang sekitar yang juga menanyakan keadaan mereka setelah diserempet pengendara motor, Adhi berterima kasih dan menjawab 'baik-baik saja'. Lalu mereka kembali untuk mengambil belanjaan yang ditinggalkannya dan orang-orang yang mengerubungi pun ikut bubar.
Namun tanpa disangka, efek dari lengannya yang menahan benturan tadi -baru Adhi rasakan saat ini, tepatnya saat dia hendak mengangkat barang belanjaannya yang bobotnya lumayan berat. Adhi jatuh berlutut bersamaan dengan barang belanjaan yang dipegangnya, lengan sebelah kanannya nyeri luar biasa hingga dia meringis sampai menutup matanya sembari memeganginya dengan tangan kirinya.
"Mas kenapa?!" tanya Kanaya yang terdengar panik dan ikut berlutut di depan Suaminya seraya memegangi lengan kanan sang suami. Tetapi dia tak mendapat jawaban dari kegusarannya, hanya rintihan yang keluar dari mulut Suaminya.
Terlalu bingung menghadapi situasi sang suami yang kesakitan, Kanaya lantas meminta pertolongan pada orang sekitar dan Adhi dibawa ke rumah sakit terdekat. Lalu diperjalanan, dia mengabari orang di rumah Eyang Putri mengenai kondisi sang suami dan rumah sakit yang mereka tuju.
o o o o O o o o o
Kanaya harap-harap cemas menunggu hasil pemeriksaan foto Rontgen dan pemaparan Dokter mengenai kondisi suaminya. Syukur Alhamdulillah, cedera pada lengan bagian atas sang suami tak terlalu serius dan bisa langsung pulang. Meskipun begitu, lengan Adhi perlu dipasang alat penyangga.
"Mas beneran gak apa-apa? Gak sakit?" tanya Kanaya lagi selama perjalanan setelah keluar dari ruang Dokter sembari menuntun Suaminya.
"Iya Neng, Mas udah gak apa-apa. Kan udah dikasih obat pereda nyeri sama Dokternya," jawab Adhi lembut berusaha menenangkan khawatiran Istrinya.
Kanaya hanya mengangguk singkat, tapi tunggu saja sampai dia bertanya lagi.
Sementara itu, Eyang, Bude dan Pakde yang sudah menerima kabar mengenai kecelakaan tersebut -mereka lantas segera pergi ke rumah sakit. Untungnya mereka bertemu dengan Kanaya dan Adhi di lobi rumah sakit. Para orang tua itu tampak khawatir ketika melihat lengan Adhi yang harus disangga dan lantas menanyakan perihal kejadian yang menimpa pasangan tersebut. Tetapi Adhi mengatakan, akan dia ceritakan nanti saat di rumah, jadi mau tak mau, para orang tua itu harus sabar menunggu.
Lalu saat mereka sampai di rumah dan tak dapat tunda lagi lantaran para orang tua itu sudah kepalang penasaran, akhirnya Adhi cerita. Namun saat Adhi mulai menyinggung tentang Sukma, atmosfer ruangan tersebut langsung berubah -bukan saja para orang tua yang marah saat mendengarnya, tetapi Kanaya juga tampak tak nyaman hingga dia meninggalkan ruang tengah dengan alasan ke belakang.
"Kok kamu bisa ketemu perempuan itu? Apa dia mata-matain kamu?!" kesal Bude Ratna.
"Kami gak sengaja bertemu, Bude. Sukma juga … dia terkejut saat melihat aku," dalih Adhi.
"Tidak usah kamu mengelak, Dhi! Perempuan itu memang j*lang! Dan kamu bodoh, udah jelas dia bukan perempuan baik. Tapi kamu masih aja berurusan sama dia, apa gak cukup kamu ditinggalkan saat itu dan dia buat keluarga kita menanggung malu?!"
"Aku cuman mau tau, apa alasan Sukma sampai ninggalin aku," sahut Adhi.
"Terus setelah kamu tau alasan dari perempuan itu ninggalin kamu, kamu mau apa?!" tantang Bude.
"Apa yang kamu maksud dengan anak, Dhi?" tanya Bude Ratna mencurigai perkataan sang keponakan perihal anak dari mantan tunangannya.
"Anak Sukma, kalau dihitung-hitung umurnya tak jauh berbeda dengan tahun saat Sukma menghilang kala itu," tutur Adhi sembari teringat dengan sosok anak kecil perempuan yang wajahnya mirip dengan Sukma dan tiba-tiba datang -sebelum dibawa pergi oleh wanita paruh baya yang Adhi kenali sebagai Ibu dari Sukma.
"DHI!!"sentak Bude Ratna hingga beranjak dari duduknya hendak menghampiri sang keponakan dengan tangan yang hampir terangkat, namun dicegah oleh sang Suami -Pakde.
Tampaknya yang kecewa dan terkejut bukan saja Bude Ratna, tetapi juga Eyang Putri dan Beliau beranjak dari duduknya dan berucap, "jangan kamu egois, lalu nantinya malah menyakiti Istrimu dan mengganggu keutuhan rumah tangga mu, Dhi!" pesannya sebelum meninggalkan ruang tamu.
Namun di tengah keruhnya suasana di ruangan tersebut, di sisi lain ruangan, ada seseorang yang mendengarkan sembari menahan isakannya. Selain itu, perasaannya juga tersakiti dengan ucapan yang baru saja dia dengar.
"Kanaya?" panggil Eyang Putri lirih saat melihat sosok Cucu Menantunya. Dan semua mata langsung tertuju dan memandang ke arah Kanaya.
Kanaya langsung mengelap wajah basahnya dan memaksa tersenyum. "Naya permisi ke kamar ya, Eyang," pamitnya.
"Neng!" panggil Adhi dan ikut beranjak dari duduknya untuk menyusul sang istri.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Mas, hati Eneng potek!!
o
Kalo kalian, apa sudah cukup panas dengernya?
x x x x x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~