Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 36.4 - Kekacauan]



Malam masih terlalu panjang untuk membawa pasangan baru itu tidur dengan tenang dan mimpi indah, terutama bagi seorang gadis –Kanaya– dia perlu membereskan kembali isi tasnya.


Ya~ di hari pertama pernikahannya –dia pindah secara mendadak dan terpaksa, padahal beberapa saat lalu dia sedang terlelap di tempat tidurnya sendiri. Tapi kini, dia dibawa oleh Dosen yang berstatus sebagai suaminya ke apartement pria itu. Alasannya?


Hanya karena hal kecil, namun Kanaya ingin tertawa kalau mengingat hal itu.


Hahah ... Pak Adhi, Dosen yang dianggap keren oleh mahasiswi di kampusnya itu ternyata ___.


Seketika Kanaya membeku, sementara salah satu tangannya berasa di dalam tas milik sang Abang –hendak mengambil baju selanjutnya untuk dia lipat. Namun dia merasa, ada sesuatu di dalam sana yang baru saja menggerayangi tangannya.


Kanaya lantas segera menarik tangannya dan setelah itu ... dia tak mampu melanjutkan kegembiraan sederhananya, karena dia baru saja melihat makhluk menyeramkan yang sebelumnya Pak Adhi temukan di rumahnya –lebih tepatnya di kamarnya. Kanaya bergerak menjauh dari makhluk itu.


God! Mungkinkah makhluk itu mengikutinya pindah sampai ke apartemen Pak Adhi? –Kanaya merinding.


Kanaya bergerak mundur dan menjauh, namun ternyata –pergerakannya itu membangunkan sisi berbahaya dari makhluk tersebut.


“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!” teriakan membahana itu terdengar nyaring saat makhluk menyeramkan itu bergerak –terbang– ke arahnya. Kanaya berlari panik keluar kamarnya dan segera menutup pintu –memastikan makhluk menyeramkan itu tetap di dalam kamar.


Bersamaan dengan itu, Pak Adhi keluar dari kamarnya –mungkin karena mendengar teriakan heboh Kanaya. “Kenapa, Neng?” tanyanya yang keluar dari Kamar kedua yang berhadapan dengan Kamar Utama.


Namun dibanding makhluk menyeramkan di dalam kamar, penampilan Pak Adhi lebih membuat Kanaya syok. “Tolong Pak!! Itu di dal .... Kyaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”


Ya, Kanaya berteriak lagi –kali ini dia sampai menutup matanya.


Sempat bertanya-tanya kenapa sang Mahasiswi/Istrinya itu berteriak, namun Adhi segera sadar. Dia baru ingat kalau tadi dia sedang ganti pakaian, lalu saat mendengar suara teriakan dia segera keluar tanpa pikir panjang -semua bajunya dia tanggalkan dan menyisakan celana boxer.


“Maaf Neng ... maaf!” ujarnya seraya menutupi tubuh bagian atasnya yang tereskpos dan segera berlari masuk ke dalam lagi untuk mengenakan bajunya.


‘God! Apa yang barusan dia liat? Pak Adhi? Dada Paha?’ jerit Kanaya dalam benak. Dia menggelengkan kepala dan menepuk wajahnya untuk menghilangkan pikiran liarnya. “DASAR AYAM!! ENYAH KAU!!”


Setelah mengenakan pakaian lengkapnya, Adhi menghampiri Kanaya. “Maaf yang tadi, soalnya saya lagi ganti baju,” jelasnya. Kanaya hanya berdehem dengan kikuk menanggapinya. “Ada apa, Neng? Kok sampai teriak-teriak?” tanyanya kembali ke topik permasalahan.


“Itu Pak ... ada Kecoa di dalam,” beritahu Kanaya ragu.


“Kok bisa? Seumur-umur saya tinggal di sini, Nyamuk aja gak ada,” balas Adhi tak percaya.


“Kayaknya itu Kecoanya ikut kita pindah deh ... di dalam tasnya Bang Dhika,” jawab Kanaya mengatakan alasan sebenarnya.


“Ya Allah.” Adhi mengusap wajahnya.


“Kita gak bakal pindah lagi kan, Pak?”


Adhi tampak berpikir, sebelum menjawab, “Enggak, kita gak perlu pindah –lagian mau pindah ke mana. Udah, kamu tidur di kamar kedua.”


“Terus Bapak di mana?”


“Saya bisa tidur di sofa ruang tamu,” jawab Adhi.


Kanaya mengigit bibirnya. Ah~ dia benar-benar ngerasa gak enak kalau sampai membuat Dosen/Suaminya itu pindah ruangan lagi. “Emmm ... Bapak gak perlu pindah, tidur aja di kamar kedua juga. Terus bukannya Bapak gak kuat gerah ya?”


“Beneran kamu gak apa-apa?” tanya Adhi memastikan.


“Iya, abis saya gak enak sama Bapak. Ini rumah Bapak, tapi malah tidur di luar –jadi biar saya aja yang tidur di ruang tamu.”


Loh?!


Adhi menghela nafas. “Kamu masih marah ya sama saya?” tanya dengan nada tersisa penyesalan.


“Enggak Pak,” jawab Kanaya singkat.


“Udahlah, biar saya yang di sofa ruang tamu. Saya gak tega itu biarin istri saya tidur di luar, sementara saya enak di dalam,” dalih Adhi.


Kanaya melihat, kalau sang Dosen/Suami tampaknya enggan menyerah. Jadi akhirnya dia memutuskan ... ya sudahlah~ mereka berbagi kamar kecil untuk tidur.


Tetapi setelah mengambil keputusan pun, masih ada masalah berbagi tempat untuk tidur. Sebab di dalam ruang kerja sang Dosen, ada sebuah sofa panjang yang lumayan empuk untuk alas tidur ketimbang berbaring di karpet.


Dan pada akhirnya, mereka jadi tidur di bawah dengan Karpet sebagai alas dan saling berbagi bantal juga berada dalam satu selimut.


Semoga saja, tidur mereka yang hanya beberapa jam sebelum fajar itu cukup nyaman.


o o o


Kanaya terbangun di tengah tidurnya lantaran dia kembali merasakan berat juga sesak di dadanya dan tubuh terlilir, lalu dia meraba benda keras berambut yang menindih –rasa seperti Deja Vu.


Beruntung saat ini dia ingat jika sudah menikah dan tidur bersama suaminya, jadi adegan menjambak rambut dan menendang sang Dosen/Suami tak lagi terulang.


“Pak~ Pak Adhi!” panggil Kanaya semakin keras seraya menepuk pipi sang empu untuk membangunkannya.


“Heum?” Adhi menyahut masih setengah sadar.


“Berat Pak, bangun ... kalo gak, saya tendang nih!!” gertak Kanaya.


“Hmm ... lima menit lagi,” jawab Adhi malas dan semakin mengeratkan pelukannya sembari mengusel-ngusel kepalanya.


“Ya ampun~ Pak!!” teriak Kanaya yang merasa risih.


Sumpah! Sejak kapan sih Pak Adhi jadi manja gini? Kalau bukan karena suaminya udah dia gampar sama laporin polisi nih Dosen, atas tuduhan –perbuatan tidak menyenangkan.


Tak tahan, akhirnya Kanaya memberi empos cubitan mautnya di lengan sang Dosen/Suami –yang ternyata cukup keras dan berotot hingga dia perlu mengeluarkan usaha dan kekuatannya.


“Arrggg!!” ringis Adhi seraya bangun dan mengusap lengan bagian atasnya yang kena cubit sang Mahasiswi/Istri. “Neng, kok main cubit-cubitan sih!”


“Salah Bapak, kebluk!!” cerca Kanaya dan bangun meninggalkan sang Dosen/Suami keluar.


Sementara itu, Adhi –dia kembali melanjutkan tidurnya di karpet yang kini lebih luas.


Braaakkk!!


“Ihhh~ Bapak bangun!! Itu udah jam lima lewat ... Subuh nya bentar lagi abis!! Buru Sholat!!” teriak Kanaya di lawang pintu.


“Yang bener, Neng?” tanya Adhi yang kaget dan segera bangun. “Astagfirullah!!” ucapnya ketika melihat jam yang tergantung di dinding. Dia segera beranjak untuk menunaikan Ibadah Sholat Subuh.


Lalu Kanaya, saat ini dia sedang berada di dapur. Melihat-lihat isi kulkas juga bufet, mencari sesuatu yang dapat dia makan di tengah perutnya yang keroncongan setelah bangun tidur. Tetapi tak banyak yang dia dapat; ada tiga butir telur, beberapa lembar roti tawar dan kopi instan.


Dasar rumah bujangan!


Beras aja gak ada, rice cooker cuman pajangan.


“Cari apa, Neng?” tanya Adhi yang baru saja selesai Sholat.


“Laper Pak,” keluh Kanaya.


“Emang gak ada apa-apa, Neng?” tanya Adhi seraya menghampiri Kanaya dan ikut melihat isi dapurnya.


“Ada sih Pak, tapi ... gak yakin cukup buat kita berdua. Itu juga rotinya udah berjamur,” ujar Kanaya.


“Ya Allah~ maaf ya Neng, saya gak kepikiran buat isi kulkas –soalnya saya beberapa hari sebelum nikah tinggal di rumah Ibu. Ya udah, kamu mau makan apa?”


“Warung emang udah ada yang buka jam segini, Pak?”


“Gak tau ya, gak pernah liat ada warung di sekitar sini. Saya belanja paling ke Mini Mart, atau Mall. Kalau sarapan, beli di depan dekat halte atau di jalan –kadang sama lauk yang dibawain Ibu saya,” jawab Adhi.


Kok Kanaya sedih ya, denger cerita sang Dosen/Suami yang mengurus dirinya sendiri. “Tenang Pak, nanti saya yang bakal masakin makanan buat Bapak. Biarpin masih belajar sih,” ujar Kanaya dan menyunggingkan senyum penuh semangat.


Adhi ikut terseyum. “Iya, terima kasih Neng. Saya juga, saya belajar biar bisa jadi suami yang baik untuk kamu.”


Ya~ meskipun saat ini belum ada perasaan khusus dari mereka masing-masing, tetapi siapa yang tahu –apa yang akan berubah nanti? Mungkin saja waktu akan mengobati luka dan menggantinya jadi kebahagian bersama.


“Eh ... Neng! Kamu mau makan apa?” tanya Adhi lagi saat ingat.


“Terserah sih Pak, saya apa aja gak masalah,” jawab Kanaya.


“Ya udah, saya jalan dulu beli sarapannya.”


“Eh~ Pak, tunggu!” tahan Kanaya.


“Kenapa?”


“Boleh titip gak?” tanya Kanaya ragu.


“Ya, apa?”


“Titip beliin pembalut,” jawab Kanaya malu.


“Pembalut?!” tanya Adhi lagi –memastikan pendengarannya.


“Iya Pak, buat Datang Bulan,” ujar Kanaya memperjelas.


Namun sebenarnya sang Dosen/Suami cukup tau apa itu pembalut, dia hanya terkejut saja.


“Yang ada sayapnya, Pak,” imbuh Kanaya.


“Oh ... iya,” respon Adhi penuh kikuk, namun dalam sebenarnya di dalam –dia terguncang.


Mungkin dia harus mikirin cara, biar Istrinya itu gak datang bulan –jadi dia gak perlu beli pembalut.


x x x x x


Adhi menuju Mini Mart yang ada di dekat kawasan apartemennya, lalu dia membeli barang yang sudah di buat list oleh Kanaya.


Beras, Minyak, Telur, Bumbu Instan dan ... pembalut. Selain itu dia juga membeli keperluan lainnya dan memasukan semua belanjaan dalam keranjang, sebelum akhirnya menuju kasir untuk membayar.


Adhi merogoh sakunya untuk mengambil uang, setelah melihat angka yang tertera di layar. Namun dia merasa bingung, sakunya kosong!!


“Maaf Mbak sebentar,” ujarnya pada sang Penjaga Kasir untuk meminta waktu mengecek kembali keberadaan dompetnya.


Sayangnya, berkali-kali dia mencari –tak ditemukan juga dompetnya. Lalu dia baru ingat, kalau semalam mereka kembali ke apartemen ... tidak membawa apapun –selain yang melekat di tubuh. Akhirnya, dengan wajah menahan malu dan sesal –dia berkata pada sang Kasir. “Maaf Mbak, saya lupa bawa uang,” akunya.


Si Mbak Kasir tampak tersenyum lucu. “Ya Ampun~ Pak Dosen! Ya udah, ini belanjaannya dibawa aja. Toh saya udah kenal sama Bapak,” ujarnya memaklumi.


“Beneran nih Mbak, gak apa-apa? Saya gak enak soalnya,” tanya Adhi sekali lagi.


“Iya. Sementara saya talangin dulu pake uang saya.”


“Terima kasih ya, Mbak. Maaf merepotkan.”


“Iya sama-sama Pak Dosen, kan Bapak pelanggan."


- - - - -


Adhi kembali ke Unit Apartemennya dengan membawa belanjaannya –hasil berhutang.


“Assalamualaikum~ Neng, ini belanjaannya,” seru Adhi ketika masuk.


Kanaya yang sedang berada di balkon, segera masuk kembali dan menghampiri sang Dosen/Suami.


“Beli apa aja itu, Pak? Keliatannya banyak banget.”


“Iya, dapet ngutang,” jawab Adhi.


“Loh, kok bisa?”


“Iya, kan dompet saya tertinggal juga di rumah kamu.”


“Yah~ terus ini gimana?”


“Ya, nanti bayarnya setelah balik ke rumah kamu –ngambil dompet.”


“Emang Bapak gak punya duit simpenan?” tanya Kanaya yang tampaknya memberi Adhi sebuah jalan keluar dari dia yang tengah terlilit hutang kisaran seratus ribuan.


“Uang simpenan? Ada sih,” ujar Adhi lalu pergi menuju Kamar Utama, namun langkahnya terhenti di depan pintu. “Neng, kan di dalam ada Kecoa.”


“Lah ... iya!! Ya udahlah Pak, masuk aja –beraniin diri. Biasanya kalo udah siang itu, Kecoa bakal tidur atau ngumpet di tempat gelap. Beda sama malam, waktu mereka aktif buat cari makan,” jelas Kanaya.


“Kamu kayaknya paham banget, Pakar Kecoa ya?” goda Adhi.


“Sembarangan!! Itu tuh berdasarkan pengalaman mengamati saya sih, Pak,” jawab Kanaya seadanya. “Udah Pak!, sana masuk! Sekalian tolong ambilin baju ganti saya,” pinta Kanaya.


Adhi menghela nafas kasar, sebelum mempersiapkan diri untuk masuk dan menghadapi makhluk yang bahkan ukurannya tak lebih panjang dari jari kelingkingnya.


Sementara Kanaya, dia di dapur untuk mulai memasak. Menunya ... Nasi Goreng Sosis!!


Tak lama, Adhi keluar sembari menenteng baju miliknya dan tas berisi baju ganti milik Kanaya.


“Aman kan di dalam, Pak?” tanya Kanaya.


“Alhamdulillah, kayaknya ucapan kamu bener –Kecoanya lagi tidur sama ngumpet. Tapi nanti saya bingung, gimana nyari buat ngeluarinnya,” jawab Adhi sembari mendekat pada Kanaya yang sedang memasak. “Kamu mau masak apa, Neng?” tanyanya.


“Nasi Goreng, Pak,” jawabnya sembari mencincang-cincang sosis. “Pak, mau spesial telur dadar atau ceplok?”


“Dadar aja,” jawab Adhi lalu berlalu ke dalam. “Neng, saya mandi duluan ya,” beritahunya.


Kanaya hanya mendehem sebagai jawaban sembari meneruskan kegiatan mengolah bahan masakannya.


Beberapa saat berlalu, mungkin Kanaya terlalu larut dalam kesenangannya memasak secara langsung untuk sang Dosen/Suami – hingga tak menyadari derap langkah kaki yang mendekatinya.


“Udah selesai Neng, masaknya?” tanya Adhi yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


“Astagfirullah!” sebut Kanaya lantaran terkaget –bahkan dia yang sedang memegang sendok sampai terjatuh. “Yah~ kan ... Bapak sih, jadi tumpahan garamnya,” gerutu Kanaya.


“Maaf, saya gak maksud ngagetin kamu. Cuman mau tanya, barang kali ada yang bisa saya bantu,” akunya dan merasa bersalah.


“Enggak kok Pak, ini juga udah mau selesai –tinggal goreng Telor Dadarnya untuk Bapak,” jawab Kanaya. “Udah, Bapak duduk aja,” titahnya.


Tak mau mengganggu dan membuat ke kacauan, Adhi menurut dan menghampiri sofa sembari terus melihat ke arah dapur.


Sementara Kanaya, dia kembali menyelesaikan masakan terakhirnya. ‘Tapi tunggu!! Ini Telornya udah dia kasih garam belum ya?’ tanyanya bergulat dalam pikirannya –sembari memandangi kocokan telur dalam mangkuk.


Kanaya tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia memasukan garam ke mangkok tersebut dan menggoreng Telur Dadarnya.


Lalu Adhi yang mengawasi Mahasiswi/Istrinya memasak, dia sempat bertanya –apa kiranya yang sedang gadis itu pikirkan sampai memandangi mangkuk berisi kocokan telur?


Eh! Loh? Kok ditambahin garam lagi?


Adhi ingin memberitahu Kanaya soal garamnya, tapi dia urungkan. Lantaran berpikir, garamnya bisa saja belum sempat dimasukan karena tumpah tadi –akhirnya dia membiarkannya.


“Pak, udah mateng!!” panggil Kanaya seraya meletakan dua porsi Nasi Goreng dengan topping berbeda di atas meja makan –Telur Dadar dan Telur Ceplok. “Silakan dicobain Pak, kalo ada yang kurang –bilang aja.”


“Ya, terima kasih Neng untuk sarapannya,” jawab Adhi.


Setelah membaca doa, Adhi mulai menyuap sendok pertama Nasi Goreng Telur Dadarnya.


“Gimana Pak rasanya?” tanya Kanaya yang penasaran dengan tanggapan sang Dosen/Suami.


Adhi yang semula sedang mengunyah, tiba-tiba berhenti dan menunjukan ekspresi wajah aneh -hingga matanya memejam dan bibir berkerut.


“Kenapa Pak?” tanya Kanaya yang panik.


“Neng, kamu masih marah ya ... sama saya?” tanya Adhi sembari menelan Nasinya dengan susah payah, lalu meraih gelas dan menandaskan isinya.


“Marah? Enggak kok. Emang kenapa, Pak?” tanya Kanaya yang bingung.


“Lidah saya mati rasa. Kamu numpahin berapa banyak garam ke Telurnya?”


“Astagfirullah!” Tampaknya Kanaya baru saja ingat, kalau sebelum garamnya tumpah –dia sudah menggaraminnya. “Maaf Pak,” sesalnya. “Saya buatin yang baru ya?”


o


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


o


Wkwkwk ... Nano-nano banget ya, awal kehidupan rumah tangga Kanaya dan Pak Adhi.


- x x x -


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you~