
“Kanaya!”
Ada yang memanggil namanya, lantas gadis yang berdiri tak jauh dari palang pintu masuk pasar itu menoleh dan mengikuti sumber suara.
Seorang wanita paruh baya sedang melambaikan tangan dengan riang, itu Ibu Ranti. Dan gadis bernama Kanaya itu berlari menghampirinya.
"Maaf, kamu lama ya nunggu saya?"
"Enggak kok, Bu," jawab Kanaya lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Ahh … yang bener? Tadi kamu What'sup Ibu udah ada kali lewat dari sepuluh menit. Nama terik gini mataharinya, noh … itu aja kamu keringetannya sampe segede biji Duren. Kenapa gak masuk aja sih, Nak?" ujar Ibu Ranti panjang.
"Gak papa kok, Bu? Sehat," dalih Kanaya.
"Apa yang sehat coba? Hampir tengah hari gini. Udah yuk, kita cari yang seger dingin dulu," ajak Ibu Ranti sembari menggandeng lengan Kanaya.
°°°
"Kamu mau minum apa?" tanya Ibu Ranti pada Kanaya saat mereka sudah mendudukan diri di sebuah area food court. "Makan. Udah makan, belom?" tanyanya lagi.
"Saya udah makan, Bu. Malah tadi sebelum jalan, makan dulu. Emm … minumnya Es Teh Manis aja," jawab Kanaya sembari melihat deretan menu minuman yang tergantung dalam sebuah papan besar di dinding.
"Heh~ ada banyak juga minumannya. Kenapa cuman minum Es Teh doang? Itu mah, juga bisa bikin di rumah. Pilih yang laen, yang enak-seger … yang mahal juga gak papa. Mau nambah juga boleh," ucap Ibu Ranti.
Kanaya mengulas senyum. Sejujurnya dia sengaja memilih harga yang cukup ekonomis. Bukan karena takut uangnya yang habis terpakai, tetapi dia mencium hawa-hawa bakal di traktir -dia merasa tidak enak hati.
"Jangan bengong," ujar Bu Ranti seraya menepuk bahu Kanaya.
Kanaya mengulas senyum dan menjawab, "Terserah Ibu saja, saya mau minum apa juga gak masalah."
Ibu Ranti tersenyum datar mendengar jawaban gadis yang duduk di sebelahnya. "Itu jawaban bingung atau pasrah ya?"
"Dua-duanya," balas Kanaya kikuk.
Ibu Ranti berdehem sembari menggelengkan kepalanya, lalu beliau mendongakkan kepala untuk papan yang berisi daftar menu. "Ada Es Buah, Es Cendol, Jus, Capcin, Soda Pelangi, terus Thai Tea," ucapnya menyebutkan beberapa minuman yang harganya di atas sepuluh ribuan.
"Cappucino Cincau aja, Bu," jawab Kanaya.
Bu Ranti tampak tersenyum sebelum akhirnya bicara, "Kamu ya, tetep aja milih yang paling murah harganya."
'OMG, jadi dia ketahuan? Ibu Ranti ini punya Indra ke enam atau bisa baca pikiran ya?
"Kanaya, jangan ngerasa gak enak gitu sama Ibu. Kalo kamu kayak gitu, Ibu yang minta tolong sama kamu juga jadi ngerasa terbebani."
Noh kan, bisa aja ini Bu Ranti nebaknya.
Sembari menunggu minuman mereka datang, Bu Ranti mulai bicara perihal maksud tujuannya meminta tolong Kanaya juga mengajaknya ke pasar. Dan sebenarnya ini pernah dibahas saat acara arisan pengajian beberapa waktu lalu, yaitu minta praktek masak ala masakan keluarga Kanaya.
"Iya Bu, bener dah … kalo masak saya gak bisa-bisa banget. Itu juga masih dibantu Ibu atau Teh Dita dan liat resep di internet," jawab Kanaya.
"Tapi masakan kamu enak kok, Ibu suka malah. Makanya juga Ibu pengen liat sekalian belajar masakannya," ucap Ibu Ranti.
"Emang Ibu mau masak apa?" tanya Kanaya kali ini.
"Apa aja sih sebenernya, terserah kamu. Ibu mah gak mau nyusahin dengan minta yang macem-macem, takutnya kamu juga keberatan. Pilih aja makanan favorit kamu atau yang lagi pengen kamu makan sekarang. Tapi kalo boleh request, tambahin satu menu aja yang dari Ibu."
Mendengar permintaan Bu Ranti, dia mulai berpikir ulang. Setidaknya menu darinya cocok dengan menu Bu Ranti. "Menu apa tuh, Bu?"
"Gak susah kok. Itu menu wajib dan kesukaan anak saya, Sambal Teri Kacang," jawab Ibu Ranti.
Kanaya mengangguk-angguk kepalanya, karena sebuah visualisasi muncul dalam pikirannya. Setidaknya dia sudah punya gambaran soal menu Ibu Ranti, jadi nanti tinggal dia pilih menu yang pas untuk melengkapinya.
"Bahannya apa aja tuh, Bu? Ada yang spesial gak?"
"Biasa aja kok," jawab Bu Ranti lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas. "Ini." Ibu Ranti memberi kertas yang berisi resep tersebut pada Kanaya.
--- Sambal Teri Kacang ---
Teri Medan
Kacang Tanah
Cabai Merah Keriting
Bawang Merah
Bawang Putih
Tomat
Garam
-----------+++------------
Setelah Kanaya membaca menunya. Ya~ itu tampak sederhana dan seperti yang Ibu Ranti katakan, tidak ada yang spesial.
Dan sekarang Kanaya sedang menjelajah internet, mencari menu yang kira-kira cocok. Tetapi kalo menurut selera keluarganya, menu berbumbu Kunyit itu biasanya dimasak saat momen spesial.
Jadi Kanaya mulai mengetik keyword, masakan berbumbu kunyit. Dan beberapa daftar mulai bermunculan.
Lalu setelah mempertimbangkan, akhirnya Kanaya memilih;
Soto Ayam Medan
Bahan Bahan :
- Ayam
- Santan cair
- Santan kental
- Daun jeruk
- Daun salam
- Serai
- Lengkuas
- Minyak goreng secukupnya
- Bawang merah
- Bawang putih
- Ketumbar bubuk
- Merica
- Jahe
- Kunyit
- Garam
Pelengkap :
- Telur rebus
- Bawang goreng
- Daun bawang
- Daun seledri
- Touge, kol/kubis rebus
- Kentang rebus
- Bihun
- Kerupuk/Emping
- Jeruk Nipis
"Kalau sudah pilih menunya, ayo kita belanja," ajak Bu Ranti.
Kanaya menganguk dan beranjak dari duduknya.
Hah~ sebenernya dia gak terlalu yakin sih. Tapi coba aja. Bismillah.
•
•
•
T
B
C
•
•
•
Hahah … Tau gak maksud Bu Ranti mau apa nyuruh Kanaya masak sampe diajak belanja di pasar segala?
See you~
Keep support my story. Thanks.