
Kanaya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi kemarin, Adimas menyatakan perasaan padanya dan memberi sebuah gelang. Kalau mengingat malam kemarin, rasanya seperti mimpi.
"Jadi … lo mau nerima gelangnya sama perasaan gue, Nay?" tanya Adimas yang membuat kerja jantungnya meningkat pesat, namun terbalik dengan otaknya yang justru berhenti total seakan kewarasan terenggut darinya.
"Kanaya?" panggil Adimas dengan nada cemas, karena mungkin dalam pikiran Adimas -Kanaya tidak menerima perasaannya.
"Ya?" sahut Kanaya yang masih setengah sadar. "Maaf," ucap Kanaya buru-buru setelah loading-nya selesai.
Tetapi lain dengan Adimas, ekspresi wajahnya kini sekejap berubah kaku setelah mendengar satu kata terakhir dari sang teman.
"It's okay, Nay. Kalau lo gak nerima perasaan gue …," ucap Adimas berusaha bicara tegar.
Kanaya gelagapan karena respon Adimas yang sepertinya salah paham pada dirinya. Demi apapun, bukan itu maksud Kanaya ngomong maaf. Bukan maaf karena dia nolak perasaan Adimas, tapi maaf karena dia sempet lemot.
"Aaaa~ tunggu, Dim. Tunggu!" Kanaya yang panik tak sadar kalau nada bicaranya meninggi hingga membuat perhatian pengunjung kafe tersebut beralih pada mereka. Namun karena masih fokus pada Adimas, dia tak sadar akan pasang mata itu.
"Bukan itu maksud gue, sumpah! Gue bilang maaf, bukan karena nolak elo, tapi tadi gue speechless sangking campur aduknya perasaan gue," jelas Kanaya sembari menggenggam tangan Adimas kuat, agar menyakinkan. "Denger! Gue juga suka elo, gue mau terima perasaan lo dan gelang dari lo," ungkap Kanaya berapi-api.
Kini Adimas yang kehilangan kata-kata karena kejujuran blak-blakan dan spontanitas dari Kanaya. Ya, selain karena dia senang juga.
"Dim! Ih~Dimas, kok diem!" protes Kanaya atas kebisuan sesaat Adimas.
"Ah … maaf," ucap Adimas tak ada bedanya dengan kata yang juga tak sadar malah minta maaf.
Kanaya cukup memaklumi respon Adimas, sebab salahnya juga sudah bar-bar. Siapa coba yang membalas penyataan perasaan sembari ngotot dan ngomong keceng ditambah malu-maluin di depan banyak orang. Rasanya Kanaya ingin beringsut ke kolong meja.
Namun ternyata, Kanaya malah dapat sambutan riuh tepuk tangan juga siulan dari pengunjung kafe. Dan sejujurnya itu lebih buat Kanaya malu.
Di saat Kanaya bingung harus menatap ke mana, lalu memilih menunduk memastikan sepatunya, yang tentu saja masih terpasang pada kakinya. Kanaya merasakan, Adimas membalas genggaman tangannya sembari tersenyum cerah.
Ya Rabbi, hati hamba Mu ini bukan saja bergetar, tetapi juga meleleh.
"Boleh gue pinjem tangan lo, Nay?" tanya Adimas sembari mengulurkan telapak tangannya.
Kanaya mengangkat tangan kanannya lalu Adimas melingkari gelang pemberiannya pada lengan bawah Kanaya dan menggenggamnya kembali.
"Jangan dilepas ya, Nay," pinta Adimas.
'Oh Ya Tuhan~ Ya, enggaklah Dim,' hanya batin Kanaya yang membalas meski dalam jeritan. Kanaya menggeleng samar.
Dan kini, dia kembali menatap pergelangan tangannya itu. Alhamdulillah, bukan mimpi, gelangnya ada dan terpasang manis.
Kanaya masih menatapnya, sembari memutar-mutarkan pergelangannya senang, hingga ponselnya berdenting dan pesan What'sup masuk.
Adimas :
Pacar, udah sholat subuh belum?
Ouh~
Kanaya berguling-guling di tempatnya tidurnya setelah membaca pesan tersebut.
Oh My God! Jadi gini rasanya punya pacar sholeh? Dibangunin, ngingetin waktu sholat.
Kanaya :
Belum, ini baru bangun.
Adimas :
Buru sholat, jangan ditunda-tunda .. Kanaya sayang~~
Oh My God! Dia dipanggil pacar sayang.
Tapi entah kenapa kok rasanya … GELI?
Kanaya :
Iya Dim
Btw, jangan manggil gitu dong!
Dah kayak ABG telat puber
Biasa aja, Dim ..
Adimas :
Okay :'(
Oh My God! Adimas gemesin banget, gak sih? Dia ngambek gitu.
Setelahnya Kanaya menjalankan ibadah sholat subuh lalu dia bergerak ke dapur untuk memasak. Hal yang jarang dia lakukan hingga menimbulkan tanda tanya dari sang Ibu yang masuk ke dapur untuk membuat sarapan.
"Ngapain Neng?" tanya Ibu Nurlela yang datang ke dapur lebih awal karena penasaran dengan keributan yang beliau dengar.
"Masak, Bu."
"Tumben amat, kenapa?" tanya sang Ibu yang hafal dengan kelakuan anak ke tiganya ini.
Kanaya nyengir. Ya, kalau dia ke dapur dengan kemauannya sendiri pasti memang ada sesuatu. Kali ini dia masak untuk bekal piknik dengan Adimas. ~UwU~
Tetapi dia gak mengaku kalau dia hanya pergi dengan Adimas yang kini menjadi pacarnya, Kanaya sedikit menyembunyikan kebenaran dengan membawa nama teman dan jalan-jalan setelah ujian.
Ibu hanya mengangguk dan setelahnya ikut membantu Kanaya sekalian untuk buat sarapan sekeluarga.
Jadi menunya adalah :
Nasi Goreng Spesial, dengan taburan potongan Sosis, Ayam, dan Wortel.
Telur Dadar Spesial, dengan Tahu, Susu dan Keju.
Sementara untuk cemilannya Kanaya membuat :
Bola Goreng Gurih Spesial, berbahan Tahu, Ayam, Sosis dan Wortel.
Triple Sweet, Puding dengan lapisan Choco Cheese dan Yoreo.
Dasar Kanaya gak modal!! Pengiritan!!
Tapi itu emang motto masaknya, MEMANFAATKAN BAHAN YANG ADA. Hohoho~
Cuz!! Mari kita masak.
Kanaya mulai menyiapkan bahan-bahannya. Namun saat dia menemukan coklat Silver King nya tinggal sepotong, kesalnya bukan main. Dan Kanaya langsung tahu si pelaku lalu menggerebeknya, karena siapa lagi orang songong di rumahnya yang tukang ngambil makanan orang tanpa ijin -Abangnya, si Dhikampr*t!!
Hukuman untuk si pendosa adalah jadi babu dia pagi ini, minimal bersih-bersih peralatan dapur/makan, rumah dan halaman. Hah~ Sukurin!!
Dan Bang Dhika yang sempet ngeluh ke Ibu, tak dapat berkutik ketika sang Ibu malah memihak Kanaya dan ikut bersuka cita.
Emak mana coba yang gak seneng, kalo kerjaan rumahnya ada yang bantuin.
"Kerjain yang ikhlas ya, Bang. Biar jadi pahala," ledek Kanaya pada Dhika.
Bang Dhika hanya mendesis.
- - -
Sekitar dua jam lebih, barulah masakan Kanaya selesai, termasuk pudingnya yang kini sedang dibekukan dalam freezer. Dan tentu saja keluarganya sudah menunggu sembari protes karena lapar. Jadi itu adalah alasan kenapa Kanaya jarang menginjakkan kaki di dapur atau menjadi juru masak utama. Iyalah, lama banget coba itu masak.
Akhirnya mereka sarapan dan Alhamdulillah, kesabaran mereka berbuah ENAK. Pastinya dong, orang masakan Kanaya spesial dan pakai bahan high quality. MANTUL~~
Tapi nanti tinggal Ibunya yang bingung sama uang belanja empot-empotan.
"Gak apa-apa ya Bu, sesekali bolehlah makan enak. Itung-itung perbaikan gizi," ujar Kanaya mencoba merayu Ibunya.
Ibu Nurlela cuma merespon dengan deheman, tetapi terdengar tak rela.
---
Berbeda dengan waktu memasak yang berjam-jam, mereka hanya butuh beberapa menit untuk menghabiskan dan menyelesaikan sarapan. Setelah itu, menjadi tugas Bang Dhika untuk cuci piring.
Tanpa bantuan, Bang Dhika membawa semua piring kotor ke wastafel dan mulai mencuci. Sementara Kanaya yang juga berada di dapur, dia sibuk menata makanan dalam kotak bekal Tamparware.
"Ngapain lo, Nay?" tanya Bang Dhika sembari menggosok piring.
"Buta lo ya, Bang? Pake nanya gue ngapain, gak liat gue lagi siapin bekal."
Okay, Dhika ngaku kalau dia emang salah nanya, karena udah jelas jawaban ada di depan mata dia. Tetapi meskipun jawaban Kanaya bener, itu anak ngeselin banget. Asli, rasanya Dhika pengen gosok mulut adeknya itu sampe kinclong pake spon busa yang lagi dia pegang.
"Lo mau kemana bawa bekel? Bukannya kualih lo lagi libur?" tanya Dhika lagi dengan pertanyaan berbeda karena masih belum hilang rasa penasaran.
"Jalan-jalan," jawab Kanaya singkat berasa gak niat ngeladenin ke-kepoan Abangnya.
"Sama siapa?" pertanyaan Dhika tiba-tiba berubah menyelidik.
"Te.men," jawab Kanaya kini terdengar ragu.
"Temen yang mana? Cuman berdua?" lanjut Dhika yang bertanya makin gencar, kerena memperhatikan Kanaya yang dari tadi hanya menyiapkan bekal untuk porsi dua orang. "Temen spesial?"
Glup!
Kanaya menelan ludah.
Masa dia udah ketahuan?
"Siapa? Rumah sebelah?" Pertanyaan Bang Dhika makin menjurus ke arah tersingkapnya kebenaran.
"Lo pacaran sama Dimas, ya?!" tuduh Bang Dhika tak salah, hanya dia ngomongnya terlalu kencang dan membuat Kanaya membanting sodet lalu lompat untuk menutup mulut ember sang Abang.
Tak senang bibirnya dijamah tangan bau terasi sang Adik, Dhika tak kalah cepat berusaha melepaskan diri.
"Ohhhh~ jadi bener ya?" Goda sang Abang dengan raut wajah liciknya yang berseri-seri. "Wah~ gi…lalah!!
Tak mau status hubungannya go publik terlalu dini, akhirnya dengan sogokan Puding, Bang Dhika mau diam.
Mungkin rasanya merasa dicuri di depan matanya.
Dhikampr*t!!
••
T
B
C
••
BTW, Kanaya dan Adimas mau piknik kemana?
Soalnya tempat wisata kan lagi ditutup sekarang.
Keep healthy~
#dirumahaja
#jagajarakaman
#janganmudik
°°°
Maaf ku lama update, ku sempat stuck.
×××
Thank you for reading and supports.
Luv~~