
Warning!!
Part ini mungkin menimbulkan ketegangan dan ketidak-nyamanan bagi sebagian orang. Mohon maaf.
- - - - - ● - - - - -
Kanaya gundah semalaman sampai hampir tidak tidur, lalu dia juga melewatkan sarapan bersama keluarganya dan hanya berdiam diri di kamar sembari menatap ponselnya tanpa tindakan.
Dia masih memikirkan kejadian yang hampir terjadi kemarin. Meski sebagian dari dirinya tidak terima atas hal tersebut, tetapi Kanaya juga tak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Dia bingung, antara menunggu atau mengabari Adimas lebih dulu.
Gedoran pintu disertai teriakan, mengusik ketenangan Kanaya. “Woy! Bangun!! Molor mulu lo!! Bantuin, banyak kerjaan nih di dapur.”
“Berisik!” jawab Kanaya dari dalam kamarnya membalas teriakan sang Abang.
Sumpah! Tiap kali Abangnya yang bangunin dia, bawaannya tuh kayak orang ngajak ribut dan pastinya bikin kesel –pake banget sampe pengen nimpuk.
Kanaya beranjak dari tempat tidurnya dengan malas dan keluar dari kamarnya menuju dapur dan di sana sudah ada hampir semua anggota keluarganya, kecuali sang Ayah.
“Bu, mau ada acara apa sih?” tanya Kanaya.
“Eh, Eneng udah bangun,” respon Ibu Nurlela girang atas kedatangan sang anak ke tiga yang ditunggunya. Kanaya menatap bingung pada Ibunya, merasa aneh karena meskipun bangun siang dan dia tak diceramahi. “Sarapan dulu gih, Neng. Ibu udah tinggilin itu lauknya,” lanjutnya.
Kanaya tidak mengerti dengan situasi yang saat ini sedang dia alami, rasanya aneh dan seperti ada yang disembunyikan padanya.
“Nih!” Bang Dhika berdiri di hadapannya dengan menyodorkan sepiring nasi dan lauk. “Makan,” lanjutnya dan memberikan pada Kanaya.
“Ih, lo ngapa sih Bang? Tiba-tiba bae. Parno tau gue,” ujar Kanaya.
Dugh.
“Aww!” rintih Bang Dhika sembari memegangi tulang keringnya, sementara Teh Dita yang ada disebelahnya tampak mengomel pelan.
“Udah Nay, makan aja dulu sono,” ucap Teh Dita.
Kali ini Kanaya seratus persen yakin, kalau ada yang aneh sama keluarganya. Teh Dita yang biasanya ngomong ketus, juga jadi ramah kayak SPG. Satu-satunya yang anteng cuman si bungsu Sofi ___.
“Makan yang banyak ya, Teh –abis Teteh keliatan lemes gak bersemangat dari kemaren,” ucap Sofia si Adek yang biasanya paling ribut kalau Kanaya makan porsi besar atau nambah gara-gara ngerapel waktu makannya.
Sebenarnya ada apa dengan keluarganya hari ini?
◦◦◦
Beberapa menit kemudian, Kanaya selesai dengan sarapannya di waktu siang. Dia kembali ke dapur dan mencuci piring, sebelum bergabung untuk membantu memasak.
“Mau masak apa, Bu?” tanya Kanaya yang baru saja selesai mencuci piring bekasnya makan dan tengan mengeringkan tangan basah pada celana bagian belakangnya.
“Ih ... Neng ini ada kain lap juga, jangan ngelap tangan ke baju. Pamali!” ujar Ibu dan memberikan kain lap pada Kanayaaa.
“Pamali? Kenapa emang, Bu?”
“Kotorlah nanti bajunya, Neng. Orang ini ada kain lap juga, kenapa pake ke baju,” jelas Ibu Nurlela.
Kanaya tidak mengerti dengan istilah-istilah larangan-larangan orang tua jaman dulu atau yang orang Sunda bilangnya itu Pamali. Tetapi memang beberapa dari omongan orang tua itu ada benarnya, kerena itu memang terlihat sebagai kebiasaan buruk dan kurang etis juga.
Seperti; Tong diuk di lawang panto, bisi nongtot jodo. Itu yang sering Ibunya bilang juga, artinya; Jangan duduk di depan pintu, nanti susah jodoh. Namun sebenarnya, kalau kita duduk di depan itu tidak sopan dan menghalangi orang lewat.
“Bu, Ibu belom cerita ke Eneng. Emang siapa sih yang mau dateng? Ada acara apa?” tanya Kanaya yang belum terjawab rasa penasarannya.
“Itu ... ada kenalan dekat kita,” jawab Ibu seakan masih mau main rahasia-rahasiaan dengan Kanaya.
“Kenalan dekat kita? Eneng kenal juga? Siapa?” tanya Kanaya makin penasaran.
“Ada lah, nanti kamu juga tau pas orangnya datang,” dalih Ibu. “Udah, ini bantuin masak biar cepet selesai,” lanjut Bu Nurlela.
“Mau masak apa sih, Bu?”
“Masak Liwetan.”
Kanaya melihat sekililing dapur, rasanya semua bahan makan keluar semua dari dalam kulkas sangking banyaknya. “Yang datang banyak?” tanya Kanaya sembari membantu menyiangi sayuran untuk lalapan; Timun, Kacang Panjang dan Labu Siam.
“Gak tau tuh ya, soalnya gak bilang juga. Tapi siapin aja, kalo gak abiskan bisa dibagi ke tetangga yang lain,” jawab Ibu.
Hah~ karena sang Ibu menyinggung soal tetangga, Kanaya jadi teringat pada seseorang –Adimas. Tetapi itu bukan soal ingatan tentang kemarin malam, melainkan hal aneh dan konyol yang muncul tiba-tiba.
Apa mungkin keluarga Adimas akan makan bersama di rumahnya? Mau ngapain?
Jangan-jangan mau ngelamar dia? Ya Rabbi! Masa sih?
Rasanya Kanaya sudah tidak waras, dia ngayalnya sudah jauh banget. Dan tepat saat itu, Ayahnya datang menghampirinya.
“Jangan ngelamun, Neng. Mending sekalian ini disiangin,” ucap Pak Haris sembari menaruh kantung kresek hitam di meja.
Kanaya meraih kantung tersebut dan membukanya. Kanaya tersenyum melihat isi kantung yang terdapat banyak butiran buah berbentuk bulat dan berkulit coklat itu. Ya ampun, kesukaan Bapaknya ternyata.
“Buat apaan nih, Pak?” tanya Kanaya.
“Ya, buat dimakanlah,” jawab sang Ayah.
Kanaya memasang wajah datang mendengar jawaban Bapaknya. “Maksud Eneng, emang mau dimasak sekarang?”
“Iya,” jawab Pak Haris singkat.
“Gak salah, Pak? Masa ada tamu disuguhin makanan beginian?” tanya Kanaya ragu.
“Emang kenapa?” tanya Bapaknya malah balik bertanya.
“Gak apa-apa,” jawab Kanaya pasrah, karena kalau sudah begitu artinya Ayahnya tak mau dibantah.
Dan Kanaya kembali melanjutkan kerjaannya lagi.
“Berapa harganya, Pak?” kali ini Ibu yang bertanya.
“Sekilo enam puluh ribu,” jawab Bapak dan Ibu terkejut.
“Ya ampun, harganya udah sama mahalnya kayak daging. Mending beli daging aja sekalian kalo gitu,” jawab Ibu yang tak rela.
“Ya~ itu kan juga daging, Bu. Daging empuk,” ujar Bapak sebelum pergi meninggalkan dapur.
○○○
Setelah beberapa waktu kemudian, akhirnya kerjaan di dapur selesai. Kanaya kembali ke kamarnya, juga karena dia belum mandi dan sholat zuhur. Namun dia tertarik untuk mengintip ponselnya lebih dulu, entah kabar dari siapa yang dia tunggu.
Kanaya menemukan pesan masuk dari What’sup nya, itu dari Jani.
Jani :
Nay, lagi sibuk gak?
Klo gak, boleh minta tolong gak?
Gue rada gak enak badan, bisa datang ke kosan gue gak?
Trus klo ada makanan lebih, boleh minta dikit gak? Kangen masakan rumah nih gue ..
😁😁
Ya ampun, ternyata temannya yang tangguh ini sakit rupanya –bahkan Kanaya sendiri sampe gak inget kapan terakhir kali Jani sakit. Belum lagi bahasanya yang segan meminta tolong, beda dengan Jani yang biasanya blak-blakan –apalagi kalau lagi sama Adel.
Kanaya :
Iya Jan, tenang aja .. gw dateng kok
Tunggu ya, ini gw mandi dulu
Jani :
Oke, makasih ya Nay
😚
Kanaya :
Ur welcome sis ..
Kanaya menaruh ponselnya dan bersiap untuk mandi, namun dia lebih dulu pergi menemui Ibunya untuk mengatakan urusannya.
Dia keluar untuk mencari sang Ibu yang ternyata masih berada di dapur.
“Bu,” panggil Kanaya sembari menghampiri Ibunya dengan membawa peralatan mandi.
“Kenapa Neng?”
“Eneng mau keluar ___,” beritahu Kanaya namun langsung dipotong sang Ibu.
“Mau kemana, Neng? Emang gak bisa ditunda aja dulu perginya? Besok gitu,” ucap Ibu Nurlela terdengar cemas.
“Jani sakit, Bu. Dia minta Eneng buat dateng,” jelas Kanaya.
“Oh ... begitu, ya udah atuh. Emang Jani sakit apa, Neng?” ucap Ibu Nurlela masih belum hilang rasa cemasnya, kali ini karena mendengar kabar dari teman putrinya yang sedang sakit.
“Katanya, gak enak badan aja sih,” jawab Kanaya. “Oh iya Bu, Eneng boleh minta lauknya gak Bu? Buat bawain bekal ke Jani,” pinta Kanaya.
“Ya pasti boleh atuh, Neng. Itu sekalian juga bawain yang lain; Telur mentah sama Ayam Ungkepnya –atau coba liat dulu di kulkas, kira-kira apalagi yang bisa kamu bawa,” ucap Ibu dan mulai sibuk mengeluarkan wadah Tamparware –nya.
Kanaya menurut dan mengecek isi kulkas, dia melihat-lihat dan memilih bahan yang baik untuk Jani meningkatkan kualitas gizi makanannya sebagai anak kos. Pertama dia sudah mengeluarkan beberapa butir telur dan potong Ayam Ungkep yang tadi mereka masak, lalu dia juga mengambil buah Apel, Pear dan Jeruk. Namun ketika Kanaya melihat Sayuran, dia berpikir –apa perlu dia bawakan juga Bayam, Kangkung, Kol, Sawi, Wortel dan lainnya?
“Neng, udah belom? Buru sana siap-siap, kesian nanti Jani nungguin,” titah Ibu.
“Iya Bu, nih,” jawab Kanaya dan membawa semua bahan ke meja untuk dibungkus oleh Ibunya. “Eneng mandi dulu ya.”
- - - - -
Selang beberapa belas menit, Kanaya keluar dan telah rapi. Dia ke dapur untuk mengambil bawaan, dan tak disangka kalau bekal untuk Jani akan beranak-pinak sebanyak ini dari awal yang dia jarah isi kulkas.
“Bu! Ini yang mana aja buat dibawa ke Jani?” tanyanya.
“Itu di atas meja,” sahut Ibu dan suaranya terdengar mendekat.
“Semua?”
“Iya.”
“Gak salah nih, Bu? Banyak amat.”
“Udah, bawa aja,” titah Ibu dan menyerahkan semua bungkusan pada Kanaya.
“Ya udah, Eneng jalan sekarang ya,” pamitnya dan mencium tangan sang Ibu.
“Iya, hati-hati.” Ibu ikut mengantar Kanaya keluar sembari membantu membawakan sisa bawaanya. “Cepet balik ya, Neng,” imbuh Ibu.
“Emang mesti ada Eneng apa, Bu?” tanya Kanaya.
Ibu Nurlela tersenyum. “Semua harus ada,” jawab Ibu.
“Hmmm ... ya udah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kanaya menunggu Abang Oj-Ol yang akan mengantarnya ke rumah sang teman, di saat itu pandangannya mengarah pada rumah di sebelahnya.
Dimas lagi ngapain, ya?
Kalau dia samperin Dimas, mereka bakal baikan lagi gak ya?
Tapi kan, kemaren bukan salah dia dan bikin suasana jadi canggung gini.
Kanaya tampak ragu dan berat untuk melangkahkan kakinya, seperti tertancap di bumi.
“Permisi,” ucap seseorang. Kanaya menoleh dan menemukan seorang pria pengendara motor berjaket hijau. “Benar dengan Mbak Kanaya?” tanyanya.
“Iya Pak,” jawab Kanaya singkat.
Tak lama setelah mengonfirmasi penumpangnya, si Bapak Oj-Ol itu memberikan helm pada Kanaya.
“Maaf Pak, ini bawaan saya agak banyak –boleh tolong pegangin sebentar?” tanya Kanaya dengan sopan.
“Iya gak apa-apa, Mbak. Boleh disimpan aja di depan sebagian, biar Mbak gak berat megangin,” jawab si Bapak Oj-Ol menawarkan bantuan.
“Oh iya, terima kasih Pak.”
Setelah semua barang bawaannya naik semua dan juga dirinya, Bapak Oj-Ol mulai meng-gas motornya dan melaju perlahan menyusuri jalan sesuai arahan GPS yang terlihat pada layar ponselnya.
Kanaya :
Gw otw Jan
Ketik Kanaya mengirim pesan What’sup pada Jani dan tak lama temannya itu membalas, karena dia juga sedang online.
Jani :
Oke, makasih ya Nay
Ditunggu sajennya
Hihihi
Kanaya :
Horor lo Jan
Kayak Nyi Kunti ketawanya
😣😣
Jani :
Jangan disebut Nay, nanti dia tersinggung
Nanti lo bisa digangguin pas dikosan gw
Kanaya melotot membawa pesan Jani, dia mulai merasa dingin dan merinding.
Kanaya :
Jani jangan nakutin gue kek’
Gue puter balik nih
😰😰
Jani :
Heee ... gue serius Nay
Lo pikir kenapa Adel gak mau main ke kosan gue lagi?
Dia diisengin gara-gara sok nantangin dan manggil-manggil
Ya~ selain juga karena gw gak mau berisik dan jatah sajen diembat dia sih
Hihihi ...
Kanaya :
Bukan sama ‘dia’ atau lo kerasukan ??
😵😵
Jani :
“Astagfirullah!” ujarnya kencang sangking kagetnya, bahkan sampai membuat sang Bpak Oj-Ol juga ikut terkaget dan motornya hampir oleng.
“Kenapa Neng?” tanya Bapak Oj-Ol.
“Maaf Pak,” ucap Kanaya merasa bersalah. “Ini temen saya ngerjain dan bikin saya kaget, maaf ya Pak,” ucapnya lagi.
Si Bapak Oj-Ol menepikan motornya dan berhenti.
“Kenapa berhenti, Pak?”
“Mbak tenangin aja diri dulu sebentar,” ucap si Bapak Oj-Ol.
“Oh ... gak apa-apa kok Pak, bisa dilanjut aja jalannya,” ucap Kanaya jadi tak enak.
“Beneran, Mbak?” tanya si Bapak Oj-Ol lagi.
“Iya Pak,” jawab Kanaya mantap agar terdengar meyakinkan.
Akhirnya sang Bapak Oj-Ol kembali menjalankan motornya. “Nanti bilang aja ya Mbak, kalo ada apa-apa,” pesannya.
“Iya Pak, terima kasih,” ucap Kanaya.
Lalu selama beberapa saat, suasana menjadi hening dan tenang. Itu karena menjadi sangat diam dan hanya memperhatikan jalan. Dia masih takut untuk membuka ponselnya, biarpun ada pesan yang kembali masuk.
“Mbak, baik-baik aja kan di belakang?” tanya si Bapak Oj-Ol memastikan keadaan penumpangnya.
“Iya Pak,” jawab Kanaya.
Merasa perlu membantu menghidupkan suasana, sang Bapak Oj-Ol akhirnya mengajak Kanaya bicara dan mulai bertanya, “Mbak, ini bawaannya banyak sekali. Mau ada acara ya?”
“Bukan Pak, ini saya mau ngunjuingin rumah teman. Itu saya bawain dia makanan, soalnya dia lagi sakit dan tinggal sendiri karena nge-kos,” jawab Kanaya.
“Oh ... baik banget ya Mbak sama temannya. Anak saya yang seumuran Mbak juga nge-kos kuliah di sini, tapi dia lagi di Semarang sekarang sama Ibunya karena cuti dulu untuk sementara ini,” jawab sang Bapak Oj-Ol dan menceritakan tentang keluarganya.
“Loh? Terus berarti ini Bapak tinggal sendiri di Jakarta?”
“Iya, terpaksa Mbak. Soalnya mau balik ke kampung juga, belum ada uang karena habis untuk sewa tempat tinggal dan makan setelah saya di PHK. Jadi awalnya saya pikir, dari pada uang pesangon abis buat ongkos pulang dan gak bisa ngasih ke keluarga –mending saya ngojek aja dulu sambil ngumpulin uang mumpung ada motor. Tapi ternyata uangnya kepake buat kebutuhan saya sendiri selama disini karena biaya hidup di Jakarta gede,” cerita sang Bapak Oj-Ol.
Kanaya terenyuh mendengar cerita dan perjuangan sang Bapak Oj-Ol dan tanpa terasa dia sudah sampai di gang kosan Jani –titik tujuan, tetapi masih perlu berjalan ke dalam beberapa meter. Lalu jadinya dia kembali naik ke motor sampai di depan bangunan kosan Jani.
“Terima kasih Pak, ini ongkosnya,” ucap Kanaya dan menyerahkan selembar uang seratus ribuan.
“Aduh Mbak, uangnya gak ada yang kecilan atau uang pas aja? Saya gak ada untuk kembaliannya, kerena dari tadi bayarnya pak On-Pay,” jawab sang Bapak Oj-Ol bingung.
“Gak Pak, gak usah kembalin,” ucap Kanaya dan langsung memberikan uangnya ke si Bapak Oj-Ol. “Simpan aja kembaliannya untuk keperluan Bapak atau keluarga,” imbuhnya.
“Ya ampun Mbak, ini kebanyakan,” ucap sang Bapak Oj-Ol sungkan.
“Gak apa-apa Pak, memang saya niat untuk kasih ke Bapak.”
“Ya Allah~ alhamdulillah, terima kasih banyak ya Mbak. Semoga kebaikan Mbak dibalas berlipat ganda oleh Allah subhanahu wa ta’alla, diberi kesehatan, rezeki lancar, dapat suami mapan dan bertanggung jawab dan hidup senang,” ujar sang Bapak Oj-Ol mendoakan Kanaya.
“Aamiin Pak, terima kasih banyak atas doanya. Semoga kembali juga ke Bapak,” balas Kanaya. “Kalau begitu saya permisi, Pak,” pamitnya undur diri.
“Iya Mbak, hati-hati,” ucap Bapak Oj-Ol dan pergi.
Kanaya masih menunggu di depan –tidak langsung masuk, karena dia tak sanggup membawanya sendiri sampai ke kamar kosan Jani yang ada di lantai dua. Kanaya mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Jani.
Astagfirullah, itu gambar setan masih ada.
Kanaya kembali terkejut ketika melihat gambar kiriman Jani, dia lupa menghapusnya tadi.
Kanaya :
Jan, gw udah di depan kosan lo
Jemput!!
Jani :
Okay ..
Weh~ banyak banget sajennya Nay
Abis ngerampok dimana?
Kanaya :
Brangkas dapur nyokap, siapa lagi?
😏😏
Jani :
Gak kena ceramah lo?
Kanaya :
Tenang aja .. itu emang suruhan doi
Jani :
Kanjeng Mami Nurlela memang terbaik
😇😇
Kanaya hendak membalas pesan Jani, namun sebuah suara memanggilnya dan Kanaya menoleh.
“Oy! Nay,” panggil Jani dengan suara serak-serak kodoknya dan di belakangnya ada seorang cewek yang mengikutinya.
Kanaya menaruh ponselnya dan menghampiri Jani. “Lo gak kayak orang sakit deh, Jan,” komentarnya yang melihat penampilan Jani yang ternyata seger kinclong.
“Tadi gue bedakan dikit sama ganti baju dulu,” jawab Jani.
“Eh, itu cewek siapa?” tanya Kanaya.
“Anak kosan sini juga, dia kamar sebelah. Sengaja gue bawa, kan lo butuh kuli –gue masih lemes. Dasar! Parah emang lo Nay, masa temen sakit malah dikerjain,” ujar Jani.
“Lo juga, pas gue sakit malah lo palakin,” balas Kanaya lantaran teringat insiden pas dia pingsan dan dijebak beli Seblak.
“Lo dendam sama gue?” tanya Jani.
“Iya!!” sahut Kanaya tegas. “Eh ... tapi apa gak apa-apa tuh Jan, temen kosan lo disuruh-suruh bawa ginian?”
“Tenang aja, udah gue janjiin upah. Nanti gue bakal bagi dia lauknya,” jawab Jani. “Oh iya, Cha ... ini temen kuliah gue –Kanaya,” ucap Jani memperkenalkan.
“Annisa, biasa dipanggil Icha –tapi orang kenalnya gue ini kembarannya Raisa,” ucapnya.
Kanaya tersenyum menahan tawa dengan guyonan Annisa, si kembaran Raisa yang berbadan subur. “Kanaya, panggil aja senyamannya.”
“Kalau dipanggil Cinta, boleh?” tanya Annisa.
“Ya?” katanya kehilangan kata untuk merespon.
“Becanda,” sahut Annisa cepat.
“Dah! Ini bawain Cha!” titah Jani.
“Siap Bosku,” jawab Annisa. Lalu dia membawa semua kantung sendiri.
“Eh! Sini biar gue juga bawa separo,” ucap Kanaya yang kaget. “Jan, gimana sih ... masa Annisa lo suruh bawa semua. Bantuin juga dong!”
“Kan gue lagi sakit, Nay. Lagian tenang aja, dia cewek strong,” sahut Jani.
“Yups!” jawab Annisa mengiyakan.
Akhirnya Annisa membawa semua barang bawaan itu sendiri sampe ke kamar Jani di lantai dua.
“Makasih ya, Cha. Nanti gue kirim makanannya ke kamar lo,” ucap Jani.
“Ditunggu ya, Jan,” jawabnya. “Mbak Kanaya, balik kamar dulu ya. Bye, jangan kangen.”
“Hahah ... iya,” sahut Kanaya.
Kanaya masuk ke kamar kosan Jani dengan was-was. “Assalamualaikum,” ucapnya memberi salam.
“Lo nyapa siapa, Nay?” tanya Jani heran.
“Gak kok, kan masuk rumah emang harus ngucap salam,” dalih Kanaya.
Jani memicingkan matanya. “Tenang aja, Nyai nya udah gue suruh keluar dulu,” godanya.
“Jan! Gue balik nih,” ucap Kanaya kesal sekaligus takut.
Jani tertawa. “Lagian lo, percaya aja. Dah sini masuk. Maaf-maaf ya, kalo agak berantakan. Maklum aja, gue lagi sakit jadi gak kuat bebenah. Tadi aja gue mau minta lo buat jemurin baju gue, tapi udah keduluan dibantuin sama Icha,” ujar Jani. “Mau minum apa, Nay? Adanya air putih aja,” tawar jani unfaedah.
Kanaya cuman mingkem.
“Nih, diminum.” Jani menyodorkan segelas air putih.
“Makasih Jan, seger banget keliatannya,” jawab Kanaya mendramatisir.
“Eh ... emang mau ada acara apa sih di rumah lo, sampe masak semewah ini,” ucap Jani sembari membongkar isi bawaan Kanaya.
“Gak tau, katanya mau ada tamu kenalanan orang tua gue,” jawab Kanaya.
“Jangan-jangan lo mau dikenalin buat dikawinin,” sahut Jani asal lalu mencomot sayap Ayam.
“Hah! Sembarang~ yang bener aja, masa gue masih kuliah mau dinikahin orang. Lagian mana ada calon lakinya tiba-tiba dateng dan ngelamar gue,” balas Kanaya menolak kesimpulan Jani.
“Ya kali aja, jodoh siapa yang tau ya kan,” ucap Jani.
“Hee ... jodoh gue tuh ya, yang di sebelah rumah gue –yang sekarang jadi pac ...,” ujar Kanaya yang tiba-tiba tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena teringat kecanggungannya sekarang dengan Adimas.
“Lah? Ngapa lo, Nay?” tanya Jani yang penasaran dan merasa aneh karena dia menangkap nada bicara berbeda dari Kanaya. “Lo lagi ada masalah ya, sama Dimas? Marahan?”
Bingo! Nice catch, Jan.
“Hah....” Kanaya merasa lesu dan merebahkan dirinya dilantai, lalu lengannya dia tumpangkan menutupi matanya.
“Kenapa, Nay? Mau cerita?”
“Gak tau gue, Jan. Jadi kemaren malam kita jalan, terus gue cerita cerita-cerita tentang Pak Adhi ke Dimas karena dia yang minta. Terus dia kayak ngambek gitu dan gue becandain dia, terus tiba-tiba kita deket gitu dan dia ...,” ucap Kanaya dan kembali tercekat. “Dimas mau cium gue,” imbuhnya pelan dan diakhirnya helaan nafas.
“Lo ciuman sama Dimas?!”
“NGGAK!” sahut Kanaya dan segera bangun lalu menepuk punggung Jani. “Sekata-kata lo Jan, kan gue bilang ‘mau’ bukan ‘udah’,” sanggah Kanaya.
“Okay ... terus?”
“Kita jadi canggung sekarang,” jawab Kanaya kembali lesu.
“Nay, gue kasih tau lo ya ... selurus-lurusnya cowok, pikiran mereka ujungnya tetep kesono. Jadi kalo lo gak mau kejadian kayak gitu keulang, mending lo cari suami aja –bukan pacar,” ucap Jani.
“Gue minta Dimas nikahin gue, gitu?” tanya Kanaya dengan polosnya.
Jani menghela nafas. “Terserah lo, tapi tergantung Dimasnya. Mau gak dia nikah sama lo?”
“Jan, lo jahat banget sih ngomongnya,” sahut Kanaya dan dia kembali rebahan.
“Eh ... lo udah makan belum?” tanya Jani dan dia telah menyiapkan Nasi Liwet bawaan Kanaya di piring untuk dimakan.
“Belum,” jawab Kanaya lesu.
“Ya udah, ayo makan bareng,” ajak Jani.
Kanaya melonjak senang dan dia bangun, lalu menuju wastafel untuk cuci tangan.
“Nay! HP lu ada telepon tuh, dari Kanjeng Mami Nurlela,” beritahu Jani.
“Hah?” sahut Kanaya dan buru-buru membilas tangannya. “Tolong angkat dulu, Jan,” pintanya.
Jani mengangkat panggilan dari ponsel Kanaya, sementara dirinya menunggu.
“Apa kata Ibu gue, Jan?” tanya Kanaya.
“Kanjeng Mami nanya, lo kapan balik? Dan lo disuruh buruan balik, penting,” beritahu Jani.
“Masa?” tanya Kanaya seakan Jani berbohong.
“Gih, sana telepon lagi.” Jani menyerahkan ponsel Kanaya.
“Ya udah, gue balik ya Jan,” ucap Kanaya pamit.
“Eh .. gak jadi makan bareng?”
“Di rumah juga nanti gue makan,” jawab Kanaya. “Bye ya~ cepet sembuh, Jan.”
“Ya, makasih. Hati-hati.”
Akhirnya Kanaya kembali pulang.
○○○
Sementara itu, Adhi sedang menyetel alamat pada GPS nya. Lalu dia tampak mengenali alamat yang baru saja dia input itu. “Ini kaya alamat daerah rumahnya Mbak Kanaya. Jangan bilang, perempuan yang mau Ibu kenalin itu tetangganya Mbak Kanaya. Ya ampun! Aneh banget kalo jadi nikah sama tetangganya mahasiswi sendiri,” keluh Adhiandra sebelum akhirnya dia berangkat.
●
T
B
C
●
Maaf ya, buat kalian yang nunggu Pak Adhi –dia belum nyampe-nyampe tuh ke rumah Kanaya. Coba minta Bu Ranti telepon anak bujang sulungnya dulu, barang kali itu Pak Adhi nyasar karena dibawa muter-muter GPS error .. hahah ..
Btw, hadiah kirimannya Jani oke, gak?
FYI, aku ini penakut. Jadi tuh pas browsing foto Nyai, aku minta ditemenin sama saudaraku .. tapi gak ada yang mau .. hiks ...
berasa olahraga jantung pas milih gambar.
>>>
Terima kasih sudah membaca dan dukungannya.
See you~