Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 40 - Berterus Terang]



Kanaya sedang memainkan ponselnya ketika sang Dosen/Suami tiba-tiba menelpon dan bertanya soal 'udah makan atau belum'. Ya ampun~ perhatian banget. Dan mengetahui Pak Adhi akan pulang, lantas Kanaya berinisiatif membereskan kamar. Lalu sembari itu, Kanaya mengirim chat di grup.


Namun nyatanya, obrolan mereka berlangsung panjang hingga curhat Adel dan telepon bersama. Tetapi Kanaya tidak dapat lama-lama bersantai, sembari menelepon dengan mode loud speaker -Kanaya kembali membereskan kamar.


"Udah Del, lo datang aja temuin Pak Adhi untuk konsultasi. InsyaAllah, akan ada jalan keluar," jawab Kanaya menyarankan seperti yang dikatakan sang Dosen/Suami.


'Gue gak berani bilangnya,' jawab Adel. 'Jangankan ngomong, ketemu muka aja -gue gak sanggup,' imbuhnya.


Jadi yang mengalami kendala skripsi bukan hanya dirinya, Adel juga sama demikian. Di tempat penelitian Adel sedang ada masalah internal, sampai berkas (kuesioner) yang dia ajukan untuk diisi oleh karyawan tertunda entah sampai kapan.


'Tumben banget lo Del, biasanya paling getol bimbingan,' timpal Jani.


'Bukan gitu Jan, anak yang lain tau udah pada sampe mana selesai skripsinya. Dan gue, bisa-bisa nanti ngulang penelitiannya,' keluh Adel. 'Tapi ini gue lagi ngusahain kok, buat ngejar orang-orang di sana biar ngisi data gue,' imbuhnya.


Kanaya memahami perkataan Adel, karena dia juga pernah berada di situasi tersebut. Di saat dia tertinggal untuk mengobservasi penelitiannya, tetapi syukurnya, Abi Luqman mau membantunya dengan memberikan rekaman acara.


'Kalo lo gak mau capek-capek ngulang, lo isi aja sisa berkas surveinya sendiri!' seru Jani.


"Jan, lo kenapa sih? Kok malah ngasih saran kayak gitu ke Adel, gak jujur dong!" balas Kanaya.


'Lo bilang gak jujur, Nay? Lo sendiri gimana? Apa lo udah jujur selama ini!?' ucap Jani yang meninggi suaranya dan syarat akan emosi.


Kanaya tersentak sekaligus tidak mengerti, alasan Jani sampai semarah itu padanya. "Maksud lo apa ngomong gue gak jujur, Jan?" Kanaya tersinggung.


'Lo udah boong soal ___,' ucap Jani terdengar frustasi dan seperti menahan diri. 'Penelitian lo!' lanjutnya. 'Jadi lo gak usah ngerasa paling bener dibanding Adel, Nay. Lo juga sama gak jujurnya, penelitian apa coba … cuman nonton rekaman video?' ujar Jani penuh sindiran.


Perasaan Kanaya sangat tertohok karena ucapan Jani, tetapi dia tak bisa membela diri juga karena saat ini dia sadar dan bagaimanapun memang begitu keadaannya. Hanya saja, sebagian dirinya tidak terima -terlebih temannya yang menuduhnya seperti itu.


"Iya, gue akuin itu salah -gue pun nyesel dan kecewa sama diri gue sendiri. Tapi Jan … kok lo tega dan sampe hati ngomong gitu ke gue? Lo tau apa, yang udah gue alamin selama ini," ucap Kanaya lirih dan tersedu.


"Kanaya, cukup! Ikut saya!!" ucap Adhi penuh penekanan dan tiba-tiba muncul di kamar.


"Mas," ucap Kanaya terperangah dan ponselnya lepas dari genggamannya.


Adhi tak bicara, dia langsung keluar kamar. Kanaya lantas beranjak dan mengikuti sang Dosen/Suami yang dilihatnya dalam keadaan emosi -bahkan dia meninggal teleponnya yang masih tersambung begitu saja.


Sementara dua orang pendengar yang tak tau situasi sebenarnya, mereka sedang bertanya-tanya.


'Nay? Itu siapa dah?' tanya Adel yang bingung dengan suara lain yang dia dengar. 'Nay … Naya … Kanaya!!' panggilnya namun tak ada sahutan. 'Ya ampun~ ke mana sih tuh anak,' erang Adel yang dilanda penasaran yang akut. 'Eh … Jan, lo denger gak tadi? Kayaknya gue kenal tuh suara,' tanya Adel pada Jani.


'Gak tau!' jawab Jani seolah tak peduli dan langsung mengakhiri panggilan.


'Heh~ malah dimatiin teleponnya,' gerutu Adel dan dia juga mengakhiri panggilan.


Namun tak lama setelah itu, ada pesan masuk pada ponsel Kanaya.


o o o ° o o o


Sementara itu, Adhi dan Kanaya saat ini berada di ruang studi. Atmosfer terasa mencekam bagi Kanaya, hingga dia tak mampu mengangkat kepalanya atau bahkan berucap sesuatu.


"Duduk!" titah Adhi sembari mendorong kursi beroda.


Kanaya patuh dan segera duduk, sementara Adhi bersandar pada sisi meja -memposisikan dirinya agar lebih tinggi. Lalu menarik kursi yang tengah diduduki Kanaya untuk mendekat padanya.


"Kanaya, sekarang jujur sama saya … ada masalah apa dengan penelitian kamu?" tanya Adhi dengan suara memancarkan ketegasan.


Kanaya menghela nafas. "Saya telat datang sampai gak ikut penelitian hari itu, terus Abi Luqman kasih rekaman videonya dan saya buat laporan penelitiannya dari situ," aku Kanaya dengan menjaga nada bicaranya.


Adhi tampak mengusap wajahnya dan disertai desahan kasar. "Kamu tau kan, itu salah? Kenapa masih dilakuin dan gak bilang ke saya, huh?" tanyanya penuh tekanan. "Itu sama saja kamu melakukan kecurangan, tau? Peneliti yang harusnya melakukan observasi kegiatan penelitian, tapi kamu cuman lihat dari tontonan video."


Kanaya bungkam.


"Ya ampun, mau sampai kapan kamu diam?"


"Ma … maaf," jawab Kanaya terdengar seperti bisikan.


"Maaf doang enggak cukup untuk tindakan kamu, penelitian kamu harus diulang dan diperbaiki," putus Adhi.


"Gimana caranya diulang dan diperbaiki? Sedangkan kegiatannya udah mau selesai," kilah Kanaya.


"Gak ada pilihan lain, kamu harus ganti penelitian. Jadi besok kamu datang ke kampus dan minta Lembar Pengajuan Judul Penelitian."


"Ta … tapi Mas ___," ucap Kanaya dan langsung dipotong.


"Kamu juga tidak punya hak untuk menawar atau membantah keputusan saya, Kanaya. Kamu sudah melakukan kesalahan, jadi kamu harus pertanggung jawabkan sendiri konsekuensinya. Dan saat ini posisi saya bukan suami kamu, tapi Dosen Pembimbing kamu. Apa kamu paham?" ucap Adhi menegaskan.


"Iya Pak," jawab Kanaya pasrah.


"Bagus, nanti kita bicarakan lagi soal penelitiannya setelah kamu bisa berpikir jernih," ucap Adhi dan beranjak, lalu menuntun Kanaya untuk duduk di sofa -bersama.


Kanaya masih menundukkan kepalanya, diam-diam dia tengah menahan bendungan air matanya dan perasaan sesak dalam dirinya. Namun cairan bening dan isak itu lolos begitu saja tanpa bisa dicegah -saat usapan lembut milik tangan sang Dosen/Suami singgah di wajahnya.


"Mas minta maaf, karena sudah bicara keras sama kamu. Tapi bukan berarti setelah ini Mas benci sama kamu, enggak Neng. Mas cuman mau menegaskan, biarpun kita Suami/Istri -tapi saya tetap Dosen yang punya tanggung jawab membimbing Mahasiswinya dengan adil," ucap Adhi.


"Iya, Eneng paham kok," jawab Kanaya masih sesenggukan.


"Kalau gitu, berhenti dong nangisnya. Jangan bikin Mas terus ngerasa jadi ikut bersalah," pinta Adhi seraya merengkuh sang Istri dalam pelukannya.


Kanaya mengangguk sembari bersandar pada dada sang Suami dan Adhi mengecup puncak kepala Istrinya saat itu.


Namun momen romantis itu harus segera berakhir, karena suara riuh yang berasal dari dalam perut yang mendemo. "Neng, Mas lapar," aku Adhi.


Kanaya terkekeh dan melepaskan rengkuhannya. "Ya udah … aku panasin dulu sayur nya, ya Mas," ucap Kanaya dan beranjak.


"Makasih, Neng."


Adhiandra :


Assalamu'alaikum, selamat malam.


Saya hanya ingin memberitahukan, untuk siapapun yang berkendala saat penelitian atau mengerjakan skripsi, harap segera dibicarakan dengan saya.


Jangan sampai bermasalah saat Sidang Skripsi atau setelahnya, karena saat itu bukan tanggung jawab saya lagi -melainkan Panitia atau Dosen Penguji saat Sidang Skripsi.


Dan perlu kalian ketahui, kelulusan kalian bisa saja ditunda!!


Terima kasih.


x x x x x


Setelah mereka makan malam, kini pasangan Suami/Istri itu sudah berpindah tempat ke atas ranjang dan saling berbagi kehangatan. Kanaya yang berbaring di lengan suaminya dan Adhi yang melingkari pinggang istrinya seraya memeluk dari belakang.


"Neng, gak ngambek kan?"


Kanaya tidak menjawab, dia sedang fokus pada ponselnya.


"Liat apa sih, Neng? Serius banget," tanya Adhi dan menumpangkan kepalanya di lekukan leher Kanaya untuk melihat apa yang sedang Istri lakukan.


"Aku ketahuan lagi," beritahu Kanaya dan menunjukan ponselnya yang berisi sebuah pesan.


Adhi dengan seksama membacanya.


\=\= Nay, lo ada hubungan apa sama Pak Adhi?


Tadi pagi gue liat lo turun dari mobilnya. \=\=


"Gimana dong, Mas?" tanya Kanaya gusar.


"Ya~ mau gimana lagi, mungkin emang waktunya kamu jujur sama temen kamu," jawab Adhi enteng.


Kanaya menghela nafas lantaran mendengar jawaban yang tak sesuai harapannya.


"Gak usah dipikirin terlalu dalam, kamu tinggal cerita aja ke temen kamu," ujar Adhi. "Udah, sekarang kita tidur. Mas udah capek."


"Iya Mas," ucap Kanaya dan menaruh ponselnya.


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Semoga cepet selesai ya, Kanaya~


Btw, udah bisa nebak belom … Kanaya ketahuan sama siapa?


x x x x x


Ya, begitulah lika-liku perjalanan seorang Pejuang Skripsi. Dan kasus ini, riil kejadian.


Aku ganti judul penelitian skripsi dan ngulang dari awal, macam Kanaya. Bedanya tempat penelitian aku, di sana lagi ada urusan jadi kegiatan observasi ditunda.


Udah stress tuh, mikir gak bakal lulus di tahun itu.


Tapi tetap ngusahain dan bela-belain biar bisa ngejer, sampe dalam seminggu bisa berkali-kali nyetor ke Dosbing.


Alhamdulillah~ dapet wisuda kloter pertama ^^


*) Nanti malam aku post lagi lanjutannya.


Part ini sebenarnya mau aku post kemaren, tapi berhubung kalian tak mau kelamaan penasaran dan digantung ... jadi aku lanjut ngetik dulu.


o o o X o o o


Makasih udah baca dan dukungannya~


See you ^^