
Kanaya sedang membereskan kembali berkas untuk bimbingan skripsinya. Meskipun Proposal Skripsinya sudah selesai di ACC dan dia bisa mulai melakukan penelitian, tapi Kanaya masih merasa ada yang kurang dan tidak paham, jadi dia meminta untuk ikut bimbingan hari ini.
Kanaya melihat pada jam dinding –pukul 11.42, masih ada waktu sekitar satu jam lebih sebelum dia berangkat ke kampus. Kanaya keluar kamarnya dan pergi menuju dapur, dilihatnya sang Ibu masih belum selesai memasak.
“Bu, masak apa sih? Kok belum selesai-selesai?” tanya Kanaya setibanya dia di samping sang Ibu.
“Ada lah, spesial pokoknya,” jawab Ibu Nurlela dan tersenyum. “Neng, itu tolong kamu tempatin ya lauknya ke Tamparware,” pinta Ibu.
Kanaya melirik meja makan dan berjalan ke sana. Wah~ dia terkejut dengan lauk yang sudah matang dan tersaji. “Ini buat siapa aja, Bu? Banyak amat!”
“Buat Dosen kamu,” jawab Ibu dan senyumnya masih bertahan. “Biar nanti kamu lancar bimbingannya,” imbuhnya.
Kanaya meliukan alisnya, merasa curiga dengan jawaban sang Ibu. “Masa? Yakin gak ada maksud lain?”
“Kan, Bapakmu juga yang nyuruh,” dalih Ibu Nurlela.
Terserah Ibunya dah, mau masak dan ngasih ke siapa. Turutin aja apa kata Emak, biar masuk surga. Aamiin~
Kanaya mengambil wadah Tamparware seukuran tempat yang suka dia bawa untuk bekal, tapi ternyata masih salah saja. Kata sang Ibu itu terlalu kecil, akhirnya Ibunya juga yang mewadahkannya pada Tamparware ukuran 24x12 cm.
“Ibu mau ngebekalin buat makan berapa hari itu?” tanya Kanaya karena sang Ibu sudah menyisi lebih setengah wadah.
“Ya~ kan nanti bisa dibagi ke teman kerja atau keluarganya,” jawab Ibu.
Baik banget dah Ibunya ini, belum tentu bakal jadi mantu –tapi udah dimanja. “Ibu bukan mau nyogok gak?” ceplos Kanaya.
“Astagfirullah, ya enggak lah Neng. Niat Ibu mah baik, dan semoga aja dapat balasan yang baik.”
Kanaya tidak berkomentar, dia hanya memperhatikan sang Ibu yang menuangkan lauk ke wadah dengan senang. Lalu setelahnya dia pamit pergi.
“Hati-hati ya Neng, bawanya –nanti tumpah,” wanti-wanti Ibunya sembari menyerahkan tas berisi bekal untuk sang Dosen.
“Ibu nih, kok yang malah dipentingin itu bekalnya dari pada Eneng,” protes Kanaya.
“Ya~ kamu juga,” dalih Ibu dan mengusap pipi sang putri.
“Kalo gitu, Eneng jalan dulu ya Bu. Assalamualaikum.”
“Ya, Waalaikumsalam.”
- - - -
Kanaya mengeluarkan ponsel setelah dia menutup pintu gerbang rumahnya, dia hendak memesan Oj-Ol. Sembari itu, dia terus berjalan ke sisi lain dari rumahnya dan melihat Adimas sedang berada di teras rumahnya. Kanaya hanya berniat melihat sebentar, namun tak disangka Adimas akan menoleh dan tatapan mereka bertemu.
“Nay!” panggil Adimas dan menghampirinya.
Kanaya terkesiap.
“Mau kemana, Nay?” tanya Adimas terdengar ramah –tak lupa dengan senyumannya.
Kanaya membalas senyumannya –tipis. “Mau ke kampus, bimbingan,” jawab Kanaya.
Adimas ber –oh ria. “Bukannya lo bilang udah selesai bimbingannya?”
“Iya, tapi masih ada yang kurang.”
Adimas berdehem sembari menganggukan kepalanya. “Lancar ya,” ucapnya sembari menepuk pundak Kanaya. “Btw, gue masuk dulu ya,” pamitnya.
Kanaya tak mengatakan apapun dan Adimas melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. “Dim,” panggil Kanaya pelan.
Adimas berhenti dan menoleh. “Ya, kenapa Nay?” tanyanya dan terkejut. Dia segera menghampiri Kanaya kembali. “Lo kenapa, Nay?” Kali ini suaranya terdengar gusar.
Kanaya menghapus jejak air yang entah sejak kapan terbendung di pelupuk matanya dan menghalangi penglihatannya -dengan punggung tangannya. "Ki ... kita, masih temenan kan?” tanyanya dengan suara bergetar.
Oh~ rasanya Adimas ikut sesak mendengar suara parau dari Kanaya. “Iya,” balasnya lirih.
“Janji?” Kanaya mengangkat jari kelingkingnya.
“Janji,” balas Adimas dan menautkan jari kelingking mereka.
“Makasih,” ucap Kanaya dan melepaskan tautan kelingkingnya.
Grep!
Adimas spontan memeluk Kanaya. “Biarin gue sekali ini aja, peluk lo. Bolehkan?”
Kanaya mengangguk dalam pelukan Adimas.
Beberapa saat kemudian Adimas melepaskan pelukannya.
“Emm ... gue cabut ya, Dim. Kayaknya Oj-Ol gue udah sampe,” ujar Kanaya dan segera pergi.
Kanaya berjalan cepat dan saat dia sudah di luar gerbang rumah Adimas, Kanaya memegangi dadanya –nyatanya jantungnya masih berdetak kencang. Tetapi dia sudah membuat keputusan dan tidak boleh mundur lagi, sebab sudah tidak ada jalan kembali.
“Mbak Kanaya?” tanya seorang pria pengendara motor berjaket hijau.
“Iya,” jawab Kanaya kemudian dia memakai helm yang diberikan Abang Oj-Ol dan naik ke motornya.
◦
◦
Kanaya :
Del, gw udah sampe kampus
Lo udah sampe? Dimana?
Kanaya menyimpan kembali ponselnya dalam tas dan berjalan menuju ruang Dosen. Kampus cukup sepi, mungkin karena ini masih libur semester. Kondisi tak jauh berbeda saat dia tiba di ruang Dosen, hanya ada beberapa dosen dan dia satu-satunya mahasiswa. Sepertinya dia yang pertama datang.
Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari keberadaan sang Dosen Pembimbing –namun tak dia temukan. Apa dia nunggu diluar aja dulu kali ya?
Kanaya memanjangkan tangannya hendak menarik pintu yang hanya beberapa langkah dari posisinya.
Dugh!
“Awww!” rintih Kanaya lantaran keningnya terantuk pintu yang didorong dari luar.
“Aduh, ada orang ya?” ucap seorang pria. “Loh? Mbak Kanaya?”
Kanaya mendongak dan menemukan wajah Pak Adhi di atasnya, lalu beliau mengulurkan tangannya untuk membantu Kanaya bangun. “Gak apa-apakan, Mbak Kanaya?”
“Iya Pak, makasih.”
“Maaf, tadi saya buru-buru. Ada yang luka gak?” tanya Pak Adhi penuh sesal dan terdengar khawatir.
“Enggak kok, Pak. Aman,” sahut Kanaya.
“Bagus. Kalo gitu, Mbak Kanaya duduk aja dulu. Saya ada perlu sebentar di luar, ini masih ada waktu sebelum bimbingan, kan?” ujar Pak Adhi lalu melirik arloginya. "Nah, ini mah Mbak Kanaya yang datangnya kecepetan. Gak sabar ketemu saya ya?”
Kanaya menautkan keningnya –narsisnya kambuh nih Dosen. “Saya mau bimbingan, Pak.”
“Oh, begitu? Ya udah, tunggu sebentar ya,” ucap Pak Adhi lalu menyambangi meja mengambil sesuatu dan pergi lagi.
Kanaya berjalan menuju sofa dan duduk menunggu di sana. Dia meletakan barang bawaannya di sampingnya, termasuk tas berisi bekal untuk sang Dosen. Lalu dia iseng dan mengambil ponselnya, ada pesan balasan masuk dari Adel.
Adel :
Otw
Lalu pesan lainnya sekitar beberapa belas menit kemudian.
Adel :
Gw udah di kampus nih
Lo dmn?
Kanaya hendak membalas, namun sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Seorang mahasiswa yang Kanaya kenal masuk, itu Bang Fadel –teman satu bimbingannya. Dia kira, bakal Adel yang masuk.
“Eh, Mbak Kanaya yang datang duluan. Apa kabar, Mbak?” sapa Bang Fadel.
“Alhamdulillah Bang, baik. Abang juga apa kabar?” tanya Kanaya balik.
“Alhamdulillah, baik juga,” balas Bang Fadel.
Jadi Bang Fadel ini usianya beberapa tahun di atas rata-rata mahasiswa sesemesternya, karena memilih bekerja dahulu –sekalian mengumpulin biaya kuliah dan nikah. Terus si Abang ini jarang bimbingan, tapi sekalinya dia bimbingan –waktu milik dia berdua sama dosen. Karena sangking banyaknya bimbingan dia, gara-gara ditumpuk jadi satu.
Huft~ untuk Kanaya datang duluan. Tapi gak ada bedanya sih, soalnya kudu nunggu yang lain kelar juga.
Hingga mahasiswa ke tiga datang, Adel belum juga nongol batang hidungnya. Kemana coba itu anak? Katanya udah sampe kampus.
Kanaya :
Del, dimana?
Gak nyasar kan lo
Ting!
Adel :
💩💩
Otw.... aku padamu
🏃🏃🏃
Kanaya geleng-geleng kepala saat membaca balasan dari Adel.
“Assalamualaikum,” ucap seorang mahasiswi yang baru masuk dengan riang.
Hah~ udah tau dah siapa yang masuk, gak perlu repot-repot ditengok lagi.
“Kanaya~ cintaku ... sayangku ...,” ucap Adel seraya memeluknya sebelum dia memaksa Kanaya bergeser untuk dia duduk. “Yah~ Gue yang terakhir ya?” ujarnya dan cemberut. “Nay, tunggin ya,” pinta Adel lalu tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang semakin membuat wajahnya menekuk. “Kok ada Bang Fadel, sih?! Yah!! Lama dah,” sungut Adel.
“Heh, Abang udah absen ya. Jelas pasti datenglah,” sahut Bang Fadel.
“Pulang aja gih sono, Bang. Besok aja bimbingannya pas gak ada gue. Lagian ngapain ngikutin gue bimbingan hari ini sih, Bang,” ujar Adel meledek.
“Ada juga elo Del, yang ngikutin gue. Orang gue absen duluan, bwek!!” balas Bang Fadel tak mau kalah lalu menjulurkan lidahnya.
“Sumpah ya, kalo ada Bang Fadel itu ... mood gue langsung ambyar. Udah, jangan ngomong sama gue Bang,” ujar Adel dan membuang muka.
“Dih! Ada model cewek begitu. Dasar ajaib,” ucap Bang Fadel dan memasang bibir mencong.
“Nay, lo dateng ke berapa?” tanya Adel.
“Pertama, terus Bang Fadel ke dua.”
“Okay ...,” sahut Adel hilang antusiasnya. Lalu dia tampak melirik kesana kemari, kayaknya lagi nyari bahan omongan lain. “Eh~ Nay, itu apaan? Gede aja tasnya,” tanya Adel pada tas Tamparware yang ada di sebelah Kanaya.
“Itu titipan Nyokap.”
“Buat siapa? Isianya apaan? Boleh gak gue intip? Bisa dicicipin gak?”
“Bukan hak lo. Udah~ gak usah penasaran,” ucap Kanaya dan mendorong wajah Adel.
“Pelit amat sih!” sungut Adel.
“Dah ya, Doi dah dateng tuh. Gue mau bimbingan dulu,” ujar Kanaya memotong.
“Siapa?” tanya Adel dan menolehkan kepalanya. “Eee ... Ciee~ manggilnya Doi juga ke Pak Adhi. Sejak kapan jadi mesra?” ledek Adel.
Kanaya membekap mulut bawel Adel, takut didengar oleh sang Dosen.
“Mbak Kanaya, sudah siap bimbingan?” tanya Pak Adhi yang berdiri di depan mahasiswa bimbingannya.
“Oh! Iya Pak,” jawab Kanaya dan menyiapkan berkas skripsinya.
“Ikut saya,” titah Pak Adhi.
“Ya?” tanya Kanaya heran namun dia tetap beranjak bangun serta membawa semua barang bawaannya dan mengikuti Pak Adhi ke mejanya.
“Silakan duduk,” tawar Pak Adhi mempersilahkan bangku di depan mejanya pada Kanaya.
Ini kali pertama bagi Kanaya bimbingan di meja dosen tersebut, karena biasanya mereka bimbingan bersama yang lain di sofa yang sebelumnya dia duduki.
“Ada hal lain yang mau saya omongin ke kamu,” ujar Pak Adhi membuka pembicaraan. “Kamu gak canggungkan sama saya?”
“Enggak Pak, biasa aja kok,” jawab Kanaya sesantai mungkin.
“Bagus kalo gitu.” Pak Adhi menganggukan kepala dan manautkan jemarinya di atas meja. “Karena saya mau tanya banyak pertanyaan sama kamu,” imbuhnya.
“Pertanyaan soal apaan, Pak?”
“Soal kelanjutan hubungan kita,” jawab Pak Adhi to the point dan sok serius nada bicaranya.
Duh! Tapi kok mendadak jantungnya kayak gendang ditalu gini ya?
“Terus bimbingan saya gimana, Pak?” tanya Kanaya bermaksud mengalihkan topik.
“Ya~ maksud saya setelah bimbingan,” jawab Pak Adhi dan Kanaya menghela nafas lega. “Mbak Kanaya gak berubah ya, masih kenceng suara helaan nafasnya. Segitu tegangnya apa pembicaraan kita sekarang ini?” ucapnya dan terkekeh pelan. “Lebih tegang mana sama pas Seminar Proposal?” ledeknya.
“Gak usah ditanya kalo itu mah, Pak. Ini kapan mulai bimbingannya dah, Pak? Kesian kan, yang lain nungguin,” ucap Kanaya tak ingin memperpanjang pembahasan tersebut.
“Baik. Jadi apa yang mau kamu tanyakan? Tapi bukannya pas bimbingan lalu itu, kamu udah saya kasih ACC dan lanjut penelitian ya?” tanya Pak Adhi dan tampak mencoba mengingat –benar atau salah ingatannya itu sendiri.
“Iya Pak, cuman ini tuh saya liat masih ada yang belum Bapak koreksi dan saya juga bingung. Makanya saya bimbingan aja dulu, dari pada pas udah penelitian ... eh~ tau-taunya malah salah,” beritahu Kanaya.
“Masa?” tanya Pak Adhi tak percaya. “Mana coba liat,” pintanya.
Kanaya menyerahkan lembar skripsinya yang belum sempat dikoreksi pada sang Dosen.
Pak Adhi menerimanya dan membaca dengan seksama. Loh? Iya, betul. Belum ada coretan indahnya disana, beberapa halaman masih tampak bersih. “Gak bisanya loh, saya gak teliti sampe ngelewat koreksian banyak gini. Ini bimbingan pas kapan sih?” tanya Pak Adhi masih tak mau ngaku kalau salah.
Kanaya mengambil Lembar Asistensi dan memperlihatkannya pada sang Dosen.
“Oh ... pantes~ pas tanggal segini mah, Ibu saya ribet nelponin mulu. Katanya saya mau dikenalin ke calonnya, jadi sepanjang hari saya kepikiran. Kira-kira perempuan model apa lagi yang bakal saya temuin,” dalih Pak Adhi.
“Masih mending Bapak, seenggaknya sehari sebelumnya udah tau maksud orang tuanya. Lah ~ saya, sampe ketemu Bapak di depan rumah saya aja ... saya masih belum dikasih tau. Speechless saya,” keluh Kanaya rada kesal terdengarnya.
“Sama Mbak, saya juga kaget pas Bapaknya Mbak Kanaya itu nyebut nama Mbak –udah mikir kemana-mana itu. Malah selama di jalan, saya udah was-was. Mikirnya, ini jalan searah sama rumah Mbak Kanaya. Apa yang mau saya temuiin ini tetangganya Mbak Kanaya?” cerita Pak Adhi. “Eh ... taunya malah sama Mbak Kanaya, mahasiswi saya sendiri. Gak habis pikir saya,” imbuhnya sembari geleng-geleng kepala.
“Saya juga gak pernah nyangka bakal ketemu Bapak di luar dan selain urusan kampus,” ujar Kanaya.
“Jadi, setelah ini ... Mbak Kanaya ada kesibukan yang lain?” tanya Pak Adhi tiba-tiba.
“Enggak,” jawab Kanaya langsung tanpa berpikir.
“Okay, sudah,” ucap Pak Adhi lalu menaruh penanya dan mengembalikan lembar skripsi pada sang empu.
“Beneran Pak? Yakin gak ada salah atau koreksi lagi,” tanya Kanaya memastikan.
“Enggak, ini udah bener-bener, BENAR,” jawab Pak Adhi agak belibet -menurut Kanaya.
“Terima kasih, Pak,” ucap Kanaya. Lalu dia mengangkat tas Tamparware dan meletakannya di meja sang Dosen.
“Ini apa?” tanya Pak Adhi.
“Titipan dari Ibu saya, buat Bapak,” jawab Kanaya.
“Oh begitu ... makasih, ya,” ucap Pak Adhi tapi mendorong kembali tas tersebut. “Kamu bawa aja dulu ya.”
“Loh, kok dibalikin Pak?” tanya Kanaya agak tersinggung.
“Bukan dibalikin, ini saya terima kok –kan tadi saya udah bilang Makasih,” jawab Pak Adhi. “Tapi ini kan saya masih ada bimbingan, meja saya penuh,” ujarnya. “Jadi Mbak Kanaya bawa dulu, toh nanti kita bakal pergi bareng.”
“Hah?” Heran Kanaya sampai tak mampu berkata-kata.
“Katanya Mbak Kanaya gak ada kesibukan setelah ini, berarti bisa ikut saya kan,” ucap Pak Adhi.
'Bener-bener nih Dosen, kapan dia bilang IYA coba?! Seenaknya aja ngambil keputusan dan ngartiin sendiri,' dumel Kanaya dalam hati.
“Silakan Mbak Kanaya kembali bersama yang lain dan tunggu saya,” ucap Pak Adhi dan mempersilahkan mahasiswa selanjutnya untuk bimbingan –tanpa menunggu persetujuan Kanaya.
●
T
B
C
●
Kanaya mau dibawa kemana ya, sama Pak Adhi?
> > >
Keliatan ya, kalo Kanaya sama Adimas masih ada rasa. Iyalah, jadian aja masih enget. Putus juga dadakan, dah kayak Tahu Bulat.
Perasaan gak semudah itu ilang, apalagi yang sudah lama dipupuk. Barang kali masih ada akar yang nyangkut, biar batang sudah dicabut.
Btw, Kanaya sama Pak Adhi juga udah mulai akrab tuh. Kita liatin aja dah~~
°°°
Jakarta biasanya panas dan sumpek, ini aku berasa dingin. Yang tinggal satu kota, sama gak sih?
Aku rada puyeng dan meler nih idung, dah kayak bocah ingusan ..
Keep healthy ya, guys ...
Luv you~
◦ ◦ ◦
Makasih udah baca dan dukungannya ..
See you~