Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 16.2]



Meskipun ujian semester bersama sudah selesai, tetapi bukan berarti perjuangan Kanaya dan teman-teman yang berada di akhir semester sudah berakhir.


Tidak saudara-saudara, mereka masih punya satu ujian lagi. Yang menentukan kelangsungan Skripsi dan Sidang Kelulusan, apalagi kalau bukan Seminar Proposal Skripsi.


Dan di sinilah mereka -si tiga sekawan- Kanaya, Adel dan Jani. Tidak ketinggalan seorang teman laki-laki sekelas yang selalu mengekor plus jadi suruhan tiap pergi ke ruang administrasi, Gevin.


Jadi hari ini mereka nunggu surat pemberitahuan untuk Jadwal serta Dosen Penguji Seminar Proposal Skripsi -dengan berdiri merapat tembok di koridor. Sembari itu, mereka berdoa dengan khusyuk. Yang paling utama mereka minta, biar jangan dapat Dosen Penguji Killer dan sebagai tambahan, Adel berdoa semoga Pak DosGan jadi pengujinya.


"Amin," ucap Gevin yang membuyarkan doa khidmat tiga mahasiswi itu. "Udahan doanya, lanjutin lagi nanti. Ambil nih!" ujar Gevin seraya memberikan lembaran kertas pada Adel yang tangannya masih menengadah dan bergegas pergi.


Namun tangan Gevin dicekat Adel.


"Ngapa lagi? Gue laper!"


"Bentar. Bantu doa dulu, semoga gue dapet Pak Adhi buat jadi Pengujinya," pinta Adel lalu melepaskan cengkraman di tangan Gevin.


"Gak usah ngarep, lagian kan Dosen Pembimbing sama Dosen Penguji beda," sanggah Jani.


Tak setuju, Adel mendesis pada Jani seolah meminta temannya itu untuk diam.


"Maaf nih ya, Del. Ini gue gak bermaksud ngerusak imajinasi lo atau gimana-gimana. Cuman gue kesian sama elo, ngayal ketinggian, gak kira-kira. Gue takut lo stress sebelum sidang …."


Belum selesai Gevin bicara, Adel sudah main potong saja. "Mau ngemeng apa sih lo, Vin? Gak usah belibet, langsung ke intinya."


"Oke, pertama-tama gue turut prihatin atas tidak terkabulnya doa lo, Del. Soalnya gebetan lo baru aja diembat orang, yang tak lain sama temen lo sendiri," jelas Gevin tetapi masih tak jelas apa yang dia maksud, sampai ketiga gadis itu menatap heran padanya.


Gevin meraih tangan Kanaya dan menangkupnya. "Selamat Nay, lo yang berjodoh sama Pak Adhi!"


"Apa? Gue apa?" tanya Kanaya menunjuk dirinya sendiri, dia masih tak percaya dengan ucapan Gevin barusan.


Seketika tatapan Jani dan Adel langsung tertuju pada Kanaya, bahkan yang jadi sasaran juga bingung. Adel buru-buru melihat isi surat pemberitahuan milik Kanaya dan membacanya dengan seksama.


"Siapa?!" tanya Kanaya menuntut. Meskipun sebenarnya kalau melihat raut wajah Adel, mestinya dia sudah tahu apa jawabannya.


"Ya Rabb~ Beruntung banget sih lo, Kanaya!! Huhu," sedu Adel sembari memberikan Surat Pemberitahuan Jadwal dan Penguji Seminar Proposal Skripsi pada Kanaya.


Kanaya segera melihat isinya, tanpa perlu mencari.


Dosen Penguji Seminar Proposal Skripsi : Adhiandra Putra Darmawan, M.Stat.


Kanaya bengong, sepertinya otak dia berhenti bekerja. Namun sebenarnya dia hanyut dalam pikiran yang bagai benang kusut.


Gimana nasibnya coba?


Meskipun baru ketemu beberapa kali dan hanya dengar dari cerita Adel, Kanaya tahu kalau Pak Adhi itu orangnya kelewat peka dan teliti. Dia bisa mati berdiri karena dicecar.


"Nay … Nay … Kanaya!!"


Baru setelah Adel meninggikan nada suaranya, Kanaya menoleh. "Hah? Apa? Kenapa?" tanyanya jelas kelihatan linglungnya.


"Lo kenapa dah, Kanaya?"


"Woles aja, dia gak gigit. Palingan cuma ngaum doang," kelakar Adel bermaksud menenangkan Kanaya. Tapi tampaknya tidak berhasil, malah Kanaya makin keliatan melas tampangnya. "Sebut aja nama gue, kalo Pak Adhi nakal," imbuhnya masih tak serius.


Tak!


Jidat Adel baru saja ditepuk oleh Jani.


"Apa?" balas Jani dan memelototi balik Adel dengan tatapan malas. "Lagian lo, temen lagi khawatir juga, malah dibecandain. Kasih masukan kek!"


"Ya~ itu mana gue tau! Kan Pak Adhi itu Dosen baru," seru Adel tak mau kalah. "Tapi emang sih, pas lagi bimbingan sama Pak Adhi itu dia rada 'gemesin' pengen karungin bawa pulang plus gebukin pake panci," ujarnya ngawur.


"Gak jelas lo, Del!" sewot Jani.


"Lo pada kan tau sendiri, gue demen sama tuh dosen. Jadi serba salah, antara seneng liat tampangnya sama kesel gara-gara omongannya. Pak Adhi itu kalo bimbingan tipe ngomong dikit atau gak ngomong pun, tetep nyelekit. Kita yang kudu sabar sama alus buat mancing dia biar mau jelasin oret-oretannya," ujar Adel panjang lebar.


Kanaya gak tau kudu makasih karena udah diceritain pengalaman si Adel sama Pak Adhi, atau malah makin parno -kayaknya jadi parno deh.


Mana Skripsi nya belum dibalikin sama Bu Andin. Gak tau dah, nanti gimana Seminar nya. Pembimbing nya santuy, eh … Penguji nya mantul.


Selamat dibejek Kanaya!!


••


T


B


C


••


"Semoga lisan, pikiran dan hati Pak Adhi dilembutkan," doa Kanaya.


Hoho … kurang lebih doanya Kanaya sama kayak aku pas menjelang seminar proposal skripsi. Soalnya aku juga gak kenal sama dosen pengujinya, cuman denger kata orang -yang sebagian besar bilang kalau orangnya galak.


Hal hasil, emang bawaannya jadi was-was sama nebak-nebak kemungkinan terburuk.


Oke, ketemu lagi nanti kita … bareng Pak Adhi.


°°°


Btw, aku mau revisi ini novel. Soalnya ada peraturan baru dari pihak Manga/Novel toon. Terutama typo dan kata-kata yang mendapatkan sensor bintang-bintang (*****)


Padahal mah ya, kayaknya aku gak nulis bahasa vulgar dan kasar deh .. wkwkwk ~


>>>


Cuman mau kasih tau, barang kali ada yang mau gabung GRUP AUTHOR -KU.


Soalnya aku kasih info update di sana atau yang mau ngobrol sama curhat, juga boleh~