
Bunyi alarm dari ponselnya memaksa seorang gadis untuk bangun, dan itu adalah bukan alarmnya yang pertama.
Kanaya bangun dengan malas dari ranjangnya dan kemudian membereskan tempat tidurnya yang kacau, termasuk dia mengganti seprai nya karena ada noda darah haidnya.
Padahal semalam, sebelum tidur dia sudah mengganti pembalutnya. Tetapi tetap saja bocor, mana masih nyeri lagi perutnya -badan juga pegal-pegal. Kayaknya karena kemaren keasikan jalan sama Dimas deh, lari-larian juga karena hujan -udah kayak film India gitu.
B.t.w Dimas apa kabar? Sakit juga gak ya, dia.
---
Kanaya keluar kamar setelah rapi untuk sarapan. Di sana anggota keluarganya sudah di meja makan, tentunya minus si Dhika -kebluk!!
"Teh Naya, pucet amat -dah kayak vampir," komentar Sofi saat melihat Kanaya.
"Iya apa?" Kanaya bertanya balik. "Gampang dah, nanti bisa touch up lagi."
"Anak jaman sekarang ya, dikit-dikit touch up. Harusnya tuh, diri dijaga, bukan di dempul pake bedak atau poles lipstik," komentar Teh Dita.
Lain dengan sang Teteh, Ibu jelas mengkhawatirkan anaknya. "Neng sakit? Lemes juga tuh keliatannya," ucap Ibu Nurlela.
"Baik kok, Bu. Tenang aja," jawab Kanaya.
"Ya udah, nanti bawa bekel ya," tawar Ibu sembari mempersiapkan bekal untuk Kanaya.
"Makasih Ibuku tersayang," tutur Kanaya.
---×××---
Setelah sarapan, Kanaya pamitan.
Namun saat keluar dari pintu pagar rumahnya, dia tidak menemukan Dimas yang parkir di sana. Jadi Kanaya langsung saja menghampiri Dimas di rumahnya.
Baru memasuki pekarangan rumah Dimas, Kanaya sudah melihat si empu bersama motor matic kesayangannya yang keluar dari garasi.
"Tumben Dim, kesiangan?" ujar Kanaya.
"Eh ... Naya!" Adimas tampak terkejut. "Duh ... kalo namu, salam dulu kek," dumelnya.
"Lo kali, serius amat. Masa gak denger langkah kaki gue," sahut Kanaya.
"Emang enggak," jawabnya.
Kanaya cemberut karena dijawab seadanya.
"B.t.w udah sarapan belum?" tanya Kanaya tiba-tiba mengganti topik.
"Belum, lo udah? Kalo belum, nanti sekalian aja ke Kang Cecep -makan bubur," ucap Adimas.
"Lo aja, gue udah sarapan," ucap Kanaya.
"Ya udah, gak jadi deh," ujar Dimas cepat berubah pikiran.
"Lah~ kok gak jadi? Ngambek lo?" tanya Kanaya sembari menoel perut Adimas.
"Bukan, kagak enak aja makan sendiri," jawab Dimas.
"Gue temenin kali, kan gue nebeng sama lo."
"Tetep aja, lo kan gak makan," dalih Dimas lagi.
"Banyak alasan lo! Kalo gue tawarin makanan ditolak juga gak?"
"Nih." Kanaya mengangkat tangan kirinya yang menjinjing tas bekal Tamparware.
"Itu kan bekel lo," ucap Dimas seakan menolak.
"Gue udah sarapan -kan, tadi gue bilang. Udah sih, terima," jawab Kanaya ngotot. "Kalo gak, gue jalan sendiri nih."
"Gak lucu banget sih Nay, main ngancem-ngancem," balas Dimas.
"Makanya diterima."
"Iya, makasih Kanaya."
"Nah, gitu dong," ujar Kanaya senang.
•
•
•
Sementara itu di pintu masuk sebuah universitas, seorang pria baru saja melewati pintu gerbang kawasan universitas tersebut. Adhiandra, si Dosen Statistik idola ini biar kata mukanya keliatan ketekuk, tapi tetap tidak memudarkan pesonanya di hadapan mahasiswi yang menjadi penggemar.
Dan jika kalian perhatikan, di sana terselip Adel diantara beberapa mahasiswi lainnya.
"Ngeliat senyumnya aja jarang, ini muka ganteng malah cemberut. Calon imam mikirin apa sih?" ujar Adel.
"Del, lo mau nungguin Kanaya atau tuh dosen sih?" sungut Jani yang berdiri di sebelahnya.
"Ya, nungguin Kanaya -lah!! Gue mau liat penampakan dia yang baru ganti status jomblo ke dating," sahut Adel sewot.
"Nunggu di kelas kan, bisa," balas Jani lagi yang keliatannya gak sabar.
"Ya kali, kita juga bisa nangkep mereka yang kepergok lagi gandengan," jawab Adel mengutarakan imajinasi liarnya.
"Heh ... Dodol! Dimas sama Naya tuh gak lebay kayak lo yang pacaran baru seumur jagung di umbar-umbar," sahut Jani.
"Eh ... eh ... nih mereka!! Cus~ gerebek!!" ujar Adel heboh dan berlari
••
T
B
C
••
Like
Comments
Vote
Favorite
°°°
See you~