
Akhirnya penelitian Kanaya untuk hari ini selesai, tak lupa dia mengirim pesan pada sang Dosen/Suami. Kanaya membuka aplikasi What'sup dan mencari kontaknya terlebih dahulu.
Tertulis di sana, nama kontaknya masih sama saat dia pertama kali menyimpan nomor sang Dosen -Pak Adhi (New Dosbing)
Kanaya berpikir, apa perlu dia ganti namanya?
Pada akhirnya Kanaya mengedit nama kontaknya -Mas Adhi (Suami).
^^^Kanaya :^^^
^^^Mas~ saya udah selesai^^^
Setelah mengirim pesan, Kanaya keluar dari aplikasi tersebut -tetapi dia masih memegang ponselnya, sebab menunggu balasan.
Sayangnya, setelah beberapa waktu berlalu dia menunggu di luar gerbang sekolah -balasan dari Pak Adhi juga belum masuk. Lalu Kanaya melakukan panggilan, namun tak diangkat -jadi Kanaya mengirim pesan lagi.
^^^Kanaya :^^^
^^^Mas, klo gk bisa jemput gak apa-apa^^^
^^^Saya pulang sendiri aja^^^
Kanaya memesan layanan Ojek Online, lalu selang beberapa menit Abang Oj-Ol nya datang dan Kanaya naik untuk berkendara pulang.
Lalu saat masih diperjalanan tak jauh dari apartemennya, Kanaya meminta Abang Oj-Ol untuk berhenti.
"Kenapa Mbak?" tanya sang Abang Oj-Ol yang bingung karena penumpangnya tiba-tiba minta berhenti.
"Saya turun di sini aja, Bang," ucap Kanaya sembari mengeluarkan dompetnya.
"Loh, gak sekalian di tempat tujuan? Deket lagi kan itu nyampe, Mbak."
"Gak apa-apa Bang, saya baru inget kalo ada perlu." Kanaya memberikan uang untuk membayar ongkos ojeknya. "Makasih ya, Bang. Kembaliannya ambil aja."
"Makasih ya, Mbak."
Kanaya memasuki salah satu toko yang berjejer di sepanjang jalan -Apotek, karena teringat pesan Teh Dita dan juga ketidaksiapan dirinya kalau sampai menanggung hal baru diusianya saat ini.
Setelah mendapatkan barang yang dia butuhkan di toko tersebut, Kanaya kembali melanjutkan sisa perjalanannya menuju apartemen. Dan ternyata lumayan capek, ya~ mana jalan kaki di siang bolong. Kanaya beristirahat sejenak, terteduh di bawah pohon yang ada disepanjang jalan dan bersandar.
Lalu di saat itu, ponselnya bergetar dan ada sebuah panggilan masuk –Mas Adhi (Suami). Kanaya mengangkatnya.
“Ya Halo~ Assalamualaikum, Mas.”
‘Waalaikumsalam. Neng, kamu dimana?’
“Saya di jalan pulang, Mas. Kenapa?”
‘Ya udah, tunggu di sana –saya jemput kamu.’
“Eh~ gak usah, Mas. Ini saya sebentar lagi sampe,” tolak Kanaya.
‘Enggak, ini saya sekalian mau ajak kamu pergi,’ jawab Adhi.
“Kemana Mas?”
‘Nanti saya kasih tau. Dah ya.’ Adhi mengakhiri panggilannya.
Kanaya mendesis saat panggilannya diputus begitu saya tanpa alasan, tetapi dia tetap bersabar sembari menunggu kedatangan sang Dosen/Suami.
Tiinn ... Tiiinnn ...
Kanaya tersentak kaget saat mendengar suara klakson, dia sampai berdiri –nyaris berlari.
Ya ampun~ Pak Adhi ini, gak woles banget orangnya.
Kaca mobil depan di buka, Adhi menyembulkan kepala dan tangannya keluar. “Neng! Ayo, naik,” ajaknya.
Kanaya menghampiri dengan malas dan lambat –dia sengaja membuat si empu kesal.
Hahah~ biar rasain!!
“Neng! Buru jalannya, kamu gak kepanasan apa?” panggil Adhi lagi pada istrinya.
Hah~ iya sih, panas banget. Dasar b*go, ngapa dia nyiksa diri sendiri. Kanaya segera berlari memasuki mobil.
“Kamu ada minum, gak?” tanya Adhi sembari menyodorkan sebotol minuman elektrolit dingin –Ponari Sweet.
“Makasih Mas~ tau aja lagi aus,” jawab Kanaya menerimanya dan segera menandaskan isinya.
“Neng, maaf ya~ saya telat jemputnya. Tadi abis lari, ketiduran,” sesal Adhi.
“Jadi ini sogokan, Mas?” tanya Kanaya seraya mengangkat botol kosongnya.
“Gak juga, tadi saya pas bangun lapar dan mampir ke Mini Mart beli makanan,” jawab Adhi.
Kanaya cemberut mendengarnya. Kirain Pak Adhi sengaja beli untuknya.
“Terus saya inget kamu, jadi beli juga,” lanjutnya. “Itu ada di belakang, kamu pilih aja.”
Senyum Kanaya kembali terbit. Dia berbalik badan menghadap bangku belakang untuk mengambil makanannya. “Terus ini kita mau kemana, Mas?” tanya Kanaya sembari mengunyah Biskuit Stick –Pockyi.
“Kamu lupa ya? Tadi kan janji setelah kamu selesai penelitian hari ini, kita belanja bahan makanan,” ingatkan Adhi.
Kanaya meresponnya dengan deheman panjang, karena masih mengunyah biskuit Pockyi.
"Enak?" tanya Adhi pada Kanaya yang sedang asik nyemil biskuit Pockyi.
"Mas mau?" tanya Kanaya dan menyodorkan bungkus kotak Pockyi.
"Saya lagi nyetir, Neng," sahut Adhi. "Suapinlah!" pintanya sedikit memaksa.
"Dasar manja!!" seru Kanaya, tetapi dia tetap menyuapi sang Dosen/Suaminya.
Namun hal tak disangka yang dilakukan Adhi, telah mengejutkan Kanaya -lantaran jari gadis itu terkena sesuatu yang basah.
"Iiihhh~ Mas! Jorok banget sih, pake jilat-jilat!!Emangnya Kucing?"
"Maaf, saya gak sengaja -kan lagi nyetir ... jadi enggak liat," dalih Adhi.
"Udah nyetir aja," ucap Kanaya menggerutu.
Tapi Adhi tiba-tiba malah menepikan mobilnya.
"Loh, kok berhenti Mas?" tanya Kanaya bingung.
"Saya mau nemenin kamu makan, kesian kamu makan sendiri," jawab Adhi dan menimbulkan tanda tanya pada Kanaya, hingga gadis itu memiringkan kepalanya.
"Mas modus, ya? Bilang aja kepengen!!" tuduh Kanaya.
Adhi tertawa, dan semakin membuat Kanaya bingung.
"Bukan, gara-gara tadi ... saya jadi keinget sesuatu." Adhi masih terkekeh. "Ya ampun~ saya gak nyangka kalau kejadiannya bakal keulang lagi sekarang, di saat kita udah nikah."
"Ihhh~ apaan sih, Mas?" rungut Kanaya kesal karena masih tak paham maksud sang Dosen/Suami.
"Itu ... dulu, pas saya nganter kamu pulang dan di jalan kamu ke warung buat alasan kabur, jadinya malah beli es krim ___."
"Tunggu!" potong Kanaya karena sepertinya sesuatu terlintas di pikirannya. Ya ampun~ bener! Persis sama! "Terus Mas penasaran sama es krim saya dan minta disuapin, tapi es krimnya malah jatoh ke baju Mas dan akhirnya Mas nepiin mobil buat makan es krim bareng?"
"Iya!" jawab Adhi antusias.
Dan kini mereka tertawa bersama karena telah mengingat dan berbagi momen bersama kala itu pada kali ini.
Benar-benar tak ada yang bisa menebak apa yang akan diperbuat oleh waktu.
"Tapi kok, bisa-bisanya Mas gak berubah?" goda Kanaya. "Modus!!" ulangnya dengan kata tersebut.
"Jadi pas itu, kamu mikir kalau saya modusin kamu?"
"Iya," jawab Kanaya terus terang.
"Ya sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. Sekarang kan saya bukan cuman Dosen kamu, tapi Suami kamu juga -jadi gak salah kalau saya modus ke kamu," dalih Adhi.
"Ya ampun~ alasannya itu mulu deh."
"Udah, buru diabisin makanannya. Atau Eneng mau gantian? Sekarang giliran kamu yang saya suapin?"
"Enggak, masih punya tangan," tolak Kanaya.
"Yah~ padahal spesial cara nyuapin saya," ucap Adhi sembari menggigit Biskuit Stik Pockyi dengan bibir.
"Ogah! Gak mau. Udah iihhh~ jangan iseng. Kapan nyampenya nanti?!" protes Kanaya.
“Oh iya, tadi juga ada telepon dari Photo Studio, katanya foto nikahan kita udah jadi," ucap Adhi baru saja inget dengan janji temunya.
“Masa? Beneran, Mas? Cepet juga ya.”
“Kualitas yang diterima mengikuti harga yang diberi,” jawab Adhi sembari menarik tuas rem tangan dan menginjak gas.
Kanaya paham dah maksud Pak Adhi, dia bayar lebih mahal dari harga standar. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
o o o o o
Belanja dan ambil foto –sudah, kini mereka ada di parkiran bawah tanah apartemennya –tengah mengeluarkan belanjaan dan mengangkutnya menuju lift.
Adhi mendesah –lelah, bawaan mereka cukup banyak ternyata. Saat di Super Market tidak terasa karena ada troli yang tinggal didorong, tapi sekarang mereka harus membawanya sendiri menuju unit apartemen mereka.
Sungguh tidak Adhi sangka, padahal dia hanya menikah dan membawa seorang ke apartemennya –tapi kebutuhannya bertambah sebanyak ini. Coba bagaimana nanti, jika mereka menambah orang yang tinggal lagi? Seperti punya anak misalnya. Mungkin banyak uang yang akan dikeluarkan, atau bisa jadi dia butuh pekerjaan ekstra.
Akhirnya mereka sampai dan masuk di apartemen. Kanaya segera membereskan belanjaan dan menatanya, sementara Adhi pergi ke kamar untuk memasang figura –sebelum nanti membantu Kanaya. Adhi meletakan figura yang berisi foto pernikahan mereka tepat di atas tempat tidur –menggantikan lukisan Iron Man.
Setelah selesai, Adhi pergi ke dapur dan menemukan Kanaya mencuci sayur dan buah. “Ada yang bisa dibantu?” tanya Adhi.
“Oh ... Ya ampun~ Mas!” Kanaya tersentak saat menoleh ada sang Dosen/Suami di belakangnya, lalu dia melihat sekeliling. “Emm ... gak ada kayaknya, ini udah semua kok,” jawab Kanaya.
“Tapi ini masih banyak yang berserakan di meja,” jawab Adhi sembari menunjuk meja makan yang dipenuhi berbagai bahan seperti; Roti Tawar, Telur, Selai Coklat, Keju Mozarella, Pisang dan Ayam.”
“Bukan berserakan, Mas. Itu emang sengaja saya taro di situ, nanti mau saya masak,” jawab Kanaya sembari membawa Wortel, Kentang dan Strawberry yang telah dia cuci.
“Mau buat apa kamu? Banyak banget ini.”
“Cemilan simpel aja, buat nanti mau ngumpul di saungan sama tetangga.”
“Repot-repot banget, Neng. Tinggal beli aja.”
“Kalo gitu, gak spesial dong.”
“Beneran gak ada yang perlu dibantu, nih?” tanya Adhi lagi. “Kamu kayaknya nanti bakal repot.”
“Kan nanti masaknya, kalo sekarang semua bahan udah disiapin....” Kanaya tampak berpikir sejenak. “Eh! Kayaknya ada yang kurang, deh? Oh ... tepung panir!! Emmm ... roti tawarnya juga kurang, terus Sause sama Mayones,” ucapnya saat teringat. “Mas~ boleh minta tolong beliin, gak?” pintanya.
“Oke!” jawab Adhi, tapi masuk ke kamar.
“Mas, kok malah masuk ke dalem?” teriak Kanaya dari dapur.
“Mau ambil kunci mobil sama dompet!” jawab Adhi dengan berteriak pula.
Sepeninggalan sang Dosen/Suami, Kanaya membersihkan diri untuk menunaikan ibadah sholat Zuhur. Namun saat dia masuk ke kamar, dia menemukan sesuatu yang baru sekaligus hal yang membuatnya terkejut.
Ya ampun~
Kanaya membekap mulutnya sembari memandang dengan mata berkaca-kaca pada sebuah figura besar berisi foto pernikahan mereka.
Kanaya tak tau harus berkata apa? Dan sepertinya dia sempat tersipu tadi.
Lalu ... dari sekian banyak banyak foto, kenapa harus pilih yang posenya begitu?
Klik!
Kanaya mendengar suara pintu, sepertinya Pak Adhi sudah kembali. Kanaya lantas segera keluar dan menghampirinya, padahal dia baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk.
“Mas! Itu di kamar ___,” ucap Kanaya yang dipontong oleh Pak Adhi yang mengomentari penampilannya.
“Astagfirullah, Neng! Pake baju yang bener!! Ini masih siang, kamu jangan mancing-mancing ya!!” seru Adhi terus-menerus meneriaki Kanaya.
“Maaf~ tapi itu fot ___.” Lagi-lagi ucapan Kanaya dipotong.
“Pake baju!!” titah Adhi sembari memelototkan matanya –tak mau dibantah. “Atau nanti jangan nyese, ya ... kalau saya serang,” ancamnya kali ini.
Kanaya mendengus dan memasuki kamar sembari menekuk wajahnya.
Adhi menjatuhkan dirinya dengan kasar di sofa sembari menangkup wajahnya dan mengusapnya kasar, lalu terdengar desahan panjang.
Ya ampun~ Neng ... sadar gak sih, kelakuannya seperti tadi ... itu bahaya buat dia. Dan kalau seperti ini, bisa-bisa Program Keluarga Berencananya gagal sebelum disepakati bersama.
Setelah menenangkan diri, Adhi beranjak menuju kamar –karena berpikir, mungkin saja Kanaya sudah berpakaian. Namun saat dia mengetuk pintu dan memanggil istrinya, tak ada jawaban setelah beberapa kali.
Gak mungkinkan, si Eneng ngambek gara-gara dia omelin tadi?
“Neng?”
“Masuk, Mas.”
Adhi lega, akhirnya mendengar jawaban dan dia masuk. Ternyata tadi Kanaya sedang sholat.
“Kenapa Mas?”
“Eng ... enggak,” jawab Adhi dan duduk di pinggir ranjang.
Kanaya berdiri dan membereskan mukena yang sebelumnya dia pakai, lalu ikut duduk di sebelah Pak Adhi.
“Oh iya, Mas ... itu foto,” ucap Kanaya sembari menunjuk foto yang tergantung di dinding –bagian atas tempat tidur.
“Iya, kenapa?”
“Kok yang itu sih, fotonya?!” tanya Kanaya nge –gas.
“Kenapa emangnya? Bagus kok.”
Kanaya menggeram. “Bukan masalah bagus/gaknya, tapi posenya itu loh –masa begitu! Keliatannya itu kayak kita ___.”
“Mesra banget,” sambung Adhi.
Kanaya menunduk malu, sementara Adhi tersenyum geli melihatnya.
Memang benar, kalau diperhatikan dan diingat lagi –mereka sangat malu ketika diminta oleh fotografer untuk berpose begitu.
Adhi yang berdiri di belakang Kanaya sembari memeluk –melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan memandangnya dengan sorot bahagia. Begitu juga dengan Kanaya, yang balas menggenggam tangan Adhi dan menatapnya dengan tersenyum. Belum lagi jarak wajah mereka yang sangat dekat, nyaris seperti orang akan berciuman.
“Bukan saya yang pilih, tapi tukang fotonya,” dalih Adhi.
“Ya~ gak mungkin dicetak, kalo bukan Mas juga yang setujuin,” bantah Kanaya.
“Iya, maaf~ saya gak diskusi sama kamu dulu. Terus mau diganti?”
“Gak usah, udah terlanjur,” jawab Kanaya ketus.
“Ya udah, nanti saya turunin fotonya,” bujuk Adhi.
“Gak usah, Mas," ucap Kanaya dan beranjak dari ranjang dan hendak keluar.
"Eh~ mau ke mana?" tahan Adhi.
"Dapur, mau masak buat pertemuan tetangga," jawab Kanaya datar.
"Duduk dulu sebentar, ada yang mau saya omongin," pinta Adhi seraya menarik Kanaya untuk duduk kembali.
Kanaya menurut dan kembali duduk. "Soal apa, Mas?"
"Soal masa depan dan keutuhan hubungan kita," jawab Adhi dan menggenggam tangan sang Istri.
Kanaya was-was.
Waduh!! Berat nih omongannya.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Bisa tebak, apa yang bakal mereka omongin? Dan gimana akhirnya??
Btw, ada yang nostalgia nih .. Cieee~
Yang penasaran dan kangen, bisa mampir lagi di :: [ Part 9 - Unexpected Situation ]
wkwkwk ..
Aku yang tiba-tiba inget momen lama mereka, jadi ikutan gemes..
x x x
Tunggu ya~ next part masih aku ketik.
Kalo aku tunggu selesaiin semua, takutnya nanti makin lama kalian nunggu up nya ..
o O o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~