
Adhi mengantar Kanaya ke SMA Pertiwi, tempat gadis itu melakukan penelitian -dia menurunkannya tak jauh dari gerbang.
Sementara itu, di gerbang sekolah ada dua orang guru yang berjaga dan bertugas memeriksa kerapihan siswa/i sebelum mereka memasuki kawasan sekolah. Hal tersebut menarik perhatiannya, terutama saat melihat beberapa siswa dihukum, bahkan sampai ada siswa yang main kejar-kejaran dengan gurunya.
Adhi geleng-geleng kepala. Ya ampun~ kelakuan anak jaman sekarang.
"Kayaknya ada yang keinget masa-masa sekolah," ujar Kanaya yang memperhatikan sang Dosen/Suami.
"Siapa? Saya?" tanya Adhi dan mendapatkan anggukan dari Kanaya. "Heh~ jangan salah. Saya ini dulu murid teladan dan percontohan," belanya pada diri sendiri.
"Heum … iya dah, anak kesayangan guru," goda Kanaya dan melepaskan sabuk pengamannya. "Ya udah Pak, saya berangkat sekolah dulu ya~ Assalamualaikum," ucapnya dan mencium tangan Pak Adhi.
“Eh ... tunggu,” tahan Adhi. “Kamu gak mau uang jajan?” tanya Adhi yang mengikuti alur pembicaraan Kanaya.
“Ya?” Sementara Kanaya masih bingung.
“Gak mau saya kasih jajan?”
Kanaya tersenyum girang. “Mau dong, Pak!” jawabnya semangat.
Adhi mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang seratus ribuan pada Kanaya. “Cukup?”
“Lebih dari cukup untuk ngeborong Gorengan di kantin, makasih Pak,” jawab Kanaya senang,
“Ingat, jangan dihabiskan semua dan belajarnya yang rajin ya~ An.Nak.Ku,” ucap Adhi dan menekan kata terakhir, tak lupa senyum jahatnya.
Kanaya merasakan firasat, kalau dia baru saja berbuat salah. Ya Rabbi~ tadi dia manggil –Bapak– lagi!!
“Maaf Mas, saya udah telat,” dalih Kanaya dan segera bergerak untuk keluar dari mobil.
Klek!
Loh, kok gak bisa dibuka pintunya?
Kanaya masih berusaha menarik gagang pintu mobil –hendak keluar, lalu Kanaya merasakan hawa panas dari punggungnya.
Ampun~ ternyata pintu mobilnya dikunci sama Pak Adhi.
“Coba saya itung, kamu sudah berapa kali manggil saya –Bapak– tadi,” ucap Adhi sembari mengira dengan jarinya.
“Mas, ini sekolah ... kalo diliat orang, nanti kita bisa diarak keliling kerena disangka pasangan mesum.”
“Ya~ jangan sampe ketahuanlah ... lagian kaca mobil saya gelap kok,” balas Adhi tak mau kalah, sebab dia tak mau menyia-nyiakan kebahagiaan sederhananya saat menggoda sang Mahasiswi/Istri.
“Ampun Mas~ kan gak sengaja. Perhitungan banget dah!!” seru Kanaya memelas.
“Kamu sudah dikasih peringatan sama kesempatan aja, masih dilanggar. Gimana kalo saya biarin? Makin ngeyel nanti.”
“Enggak, saya janji gak bakal ngulangin lagi.”
“Apa jaminannya?”
Kanaya diam, dia sedang berpikir. Kira-kira hal apa yang cukup kuat untuk membuat sang Dosen/Suaminya ini percaya?
“Kalau saya kasih, Jantung/Hati saya ... Mas mau gak?”
Adhi tertawa terbahak dan tampak senang juga puas mendengarnya. “Kamu lulus! Udah sana masuk sekolah,” ucapnya.
“Beneran?” tanya Kanaya memastikannya.
“Iya! Udah buru, sebelum saya berubah pikiran.”
“Oke~ Makasih Mas –ku sayang!!”
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Adhi merasa perlu lebih jelas mendengarnya.
“Apa?” tanya Kanaya seolah tak terjadi hal salah.
“Tadi kamu manggil saya, apa?”
“Cepe dulu,” ucap Kanaya dengan canda sembari menadahkan tangannya.
“Mata duitan kamu,” komentar Adhi.
“Lah, buat uang belanja maksud saya.”
“Oh iya, saya belum kasih uang belanja ya?” tanya Adhi yang baru saja ingat kewajibannya. “Tenang aja, nanti saya transfer ke rekening kamu. Tapi awal bulan aja ya, biar lebih gampang diinget.”
“Gak masalah, belanjaan yang kemaren Mas beli juga masih cukup kok.”
“Ya udah, apa nanti kita belanja pas selesai penelitian kamu hari ini?”
“Emmm ... boleh.”
“Kalau gitu, kabari saya pas kamu selesai.”
“Iya.”
Kanaya hendak keluar dari mobil, namun ternyata ada seorang pria paruh baya yang berjalan mendekati mobil mereka –Abi Luqman. Kanaya segera turun dan menghampiri sang Kepala Sekolah.
“Loh, Eneng rupanya yang ada di dalam mobil,” ucap Abi Luqman.
“Iya Abi,” jawab Kanaya lalu mencium tangan punggung sang Guru.
“Tadi baru mau saya tegur,” lanjut Abi Luqman.
Diam-diam Kanaya kaget, tapi dia berusaha tetap menjaga ekspresinya. Sesungguhnya dia benar-benar takut nanti dikira pasangan mesum.
“Soalnya Abi perhatiin, ini mobil udah lama parkir, tapi orangnya gak keluar-keluar.”
Kanaya mulai keringat dingin. Abi nya ini bakal bilang apa lagi coba, gara-gara mereka lama di dalam mobil. Semoga gak aneh-aneh mikirnya.
“Ini kan jam masuk sekolah, banyak anak yang pada datang juga diantar orang tuanya. Tapi kalo mobil kamu parkir di situ terus, jadinya ngalangin jalan dan bikin macet,” omel Abi Lukman.
Fuhhh~
Kanaya menghembuskan nafas lega. Rasanya diomelin kayak gini lebih baik dari pada dikira berbuat hal aneh di dalam mobil, mana di deket sekolah dan masih pagi pula.
Sementara itu, Adhi yang sedari tadi memperhatikan dari dalam mobil –dia akhirnya keluar dan menghampiri dua orang tersebut.
“Maaf Abi,” ucap Kanaya yang terdengar oleh Adhi.
“Kenapa Neng?” bisik Adhi ketika lewat dari belakang Kanaya, lalu dia segera menyapa Guru dari Istrinya itu. “Permisi, Assalamuaikum. Dengan Pak Luqman, ya? Kenalkan, saya Adhi ... saya ___,” lanjut Adhi hendak memperkenalkan dirinya, namun segera ditarik oleh Kanaya.
“Mas ngapain keluar? Bukannya pulang,” bisik Kanaya mengomel.
Abi Luqman tampak bingung dengan interaksi muridnya dengan orang tak dikenal yang tiba-tiba masuk ke pembicaraan mereka. “Eneng kenal? Siapa?”
“Ohh ... ini ___?” Kanaya harus ngenalinnya sebagai apa? Dosen atau Suami.
Adhi tampak menunggu.
“Beliau Dosen Pembimbing saya, Abi,” jawab Kanaya pada akhirnya.
Adhi memberikan tatapan tak percaya -memelototinya.
“Dosen? Ngapain Dosen kamu ikut ke sekolah?” tanya Pak Luqman, lalu tatapannya berubah seperti mencurigai sesuatu. “Kamu pacaran sama Dosen kamu, Neng?!”
“Apa? Enggak, Abi!” bantah Kanaya seraya mengibaskan tangannya.
Abi Luqman tampak tidak percaya pada Kanaya, lalu beralih menatap Adhi.
“APA?” Abi Luqman kaget, begitu juga dengan Kanaya.
Duh! Pak Adhi ini ... cari mati ya?! Kok bisa-bisanya pake ngomong. Ya ampun~ kirainnya bisa diajak kerja sama, gak taunya malah menusuk dia. Ugh!!
“Jadi Eneng udah nikah? Sama Dosennya?” tanya Pak Luqman lagi.
“Eum ... iya Abi,” jawab Kanaya dengan senyum dipaksakan.
“Kok gak bilang-bilang? Kapan nikahnya?”
“Belum lama Pak, sekitar dua hari yang lalu,” jawab Adhi.
“Ya Allah~ Neng! Bener-bener ya, sampe gak ngomong sama Abi. Undangannya juga gak nerima."
"Maaf Abi, Naya cuman bingung aja mau ngasih taunya -karena waktunya terbilang cepat diputuskan dan yang hadir kerabat aja."
"Ya, kami juga memikirkan status Kanaya yang masih berkuliah -takutnya nanti mengganggunya kalau kami mengadakan resepsi."
"Kenapa gak nunggu sampe lulus aja?" tanya Abi Luqman.
"Takut nanti berubah piki … -emph!!" jawab Kanaya dan mulutnya dibekap Adhi.
"Saya yang minta untuk dipercepat, bukannya hal baik seharusnya disegerakan, Pak?" jawab Adhi meminta pembenaran dengan bertanya balik.
Abi Luqman menganggukkan kepala, tampaknya dia sependapat dengan Adhi.
"Alhamdulillah, syukur kalo gitu … sekarang Eneng udah ada yang jagain. Abi ucapkan selamat atas pernikahannya, semoga dapat menjadi Keluarga yang Sakinah Mawadah Warahmah," ucap Abi turut senang dan mendoakan. Lalu Kanaya dan Adhi meng -Aamiini. "Berarti, kalo acaranya cuma untuk kerabat … teman dan rekan kerja belum ada yang tau?"
Kanaya mengangguk pelan.
"Wah~ nanti kalo mereka pada tau, pasti heboh. Kalian bisa jadi Hits Couple dadakan kalo sampe beritanya nyebar!" komentar Abi Luqman.
"Ya, itu juga yang akan kami usahakan jaga -terlebih kalau yang muncul nantinya adalah fitnah," jawab Adhi.
Kriiingggg~ Kriiinggg~ Kriinggg~
Di saat itu, bel sekolah berbunyi dan penjaga sekolah bersiap menutup pintu gerbang, lalu beberapa murid yang masih di jalan -mereka tampak berlari.
"Ayo kita juga masuk," ajak Abi Luqman.
"Ya udah Mas, saya masuk dulu ya~ Mas hati-hati di jalan."
"Kamu gak ada niat ngajak saya masuk?" tanya Adhi.
Kanaya yang hendak salim, dia menurunkan kembali tangannya seraya memasang wajah datar. "Emang Mas mau ngapain?"
"Lihat-lihat sekolah kamu."
"Saya mau penelitian loh ini, bukan kunjungan," sahut Kanaya. "Lagian emang mau, disangka orang nyasar kurang kerjaan?"
"Ya~ saya emang lagi gak ada kerjaan sekarang," aku Adhi.
"Ya udah … Mas ngapain kek' atau ke mana, yang jelas bukan berkeliaran di sekolah saya."
"Ya Ampun~ ternyata kamu galak ya?"
"Abis Mas juga nyebelin!" gerutu Kanaya.
"Yowes lah, saya pulang. Kamu biar lancar penelitiannya, Assalamualaikum," ucap Adhi dan pergi.
"Wa'alaikumsalam."
Setelah sepeninggal sang Dosen/Suami, Kanaya bergegas masuk ke sekolah dan menghampiri Abi Luqman.
"Suami kamu kayaknya gak mau lepas jauh dari kamu, apa karena pasangan baru jadinya masih mesra dan pengennya nempel terus?" goda Abi Luqman.
"Bukan gitu, Abi~ emang Suami saya itu orangnya begitu, suka iseng dan godain saya. Katanya dia seneng pas liat muka bete Naya."
"Mungkin suami kamu, pengen lebih diperhatiin lagi kali sama kamu. Kadang ada juga tipe laki-laki yang suka cari perhatian model suami kamu, suka iseng dan godain," balas Abi Luqman.
"Eyyy~ gak mungkin! Abi jangan ngarang, ah," sahut Kanaya yang enggan percaya seraya menepis udara.
"Kamu gak peka orangnya!"
"Isshhh! Abi nih, kok malah ngeledek Naya sih."
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Lakinya ternyata ember, gak bisa diajak kerjasama, kan jadinya ketahuan sama Abi Luqman!! -Kanaya ngegerutu.
Bukan saya ember atau gak bisa diajak kerjasama. Tapi saya cuman protes, masa saya gak diakuin jadi suami, padahal di depan saya sendiri. -Adhi membela diri.
Hayoo~ berantem terooos!! -IFA.
x x x x x
Hi … hi … sayang, aku mau tanya. Apa panggilan Adhi & Kanaya sebaiknya diganti??
Melihat beberapa komen di part sebelumnya.
Cerita ya~
Biar nanti aku sesuaikan, kalo banyak yg sependapat demikian ^^
Btw itu panggilan Mas/Eneng cuman imajinasi aku aja ... wkwkwk
Karena seringnya baca cerita, lakinya Jawa dan dipanggil Mas. Tapi aku ini kan orang Sunda 😋😋
* * * * *
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~