Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 35 - Jalan menuju bahtera bersama]



Sudah diputuskan jika Akad Nikah akan dilangsungan kurang lebih dua minggu ke depan, di kediaman mempelai wanita –Kanaya, jadi sedikit banyaknya rumah mulai dibenahi dengan di cat ulang dan beberapa bagian diperbaharui.


Selain itu, saudara-saudara dan kenalan dekat juga dikabari oleh orang tua dan dua kakaknya.


Lalu bagaimana dengan Kanaya, tidak adakah orang yang ingin dia bagi kabar bahagianya tersebut? Sejujurnya dia masih ragu, juga merasa aneh dengan pernikahannya yang dadakan dan calon suaminya yang berstatus dosennya.


Dia berpikir, nanti dirinya bakal jadi bahan ledekan teman-teman di kampusnya, apalagi dua sahabatnya –terutama Adel.


“Neng, coba diliat lagi. Udah semua belum berkasnya?” tanya sang Ibu yang saat ini berada di kamarnya tengah membantu dia untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan nikah.


Kanaya kembali mengecek tiap lembar kertas sesuai yang ada di daftar yang telah dia buat. “Udah Bu,” jawabnya.


“Ya udah, kamu sekarang siap-siap biar nanti langsung ke Pak RT sama RW,” ucap Ibu Nurlela. “Eh ... bukannya Nak Adhi bilang, kalo dia juga ikut ya? Kabarin sana Mas –mu,” imbuhnya ketika ingat hal tersebut.


“Sendiri bukannya juga bisa ya, Bu? Pak Adhi gak perlu dateng,” tolak Kanaya yang enggan.


“Ikutlah, biar tau nanti RT sama RW siapa calonmu,” titah Ibu Nurlela.


Kanaya hanya mendehem, tanpa berkomentar. Dia mengambil ponselnya di atas kasur, lalu dirinya ikut naik dan berbaring.


Kanaya :


Pak, semua berkas saya udah siap


Bapak jadi dateng gak?


Ting!


Dalam beberapa detik kemudian Kanaya segera mendapatkan balasan dari sang Dosen.


Pak Adhi :


Iya, nanti saya kabari lagi setelah saya siap dan berangkat


Kanaya :


Kira-kira berapa lama, Pak?


Tanya Kanaya mengirim pesan lagi, kan lumayan –kali aja dia bisa tidur dulu. Dia masih mengantuk lantaran setelah Subuh sudah ngurusin berkas.


Pak Adhi :


Secepat yang saya bisa


Kanaya mendengus membaca balasannya –udah gak tau kapan Dosennya bakal datang, ini juga dibilangnya ‘secepatnya’. Gak boleh banget dia rebahan apa?


Kanaya kembali beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil handuk dan pelatan mandinya.


“Neng, kasur kamu perlu diganti deh. Bakal sempit banget nanti kayaknya,” ucap Ibu Nurlela sembari menatap pada kasur ukuran single bed milik putrinya.


“Enggak Bu, Eneng nyaman aja kok. Lagian Eneng gak rasak kalo tidur, malah muat aja pas ada Adel juga,” jawab Kanaya tanpa menyadari duduk permasalah yang sedang dipikirkan sang Ibu.


“Bukan, nanti pas kamu tidur sama Nak Adhi,” ucap Ibu Nurlela dengan santainya –berbeda dengan Kanaya yang kaget sampai tersedak ludahnya sendiri.


“Ihhh~ Ibu nih, ngomong apa sih?!” protes Kanaya dengan sebagian dirinya merasa merinding lantaran dia ikut ngebayangin hal yang baru saja Ibunya ucapkan.


“Ya~ bener dong, masa penganten baru mau pisah ranjang. Tapi terserah sih, kalo kamu mau dempet sama mepet-mepetan sama Nak Adhi ... toh pas itu kalian udah sah,” goda Ibu Nurlela.


“Ibuuuu!! Udah ih, ngomongnya jangan begituan,” rajuk Kanaya kali ini, lalu berbalik untuk keluar.


“Lucu, kamu mah Neng~ baru bahas tempat tidur aja udah malu. Gimana nanti mau dikasih nasihat pranikah?”ujar Ibu Nurlela.


“Enggak Bu, Eneng gak mau tau,” jawab Kanaya dan segera pergi meninggalkan kamarnya.


◦ ◦ ◦


Sekitar beberapa belas menit kemudian Kanaya telah siap, lalu saat ini dia tengah duduk di teras sembari memangku map berisi dokumen –menunggu kedatangan Pak Adhi yang sebelumnya mengirim pesan kalau dia sedang dalam perjalanan.


08:48 WIB


Hah~ Kanaya menghela nafas, ternyata lama juga Pak Adhi sampai. Kanaya beranjak dari duduknya, hendak ke dalam mengambil minum –sementara map nya dia tinggal di bangku tempatnya tadi duduk.


“Teh Naya! Om Adhi nya udah dateng tuh,” teriak Sofia sembari berlari ke arahnya.


Ya~ sebelumnya Kanaya memang mendengar suara klakson. “Ya!” jawab Kanaya. Namun dia tak segera menghampiri Pak Adhi, dia lebih dulu mengambil air untuk Dosennya yang baru datang itu.


Setelahnya dia keluar dari dapur sambil membawa nampan dan segelas es sirup yang baru dia buat. “Dimana Pak Adhi nya?” tanya Kanaya pada Sofia.


Sofi menaikan bahunya samar. “Tadi sih masih di luar.”


Kanaya menghela nafas, percuma aja dia nanya. Akhirnya dia jalan aja, sampai di ruang tamu –tak tampak keberadaan sang Dosen. Lalu saat dia keluar menuju teras, Pak Adhi sedang duduk di bangku tempatnya tadi duduk sembari melihat isi map.


“Diminum dulu, Pak,” tawar Kanaya dan menaruh nampan di meja.


“Terima kasih, tau aja saya lagi haus –perhatian banget Mbak Kanaya sekarang ya,” ujar Pak Adhi dengan suara lembut yang dibuat-buat.


Kanaya hanya mendehem.


Pak Adhi segera menandaskan isi gelasnya. “Kita jalan sekarang?” tanyanya.


“Ya udah,” jawab Kanaya ikut saja.


“Eh ... Ibu kamu mana? Saya mau ijin dulu –ngajak kamu pergi,” ucap Pak Adhi.


“Sebentar, saya panggil.” Kanaya masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil sang Ibu.


Beberapa saat kemudian, Ibu Nurlela bersama Kanaya kembali. Adhi yang melihat, dia segera menghampiri Ibu Nurlela dan mencium punggung tangannya.


“Bu, saya ijin bawa Kanaya keluar,” ucap Adhi.


“Iya Bu, kalau begitu saya permisi. Assalamuailaikum,” ucap Adhi.


Lalu begitu juga dengan Kanaya yang pamit pada sang Ibu.


- - -


Adhi menghampiri mobilnya.


“Naik mobil, Pak?” tanya Kanaya.


“Emang gak perlu?” tanya Pak Adhi.


“Rumah Pak RT mah deket, cuma beberapa rumah dari sini,” jawab Kanaya sembari menunjuk arah rumahnya.


“Kalau rumah RW?”


“Lumayan ... jauh,” jawab Kanaya menjeda sejenak.


“Ya udah, sekalian aja naik mobil dari pada bulak-balik. Kalau sempat, nanti bisa langsung ke ngurus yang lain," ujar Pak Adhi lalu naik ke mobil dan diikuti Kanaya.


Tak perlu waktu lama mengurus surat pengantar ke RT juga RW, karena cukup lenggang. Tetapi berbeda saat mereka ke Puskesmas dan Kelurahan, antri lumayan lama -hingga lewat dari jam maka siang baru selesai.


"Mbak Kanaya, kita cari makan siang dulu sebelum pergi lagi," ajak Pak Adhi dan lagi-lagi Kanaya hanya ikut saja apa maunya sang Dosen.


Mereka mencari makanan di sekitar Kelurahan saja, karena cukup banyak pedagang kaki lima yang mangkal.


"Mau makan apa?" tanya Pak Adhi.


Kanaya melihat ke sekeliling; ada Bakso, Mie Ayam, Soto Ayam, Ketoprak, Siomay, Batagor, Gorengan bahkan Bubur Ayam. Kalau boleh jujur, sebenernya dia gak bisa milih -soalnya semua keliatan enak dipikirannya.


"Terserah Pak," jawab Kanaya pada akhirnya.


Pak Adhi menghela nafas. "Soto Ayam aja, gimana? Soalnya saya jadi keinget masakan kamu," ujar Pak Adhi.


"Beda kali Pak, ini kan Soto Ayam Surabaya -dan yang saya buat itu Soto Ayam Medan," jawab Kanaya.


"Oh, begitu?" ujar Pak Adhi entah bertanya atau menjawab. "Ya udah, nanti kamu masakin aja ya buat saya," imbuhnya sembari menyunggingkan senyuman.


Setelah selesai makan siang dan Sholat Dzuhur, mereka segera pergi -tanpa membuang waktu. Tujuan mereka selanjutnya adalah ke Kantor Urusan Agama (KUA). Lalu setelah semua pengajuan nikah selesai, mereka diminta untuk menunggu Dokumen Nikah jadi dan mengeceknya kembali.


"Ini beneran udah kelar, Pak?" tanya Kanaya.


"Iya," jawab Pak Adhi singkat sembari menyalakan mesin mobilnya.


Ah~ akhirnya selesai juga, setelah seharian dari pagi sampe sore kesana-kemari.


"Capek ya, Mbak Kanaya?" tanya Pak Adhi tiba-tiba sembari dia menyetir.


"Ya, lumayan," jawab Kanaya.


"Yang semangat Mbak Kanaya, ini baru pemanasan," ujar Pak Adhi dan Kanaya menoleh -menatap penuh tanya. "Besok saya jemput lagi, bareng orang tua kita juga. Soalnya besok kita cari baju sama maharnya."


Ya Rabbi~ kuatkan lah hamba.





T


B


C





Sabar ya, Kanaya … nyiapin pernikahan gak semudah yang ada di tv-tv, tinggal duduk manis sambil denger Ijab Kabul.


Tapi tenang aja, calon suamimu itu udah pengalaman ngurus begituan. Jadi insyaAllah bakal lancar.


Ya kan, Pak Adhi?


"No comment," jawab Pak Adhi.


× × ×


Wkwkwk …


Sejujurnya aku juga gak tau gimana ribetnya ngurus pernikahan, cuman denger juga nontonin sodara aja pas rapat keluarga.


Terus infonya dari nanya temen, browsing sama ngintip di forum diskusi online.


Jadi kalo ada yang kurang, mohon ditambah atau luruskan ya~~


> > >


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you~