
Sebenarnya hari ini tak ada kelas, karena perkuliahan di semester delapan atau akhir -mahasiswa lebih di fokuskan untuk menyelesaikan penelitian dan skripsi mereka. Jadwal kuliah Kanaya sendiri, hanya 2 kali seminggu pada hari Senin dan Jumat.
Hah~ nanggung banget sih! Padahal itu juga gak full kuliahnya, cuman setengah hari.
Apa dia pindah kelas aja ya, biar bisa dapet libur 6 hari?
Mungkin nanti Kanaya bisa ngajuin pindah kelas sekalian, toh hari ini juga dia mau ke Ruang Administrasi untuk mengambil Lembar Pengajuan Judul Skripsi karena disuruh sang Dosen Pembimbingnya mengganti Judul Penelitian.
Di tengah perjalanan menuju Ruang Administrasi, ponsel Kanaya bergetar lama karena ada panggilan masuk -itu dari temannya. Ya~ Kanaya juga datang ke kampus karena dia hendak bertemu dengan temannya dan menjelaskan situasinya saat ini.
'Nay, lo di mana?' tanya orang tersebut -segera setelah panggilan diterima.
"Gue udah di kampus, tapi ini mau ke Administrasi dulu."
'Mau ngapain lo ke sana, Nay?'
Kanaya menghela nafas. "Karena obrolan kita semalam, gue ketahuan dan disuruh ganti judul."
'Jadi lo beneran, udah ___.'
"Nanti gue jelasin," potong Kanaya. "Kita ketemu di mana?"
'Cari tempat yang sepian aja, lo gak mau kan … sampe ada orang lain yang denger dan ada gosip di kampus?'
"Ya udah, nanti kabarin gue tempatnya. Dah ya, gue mau masuk dulu," ucap Kanaya sebelum mengakhiri panggilan.
Sementara itu, masih di kampus namun di lain tempat. Adhi sedang mengajar kelasnya, namun dia cukup terganggu dengan getaran di saku celana yang berasal dari ponselnya. Lalu dia mengambil ponsel untuk dia non aktifkan dan sembari itu, dilihatnya ada beberapa pesan masuk. Itu dari mahasiswa/i bimbingannya yang mengeluhkan masalah penelitian dan skripsi mereka.
Adhi mendesah. Tampaknya dia akan sangat sibuk minggu-minggu ini dan akan sering pulang terlambat.
Dasar, mereka itu … apa harus diomong dengan ancaman dulu baru pada sadar dan ngaku salah.
o o o o o
Kanaya memasuki sebuah Cafe dengan ornamen yang terbilang menarik. Bahkan sebelumnya, ketika dia masuk -terdengar bunyi lonceng. Lalu tempat ini sesuai untuknya bicara saat ini, lantaran pengunjungnya tidak terlalu ramai. Mungkin itu juga karena menu yang dibandrol dengan harga yang lumayan menguras kantong.
Kanaya mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu tertuju pada sudut pojok ruangan -temannya duduk di sana dan Kanaya menghampirinya.
"Lo sendiri aja, Nay?"
Kanaya terdiam sejenak ketika ditanya demikian, karena sebelumnya dia berpikir akan diintrogasi oleh dua temannya sekaligus. Namun ternyata, yang datang hanya seorang. "Gue kira, lo pada bakal janjian dateng barengan."
"Gak, gue sendiri."
Dua sahabat itu, mereka tampak hanyut dalam pikirannya masing-masing. Menebak, apakah seorang temannya lagi tau? Karena mereka tak saling mengabarinya.
"Dia gak ada ngomong apa-apa ke lo, Nay?"
"Enggak. Lo sendiri, ada di chat gak sama dia?" tanya Kanaya.
"Sama, gue juga nggak," jawabnya. "Jadi semalam, pas kita denger ada suara laki … dia sempet ada nanya dan bilang kalo kenal sama suaranya. Tapi gue gak jawab, soalnya gue udah keburu kesel sama elo Nay!!"
"Maaf Jan," sesal Kanaya.
Ya, jadi yang mengirimkannya pesan adalah Jani. Tetapi yang masih jadi pertanyaan adalah … sebenarnya Adel sudah mengetahui atau belum perihal pernikahannya ini? Sebab dia tak berkata apapun.
"Jadi lo beneran udah nikah?" tanya Jani to the point.
"Iya," jawab Kanaya tanpa berkelit dan mengeluarkan kalung yang dia pakai dan tersemat sebuah cincin sebagai bandulnya. Tak cukup itu saja, Kanaya juga menunjukkan foto pernikahannya yang dia simpan dalam folder tersembunyi di ponsel.
"Pak Adhi? Dosen pembimbing lo? Gebetannya Adel?" ucap Jani yang tak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut sekaligus tidak percayanya saat melihat foto tersebut.
"Iya," jawab Kanaya singkat, sebab dia tak dapat memikirkan kata lain.
"Gimana ceritanya, kok lo bisa nikah sama tuh Dosen? Terus tiba-tiba aja lagi, juga gak ada kabarnya," tanya Jani memburunya.
"Pelan-pelan Jan, sabar … okay?" pinta Kanaya menahan Jani. "Dan tenang aja, gak ada hal asusila yang dilanggar sampe gue harus mendadak nikah sama Pak Adhi. Gak ada!" tegas Kanaya. "Kita nikah atas keputusan bersama dan tanpa paksaan."
"Lo kena pelet, Nay? Atau malah lo yang melet Pak Adhi?" tanya Jani yang masih belum paham.
"Enggak, Jan!! Pelet, Santet, Guna-guna atau Dukun … hal ghoib macam begitu juga gak ada," jawab Kanaya mulai lelah. "Terus kan lo sendiri tau, gimana kesan gue sama Pak Adhi dulu."
"Nah, itu dia! Kok bisa?"
"Makanya sabar, ini gue mau cerita!!"
"Okay, maaf~ gue diem dah."
"Terus lo nerima aja dijodohin?" potong Jani yang tak kuat menahan godaan untuk bertanya.
"Gue nolak awalnya, tapi keluarga gue pada ngebujuk gue buat nerima dan pas itu juga gue lagi ada masalah sama Dimas," jawab Kanaya.
"Jadi lo sama Dimas, putus?"
"Iya."
"Sayang banget Nay, padahal lo kan dah lama juga suka sama Dimas."
"Ya~ mau gimana lagi, jodoh gue bukan sama Dimas biar kata deket di sebelah rumah."
"Iya juga sih, malah nikahnya sama Dosen kelas sebelah," sahut Jani. "Ya udah Nay, congrats buat pernikahan lo! Semoga langgeng, damai sentosa."
"Aamiin~ makasih Jan."
"Emm … Nay, gue minta maaf soalnya udah marah-marah gak jelas sama lo," sesal Jani. "Terus juga lo jadi ngulang penelitian."
"It's okay, Jan. Dari awal emang salah gue yang ceroboh dan lupa sama jadwal penelitian gue."
"Tapi … ini lo mau terus-terusan sembunyiin pernikahan lo? Gak ada niat bikin hajatan gitu?"
"Ya, enggak lah Jan. Rencananya resepsi setelah kelulusan nanti," jawab Kanaya.
Tiba-tiba raut wajah Jani berubah serius. "Sebenarnya gue agak khawatir sih, Nay. Karena hal ini juga, takutnya bakal ada kejadian serupa dan nanti muncul gosip-gosip gak enak di kampus soal elo," ujarnya. "Terus yang udah tau soal pernikahan lo siapa aja?"
"Sebagian besar Keluarga, terus Dimas sama lo ___." Kanaya menjeda ucapannya karena teringat seorang temannya lagi. "Si Adel gimana ya, Jan? Dia diem aja, gue jadi rada gimana gitu jadinya."
"Udah, mungkin aja si Adel butuh waktu buat nenangin dirinya. Biar gimanapun, dia pasti syok atau patah hati karena gebetannya disalip duluan sama lo, Nay."
"Gue gak ada maksud nyerobot gebetan orang ya, apalagi temen sendiri," bela Kanaya pada dirinya sendiri.
"Becanda elah, Nay. Serius amat," goda Jani. "Tapi si Adel mah, dia palingan malu. Soalnya udah koar-koar bakal pasangin cincin sama jadi bininya Pak Adhi. Aduh!! Ampun dah si Adel, malangnya nasibmu. Kesian gue jadinya kalo mikirin dia sampe stress, mana skripsinya juga gitu lagi," imbuhnya dan menggeleng-gelengkan kepala.
Kanaya menghela nafas panjang.
Semoga Adel gak kenapa-napa dah. Dia juga gak enak, kalau begini terus.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Jadi menurut kalian, Adel udah tau atau belum?
x x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~