
08.38 WIB
Kanaya benar-benar memegang janji untuk mengejar Revisi Skripsinya, setiap tiga hari sekali dari enam hari yang diberikan Pak Adhi untuk bimbingan –Kanaya hadir (kecuali Jumat, karena Pak Adhi mengosongkan bimbingan pada hari itu).
Dan hal tersebut otomatis membuatnya selalu sibuk, bahkan dia hampir tidak bertemu dengan sang pacar di saat mereka baru memulai hubungan yang masih seumur tunas tumbuh. Sementara untuk menggantikan kerinduan, mereka sesekali berbalas pesan lewat What’sup. Rasanya sudah seperti LDR saja, biarpun jarak cuma lima langkah dari rumah.
Syukurnya, Adimas sangat mengerti kebutuhannya saat ini –bahkan sering kali menawarkan diri untuk memberi bantuan pada Kanaya. Tetapi Kanaya merasa tak enak hati jika selalu dibantu oleh Adimas atau egois agar mereka bisa sekalian bertemu, sementara dirinya belum dapat membantu apa-apa dan dia tahu kalau Adimas juga memiliki tugas sendiri.
Drrttt ...
Ponsel Kanaya bergetar. Dia memang sengaja memasang mode getar agar lebih fokus, bahkan beberapa aplikasi dia bisukan notifikasinya.
Adel :
Nay!! Lo bimbingan lagi?
😲😲
Kanaya :
Iya
Adel :
Getol amat ... masih waras kan lo, Nay?
Atau jangan-jangan lo kepincut sama Calon Imam gw? Gak sabar pengen liat tampangnya
\=uWu\=
Mana enak banget lg ... sekarang bimbingannya diajak ke tempat doi
Kanaya :
Enggak Del, ini tuh biar gw bisa ngejar lo dan nanti kita bisa sidang juga wisuda bareng
Emang lo belom pernah bimbingan di tempat Pak Adhi?
Adel :
Ya ampun, Kanaya~ gue terharu deh
Tapi tuh, gw maunya kalo bimbingan itu sama lo terus
Yah, sayang~ kita gak bareng lagi 😢😢
Udah, tapi pas itu kita diajaknya ke taman yg ada gazebo nya gitu ..
Pernah juga di kafe sama restoran, terus kita ditraktir deh .. nyam-nyam ..
Sayangnya bukan di apartemen doi, padahalkan gw penasaran bgt pengen liat rumah masa depan gw ... hihihi....
🤭🤭
Kanaya :
Elo mah, emang ada maksud terselubung
Eh, gw lanjut ya
Bye
Adel :
Ya~ Btw semangat ya, Nay .. tapi tetep jaga kesehatan .. 🤗🤗
Kanaya :
Iya, makasih ya Del 😘😘
Kanaya mengakhiri chatting –annya dengan Adel dan kembali pada kesibukannya sebelumnya, namun saat dia melihat jam pada layar ponselnya---.
Astagfirullah! Udah mau jam sembilan, kok bisa kebablasan sih? Mau jalan jam berapa coba dia, jam segini belum mandi –sedangkan jam sepuluh itu waktu janji temunya. Arrrggg~
Kanaya akhirnya berinisiatif mengirim pesan terlebih dahulu pada Pak Adhi untuk jaga-jaga, tapi apa coba alasannya telat? Kanaya putar otak, tapi keburu mentok karena mikirin waktunya yang mepet. Akhirnya dia hanya mengetik alasan seadanya.
Kanaya membuka aplikasi What’sup nya dan mencari kontak Pak Adhi, ternyata Dosennya itu sedang online. Ya Rabbi, bisa langsung dibaca dah pesannya itu.
Kanaya :
Assalamualaikum, selamat pagi Pak Adhi.
Saya Kanaya Cempaka, maaf Pak sebelumnya.
Saya ingin memberitahukan sepertinya saya akan datang terlambat, dikarenakan saya keasikan mengerjakan revisian skripsi.
Terima kasih, Pak. Semoga Bapak dapat memakluminya.
Kanaya menunggu, kira-kira pesannya akan langsung dibaca atau tidak.
...
...
...
Dua centang biru!
Sekarang dia deg-degan, kira-kira bakal dibalas langsung gak? Atau cuman dibaca doang.
Pak Adhi mengetik.
Wah~~ dibalas ... dibalas!!
Kanaya tak sabar mau tau apa jawabannya.
Ah~ terserah dah, tuh dosen mau balas apa.
Kanaya menaruh ponselnya di sisi tubuhnya, namun sudut matanya tetap melirik masih meliriknya.
Ting!
Kanaya buru-buru meraih ponselnya dan membuka pesan tersebut.
Pak Adhi :
Ya
Kanaya termenung membaca balasan dari sang Dosen, ekspektasinya benar-benar sudah berlebihan.
Ngarep apa coba dia? Pak Adhi membalasnya dengan rangkaian kata-kata. Hee~ mimpi! Yang model balasan satu kata kramat gitu, emang udah cocok sama tuh Dosen.
Udahlah, mending dia mandi sekarang.
Dasar buang-buang waktu aja, taunya gak sesuai harapan.
- - - - - -
Kanaya pergi dengan Oj-Ol, bukan bersama sang Pacar. Meskipun beberapa saat lalu Adimas mengirim pesan menawarkan tumpangan untuknya, tetapi lagi-lagi dia menolak untuk merepotkan.
Kanaya pergi menuju lokasi yang telah dibagikan oleh Pak Adhi di grup What’supnya, sejenak Kanaya merasa familiar dengan alamat tersebut. Dan tak lama, sang Abang Oj-Ol datang.
Selama perjalanan, Kanaya memperhatikan sekitar dan dia samar-samar mengingat kalau dia pernah menyusuri jalan tersebut.
Kapan ya, kira-kira? Karena daerah sini, bukan tempat biasanya dia main.
Lalu saat dia memasuki kawasan apartemen, bola lampu dalam otaknya tiba-tiba bersinar terang.
Ah! Dia pernah ke sinikan pas sama Bu Ranti, tempat tinggal anaknya itu.
Abang Oj-Ol mengantarnya sampai di lokasi, pintu masuk taman. Jadi Kanaya masih perlu mencari titik temu kelompok bimbingan Pak Adhi.
Dimana coba mereka kumpulnya? Gak ketemu-temu tuh tempat. Mereka gak pindah lokasi diam-diam kan? Mana gede banget ini taman.
Kanaya mengecek ponsel untuk melihat jam, sudah hampir jam sepuluh -Kanaya segera berlari.
Ya ampun, kerjaan banget tau gak sih! Dia sampe lari-lari gini. Mentang-mentang dia jarang olahraga, sekarang dipaksa lari.
Huh … hah … huh … hah …
Kanaya membungkuk dengan menopangkan lengan pada lututnya, sembari mencoba mengatur nafas beratnya.
"Ya ampun, Mbak Kanaya sampe lari-lari?" itu Syifa, dia juga ikut bimbingan hari ini.
Kanaya tak sanggup menjawab, masih engap. Dia berjalan menuju gazebo untuk duduk bersama mahasiswa lainnya, beruntung hanya ada tiga orang di sana. Artinya Pak Adhi belum datang dan dia tidak terlambat.
"Haahhh~" Kanaya rebahan setelah menaruh bokongnya di lantai kayu gazebo, sementara kakinya menggantung. "Pak Adhi belum dateng, ya?" tanyanya masih mengatur nafas.
"Enggak, tadi tuh …," jawab Syifa terpotong ketika melihat seseorang datang menghampiri gazebo tempat mereka bernaung.
"Mbak Kanaya baru datang? Keliatannya capek banget, mau minum?" ucap pria dihadapan Kanaya sembari memberikan minuman elektrolit kalengan yang dingin -Poknari Sweet.
Kanaya langsung terduduk tegap dan kembali mengalami spot jantung seperti sebelumnya, ketika mendengar suara sang dosen.
Pak Adhi berdiri di hadapannya dengan pakaian kasual, tidak mengurangi kadar kegantengannya meskipun tidak berkemeja seperti di kampus. Lalu sebelah tangannya yang menenteng tas belanja ramah lingkungan yang terbuat dari bahan kain katun, sepertinya beliau habis dari mini market.
"Maaf ya, buat kalian menunggu. Ini ambil saja dan silakan dimakan," ucap Pak Adhi dan menaruh kantung belanjaannya di tengah. "Bisa kita mulai bimbingannya? Mbak Syifa yang duluan datang, kan?"
Kanaya menerjapkan matanya, sekarang dia sadar kalau Pak Adhi sudah lebih dulu datang sebelum dirinya.
Yah~ gak bakal diusirkan dia?
×וװו××
08.00 WIB
Sementara itu dua jam lalu, Adhiandra baru saja menyelesaikan olahraga paginya di pusat kebugaran -yang masih satu kawasan dengan gedung apartemennya- setelah alarm pengingatnya pada Smart Watch berbunyi. Dia putar arah dan kembali ke rumah.
Hari ini memang dia tidak memiliki jadwal kemana-mana, termasuk ke kampus. Jadi dia memanfaatkan waktunya untuk berolahraga, termasuk mengajak mahasiswa untuk bimbingan di tempatnya -selain karena dia malas keluar juga berkendara.
Setibanya di rumah, dia segera membersihkan diri dan setelah itu pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Hanya menu sederhana yang sering kali dikomentari sang Ibu saat dirinya ketahuan makan makanan ala bule; dua lembar roti, telur ceplok dan secangkir kopi yang ditambahkan susu -karena hanya itu yang dia bisa masak. Lalu Adhiandra membawa sarapan paginya ke ruang tamu, sembari menonton berita di TV.
Di tengah acara, ponselnya berdenting. Lalu dia mengecek dan membalasnya, itu dari sang Ibu. Dan tak lama masuk pesan dari mahasiswi bimbingannya, Kanaya -tumben sekali.
Kanaya :
Assalamualaikum, selamat pagi Pak Adhi.
Saya Kanaya Cempaka, maaf Pak sebelumnya.
Saya ingin memberitahukan sepertinya saya akan datang terlambat, dikarenakan saya keasikan mengerjakan revisian skripsi.
Terima kasih, Pak. Semoga Bapak dapat memakluminya.
Adhiandra terkekeh sejenak setelah membaca pesan dari salah satu mahasiswi bimbingannya itu, belum lagi alasan yang anak itu sampaikan.
Keasikan ngerjain skripsi, itu beneran?
Adhi hanya geleng-geleng kepala, tapi
harus dia akui kalau dirinya sedikit terhibur.
Ternyata masih ada yang mahasiswa model Mbak Kanaya ini; sangat amat sopan dan kelewat kaku ketika mengirim pesan pada Dosen. Di saat sebagian lainnya, sok akrab kebangetan sampai songong ngelunjak.
Namun bagaimana dia harus membalas pesan itu?
Adhiandra :
Ya
Tak tau lagi, akhirnya dia hanya membalas seperlunya. Selain karena sang Ibu terus mengirim huruf 'P' padanya. Ya ampun~
- - - - -
Pukul sepuluh kurang beberapa belas menit, pesan dari mahasiswa bimbingannya kembali masuk. Itu Mbak Syifa, katanya dia sudah sampai di Taman -tempat mereka akan bimbingan. Mau tak mau, Adhi harus menyusulnya agar anak itu tidak pelanga-pelongo ke bingungan.
Setelah bertemu dengan Mahasiswanya, yang saat dia sampai disana sudah ada dua orang. Adhi mengajak mereka menunggu di gazebo, sementara dirinya pergi ke mini market untuk membeli camilan juga minuman.
Lalu saat dia kembali sembari menenteng belanjaannya, dia seorang gadis yang baru saja turun dari Oj-Ol dan tampak familiar.
Ah~ si Mbak Kanaya baru sampai rupanya.
Adhiandra melirik jam arlojinya, belum telat tuh -hampir saja. Tapi dia sudah melihat kedatangan mahasiswinya itu, jadi sudah terhitung setor muka biarpun tidak secara langsung.
"Mbak …," Adhi hendak memanggil mahasiswinya itu, tetapi si Mbak Kanaya sudah keburu pergi sembari berlari -lumayan cepat.
Tak ingin repot-repot memanggil mahasiswinya itu dengan meneriakinya, Adhiandra membiarkannya berlari sebagai hitung-hitung anak itu olahraga sedikit.
Dia berjalan di belakang, sengaja mengikuti dengan lambat agar mahasiswinya yang habis lari itu bisa istirahat sejenak dengan nyaman tanpa terganggu kehadirannya.
Dan benar saja, saat dia sampai di gazebo, si Mbak Kanaya sedang rebahan. Adhiandra mengeluarkan sekaleng minuman elektrolit dingin dan menawarkannya pada Mbak Kanaya.
"Mbak Kanaya baru datang? Keliatannya capek banget, mau minum?"
Mahasiswinya itu tampak terkejut dan langsung duduk tegak. Adhi menaruh minumannya di samping mahasiswinya itu, karena dia terus diam dan memandanginya.
"Maaf ya, buat kalian menunggu. Ini ambil saja dan silakan dimakan," ucapnya lalu menaruh kantung belanjaannya di tengah. "Bisa kita mulai bimbingannya? Mbak Syifa yang duluan datang, kan?"
×וװו××
"Tadi katanya, kamu mau telat bimbingan. Gak jadi?" tanya Pak Adhi.
"Alhamdulillah, kalo saya gak telat mah -bukan gak jadi. Saya cuman wanti-wanti aja, dari pada telat beneran dan gak sempet kasih kabar terus batal bimbingan -mending bilang duluan," jawab Kanaya.
Pak Adhi hanya mendehem meresponnya. "Semangat banget ya, kamu bimbingan sama saya?"
"Bukan begitu juga, Pak. Ini biar saya bisa ngejar teman-teman saya yang lain. Abis saya yang paling ketinggalan jauh dan banyak revisiannya," jawab Kanaya dengan nada gerutu yang tersisip.
Pak Adhi kembali meresponnya dengan deheman singkat lebih dulu sembari mengoreksi revisi Skripsinya. "Bagus kalo gitu. Tapi ini masih dibantu sama temen dan kamu begadang?"
"Alhamdulillah, udah enggak Pak. Makin kesini udah lebih mudah dan saya bisa ngerjain sendiri," jawab Kanaya senang.
"Kalau begitu, ini kamu terima hasil kerja keras kamu," jawab Pak Adhi sembari menyerahkan Lembar Asistensi yang telah ditandatanganinya.
ACC BAB II dan BAB III.
Kanaya senang bukan main, matanya berbinar sampai berkaca-kaca.
"Selamat melanjutkan untuk melakukan penelitian," ucap Pak Adhi tak kalah senang dan mengulurkan tangan.
Kanaya membalas dan menjabat tangan sang dosen. "Terima kasih, Pak."
"Sebelumnya tolong kamu dikonfirmasi kembali pada pihak sekolah tempat kamu melakukan penelitian, kapan kamu bisa melakukan observasi dan wawancara. Lalu siapkan semua bahannya dengan matang," saran Pak Adhi. "Semoga penelitian kamu lancar dan hasilnya memuaskan," lanjut Pak Adhi memberi semangat.
Dan begitulah bimbingannya berakhir hari ini, Kanaya tak sabar untuk pulang agar bisa memberitahu keluarga serta Adimas. Selain itu, bimbingan hari ini lebih cepat selesai karena katanya Pak Adhi memiliki tamu.
Terserahlah, intinya Kanaya seneng banget sudah ACC Bab 1, 2 dan 3. Nanti setelah ini dia tinggal penelitian dan mengolah datanya, lalu hanya tinggal beberapa langkah lagi sebelum waktu pembuktiannya alias Sidang Skripsi tiba. Oke, tetap semangat!!
°°°
Setibanya Kanaya di rumah, Kanaya langsung memberitahukan kabar bahagia itu pada sang Ibu. Dan tentu saja bukan cuman dia dan Ibunya yang ikut senang mendengar kabar itu, kini dia dan keluarganya tengah makan bersama untuk merayakan berhasilnya pencapaian pertama bagi Kanaya.
"Alhamdulillah, semoga nanti penelitian dan Skripsi Eneng lancar sampai Sidang dan Wisuda," ucap Ibu Nurlela.
"Aamiin, Bu," jawab Kanaya dan diikuti anggota keluarga lainnya.
"Berarti abis ini kamu gak ada bimbingan lagi?" Kali ini sang Ayah yang bicara.
"Untuk waktu dekat ini sih gak ada, tapi nanti bakal ke tempat penelitian -cuma jadwalnya disesuaikan dulu dengan pihak sekolah," jawab Kanaya dan entah kenapa dia mendapat firasat lain.
"Jadi besok gak ada acara, kan?" tanya Ayah lagi.
"Enggak deh, kayak," jawab Kanaya ragu-ragu.
"Kalau begitu, besok kamu luangin waktu buat bantu-bantu soalnya mau ada tamu ke rumah.
Oh … begitu toh~ dia kira apaan? Udah parno aja. "Iya," jawab Kanaya.
Setelahnya Kanaya kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian, karena dia akan jalan-jalan dengan Adimas.
Ting! Ting! Ting!
Ponsel Kanaya terus berdenting selama dia mengganti baju, penasaran, akhirnya dia melihatnya.
Itu pesan dari What'sup Grup Bimbingan Skripsi dan pengirimannya adalah Pak Adhi dan diikuti kekecewaan beberapa mahasiswa. Isinya, Pak Adhi membatalkan bimbingan untuk besok karena ada urusan mendadak.
Yang sabar ya, teman-teman dan terutama Adel.
Ting!
Panjang umur, namanya baru disebut dan orangnya langsung ngirim pesan personal ke Kanaya.
Adel :
Huehehheeh ...
Nay, Pak Adhi gantengku ngebatalin bimbingan buat besok ..
Yah elah, batal dah ketemu doi ..
😭😭😭
Kanaya :
Iya, gw juga baru baca infonya
Yang sabar ya, Del. Kan nanti juga bisa lanjut bimbingan lagi
Adel :
Ya kan, berarti ketunda pertemuan gw sama doi
Padahal rasa kangen gw udah meluap-luap ..
Enak banget sih lo, kedapatan bimbingan hari ini
Coba aja gw ikut bimbingan hari ini, gak bakal galau merana gini dah
Kanaya :
Alhamdulillah ya, Del .. beruntungnya gw
Tapi Del, kalo pun lo ikut bimbingan .. nantinya lo juga bakal ditendang sama Pak Adhi, soalnya mahasiswa bimbingan gadungan ..
Adel :
Jahat ih, lo Nay ..
Btw gw penasaran, Pak ada urusan apaan ya? Dadakan gitu.
Bukan mau married kan? 🙁🙁
Kanaya :
Tau dah~ gak mau repot gw sama urusan orang, ngurusin diri sendiri aja udah repot
Adel :
Makanya jangan kebanyakan makan sama rebahan, olahraga juga sana
Kanaya :
Plis, deh Del .. bukan itu maksud gw
Adel :
Tapi Nay, semoga doi bukan mau ngelamar anak orang ya ..
Duh! Jangan dulu donk, gw blm siap ditinggal..
Bisa ngiri sama calon bininya ..
Kecuali gw ..
Bhak .. bhak .. bhak ..
🤣🤣🤣
Kanaya :
Absurd banget sih lo, Del 😑😑
Dah ah, gw mau pergi ..
Adel :
Kemana? Ajak-ajak dong ..
Kanaya :
No! Ini bukan buat jomblo ..
Hahah .. 😝😝
Adel :
Asyem!!
Mentang-mentang pasangan baru, nempel teroos ..
Liat aja dah nanti, kalo berantem .. udah kayak gak saling kenal .. trs datang ke temen ..
Kanaya :
Adel kok ngedoain yang buruk ke gw sama Dimas?
Adel :
Eeehhh .. maaf Nay, gw gak maksud gitu ..
Jangan diambil hati ya, Nay ..
Semoga kencan lo lancar ..
Kanaya :
Hmmm ..
Makasih Del
Kanaya membalas datar pesan terakhir Adel, sebelum akhirnya dia pergi dengan Adimas.
°
°
°
Namun ternyata, benar, kekecewaan dan rasa bersalah juga tak nyaman yang datang menghampiri mereka.
••
T
B
C
••
Yey! Selesai juga Proposal Skripsi Kanaya, nanti tinggal lengkapi sisa Bab nya ..
Btw, Pak Adhi ada urusan apa ya?
Terus Kanaya sama Dimas kenapa?
Apa bener, kalau firasat Adel itu bakal jadi kenyataan?
>>>
Hi~ aku mau cerita dikit. Heheh …
Soal pesan Kanaya ke Pak Adhi itu, aku memang biasanya nulis pesan sekaku itu. Dan sangking takutnya buat kirim ke dosen, aku sampe nanya dan minta pendapat ke temen. Terus juga tegang pas nunggu balasannya, padahal mah biasa aja ..
Dan aku yang harus rajin bimbingan sampai dua hari sekali, karena ada masalah dengan Skripsi aku ..
Capek dan sempet nyerah .. pesimis, kira-kira bisa ngejer temen yang lain juga wisuda bareng gak ..
Alhamdulillah, banyak yang support dan Dosen Pembimbingku sangat membantu.
Miss you all~~
Dah segitu aja ..
Wkwkwk
×××°×××
Bonus Pic Pak Adhi yang abis nge-gym
Cakep gak?
Sendalnya~~
wkwkwk ..
°°°°
See you~
Makasih sudah membaca dan mendukung ku~
Love you~~
#muah