
“Makasih Dim,” ucap Kanaya seraya menyerahkan helm pada Dimas. “Makasih juga udah diajak sama ditraktir makan Bubur. Kapan-kapan gue yang gantian traktir lo deh.”
“Sama-sama. Woles aja, gak usah pake traktir gue lagi –kalo gitu bukannya traktir, tapi gantian bayarin.”
“Gak! Pokoknya nanti gue traktir lo,” ucap Kayana kekeh dan segera pergi seakan enggan mendengar sangkalan atau penolakan dari Dimas. “Pokoknya lo kabarin gue aja kapan. Dah~ Dim!” Kanaya melambaikan tangannya seraya berjalan mundur sebelum menghilang di balik persimpangan.
Huft ~
Kanaya menghembuskan nafasnya.
Sedikit, tetapi dia bisa mulai pendekatan juga. Tak masalah pelan, semoga saja kedepannya beneran bisa jadian. Aamiin~
Kanaya menjerit tertahan, berusaha meredam perasaan bahagianya yang sedang power up agar tidak sampai kelepasan.
Brukkk ....
Entah untuk keberapa kalinya sejak semalam dia menabrak sesuatu dan terjatuh. Beruntung bamper belakangnya tebal, jadi tidak terlalu sakit. Namun di samping keberuntungannya karena memiliki bokong semok, kesialannya lebih besar.
Kanaya sadar, dia baru saja menabrak seorang Dosen -dia Dosen Pembimbing Gebetannya Adel. Kanaya buru-buru bangun dan meminta maaf.
Namun sejurus kemudian, Kanaya dibuat tersentak oleh ucapan yang lolos dari mulut Dosen Gebetannya Adel.
“Makanya kamu jalan, hati-hati. Mata juga dipake!” ucap Pak Adhi dengan nada rendah, namun berasa nyelekit.
‘Pedes banget ini mulut si Dosen, cabe sekilo kalah kali,' batin Kanaya.
“Malah bengong!” sentak Pak Adhi lagi lantaran Kanaya bergeming. “Gara-gara kamu ini, barang-barang saya jadi jatuh dan berantakan. Cepet beresin!”
Nge -Bos gila!! Bilang tolong, kek'
Kanaya membantu, lebih tepatnya terpaksa membantu.
Semua lembaran kertas sudah terkumpul dalam dekapan Kanaya, dia hendak memberikannya kembali pada sang Dosen. Namun baru saja kedua tangannya itu hendak mengudara, si Dosen sudah melengos pergi.
“Ikut saya, bawakan itu ke kantor,” titahnya lagi.
Kanaya melotot di belakang punggung sang Dosen.
'Gosh! Nih Dosen gak mikir kalau dia kelas apa?’
Pokoknya, mulai detik ini ... Pak Adhi adalah spesies Dosen yang harus Kanaya hindari -bahaya!!
Heran si Adel malah suka. Cinta emang buta.
-*-
“Ditaruh di mana, Pak -kertasnya?” tanya Kanaya yang bingung karena si Dosen malah sibuk sendiri setelah dia menduduki singgasananya.
Pak Adhi bukan menjawab dengan suaranya, dia malah menepuk lahan kosong yang tersedia di mejanya.
Udahlah, Kanaya gak baper kok di kacangin. Yang penting dia bisa buruan enyah dari tuh Dosen.
“Kalau begitu saya balik ke kelas ya, Pak. Permisi,” ucap Kanaya pamit undur diri.
“Heh! Siapa yang bilang kamu boleh pergi?” tanya Pak Adhi buru-buru menghentikan Kanaya yang sudah mau ambil jurus seribu langkah. “Duduk sini.”
Samber geledek!!
Demi apa, kuping Kanaya gak salah denger kalau tuh Dosen nyuruh dia duduk ditempatnya?!
Muke mesum, nih Dosen!!
Anjrit!! Kayana rasanya ingin berkata kasar.
*Udah Nay!!
“Ma ... maaf, Pak. Saya gak bisa,” ucap Kanaya dengan suara yang terdengar gugup.
“Kenapa gak bisa? Tinggal duduk aja. Kamu ada ambeien?”
Asem ... Dia dikata AMBEIEN!! Woy!! BaB -nya lancar tiap pagi.
“Gak baik pangku-pangku gitu, Pak. Lagian ini kampus, terus bapak itu dosen dan saya mahasiswi.”
Pak Adhi tampak mengerutkan keningnya, sebelum dia menangkap arti ucapan mahasiswi dihadapannya -yang sepertinya sudah salah mengartikan perintahnya barusan.
“Kamu. Kamu mikir apa, hah? Astaghfirullah, Mbak ... makanya punya otak dipake buat belajar yang bener, jadi isi pikirannya gak kotor.” Pak Adhi memegangi kepalanya sembari geleng-geleng.
Eh? Kok jadi dia yang dibilang PikTor?!
“Saya nyuruh kamu duduk di bangku ini, bukan saya pangku. Lagian ini ---!!” Pak Adhi mengebrak tumpukan kertas di atas meja yang tadi Kanaya punguti. “Kamu harus susun lagi berdasarkan abjad!”
M*mpus! Kanaya salah ngira. Yah~ jadi dia yang pikirannya mesum ini, mah.
“Kerjakan. Saya mau keluar dulu,” ujar Pak Adhi.
“Iya, Pak.”
Tak butuh waktu lama, Kanaya sudah selesai menyusun tumpukan kertas tak beraturan itu sesuai abjad sebagaimana yang dititah oleh Pak Adhi. Tetapi tuh Dosen belum balik juga, ngabur ke mana coba?
Kanaya melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Gaps! Bentar lagi masuk jam kuliah ke dua. Tanpa memperdulikan bicara atau ijin pamit terlebih dahulu, Kanaya buru-buru minggat dari ruangan tuh Dosen -menyelamatkan diri.
•••
Kanaya masih berdiri di samping pintu masuk kelasnya, dia hendak mengintip ke dalam kelas -melihat apakah ada Dosen atau tidak.
Fyuh~ aman!
“Kanaya! Lo kemana aja?!” baru saja Kanaya melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, dia sudah disemprot oleh Nikita -teman sekelasnya- yang sedang menulis di papan tulis. “Nih ... Lanjutin!” ujar Nikita dan mendorong buku juga spidol kepada Kanaya. “Lo kan sekertarisnya, gue cuma wakil aja. Dah ya ....”
Anjrit! Dia baru datang udah langsung disuruh-suruh pagi. Bangke emang!
Entah berapa kali Kanaya bicara kasar lewat pikirannya, tetapi sayang -orang yang dia umpati tidak punya kemampuan telepati sehingga tidak mengetahui sebesar apa kekesalan Kanaya.
Mencoba tenang, Kanaya menarik nafas dalam. Dia terlebih dahulu menaruh tasnya di bangku yang telah di tempati ke dua temannya untuk dirinya.
“Nay, lo kenapa mau aja sih disuruh-suruh sama tuh Nikita gadungan!!” Adel ngomel. “Jangan mau, Nay. Gantian lah, enak aja dia!”
“Sini biar gue yang ngomong!!” Jani mengambil buku catatan dan spidol yang sedang Kanaya pegang.
“Gak usah Jan, biar gue aja -lagian cuman nyacet doang. Tadi gue juga udah gak masuk jam pertama,” tolak Kanaya.
“Tugas lo banyak, Bege. Tadi jam pertama Pak Mandor ngasih tugas buat pengambilan nilai,” beritahu Jani.
“Yah, terus gue gimana donk? Tadi kan gue gak masuk.” Kanaya panik.
“Makanya kita bilangin kalo lo ijin telat, eh ... taunya malah ngaclep lo,” ujar Jani.
“Ijin apaan?”
“Gue bilang, Lo lagi sembelit,” ucap Adel.
Ya Tuhan ... Hari ini kenapa ya, orang-orang bilang dia sembelit-ambeien ..
“Tapi Lo kemana sih, Nay? Lama banget, gue kira Lo gak masuk,” tanya Adel.
“Iya, gue sembelit terus kena ambeien!!” jawabnya kesal.
“Serius Nay? Gak salah dong gue, bilang Lo sembelit. Terus Lo duduk gimana?" timpal Adel.
Harinya akan sangat panjang.
“Udah, kerjain gih tugas Pak Mandor. Mumpung Bu Susi cuman ngasih catatan doang. Gak tau nanti bakal ada kelas kosong lagi atau gak, soalnya Pak Mandor bilang dikumpulin sebelum istirahat,” beritahu Jani.
“Mana soalnya?” tanya Kanaya.
“Ada di grup,” jawab Jani.
Kanaya mengeluarkan ponselnya untuk mengecek grup kelas. Sayang seribu sayang, hanya soal yang terdapat disana -tidak dengan jawabannya.
“Jan, lo gak foto jawabannya?” tanya Kanaya memelas.
“Maaf Sis, tadi kita juga buru-buru ngerjainnya,” sesal Jani.
Huft~
Berbeda dari helaan nafas sebelumnya, kali ini Kanaya merasakan beban di pikirannya.
Bisa ngebul otaknya kalo ngerjain nih soal sendirian.
•••
Kanaya sudah berusaha memaksimalkan kerja otaknya saat mengerjakan tugas Pak Mandor, kini tangannya yang harus bekerja keras menyelesaikan catatan pelajaran Bu Susi yang ternyata juga dikumpulkan.
Kanaya belom mencatatnya, karena mengerjakan tugas Pak Mandor tadi -bahkan dia sampai tak istirahat makan siang.
Mungkin hari ini memang hari sialnya.
“Nay, masih lama? Kita kudu bimbingan kan,” ujar Jani.
God! Skripsinya!!!
Kanaya lupa belum nge print!!
“Apa lo mau titip skripsinya sama gue?” tawar Jani.
Wajah Kanaya tampak sendu. “Kalo bisa gue maunya gitu, Jan. Tapi skripsi gue belum di print.”
Jani menghela nafas. “Nay ... Nay ... lo kemana aja tadi pas jam pertama gak masuk?”
“Iya ... Gue lupa,” jawab Kanaya setengah menahan pilu.
Gara-gara tuh Dosen ajaib, Kanaya jadi lupa.
“Makasih Jani~ I love you!!” ucap Kanaya girang lalu memberikan flashdisk nya pada Jani. “Ini duitnya.” Kanaya mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan.
-
Kanaya buru-buru menuju tempat bimbingannya setelah mengumpulkan tugas catatan Bu Susi di ruang dosen. Aduh! Sumpah, kenapa Bu Andin gak bimbingan di sana juga sih -seperti biasanya. Dia jadi engos-engosan gini, mana belom makan. Pingsan dah ini dia, gara-gara kelaperan.
“Masih sempet kan, Jan?” tanya Kanaya setibanya.
“Tau tuh, katanya Bu Andin dia mau ada rapat abis ini,” beritahu Kanaya.
Bahu Kanaya merosot mendengarnya.
“Ah ~ bisa kali, nambah satu doang,” ujar Jani menyemangati.
Beberapa teman bimbingannya yang sudah selesai diperiksa skripsinya, mereka satu-persatu meninggalkan lokasi. Kini tersisa Anjani dan Kanaya.
Sementara Bu Andin yang tidak mengetahui jika Kanaya mau bimbingan, dia beranjak dari bangku.
“Maaf Bu, saya belum,” ucap Kanaya sopan -namun terdengar ragu.
“Loh ... Kamu juga bimbingan? Yasudah, mana?”
Meskipun Bu Andin bilang bersedia memeriksa skripsinya, tetapi raut wajahnya mengatakan sebaliknya. Kanaya merasa tak enak hati.
“Lain kali jangan terlambat lagi, ya~ Tadi sudah saya hitung, sengaja -karena saya mau ada rapat ini,” ucap Bu Andin kentara moody nya.
“I ... Iya, Bu,” jawab Kanaya kikuk.
Bu Andin mulai memeriksa skripsi milik Kanaya. Namun beberapa saat kemudian, terdengar decakan tak senang darinya. Kanaya menerjap kaget.
“Ini apa, Kanaya?” tangan Bu Andin bergerak menutup lembaran skripsi Kanaya yang baru beberapa saat dibacanya.
“Ya? Kenapa,Bu?” tanya Kanaya bingung sekaligus was-was.
Bu Andin menyerahkan kembali skripsinya pada Kanaya. “Kamu baca sendiri.”
Kanaya buru-buru meraih skripsinya dan mencermatinya dengan sesama. Namun baru beberapa kalimat, dia segera paham apa yang di maksud oleh Bu Andin -termasuk kesalahannya.
“Maaf Bu, sepertinya saya salah nge -print,” beritahu Kanaya dengan sesal.
Sementara itu, Anjani yang masih menunggu Kanaya di belakang yang ikut mendengar -dia juga merasa bersalah.
“Perbaiki.” Hanya satu kata itu yang diucapkan Bu Andin sebelum dia beranjak dari bangku.
“Iya Bu, akan saya print lagi. Tapi Bu ... apa masih sempat kalau hari ini saya bimbingannya lagi?” tanya Kanaya hati-hati.
Sejujurnya dia sangat berharap dapat menyelesaikan bimbingan kali ini untuk Bab yang telah dia bela-belain dia kerjakan.
Bu Andin menghela nafas. “Terserah, kalau kamu mau nunggu saya sampai selesai rapat.” Nada bicara Bu Andin sudah terdengar kurang bersahabat baginya.
Kanaya tentu merasakannya, Bu Andin sudah malas untuk bimbingan lanjutan setelah dia selesai rapat. Kan biasanya juga dia paling garcep pulang. Tetapi selagi bisa diusahakan, kenapa enggak?
“Iya Bu, saya akan tunggu. Kira-kira kapan rapatnya selesai?”
“Gak tau, ya~ gak pasti kapan selesainya, tapi biasanya sih sejam lah. Kamu tunggu aja di lantai dua tempat ruang Dosen, nanti saya mau kesana lagi -itu pun kalo kamu masih mau bimbingan abis itu.”
“Baik Bu, terima kasih.”
Bu Andin pergi.
Anjani menghampiri Kanaya. “Naya, maaf ya~ Yah, Lo jadi mesti nunggu bimbingan lagi.”
“Gak papa, Jani -selow. Lagian Lo juga udah bantuin gue.”
“Iya, tapi tetep aja karena gue salah nge print, jadinya bimbingan lo gak selesai. Gue temenin lo deh,”
“Ya ampun, Jani~ gak usah. Lebay deh lo. Gue gak papa sendiri, lagian gak bakal ada yang nyulik juga.”
“Beneran?”
“I.ya An.ja.ni,” ucap Kanaya penuh penekanan.
“Gue pulang nih?”
“Iya pulang sono, udah di tungguin Abang Ojek.”
“Gue belom mesen ojek, yeh....”
Akhirnya setelah pembicaraan panjang dan alot, Anjani pergi juga. Kini tinggal Kanaya yang menunggu Bu Andin dengan duduk di bangku yang tersedia di koridor.
Kanaya terus menghitung sembari memperhatikan arloji yang menggelangi tangannya. Sesekali dia beranjak dari bangku dan menoleh ke arah lift dosen.
Tetapi di samping itu, rasa perih di perutnya semakin menjadi. Dia belum makan, satu-satunya yang dia santap yaitu Bubur Ayam Kang Cecep tadi pagi.
Kanaya gamang, mana duit cash nya udah kepake buat priant dan tinggal buat ongkos -karena tidak pulang bareng Dimas. Mau ambil uang di ATM, tau dimana? Apa dia makan di resto atau kafe aja ya, biar gesek nanti. Tapi mahal.
Ting ...
Minimart kan ada, beli roti sama susu kotak juga cukup -buat ganjal perut mah.
Tapi ... ini rapat dosen kapan kelar ya? Takutnya pas dia pergi, nanti Bu Andin keluar. Tapi ... dia laper. Batin Kanaya menjerit miris.
Lari mungkin cukup, Minimart nya cuman di seberang jalan.
Akhirnya Kanaya meninggalkan bangku di koridor ruang dosen, dia berlari. Namun dalam kondisi perutnya yang lagi sakit gini, dibawa lari malah membuatnya merasa pusing dan mual.
Ugh!
Kanaya berhenti berlari dan bersandar pada tembok dengan sebelah tangannya dan kepala tertunduk, sementara tangan lainnya memegang perut yang sakitnya semakin menjadi.
Keringat dingin mulai bercucuran melalui pori-pori kulitnya, turun meluncur dari dahi hingga pelipis. Kakinya bahkan lemas untuk menopang berat tubuhnya sendiri, Kanaya memilih duduk berjongkok.
‘Jangan sampe pingsan ... Jangan sampe pingsan,' ulangnya mengontrol pikiran -sebab Kanaya merasa matanya mulai berkunang-kunang.
Huh~ Hari memang akan beranjak malam, tapi kok pandangannya udah mulai menggelap?
“Mbak ... Mbak kenapa, Mbak?”
Sayup-sayup Kanaya mendengar suara, dia kembali mencoba membuka matanya dan mendongak.
“Ambeien?”
Kanaya tau nih orang, siapa lagi kalo bukan tuh Dosen ajaib. Soalnya dia doang yang ngatain Kanaya 'ambeien'. Sabar.
Alarm tanda bahaya Kanaya berbunyi, dia langsung bangun -berdiri. Namun karena kondisi tubuhnya tidak cukup baik, Kanaya limbung dan hampir jatuh.
Tentu saja bokong Kanaya tidak menjadi korban, karena dia tidak terjatuh. Entah itu bisa dikatakan beruntung ada Pak Adhi yang menangkapnya atau malah menjadi hal yang paling memalukannya.
“Mbak, gak apa-apa?” ada nada cemas dalam pertanyaan sang Dosen.
“I ... ya, gak papa Pak. Pusing dikit aja.”
“Ini kamu mau ke mana? Pulang?”
“Bukan, mau ke depan Pak.”
“Ngapain?” tanyanya lagi.
Aduh, ini Dosen mau tau banget. Bisa gak tinggalin dia aja, jangan bikin dia tambah pusing dan mual.
“Ada yang mau saya beli, Pak.”
“Beli apa?”
Pengen Kanaya teriakin, dia Dosen. Tiga tahun perjuangannya bisa sia-sia dan namanya tercoreng terus masuk komite disiplin. Emang dasar nih Dosen, setelah ketemu dia -hidupnya jadi susah dan banyak drama.
“Beli makan, Pak.” Kanaya jawab jujur aja, abis otaknya gak bisa mikir buat bohong kalo perut kosong.
Pak Adhi tampak menghela nafas dan entah kenapa matanya memandang iba ke Kanaya.
Dia gak lagi di kasihanin kan, gara-gara ngaku kelaperan?
“Masih kuat jalan, kan?” tanya Pak Adhi.
“I ... iya,” jawab Kanaya sekenanya. Padahal aslinya mah, dia lemes banget.
Emang kalau dia jawab 'enggak' tuh Dosen bakal gendong dia? Kan enggak. Ogah juga Kanaya.
Namun lain diucap, lain yang terjadi. Kanaya pingsan juga akhirnya. Dan siapa lagi coba yang ngangkut dia ke ruang kesehatan, kalau bukan tuh Dosen yang sebelumnya Kanaya ogah-ogahin.
>>>>
Gimana coba reaksi Kanaya pas sadar? Hahahaha ...
•
Adel said, “Makanya Nay, jangan suuzon dulu sama calon laki gue. Apa gue kata, aslinya mah dia baek orangnya. Don’t judge book by cover -istilah kerennya. Awas ya Nay, jangan nikung gue!”
Jani quote, “Jodoh itu urusan Tuhan, Dedel. Yang pacaran bertahun-tahun aja belom tentu sampe ke pelaminan, alias jagain jodoh orang. Apalagi elo yang cuman pengagum doang. Ngayal. Kesian. Hahahaha ...”
•
TBC
>>>>
2000++ words.
\=\=\=•\=\=\=
Thank for reading. ^^