
Kanaya kembali ke sofa bersama mahasiswa bimbingan lainnya, dia mengambil duduk di sebelah Adel yang anteng dengan ponselnya –sepertinya Adel tak ada teman ngobrol karena dua pria itu punya dunianya sendiri.
“Udah selesai, Nay?” tanya Adel dan menaruh ponselnya dalam tas kecilnya.
Kanaya hanya membalas dengan deheman pada Adel. “Bang Fadel, gantian,” ucapnya.
“Okay Nay,” jawab Bang Fadel seraya beranjak bangun dan membawa serta dokumen skripsinya –meninggalkan lawan bicaranya.
“Sukur loh! Sekarang gantian lo yang gabut,” ujar Adel sinis pada mahasiswa bimbingan yang datang ke tiga –yang menjadi teman ngobrol Bang Fadel.
“Usil aja lo, Del,” tegur Kanaya dan mencubit paha Adel dan sang empu mengaduh.
“Nyiwit gak kira-kira lo, Nay. Dasar tangan emak!” sungut Adel.
“Bodo,” timpal Kanaya tak perduli.
Adel mendesis kesal.
“Eh, kayaknya lo lamaan bimbingannya dari biasanya. Ngomongin apa hayo~ sama Pak Adhi?” ledek Adel yang kesalnya sudah hilang.
“No comment, ya~ Netizen jangan penasaran,” potong Kanaya dan menaruh tas Tamparware nya di sisi lain –jauh dari Adel.
Tak mendapat tanggapan, Adel tak menyerah dan mencari bahasan lain. Emang dasar doyan ngobrol orangnya, kalo gak –udah kayak Ikan kurang aer.
“Nay, itu tas isinya apaan sih? Dari tadi lo pegangin mulu, sampe dibawa pas bimbingan juga. Takut amat gue embat,” ujar Adel dan melirik-lirik pada tas tersebut. “Btw, gue nyium bau-bau enak deh dari situ,” ucap Adel sembari mengendus.
“Del, lo banyak tingkah nanti gue tinggal loh,” ancam Kanaya.
Tapi untuk Adel yang sudah kebal, baginya itu seperti ancaman untuk bocah –Adel terkekeh menertawakan Kanaya.
Kanaya tak ambil pusing, setelahnya dia tinggal mengabaikan Adel saja – karena itu jauh lebih ampuh membuat Adel mati gaya. Bahkan hingga giliran Adel untuk bimbingan, Kanaya masih sibuk pada ponselnya. Padahal dia sama gabutnya, cuma bulak-balik di layar menu.
“Nay, gue revisi lagi,” ngerek Adel setibanya setelah dia selesai bimbingan. “Sumpah, padahal gue sampe puyeng banget ngerjain data statistiknya. Tapi masih aja disalahin sama Pak Adhi,” imbuhnya.
Sementara itu, di belakang Adel ada Pak Adhi –Kanaya menarik Adel untuk memberi jalan lewat pada sang Dosen.
“Yang masih revisi, tolong diperbaiki dan lebih teliti lagi saat menghitung data statistiknya,” ucap Pak Adhi menatap pada Adel dan mahasiswa yang datang ke tiga. “Yang belum mulai penelitian, segera komunikasikan dengan pihak tempat kalian penelitian. Semangat kejar yang lainnya, biar bisa wisuda bareng,” imbuh Pak Adhi kali ini menatap pada Kanaya dan Pak Adel.
“Baik, Pak,” jawab ke empat mahasiswa bimbingan tersebut.
“Baik. Terima kasih untuk hari ini, silakan kalian kembali ke kegiatan masing-masing. Saya permisi, selamat siang,” pamit Pak Adhi.
“Terima kasih kembali, Pak.”
Kanaya dan ke tiga mahasiswa lainnya sedang membereskan bawaan mereka. Tapi ini perasaan Kanaya saja, atau Pak Adhi memang masih menatap ke arahnya?
Kanaya menoleh ke arah aura yang mengintimidasinya, benar saja –Pak Adhi masih di sana dan memperhatikannya. Lalu sorot matanya, seolah memberi titah padanya untuk segera keluar.
Kanaya merasa terbebani, bagaimana kalau yang lain melihat?
“Mbak Kanaya, jangan lupa janjinya. Saya tunggu segera,” ucap Pak Adhi dan Kanaya melotot.
Setelah membuat orang syok, Pak Adhi pergi dengan santai –meninggalkannya yang dihujam tatapan pertanyaan oleh teman sebimbingannya. Kanaya tersenyum kikuk. “Semangat ngerjain skripsinya ya~ Permisi, saya duluan,” pamitnya.
“Eh ... Nay, tunggu!” teriak Adel tak sadar tempat. Namun dia segera menutup mulutnya dan meminta maaf, lalu mengejar Kanaya.
Kanaya berjalan dengan cepat, tak ingin tertangkap oleh Adel dan menjadi subjek intogasi.
“Nay, lo mau kemana sih? Buru-buru amat,” ucap Adel yang kini sudah menyamai langkahnya.
Kanaya menjerit dalam benaknya, sia-sia saja usahanya untuk melarikan diri. “Hah? Oh! Itu ... gue udah ditunggu,” jawab Kanaya tersendat-sendat, sudah seperti penjahat yang sedang berusaha mengelabui petugas saat diadili.
“Terus yang Pak Adhi omongin itu apa? Pake janji-janji segala,” tanya Adel lagi.
“Itu ... skripsi gue, kan gue paling telat progresnya dari yang lain. Kalian kan udah pada penelitian dan ngolah data, gue buat janji waktu penelitian sama pihak sekolah aja belom,” dalih Kanaya.
“Bismillah ya, Nay~ semoga skripsi kita dilancarkan,” ujar Adel menyemangati dan Kanaya meng-Aamiini nya. “Gue yakin kok, kita bisa wisuda bereng. Lagian lo kan Penelitian Kualitatif, jadi gak puyeng ngitung –cuman nyalin teks wawancara sama observasi,” imbuh Adel.
“Ya~ gue gak tau, itu penelitian bakal kayak gimana –kan belum gue jalanin,” ucap Kanaya dengan nada cemasnya.
“Tenang aja Nay, kan ada Pak Adhi yang senantiasa membimbing dengan sepenuh hati,” balas Adel dengan wajah cerah berser-seri.
Kanaya hanya tersenyum, tak tau bakal seperti apa nantinya kalo temannya yang penggemar Pak Adhi ini –tau hubungannya dengan sang Dosen di luar kampus.
“Nay, yang jemput lo belom dateng?” tanya Adel sesampainya mereka di gerbang kampus.
“Eh? Iya kali,” sahut Kanaya panik dan mengedarkan pandangannya, karena Pak Adhi sebelumnya mengirim pesan akan menunggunya di pintu keluar parkir mobil –yang tak jauh dari gerbang kampus. “Ojek lo juga belom, Del?” tanyanya.
“Gue belom pesan Ojeknya, mau nungguin lo dulu,” jawab Adel.
Aduh! Temannya ini baik banget mau nungguin dia, tapi makasih –soalnya sekarang bukan waktu yang tepat untuk main tunggu-tungguan. Yang ada, nanti itu Dosen keburu ngamuk gara-gara kelamaan nunggu dia.
“Lo duluan aja, Del. Gak apa-apa kok,” ucap Kanaya bermaksud mengusir temannya itu.
“Beneran?” tanya Adel memastikan. “Gak takut nanti ada yang nyulik?”
Ya elah~ pake ngeledek lagi nih bocah. “I.YA!” tekan Kanaya.
Adel mengeluarkan ponselnya dan tampak membuka aplikasi Oj-Ol, namun tepat setelah itu ada sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.
Tin ... Tin ...
‘Rese banget! Jalan masih lebar juga, pake ngelakson segala. Dasar caper,’ gerutu Kanaya, tetapi dirinya tetap menepi seraya menarik Adel.
Kanaya menoleh ke arah mobil tersebut, ternyata jendelanya terbuka dan menampilkan sosok sang Dosen. ‘Duh! Pak Adhi. Mau apa lagi nih Dosen,’ benaknya meringis. Kanaya memalingkan wajahnya, pura-pura tak melihat. ‘Hus-hus, pergi sana,’ teriaknya dalam batin.
“Mbak Kanaya, Mbak Adel~ belum balik?” tanya Pak Adhi dari dalam mobilnya.
Kanaya terperangah mendengar suara sang Dosen. ‘Sengaja ya? Pasti sengaja!’
“Eh, Pak Adhi!” jawab Adel antusias. “Iya Pak, kita lagi nunggu jemputan.”
“Emang mau kemana?”tanya Pak Adhi –suaranya terdengar ramah. Tapi seperti dibuat-buat bagi Kanaya, karena dia merasa jika Dosennya itu sedang mengerjainya.
“Gak kemana-mana, Pak. Kita langsung pulang ke rumah masing-masing,” jawab Adel.
“Daerah mana rumahnya? Siapa tau searah, nanti bisa saya antar,” ujar Pak Adhi.
Kanaya yang tadinya cuek bebek dengan obrolan dua orang tersebut, dia terkejut dan langsung menoleh. ‘WHAT?! Bilang apa tuh Dosen?!’
“Gak jauh kok Pak, keluar dari jalan ini –belok kanan terus lurus aja. Rumah saya dekat stasiun kereta,” beritahu Adel.
Pak Adhi tampak mengangguk, lalu sorot matanya tampak beralih menatap Kanaya.
Jangan tanya gue - jangan tanya gue.
“Mbak Kanaya rumahnya dimana?” tanya Pak Adhi –tak ketinggalan senyumannya.
Samber gledek! Pengen dia garuk deh rasanya. Tapi Kanaya berusaha sabar dan berlapang dada. “Jauh Pak, kalo rumah saya mah,” jawab Kanaya penuh penekanan.
“Gak kok Pak, dia mah kepeleset juga sampe. Tapi beda arah sama saya,” sahut Adel.
Pengkhianat!
“Ya udah, ayo saya antar,” ucap Pak Adhi.
“Beneran Pak? Wiiihhh!” seru Adel girang dan segera menghampiri mobil Pak Adhi.
“Mbak Kanaya, gak ikut?” tanya Pak Adhi.
“Sudah?” tanya Pak Adhi pada dua mahasiswinya yang duduk di bangku belakang.
“Gas keun, Pak,” ujar Adel.
Sementara Kanaya hanya berdiam diri sembari menatap keluar jendela.
Pak Adhi menarik tuas dan menginjak pedal gas. “Saya antar Mbak Adel dulu ya?” ucapnya sembari melihat ke bangku belakang melalui spion tengah.
“Eh? Enggak apa-apa kok Pak, kalo saya belakang juga,” sahut Adel dan menyenggol Kanaya.
Kanaya menoleh pada Adel, dilihatnya temannya itu sedang menatapnya penuh harap. Dia tau apa mau temannya ini, sudah pasti Adel mau lebih lama bisa bersama Dosen Gebetannya. Tapi meskipun Kanaya ingin segera turun dari mobil ini, nyata tidak bisa. Kanaya menaikan bahunya samar, tanpa berkomentar dan Adel merengut.
◦ ◦
“Rumah kamu daerah sini?” tanya Pak Adhi yang sudah memberhentikan mobilnya di pinggir jalan raya yang tak jauh dari sebuah Gang.
“Iya Pak, tinggal masuk dikit aja ke dalam,” jawab Adel.
“Gak jauh-jauh banget dan masih bisa naik angkot,” ujar Pak Adhi. “Kenapa kamu malah ngojek?” tanyanya.
Kanaya geleng-geleng mendengar pertanyaan Pak Adhi, menurutnya itu pertanyaan yang tidak berfaedah. Dengerin aja nanti jawaban si Adel.
“Iya sih, Pak. Tapikan saya juga dua kali naik angkot, toh ongkosnya juga gak jauh beda. Yang paling penting, karena saya gak bisa nyebrang,” jawab Adel dan terkekeh.
Hah~ Sampai sekarang pun, Kanaya masih tak mempercayai fakta itu.
“Terima kasih Pak, atas tumpangannya. Sering-sering ya,” ucap Adel tanpa segan.
Dasar ngelunjak!
“Nay, gue duluan ya. Bye-bye,” pamit Adel pada Kanaya.
Pak Adhi masih belum menjalankan mobilnya, bahkan setelah Adel pergi. Kanaya tidak protes, tapi dalam benaknya dia bertanya –nunggu apa lagi nih Dosen?
“Mbak Kanaya, pindah ke depan,” ujar Pak Adhi bagai titah.
“Enggak Pak, saya disini juga gak apa-apa,” jawab Kanaya enggan.
“Saya yang keberatan, berasa nyupirin kamu,” balas Pak Adhi.
Kanaya mendehem kasar dan segera turun untuk pindah ke bangku depan dengan membawa serta barang bawaannya. Namun sesuatu yang tidak dia duga, dia mendapat protes dari sang Dosen.
“Mbak Kanaya, barangnya ditaro di belakang aja. Gak usah ikut dibawa ke depan, nyempitin,” ucap Pak Adhi.
Kanaya yang sudah menaruh bokongnya di jok dan hendak menutup pintu mobil, terpaksa turun lagi. Sabar~
“Mau kemana?” tanya Pak Adhi.
“Naro ini, tadi katanya suruh ditaro di belakang,” jawab Kanaya setengah kesal.
Pak Adhi menghela nafas. “Sini,” pintanya.
“Apanya?” tanya Kanaya yang tak paham apa maunya sang Dosen.
“Itu,” tunjuk Pak Adhi pada barang bawaan yang ada dekapan Kanaya.
Kanaya memberikan dokumen skripsinya, lalu Pak Adhi menaruhnya di belakang tanpa perlu turun dari tempat duduknya –hanya melepas sabuk pengaman.
“Satu lagi,” pinta Pak Adhi pada tas Tamparware.
“Gak usah, ini biar saya pegang aja,” tolak Kanaya. “Ini titipan Ibu, kudu dijaga hati-hati katanya,” imbuhnya.
“Ya udah naik,” titah Pak Adhi. “Pake sabuk pengamannya.”
Setelah Kanaya memasang sabuk pengamannya, Pak Adhi menjalankan mobilnya.
“Pak, ini mau kemana? Bapak gak bilang tujuannya,” tanya Kanaya.
“Nanti kamu juga tau,” balas Pak Adhi tanpa melepaskan pandangan dari jalan dan membuat Kanaya mendengus.
Pak Adhi menginjak rem, saat beberapa kendaraan di depannya berhenti karena jalan yang di tutupi palang pintu perlitasan kereta api.
“Itu tas memang apa isinya, Mbak Kanaya? Dari tadi dipegangin mulu,” komentar Pak Adhi.
“Bekal,” jawab Kanaya singkat.
“Terus isi bekalnya apa?” tanya Pak Adhi lagi.
“Gak tau. Tadi sih liat ada daging, ikan sama sayur.”
“Coba buka, saya mau liat,” pinta Pak Adhi.
“Janganlah, nanti baunya keluar. Kan lagi di dalam mobil,” tolak Kanaya.
Pak Adhi mendehem panjang, seperti dia sependapat dengan Kanaya.
“Mbak Kanaya laper, gak?” tanya Pak Adhi tiba-tiba.
“Ya?” respon Kanaya sampai dia bingung mau jawab apa.
“Kita cari tempat makan dulu, gimana?” tanyanya lagi. “Tapi kalo makan sekarang, nanti masakan Ibu kamu kapan dimakannya?”
Mulut Kanaya sudah mangap hendak menjawab, tapi sepertinya dia terlalu percaya diri kalau sang Dosen bicara padanya –karena Pak Adhi terus bertanya tanpa jeda.
“Kalo makan besar, nanti keburu kenyang. Apa cari ganjalan dulu kali, ya? Enaknya nyemil apa kira-kira?”
Kok rasanya Kanaya kesal ya? Sebenernya dia nampak gak sih, buat tuh dosen? Dari tadi nanya, tapi jawab sendiri.
“Kita ke Kafe aja, ya?”
“Terserah Pak,” jawab Kanaya sudah bete.
●
T
B
C
●
Wkwkwk ... gak faedah banget ya Part ini, padahal niatnya cuman selingan aja sebelum masuk ke inti part. Eh~ malah bablas kepanjangan. Mau dibuang, sayang.
Nikmatin aja ya, jarang-jarang liat ke UwU –an Pak Adhi ..
Tapi kayaknya doi lagi bingung deh ..
Dasar Bujang Bu Ranti, dah lama gak jalan sama perempuan –jadi betingkah.
Harap dimaklumi aja ya~
> > >
Makasih udah baca dan dukungannya ..
See you~