Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 36.6 - Berberes]



Saat ini Kanaya kembali ke kediamannya bersama Bang Dhika untuk packing barang-barang yang hendak dibawanya pindah, sementara sang Dosen/Suami berada di apartemennya dengan Rendra untuk berberes di sana.


“Gak usah bawa banyak-banyak, lagian belum tentu bakal kepake semua sama lo,” ujar Bang Dhika di palang pintu.


Kanaya hanya mendehem tanpa menoleh, masih fokus melipat baju dan memasukannya dalam kardus.


“Buruan.”


“Kalo gak bantuin, jangan bikin kesel deh Bang,” sahut Kanaya.


Akhirnya Kanaya kembali ditinggalkan sendiri, namun tentu saja itu tidak masalah. Malah bagus, gak ada yang recokin dia.


Lalu setelah dia selesai packing bajunya, Kanaya mulai membereskan barang lainnya –terutama perlengkapan kuliahnya. Tapi pertama-tama dia mulai dari membereskan make up dan aksesorisnya.


Kanaya membongkar meja kecil dan mengeluarkan isinya, namun tiba-tiba ada sebuah benda yang mencuri perhatiannya. Itu ... Gelang pemberian Adimas.


Kanaya menghela nafas, sepertinya dia perlu mengembalikannya –karena tidak mungkin juga dia menyimpannya. Jadi untuk saat ini, dia menyisihkan gelang itu terlebih dahulu sebelum nanti dia kembalikan.


Kali ini Kanaya membereskan buku-bukunya, sepertinya tak banyak yang akan dia bawa. Dia sudah semester akhir, perkuliahannya tidak akan sepadat semester sebelumnya. Satu-satunya yang perlu dia kerjakan adalah menyelesaikan skrip ___!!


Gaps!!


Kanaya rasanya seperti baru saja terjun ke jurang kesadaran.


SKRIPSI!!


Ya Rabbi~ penelitian dia!!


Kanaya cepat-cepat melihat jam, 11.21!!


Arrrrrgggg!!!


Si b*go!! Kok bisa-bisanya dia lupa?!!


Kanaya segera beranjak dari duduknya, lalu mengambil tas yang berisi bahan-bahan penelitian sebelumnya dan menyambar ponselnya yang masih di isi dayanya. Lalu pergi meninggalkan barang yang tengah dibereskannya.


Sembari berjalan menuju keluar, Kanaya menyalakan ponselnya. Seketika notifikasi mulai masuk bagaikan luapan, sebagian besar dia abaikan dan langsung mencari kontak Abi Luqman.


Ya ampun~ ternyata Abi Luqman juga mengirim banyak pesan juga meneleponnya beberapa kali sejak pagi. Kanaya mencoba meneleponnya kembali, tetapi ... tidak diangkat!!


Kacau! Pikirannya saat ini sangat kacau, mungkin begitu juga dengan penelitiannya. Tetapi dia tak bisa secepat itu menyerah, saat ini masih ada waktu sebelum jam pulang sekolah. Kalau beruntung, dia setidaknya bisa melakukan penelitiannya.


Kanaya menyambar kunci motor dan berlari. Sementara itu di teras ada Bang Dhika tengah memainkan ponselnya.


“Heh! Mau kemana lo?” tanya Bang Dhika.


“Sekolah.”


“Ngapain?”


“Penelitian! Akh~ Siaaall!!” jawab Kanaya kesal, lalu dia menghampiri motor dan menaikinya.


Dhika bukan saja terkejut saat sang Adik mengumpat dan berteriak, tetapi juga Kanaya yang hendak mengendarai motor. “Heh! Mau lo apain motornya?” tanya Dhika dan menghalangi sang Adik.


“Gue pakelah! Udah sana minggir, gue telat.”


“Enggak! Lo turun, gue gak ngijinin lo pake motor!” sanggah Dhika.


“Bang! Plis deh, ini gue udah telat. Bisa gak lo gak bikin gue makin pusing lagi?” marah Kanaya.


“Biar gue yang bawa, gue anter lo,” jawab Dhika. “Gue juga ngerti, makanya gue gak ijinin lo yang bawa. Kalo lo kenapa-napa, gue juga yang nanti disalahin,” imbuhnya.


Sejenak Kanaya terpaku dengan ucapan Abangnya, tersentuh mungkin.


“Tutup pintu sana!” titah Bang Dhika.


Lalu mereka berangkat. Dan sesampainya di SMA Pertiwi, Kanaya segera memasuki kawasan tersebut.


“Nay!” panggil Bang Dhika yang masih di gerbang. “Mau gue tungguin atau ___?”


“Gak usah, lo pulang aja Bang,” potong Kanaya. “Nantikan Pak Adhi datang,” ingatkannya. “Dah ya~ makasih.”


Kanaya mendatangi meja piket, setelahnya dia pergi dengan seorang guru dan menghilang dari pandangan sang Abang.


“Hah~ good luck, Sis!” desah Dhika dan pergi.


o o o o o


Tak perlu waktu lama untuk Kanaya menyelesaikan urusannya di sekolah, selang beberapa puluh menit dia pamit untuk pulang. Lalu apa penelitiannya lancar? Hanya dia yang tau.


“Sampe ketemu lagi besok ya, Neng~ Ingat loh, jangan telat lagi,” ucap Abi Luqman mengingatkan.


“Iya Abi, Naya minta maaf ... dan makasih juga udah dibantu,” ucap Kanaya bercampur haru dan senang lantaran Guru Favoritnya sekaligus sang Kepala Sekolah membantunya mencari solusi lain. “Kalau gitu Naya pamit ya Abi, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Kanaya keluar dari kawasan sekolahnya dengan langkah kaki dan perasaan ringan, karena beban dan khawatirannya menguap sudah. Kini dia tinggal melakukan beberapa penelitian bagian akhir, sebelum nantinya mengolah data.


Semangat Kanaya!!


Tiinn!!


‘Ya ampun~ siapa sih yang ngelakson dia?’ gerutunya yang juga kaget. Kanaya melihat sebuah mobil hitam, kayaknya kenal. Lalu seseorang keluar dari mobil tersebut.


Pak Adhi?! Ngapain Dosen/Suaminya itu dimari?


Kanaya menghampirinya.


“Udah selesai penelitiannya? Gimana? Lancar?” tanya Adhi.


“Hmm!! Lancar Jaya!!” jawab Kanaya.


“Alhamdulillah kalau begitu,” jawab Adhi tampak lega.


“Kok Bapak disini? Ngapain?”


“Saya jemput kamu. Kenapa? Gak boleh?” tanya Adhi balik sembari masuk ke mobil.


“Bukan, nanya aja.”


“Tadi Abang kamu cerita, katanya kamu marah-marah karena telat untuk penelitian hari ini,” jelas Adhi.


“Isshhh~ dasar si Dhika Ember Bocor!! Mulutnya gak bisa diem banget, pake ngomong yang engga-enggak lagi. Mana ada saya marah-marah, fitnah itu dia!” elak Kanaya.


“Udah dipake sabuk pengamannya?” tanya Adhi.


Adhi menginjak pedal gas dan mereka berkendara pulang.


“Ya~ pokoknya karena itu saya jemput kamu, selain juga takut kamu kenapa-napa,” lanjut Adhi sembari menyetir dan tanpa disadari dia mendapat tatapan selidik dari Kanaya. “Stress misalnya atau mewek di jalan.”


Wajah Kanaya berubah masam setelah mendengar kalian terakhir. Hah~ ngerep apa sih dia? Dipuji.


“Tapi syukur kalau kamu gak apa-apa dan semua lancar, saya ikut senang dan juga lega. Yang artinya saya aman dari sakit kepala karena mikirin Mahasiswi yang penelitiannya mandet di tengah jalan, ditambah dia juga statusnya Istri saya sendiri.”


Pak Adhi ini apa tipe yang ngomong manis diawal, tapi pahit akhirnya? Rada kesel ya, Kanaya dengernya.


Tapi Dosen/Suaminya ini juga gak salah, pasti Pak Adhi juga bakal kena imbas kalau mahasiswa bimbingannya ada masalah sama Skripsi yang lagi dikerjain. Dan Kanaya juga Istrinya sekarang, pusingnya bakal dua kali lipat dalam sekali hantaman.


“Besok masih penelitian?”


“Iya Pak, besok agendanya Pelaporan dan minggu depan itu Evaluasi,” jawab Kanaya.


“Semangat dah ya~ setelah itu kamu bimbingan perdana sebagai istri saya. Tapi ... jangan harap ada perlakuan istimewa, karena mungkin saja saya berharap lebih dari skripsi kamu,” ujar Adhi dan membuat Kanaya ciut.


o o o


Sekembalinya mereka di rumah, Kanaya lanjut membereskan buku-bukunya. Dan tentunya saat ini dia tidak sendiri, huhuy~ Pak Adhi dengan baik hati membantunya.


“Ini Gelang?” tanya Adhi sembari memegang benda yang ditemukannya secara tidak sengaja.


Kanaya menoleh. “Oh ... itu dari Adimas, nanti mau saya balikk ___!” Kanaya membelalak, dia tak sadar dengan ucapannya. Lalu dia segera mengambil gelang tersebut dan mengantonginya.


“Kenapa mau kamu balikin, Neng?” tanya Adhi yang sepertinya penasaran.


“Hah? Oh! Enggak Pak, gak apa-apa,” jawab Kanaya kikuk. “Pak, ini saya udah selesai,” beritahunya dan mengangkat kardus yang cukup berat itu.


Tanpa bicara lebih dulu, Adhi langsung mengambil alih untuk membawa kardus tersebut keluar. “Biar saya aja yang bawa.”


“Oh ... iya Pak, makasih.” Kanaya mematung.


Ini perasaannya aja, atau dia barusan dijutekin sama Pak Adhi.


Setelah semua barangnya dimuat masuk ke mobil Pak Adhi, mereka bersiap pergi. Tetapi sebelum itu dia berpamitan dulu dengan sang Abang, gak harus sih sebenernya –toh nantinya keluarga dia juga bakal datang ke apartemen Pak Adhi setelah dari Rumah Sakit Teh Dita.


“Lo gak mau sekalian pamit sama tetangga, Nay?” tanya Dhika.


Ya~ jadi begitulah kenapa saat ini dia berada di rumah Adimas, padahal tadinya dia urung. Tapi ya sudah, sekalian balikin Gelangnya.


Kebetulan saat itu ada Ibu dan Adiknya Adimas, Kanaya pamit mengucapkan maaf dan terima kasih. Lalu terakhir pada temannya itu, entah kenapa rasanya berat.


“Jadi hari ini gue bakal keilangan temen sekaligus tetangga, nih? Lo beneran pindah ke tempat Dosen Pembimbing lo, Nay?” canda Adimas.


“Pak Adhi juga laki gue sekarang, kali. Lagian kan, kita masih bisa ketemu di kampus dan main ke sini. Lebay deh lo, Dim,” balas Kanaya.


“Okelah~ semoga lo sehat dan bahagia selalu,” ucap Adimas dan mengulurkan jabat tangan.


“Sumpah Dim, lo lebay,” jawab Kanaya begitu, tapi dia tetap membalas jawab tangan Adimas. “Lo juga.”


“Gak perlu khawatir sama gue.”


“Oh iya Dim, gue sekalian mau balikin ... ini,” ucap Kanaya dan menadahkan tangannya yang berisi gelang –yang Adimas kenali.


Adimas terdiam sejenak. “Lo simpen aja, gue udah kasih lo ... masa dibalikin lagi. Gak pantes banget,” jawabnya getir.


“Dan gak mungkin juga kalo gue simpen, lo tau kan.”


“Mau lo buang juga gak apa-apa kok, asal jangan balik ke gue aja gelangnya.”


“Dim! Jangan bikin gue galau lah,” sentak Kanaya.


“Gue juga gak tau,” jawab Dimas. “Dah, itu loh udah ditungguin.”


Kanaya menoleh keluar dan melihat sang Dosen/Suami tengah melihatnya dari dalam mobil melalui jendelanya.


“Kadang gue mikir, lo itu egois, Dim,” ujar Kanaya pedas. “Dah, gue pamit. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Adimas pelan.


o


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


o


Apa semua benar-benar sudah beres, Kanaya?


x x x


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you~