
“Bapak meninggalkan karena aku, Mas.”
Sebuah pengakuan mengejutkan sekaligus sulit untuk dipercaya karena hal tersebut sangat di luar pikirannya. “Apa maksud perkataan kamu itu, Sukma?!”
Wanita itu tersenyum lirih, sudah resikonya memberi penjelasan setelah berkata seperti itu dan manarik rasa penasaran pendengarnya. Namun ... berarti dia juga harus menggali luka terdalamnya lagi. “Tentu itu ada sebabnya dan aku akan cerita, karena Mas juga datang untuk alasan dibaliknya,” jawab Sukma sembari menatap Adhi. “Tapi aku gak cukup nyaman untuk cerita di depan orang yang baru aku temui,” ujarnya dan melirik pada Kanaya.
Kanaya yang tau diri kalau dia sedang disinggung pun, dia beranjak dari duduk untuk keluar meninggalkan Suaminya dan sang Mantan –supaya mereka lebih nyaman bicara tanpa keberadaannya.
“Mbak Kanaya,” panggil Sukma dan gadis itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh. “Saya gak bilang, kalo Mbak Kanaya juga gak boleh dengar,” ucapnya dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Saya tau, Mbak Kanaya ikut karena sama penasaran dan gak nyaman dengan kenyataan Suami masih punya kaitan sama Mantannya.”
Kanaya masih menunggu ucapan apa yang hendak Mbak Sukma katakan.
“Mbak Kanaya boleh tunggu di ruang tengah,” lanjut Sukma dan Kanaya berbalik masuk menuju ruang tengah.
Lalu sejenak terjadi keheningan.
“Aku gak tau harus cerita dari mana,” aku Sukma yang tampak gugup sembari memilin bajunya.
“Tentu saja dari awal dan sampai tuntas, tanpa ada yang kurang,” jawab Adhi yang bukan sebuah permintaan tetapi desakan.
Sukma tersenyum. “Kalo gitu, aku mau tanya sama Mas ... dan aku mau Mas jawab jujur,” pintanya.
“Bukan masalah,” jawab Adhi tampak tidak terusik dengan permintaan tersebut.
“Apa Mas mencintai Istri Mas yang sekarang?”
Adhi tampak berpikir, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Tetapi jawabannya tak terdapat dalam otaknya, melainkan hatinya. Hanya saja, perasaannya saat ini seperti abu-abu yang tidak jelas ke arah mana.
Sukma kembali tersenyum, lantaran sudah mendapatkan jawabannya hanya dari bungkam dan melihat ekspresi bingung Adhi. “Apa itu terlalu sulit, Mas?” potongnya. “Kalo gitu biar aku ganti pertanyaannya ... saat kita menikah, Mas mencintaiku kan?”
“Apa maksud kamu bicara seperti itu?” ada nada tak suka dalam ucapannya. Adhi merasa tak nyaman jika Sukma membandingkan dirinya yang dulu dengan sekarang, lantas bagaimana dengan Kanaya? Dia bisa tersinggung dan lebih sakit hati.
Tetapi seakan tidak memberi waktu bagi Adhi untuk protes, Sukma kembali bertanya, “Kalo begitu ... Apa Mas akan tetap melanjutkan pernikahan dengan Istri Mas yang sekarang, seandainya Mas tau, Mbak Kanaya sudah hamil duluan dan itu anak pria lain. Apa Mas mau bertanggung jawab?”
“Kamu sudah keterlaluan, Sukma! Aku datang untuk mendengar alasan kamu, kenapa tiba-tiba menghilang saat itu dan mengacaukan semuanya ... tapi kenapa kamu malah bicara Istriku yang tidak-tidak dengan penuduhan tak masuk akal, bahkan dia tak salah apa-apa padamu?!” marah Adhi.
Sukma menangkup wajah, menyembunyikan matanya yang mungkin sudah merah lantaran menahan bendungan air yang siap tumpah. “Aku pergi karena aku mencintai Mas Adhi,” akunya.
Alasan yang sangat konyol saat Adhi mendengarnya, pergi karena mencintainya? “Tidak usah berkelit lagi, cukup kamu jelaskan saja alasan sebenarnya –hanya itu yang aku ingin tau saat ini,” potong Adhi.
“Mas, kuakui kalau awalnya aku senang bisa bersamamu –seorang pria yang hebat dan penuh rencana masa depan yang meyakinkan. Tetapi kamu terlalu cepat dan karena itu aku gak bisa mengimbangi langkahmu, di samping itu kamu terlalu banyak tuntutan dan aturan dalam hubungan –aku lelah.”
Adhi tersenyum masam mendengar alasan dari sang Mantan. “Kamu capek?” potong Adhi lagi. “Gimana dengan aku yang kamu tinggalkan tanpa kepastian hubungan dan tiba-tiba merasakan pengkhiantan kamu? Kalau begitu, seharusnya sekalian saja kamu akhiri hubungan kita dari awal!”
“Mas tolong, biarin aku jelasin semua sampai tuntas,” pinta Sukma.
Adhi menarik nafas, mencoba meredam emosinya. “Baik,” jawabnya singkat.
“Maaf karena tindakan aku menyakiti Mas, tapi aku gak ada niat seperti itu –begitu juga dengan putus sama Mas. Saat itu, aku cuman mau sendiri dan rehat sejenak aja,” aku Sukma. “Tapi di waktu yang sama ... ternyata, ada seseorang yang sangat perhatian sama aku dan aku mulai terbiasa dengan dia –sampai aku gak sadar kalau itu cuman tipu muslihatnya aja,” ucap Sukma yang lambat laun suaranya terdengar mengecil dan bergetar, hingga terganti oleh isak tangis.
Adhi merasa serba salah melihat seorang perempuan menangis di hadapannya, begitu juga Kanaya yang mendengar dari ruang sebelah. Tetapi Adhi tak bisa begitu saja menyerah dan berhenti di sini. “Minum dulu Sukma,” ucap Adhi dan memberikannya minum.
Sukma menerimanya dan meneguk air itu perlahan, lalu mengatur nafasnya sebelum dia kembali bercerita. “Kalau boleh memilih, sejujurnya aku gak mau mengatakan ini –karena bukan saja menyakiti aku, tapi juga anakku,” ucap Sukma lirih.
Di titik ini, Adhi sempat ingin berubah pikiran dan menyudahinya, karena dia seperti merasakan beban berat dari ucapan yang hendak dikatakan oleh Sukma. Tetapi dia memilih diam dan menunggu, membiarkan biar wanita itu sendiri yang memutuskan hendak bicara atau tidak.
“Aku diperkosa, Mas.”
Sebuah kalimat yang diucapkan dengan nada datar, namun menyimpan kengerian itu terdengar bagai hujaman batu besar yang menimpa mareka –Kanaya sendiri sampai membungkam mulutnya.
“Sukma, kenapa kamu gak cerita?” tanya Adhi.
Sukma tampak menggelengkan kepalanya lemah. “Aku pun gak bisa bilang ke Ibu sama Bapak. Da ... dan karena itu, aku gak bisa kembali sama Mas.”
“Lalu, laki-laki itu?”
“Dia senior yang satu organisasi sama aku di kampus,” jawab Sukma, namun itu tak menjawab pertanyaan Adhi.
“Bukan, bukan itu yang aku maksud. Kamu ... jadi kamu pergi sama pria itu?”
“Enggak Mas, bahkan sampai saat ini aku masih sendiri dan begitu juga dengan mengurus anak.”
Adhi tampak mengerutkan keningnya, merasa janggal dengan alasan Sukma –yang meninggalkannya padahal dia tak bersama pria tersebut. “Lalu ke mana pria itu?” tanya Adhi dengan nada amarah yang tersirat.
“Aku gak tau Mas, dia menghilang setelah hari itu dan aku juga juga ngerasa cukup terpuruk dengan kejadian itu sampai mengabaikan kamu,” jawab Sukma.
Ya Tuhan, ternyata dia sudah berburuk sangka pada Sukma selama ini dan memborbardirnya dengan amarah di saat masa sulitnya.
“Lalu setelah itu, Bapak menelepon dan memintaku untuk segera pulang –tanpa alasan yang jelas,” lanjut Sukma. “Mas tau, apa yang Bapak mau omongin?” tanya Sukma dan Adhi bungkam –meski sebenarnya dia mencoba merka. “Bapak bilang, Mas datang untuk ngelamar aku dan Bapak juga minta aku buat terima Mas,” jawabnya.
“Bisa Mas bayangin gimana gamangnya aku? Aku gak bisa jelasin alasan buat nolak Mas ke Bapak, tapi aku juga ngerasa bersalah kalau harus menerima lamaran Mas dengan kondisi aku yang udah dinodai,” ujar Sukma. “Terus dengan pilihan terakhir, aku coba beraniin diri buat ngomong langsung ke Mas soal peristiwa itu dan nantinya minta Mas yang ngomong ke Bapak buat batalin lamarannya. Tapi lagi-lagi, hal gak terduga lainnya datang ... aku hamil.”
Adhi mengusap wajahnya kasar hingga tangannya mulai memijit-mijit keningnya. “Sudah cukup, Sukma. Sekarang aku udah paham dengan kondisi kamu yang berat saat itu dan aku minta maaf karena ___,” ucap Adhi namun segera dipotong lagi oleh Sukma.
“Gak Mas, jangan minta maaf. Aku bahkan gak pantas untuk menerima maaf kamu, karena beberapa waktu sebelumnya aku masih mengharapkan kamu –jadi jangan buat aku berharap dengan ucapan seperti itu dan biarin aku tuntasin pembicaraan ini.”
Adhi paham maksud Sukma dengan tidak membuatnya goyah, sebab dengan pertemuan mereka saja –sudah cukup membuat tidak nyaman. Belum lagi dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sukma, bagaimana jika istrinya –Kanaya– juga mengalami hal yang serupa, apakah dia masih menerimanya?
Namun Adhi sendiri tidak tau jika ditanya demikian, karena jujur saja, dia juga bukan pria yang berlapang dada jika istrinya sampai tertimpa hal seperti itu –sebab dia sendiri merasa kurang nyaman kalau Kanaya dekat dengan pria lain.
“Jadi aku memutuskan untuk pergi dengan tujuan mencari pria itu dan meminta pertanggung jawaban dia,” jelas Sukma mengungkapkan alasan sebenarnya atas kepergiannya yang tiba-tiba dan tanpa kabar. “Sayangnya, aku gak bisa menemukan pria itu dan aku gak berani pulang, apalagi dengan kondisi perutku yang sudah kelihatan membesar.”
“Akhirnya aku memutuskan untuk menanggung dan membesarkan anak sendiri, tapi sayangnya gak mudah setelah anakku lahir karena pengeluaran bertambah –tabungan aku habis. Jadi aku terpaksa pulang, namun sayangnya kedatanganku bersama anak bukanlah yang Bapak harapkan setelah aku menggagalkan keinginannya memiliki menantu yang baik seperti Mas –Bapak terkena gagal jantung,” pungkasnya.
Seluruh rongga mulut Adhi terasa kering, hingga dia berniat membasahinya terlebih dahulu dengan meneguk air -bahkan sampai menandaskannya. Namun nyatanya, setelah itu tak ada kata yang keluar juga. Dia terlalu terkejut dan bingung untuk bicara, ditambah rasa bersalahnya kini.
"Mas gak perlu merasa bersalah setelah ini," ujar Sukma seakan bisa membaca raut wajah Adhi. "Karena dari awal, salah ada di aku. Aku yang berpaling dari Mas dan aku juga yang gak jujur sama Mas," lanjutnya dan tersenyum getir. "Jadi … jangan menyesali apapun, semua itu cuman masa lalu. Lagi pula, sekarang kita sudah punya orang masing-masing yang harus dijaga perasaannya." Kali ini Sukma bicara lebih tegas untuk memperjelas keadaan mereka yang sudah berakhir.
Adhi mendehem dan menyetujuinya, lalu dia bangkit menghampiri Sukma dan mengulurkan tangannya. "Kalau begitu, terima kasih sudah menjelaskannya padaku -biarpun ini berat untukmu," ucapnya.
"Ya, sama-sama Mas Adhi," jawab Sukma dan balas menjabat uluran tangan tersebut.
Adhi melirik jam tangan yang dia pakai di lengan kirinya. "Sepertinya sekarang kami harus pulang," beritahunya.
Sementara itu, Kanaya yang mendengar ucapan sang suami, dia segera beranjak bangun dan menghampirinya. Dia berjalan kikuk dan berdiri mematung di sebelah suaminya.
"Mbak Kanaya," panggil Sukma dan membuat gadis itu menoleh padanya. "Semoga setelah ini gak ada kesalah pahaman lagi, ya~ dan kita bisa bahagia bersama dengan orang-orang yang kita sayangi."
Kanaya tertegun mendengar ucapan tersebut, sebelum dia menjawab, " iya … dan saya juga minta maaf karena udah berpikir buruk tentang Mbak Sukma."
Sukma tersenyum. "Itu hal wajar kok Mbak Kanaya, kalo cemburu … kan cemburu itu, tanda cinta," timpal Sukma. "Iya kan, Mas Adhi?"
Adhi dan Kanaya sama-sama terdiam, tetapi wajah mereka seakan mengatakan sesuatu.
"Ya, kalo gak sekarang, mungkin nanti kalian bisa menyadari perasaan masing-masing. Tapi terkadang, cinta tanpa diutarakan … juga keliatan," ucap Sukma dan menyinggung senyuman kecil.
"Ooo~ mana Ibu? Kami mau pamit," ujar Adhi.
Lalu Sukma masuk ke dalam untuk memanggil sang Ibu dan tak lama Bu Wanti keluar.
"Sudah mau pulang, Nak Adhi?"
"Iya Bu, sudah malam juga," jawab Adhi dan menghampiri Bu Wanti. "Kalau begitu kami pamit, ya Bu~ Semoga Ibu sekeluarga selalu sehat," ucapnya lalu mencium punggung tangan Bu Wanti.
"Iya, kamu juga dan sekeluarga biar sehat terus," balas Bu Wanti sembari menepuk pundak Adhi. "Selamat juga untuk pernikahan kamu, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Tapi maaf, Ibu belum bisa kasih apa-apa ini buat kado pernikahan kalian," ucap Bu Wanti yang masih belum melepas jabat tangannya pada Adhi.
"Terima kasih Bu, untuk doa dan ucapan selamatnya. Kalau soal kado mah, gak usah terlalu dipikirkan … toh Ibu juga baru tau kabarnya," balas Adhi dengan mengusap tangan Bu Wanti.
"Yah~ Ibu tak enaklah, masa gak kasih apa-apa ke kamu. Nah, Nak Adhi atau Mbak Kanaya mau apa? Nanti Ibu usahakan bawain buat kalian," jawab Bu Wanti.
Adhi sendiri tak enak menolak permintaan wanita paruh baya tersebut. "Kalau begitu, nanti Ibu juga Sukma datang ya, ke rumah Eyang," pintanya. "Biar nanti sama-sama kita jelaskan supaya gak ada salah paham lagi."
"Mas…," panggil Sukma ragu. Sementara Ibu Wanti terdiam.
"Aku tau, ini gak mudah. Tapi kalau gak dicoba, kita enggak bakal tau hasilnya," ucap Adhi sembari menggenggam tangan Ibu Wanti. "Ibu datang, ya? Soalnya besok aku pulang," pinta Adhi.
Bu Wanti tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "InsyaAllah."
Adhi tersenyum. "Baik, aku tunggu," jawabnya. "Kalau begitu kami pulang, ya, Bu ... Sukma," pamit Adhi sembari menggandeng tangan Kanaya.
"Ya, hati-hati," jawab Bu Wanti dan Sukma.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Gimana kira-kira akhirnya? Akankah damai kembali?
oOo
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~