Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 20 - Hot Guest]



Kanaya tidak tahu apa masalahnya hingga setiap bertemu dengan Pak Adhi, dia selalu dalam keadaan sakit. Namun Dosen tersebut juga yang membantu dan mengobatinya, seperti saat ini. Pak Adhi yang sedang merendam handuk kecil dalam wadah berisi air dan es batu, lalu beliau memerasnya dan meletakannya pada pangkal hidung Kanaya.


“Kompres, ini untuk memperlambat pendarahannya, biar hidung kamu gak mimisan lagi,” ucap Pak Adhi lalu meraih tangan Kanaya agar gadis itu memegang handuk kompresan tersebut sendiri. “Sambil kamu tekan-tekan, sekitar sepuluh menitan. Terus ini duduk yang tegak, biar darahnya gak tertelan,” lanjutnya sembari mendorong bahu Kanaya dan otomatis gadis itu menurut. “Kalau pegel, tahan! Jangan tiduran!” Kali ini nada bicaranya agak meninggi, layaknya orang mengomel.


Pak Adhi, meskipun Kanaya tidak memujanya seperti Adel dan memiliki rasa sebal pada Dosen tersebut.


Tetapi Pak Adhi itu, apa ya?


Sejenis Malaikat Penyelamatnya.


‘Ya ampun, yang bener aja. Berlebihan banget lo, Nay,’ujar Kanaya menertawakan dirinya dalam benaknya.


Namun berbeda dengan yang dilihat oleh Pak Adhi, Kanaya tampak aneh tersenyum sendiri sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya Pak Adhi bukan dengan nada khawatir yang sebenarnya, lebih seperti mengejek.


“Eng ... enggak Pak, gak apa-apa kok,” sahut Kanaya dan menormalkan kembali ekspresi wajahnya.


“Baik. Kalau begitu saya pergi,” ucap Pak Adhi pamit.


“Emm ... maaf Pak, tadi bukannya ada yang mau Bapak omongin ke saya?”


“Oh itu~ nanti kamu ke Ruang Dosen saja,” jawab Pak Adhi yang sudah menggemblok ranselnya.


“Kenapa gak sekarang aja, Pak? Memang kalau di sini kenapa?” tanya Kanaya lagi.


“Soalnya berkas kamu ada di sana, bukan di sini,” jawab Pak Adhi lagi seakan tak mau memberi tahu apa yang hendak mereka bahas nantinya di Ruang Dosen.


Ampun dah, padahal Kanaya udah penasaran akut.


“Serius banget memangnya Pak, yang mau diomongin?” tanya Kanaya masih berusaha mengorek informasi.


“Emm! Soal Proposal Skripsi kamu.”


Glek.


Kanaya menelan ludahnya dan wajahnya berubah kaku.


Ya Rabbi, sebenarnya ada apa lagi ini?


Kelulusan Seminar Proposal Skripsi nya gak jadi dibatalin kan?


“Tenang saja. Mbak sudah terima KHS kan hari ini? Amankan, nilainya?”


Kanaya mengangguk sembari berusaha tersenyum seolah merasa baik-baik saja dengan nilai Seminar Proposal Skripsinya, meski sebenarnya nelangsa dapat nilai kayak begitu.


“Karena lulus, jadi nanti cuman konsultasi sebelum mulai bimbingan skripsi saja,” ucap Pak akhirnya memberitahu tujuannya tersebut.


Dan hal itu tentunya membuat Kanaya sangat terkejut hingga tak dapat menyelamatkan ekspresi wajahnya. “APA? Saya Bimbingan Skripsi sama Bapak?!”


Pak Adhi yang disentak oleh mahasiswinya itu, dia sampai menerjapkan matanya –karena tak kalah kaget. Namun dia segera dapat menguasainya dan kembali bertingkah wajar. “Jadi kamu belum tau?” ucapnya malah bertanya balik dan membuat Kanaya geregetan.


Apa susahnya sih tinggal jawab ‘IYA’ atau ‘ENGGAK’ aja.


“Tadi saya rencananya baru mau ke bagian Administrasi buat ambil surat pemberitahuannya, Pak. Tapikan Bapak tau sendiri, gimana kejadiannya tadi,” jelas Kanaya malu-malu.


“Jadi kamu belum tau dong, kalau saya yang bakal gantiin jadi Dosen Pembimbing kamu? Yah~ saya keceplosan berarti. Gak surprise dong!” ucap Pak Adhi seolah menyesal, namun tentu saja tidak demikian.


Kanaya tersenyum sinis.


Bercanda ya, Bapak ini?


Gak surprise gimana coba, maksudnya? Dia syok berat ini!


Ya, biarpun sang Dosen sekarang sudah mengaku sebagai Dosen Pembimbing Pengganti, tetapi rasanya Kanaya masih belum mau percaya atau merelakannya sebelum dia melihat bukti riil –nya.


Lalu saat ini, Jani dan Adel yang sedang pergi ke sana untuk mengambil surat pemberitahuannya –entah kenapa belum balik juga. Padahal tadi Adel gak rela ninggalin kesempatan buat bareng sama Dosen Gebetannya ini, sampai dia harus ditarik paksa oleh Jani untuk menemaninya ke Bagian Administrasi.


Brak!


Pintu Ruang Kesehatan terbuka keras dan diikuti langkah kaki orang berlari.


“KANAYA!”


Siapa lagi orang yang memanggilnya dengan berteriak seperti itu kalau bukan Adel.


Dasar Adel, gak tau tempat-aturan. Di sini ada pasien yang butuh ketenangan sama Dosen yang harus dihormati. Jangan bar-bar, teriak-teriak seenak gua nya sendiri.


“Nay, lo tau gak? Sumpah! Gil* banget, ternyata kita sebimbingan sama Pak ganteng gebe___,” ucapan Adel tercekat ketika melihat sosok Dosen yang hendak dia bicarakan. “Eh, masih ada Pak Adhi toh di sini? Maaf Pak,” ucapnya kini dia malu-malu.


Pak Adhi melayangkan senyum sumringah pada Adel. “Jadi yang sering mahasiswi bilang Pak Ganteng itu, saya?” tanya Pak Adhi menunjuk dirinya sendiri dengan polos.


‘Hahah ... ini Dosen pura-pura gak tau atau narsis sih?’ ejek Kanaya dalam benaknya.


“Eh, oh ... Iya Pak!” jawab Adel sempat terkikuk namun kelewat jujur dan mantap pada akhirnya.


Pak Adhi tampak tersenyum kembali, namun tidak selebar sebelumnya –seperti hendak menunjukan kerendahan hati.


Ya ampun, ini dosen bisa banget aktingnya. Yakin dah, sebenernya dia seneng banget dipuji gitu.


“Kenapa Mbak Kanaya? Ada masalah?” tanya Pak Adhi tiba-tiba dan Kanaya merasa seolah dirinya tertangkap basah tengah berbuat dosa pada sang Dosen.


“Baik, kalau begitu saya permisi. Dan nanti kalau mimisan kamu sudah benar-benar berhenti, segera ke Ruang Dosen dan temui saya,” ucap Pak Adhi.


“Baik Pak,” jawab Kanaya.


Sepeninggalan Pak Adhi, Adel merapat dan duduk di pinggir brankar –sementara Jani menempati bangku tempat Pak Adhi sebelumnya duduk.


“Nay! Gue seneng banget, punya temen sebimbingan dan bareng lo!” ujar Adel seraya memeluk Kanaya erat.


“Hmmm ... gue juga seneng bisa bimbingan bareng lo, tapi gak sama kalo Dosen Pembimningnya Pak Adhi. Asli, gue masih parno sama dia,” ucap Kanaya jujur.


“Hah~ gue juga seneng banget sampe ngerasa kalau Tuhan lagi baik sama gue dengan ngasih keberuntungan kayak gini,” ucap Jani menimpali.


“Dosen Pembimbing Pengganti lo biasa aja, terus lo bimbingan sendiri karena Kanaya sama gue sekarang. Apa beruntungnya lo?” tanya Adel.


“Ya, beruntunglah. Pertama, Dosen Pembimbing Pengganti gue bukan dosen rese dan kedua, gue gak bimbingan bareng temen yang sama resenya. Sayangnya cuma, gue harus merelakan kehilangan Kanaya,” jawab Jani.


“ Kayaknya lo gak suka banget sama gue ya, Jan?” tanya Adel dengan kesal.


Kanaya menghela nafas lalu beranjak dari brankar, tanpa berniat melerai dua temannya yang sedang berselisih. Dia meletakkan handuk kompresnya pada wadah dan membawanya pergi, begitu juga dengan dirinya.


“Mau ke mana, Nay?” tanya Adel.


“Ruang Dosen,” jawab Kanaya.


“Ikut,” rengek Adel.


“Gak usah, gue sendiri aja bisa kok. Gak perlu repot-repot lo temenin, Del,” ujar Kanaya menolak Adel dengan lembut.


“Gak kok Nay, gak apa-apa. Lagian gue juga mau sekalian mau ketemu Dosen Gebetan gue,” sahut Adel.


Hmm. Kanaya memasang wajah datar di balik rasa kesalnya yang dia sembunyikan, tak rela perhatian Adel berkurang padanya karena sang Dosen.


“Pergi aja, Nay. Biar nih anak gue yang pegang,” ujar Jani dan menahan Adel dengan melingkarkan lengannya di leher Adel layaknya menyandra seseorang.


“Thanks, Jan. Gue cabut ya,” balas Kanaya.


- - - -


Kanaya sudah di depan Ruang Dosen, dia mengetuk pintu sebelum masuk. Lalu pandangannya dia edarkan untuk mencari meja Pak Adhi, dan ketemu! Kanaya segera menghampiri sang Dosen.


“Selamat siang, Pak,” sapa Kanaya.


“Oh iya, tunggu sebentar ya Mbak Kanaya,” sahut Pak Adhi hanya menoleh padanya sebentar lalu kembali fokus pada lembaran kertas-kertasnya.


“Baik, Pak.”


“Kamu boleh duduk di sana,” ucap Pak Adhi dan menunjuk sofa yang terletak tak jauh dari pintu masuk.


“Baik, permisi Pak.”


Kanaya memilih duduk di sofa panjang alih-alih sofa tunggal untuk menunggu. Dan tak lama Pak datang dengan membawa map juga hard copy Proposal Skripsi yang tampak seperti miliknya, lalu Pak Adhi duduk di sebelahnya. Kanaya terkejut dan dia duduk sedikit bergeser.


“Kamu jangan jauh-jauh, ini ada yang mau omongin soal Skiripsi kamu,” ucap Pak Adhi dan membuka lembar Proposal Skripsi. “Perhatikan!” ucapnya bernada menitah.


Mau tak mau, Kanaya harus kembali mendekat untuk dapat melihat koreksian Proposal Skripsi.


“Oke, pertama ini Bab Satu kamu untuk bagian Latar Belakang. Seperti yang saya bilang sebelumnya, berantakan dan tidak sistematis dalam penjabarannya. Kamu ini mau bagaimana menyusun paragrafnya? Deduktif, Induktif atau campuran? Tapi yang saya lihat ini,” ucap Pak Adhi dan mengetuk-ngetuk lembar Proposal Skripsi nya dengan penekanan. “Awur-awuran, gak jelas ke mana tujuannya! Kayak dibawa muter-muter ke dalam kesesatan,” imbuh Pak Adhi lagi tajam.


Kanaya cuman bisa diam menerimanya, tak melakukan pembelaan karena tak tahu juga harus bagaimana.


“Tolong kamu tentukan dulu penjelasan paragrafnya, tapi akan lebih mudah kalau model Umum ke Khusus. Kamu tahukan, cara buat mind mapping? Kaitkan setiap masalah, kemudian solusinya. Paham?”


Kanaya mengangguk saja dulu, soal paham atau gaknya itu belakang. Nanti dia tinggal namanya pas revisi. Pikirnya hanya ingin, Mari cepat akhiri ini.


“Baik, selanjutnya Identifikasi Masalah. Ini menurut saya terlalu sedikit untuk kamu yang mengambil judul Analisis, dan masalah yang akan dibahas untuk diselesaikan kurang spesifik juga. Jadi ini, bagaimana? Kamu masih mau pakai kata Analisis atau ganti?”


“Ga ... ganti, Pak,” jawab Kanaya.


“Baik, lanjut ke Bab Dua. Ini materinya harus ditambah dan juga kutipan dari para ahlinya, minimal tiga pengertian. Terus Penelitian Relevan terkait, lima penelitian dan usahakan terbaru juga ber –ISSN. Kerangka Berpikir, ini kamu yakin seperti ini doang?” ucap Pak Adhi dan melingkarkan bagan Kerangka Berpikirnya yang hanya berjumlah tiga subjek pembahasan. “Kamu ini penelitian jenis Kualitatif, loh!” Pak Adhi tampak menggoreskan penanya pada kertas, menarik garis-garis dan mengkotakannya lalu menuliskan sesuatu. “Ini saya kasih contoh sedikit dari apa yang kamu bahas, tapi nanti kamu tambakan sendiri dan simpulkan.”


“Baik, Pak.”


“Lanjut Bab Tiga. Populasi dan Sampel, ini karena kamu menggunakan Penelitian Kualitatif maka untuk datanya bukan angka. Tetapi berupa situasi yang kamu amati dan responden yang kamu ikut sertakan, jadi kamu beri pengertian untuk menggantikan penjelasannya. Terus Metode Pengumpulan Data, kamu pakai Triangulasi –Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Ya, ini sudah cukup. Tapi ... dokumentasinya cuman studi pustaka dari literatur dan buku, rekaman suara dan hasil transkrip wawancara, lembar observasi dan foto. Yakin foto aja cukup? Kenapa gak kamu videokan sekalian, biar lebih keliatan rill penelitian kamu.”


Kanaya masih memikirkan jawaban yang pantas, karena sebenarnya dia malas untuk memvideokan penelitian –ribet.


“Harus pakai video, jangan mikir itu ribet. Kerja jangan tanggung-tanggung, toh ini juga untuk kamu sendiri nantinya, ” ucap Pak Adhi menasehatinya.


“Baik, Pak.”


“Sudah, itu saja untuk saat ini. Yang lainnya, saya koreksi di pertemuan selanjutnya saat kamu siap untuk bimbingan. Tapi lebih cepat, lebih baik –kecuali kamu mau telat lulus. Dan untuk aturan bimbingan, saya gak akan jelaskan lagi, kamu tanya sendiri sama temen bimbingan kamu yang lain. Oh! Adella, dia teman kamu kan?”


“Iya Pak,” jawab Kanaya.


Tapi kayaknya Kanaya gak perlu, dia cukup hafal ribetnya peraturan bimbingan dengan nih dosen.


Btw, ini beneran udah selesai belum sih? Panas kuping!


“Baik, saya permisi kalau tidak ada yang ingin kamu tanya lagi."


"Maaf Pak, sebentar," cegah Kanaya. "Itu … saya mau tanya, kok bisa Bapak jadi Dosen Pembimbing Pengganti saya?"


"Kenapa? Kamu mau ganti Dosen?"


"Bukan Pak!" jawab Kanaya cepat, namun sebenarnya berkebalikan dengan hatinya. "Saya cuma nanya aja, penasaran," dalihnya.


"Hmmm … itu karena saya pilih kamu," jawab Pak Adhi datar, seakan tak merasa bersalah pada mahasiswi di sebelahnya. Tapi memang tidak seharusnya merasa demikian kan.


"Apa? Kenapa?"


"Karena semangat dan Ke.be.ra.ni.an kamu pas Seminar. Saya ngerasa bersalah setelah ditegur sama kamu yang statusnya sebagai mahasiswa, sekaligus saya mau tanggung jawab untuk membimbing skripsi kamu yang saya bilang ancur," jelas Pak Adhi.


Ya Rabbi, jadi ini juga gara-gara dia sendiri makanya gini? Kena karma kali ya, dia?


“Baik Pak, terima kasih. Saya permisi,” pamit Kanaya dan meninggalkan Ruang Dosen.


“Ya, sama-sama.”


Hah~


Akhirnya Kanaya bisa bernafas lega, punggungnya sudah pegal karena tegang dan terus dipaksa untuk duduk tegak. Meskipun beban pikiran dan penyesalan masih menghantuinya.


Oke, mari kita pulang dan mulai ngeronda-rodi. Semangat!


- - -


Kanaya menghampiri Adimas yang sedari tadi sudah menunggunya di sana, setelah sebelumnya dia mengirim pesan What'sup.


"Dim!" Kanaya menepuk bahu Adimas yang tengah duduk sembari ditemani Es Teh. "Kuy, balik. Gue capek banget rasanya," keluhnya.


"Ada apa emangnya?" tanya Adimas kekhawatir seraya menarik Kanaya untuk ikut duduk disebelahnya. "Coba cerita," bujuk Adimas


Namun Kanaya yang sepertinya sudah benar-benar lelah, dia enggan menurut untuk duduk dan bercerita. "Sambil jalan pulang aja, ya," pinta Kanaya.


"Ya udah," ucap Adimas mengalah dan jemarinya mengusap punggung tangan Kanaya untuk memberikan ketenangan pada pacarnya itu.


Mereka berjalan ke parkiran sembari berpegang, sementara Kanaya juga mulai cerita.


"KHS udah keluar dan Alhamdulillah, nilai Seminar Proposal gue lulus. Meskipun ngepas banget, C-. Terus tadi juga udah ketemu sama Dosen Pembimbing Penggantinya," cerita Kanaya namun di akhir kalimat di malah terjongkok di jalan sembari menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.


"Nay, kenapa? Lo gak apa-apa?" tanya Adimas cemas dan merangkul Kanaya lalu membantunya berdiri. "Beneran gak mau duduk dulu?" tanyanya lagi.


"Enggak," jawab Kanaya dan mengusap wajahnya sembari mengatur nafas. "Lo taukan, gimana dan siapa Dosen Penguji gue pas Seminar Proposal Skripsi?" tanya Kanaya dan Adimas mengangguk karena dia masih ingat cerita Kanaya. "Dia jadi Dosen Pembimbing gue sekarang," akunya diakhiri helaan nafas berat. "Dia yang bilang Proposal gue ancur, katanya mau tanggung jawab untuk bantu dengan jadi pembimbing."


Adimas membalik tubuh Kanaya agar menghadapnya. "Gue tau, lo ngerasa gak nyaman sama Dosen itu. Tapi coba ambil positifnya, Dosen itu mau bantu lo biar lebih baik. Terus lo bilang juga, Seminar Adel lancar pas itu. Tandanya, itu baik-baik aja dan Dosen itu bagus ngebimbingnya, kan?"


Kanaya terdiam, merenungi kebenaran ucapan Adimas.


"Pulang atau jalan?" tanya Adimas lagi.


"Pulang," jawab Kanaya masih sama.


- - -


Adimas mengantar Kanaya sampai di depan rumahnya yang saat itu ada mobil berwarna silver yang terparkir, dalam hati Kanaya bertanya siapa yang bertamu.


"Istirahat," ucap Adimas dan menepuk puncak kepala Kanaya dari atas motornya, sementara Kanaya sudah turun dan melepas helm.


"Iya," jawab Kanaya sembari tersenyum.


Kanaya masuk ke rumahnya dan setelah Adimas berbalik arah Kanaya menutup pintu gerbang, lalu dia mengambil ponsel.


Sebuah pesan masuk dari What'sup Grup dan Kanaya membukanya.


Adel :


Woy!! Kemana lo? Katanya mau ngenalin pacar baru, malah kabur.


Pokoknya bakal gue tagih terus lo, Nay.


😡😡


Kanaya :


Gak usah gue kenalin, lo udah kenal sama dia kok 😉


Dah ya, gue capek plus empet abis dibacotin Dosen lo 😣😣


Adel :


Huh! Ya udah, sana lo tenangin diri


I know what do you feel, friend.


Gue pun pernah di posisi lo dan syok berat, pas pertama tau Pak Adhi itu sadis bimbingannya.


Kuatin aja, nanti juga biasa dan enak sampe pengen nempel terus. 🤭🤭


Kanaya :


Dih! Ogah ya~


Gue udah punya orang yang lebih sabar perhatian buat gue usel-usel 😘😘


Adel :


Bacot!!


Baru pertama kali pacaran aja, sombongnya selangit.


Kanaya :


Bodo 😋😋


Dah, gue mau bebasin pikiran sebelum mulai kerja rodi


Adel :


Yoo 🤗🤗


Kanaya kembali menaruh ponselnya sebelum masuk ke rumah.


"Assalamualaikum," salam Kanaya dan dijawab oleh orang tuanya juga tamu yang tengah duduk di ruang tamu.


Oh, Ibu Ranti dan…. Pupil mata Kanaya melebar saat melihat seorang pria yang duduk di sebelahnya.


"Bapak___," Kanaya tak mampu menyelesaikan perkataannya saat menyadari pria tersebut.


Ada apa ini?


Kok bisa Bapak Dosen di rumahnya?


●●


T


B


B


●●


Seperti kata Adel, meski harus sabar. Tapi Insya Allah, Pak Adhi akan membimbingmu ke jalan yang benar. Semangat Kanaya!!


Btw, Bapak Dosen siapa tuh yang datang ke rumah Kanaya? Mau ngapain?


>>>


Part ini agak panjang ya, karena ada penjelasan terkait Skripsi dan itu tentu saja berdasarkan isi dan pengalaman saat aku Skripsi. Semoga bermanfaat~


Mohon diperbaiki kalau ada salah, atau boleh sharing :D


Dan part ini sudah mulai memasuki bagian inti cerita. Jadi siap-siap ya, guys~


×××°×××


Makasih udah mampir dan membaca.


Mohon dukungannya.


See You Later~