
Suasana rumah Harisdarma kembali tenang, karena Pak Adhi dan orang tuanya baru saja pulang beberapa saat lalu –setelah waktu Isya. Lalu sekarang Kanaya ada di kamarnya, hanya berbaring sembari menatap langit-langit.
Namun sebenarnya pikirannya terus berputar, memikirkan perbincangan antara keluarganya juga sang Dosen –terkait acara perkenalan resmi dua keluarga tersebut. Ya, pertunangan.
Kanaya menatap jari manis kirinya yang sempat dua kali tersemat cincin, namun kini telah polos kembali.
- - - - -
“Mana sini, coba Ibu mau liat cincinnya,” pinta Ibu Ranti setibanya Kanaya dan Pak Adhi setelah membeli cincin tunangan. Sepertinya beliau sudah menunggu kedatangan mereka, sampe menunggu di teras rumah.
“Ada, di mobil,” jawab Adhi.
“Ambil lah,” titah Bu Ranti.
Adhi kembali ke mobilnya untuk mengambil cincin tersebut, setelahnya dia memberikannya pada sang Ibu.
“Bagus,” komentar Bu Ranti saat melihat cincin dalam kotak berudru merah. “Siapa yang pilih?” tanyanya.
“Aku Bu,” jawab Pak Adhi.
“Masa?” tanya Bu Ranti seolah tak percaya.
“Tanya ada sama Mbak Kanaya,” ujar Pak Adhi mencari pembelaan.
Bu Ranti segera mengalihkan tatapannya pada Kanaya. “Iya Bu, Pak Adhi yang pilih,” jawab Kanaya membenarkan.
“Ya ampun ... manisnya~ udah main bela-belaan ya kalian,” goda Ibu Ranti. “Ya udah, dicoba Nak Naya. Ibu mau liat, muat atau gak,” lanjutnya.
“Muat Bu, disana juga udah dicobaiin kok,” jawab Adhi.
“Kan Ibu gak ikut pas belinya, jadi belom niat,” balas Bu Ranti. “Ini,” Ibu Ranti menyerahkan kotak cincinnya.
Kanaya hendak mengambil kotak tersebut, memakainya sendiri. Tetapi Ibu Ranti lebih dulu menarik tangannya kembali dan memberikannya pada sang putra. “Gak peka banget sih kamu, Dhi. Pakein dong!” ujar Bu Ranti sewot.
Adhi membuka kotak cincin itu.
“Eh ... tunggu!” potong Bu Ranti. “Biar Ibu panggil dulu yang lain,” ujarnya dan masuk ke dalam rumah.
Adhi dan Kanaya juga ikut masuk ke dalam.
Akhirnya setelah anggota keluarga lainnya berkumpul, Adhi memasangkan cincin pada Kanaya.
- - - - -
Sesaat kemudian Kanaya tersadar dari lamunannya, dia menangkupkan tangannya di wajah dan menendang-nendang tempat tidurnya.
Ah~ malu banget rasanya.
Gimana nanti pas acara ya? Orang yang datang dan liat pasti bakal lebih banyak.
Mana acara dua hari lagi!
Ya Rabbi, kenapa buru-buru amat sih? Terus Pak Adhi juga gak protes lagi.
Lah ... ini nasib skripsinya gimana coba? Baru mau mulai penelitian.
Ting! Ting! Ting!
Ponsel Kanaya terus berdenting, banyak pesan masuk dari What’sup grup bimbingannya.
Tampaknya dia tau apa alasannya, apalagi setelah melihat beberapa pertanyaan dan kekecewaan dari teman sebimbingannya.
Kanaya langsung saja menscroll pesannya ke atas, dia menemukan biang keroknya –Sang Dosen.
Pak Adhi :
Selamat malam.
Maaf sebelumnya, saya memberikan kabar mendadak.
Dikarenakan saya masih memiliki urusan, maka bimbingan saya undur kembali sampai waktu yang belum dapat dipastikan.
Semoga kalian dapat memakluminya. Terima kasih.
Selanjutnya Kanaya membaca kembali pesan di bawahnya, meskipun banyak mahasiswa yang bertanya alasan khusus sang Dosen terus mengundur bimbingan –tak ada satu dari mereka yang dijawab oleh Pak Adhi.
‘Maaf ya teman-teman, meskipun gue tau alasannya –tapi gak mungkin gali lubang sendiri,’ batin Kanaya.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Kanaya menghela nafas, setelah melihat notifikasi dari temannya –Adel. Udah tau dah dia, si Adel ini pasti mau ngerek ke dia.
Adel :
Kanaya ..
P
P
P
P
P
P
Nay!!
Kanaya :
APA!!
Adel :
Ishhh ... orang lg galau juga, malah diteriakin ..
Kanaya :
Uuuu~ cup .. cup .. cup .. Adel sayang.. kenapa?
Adel :
Doi gw mau kemana ya?
Pergi lama-lama amat ..
Ya Rabbi~ si Adel pake nanya lagi, bikin dia dosa aja.
Kanaya :
Ya .. mana gw tau Del ..
Tuh kan, jadi boong dia.
Adel :
Elah .. Nay. dihibur kek’ temennya
Kanaya :
Gw juga lg puyeng ini Del
Skripsi gw mentok
Adel :
Lah ,, ngapa lg?
Kanaya :
Gak tau . pusing !!
Dah ya Del, bye
Mau ngapain coba dosennya?
Pak Adhi :
Mbak Kanaya ... tidur!!
Kanaya mengerutkan kening ketika membaca pesan bernada perintah itu. Lalu dia menaruh jarinya di atas layar ponsel untuk mengetik balasan, namun pesan baru kembali masuk.
Pak Adhi :
Siapin energi buat besok
Kamu pasti bakal lebih sibuk buat siapin acaranya
Jangan sampe kurang tidur, nanti lemes atau sakit
Hah~ Apaan nih? Pak Adhi lagi khawatir apa sama dia? Lucu banget.
Namun Kanaya tampaknya sudah besar kepala duluan, karena balasan selanjutnya –dia seperti dicemplungin ke kolam biar sadar.
Pak Adhi :
Apalagi stress ... sampe kabur dari acara
Inget loh, skripsi kamu ada di tangan saya
Kanaya melotot membaca kalimat terakhir. Idih!! Ngancem.
Kanaya :
IYA
Setelah mengirim balasan, Kanaya segera mematikan data seluler dan tidur –antara terlalu kesal sama nurut beda tipis.
◦ ◦ ◦
Keesokan harinya, Kanaya menjumpai rumahnya sudah ramai dengan saudaranya yang berasal dari sekitaran Jakarta. Mereka sibuk dibidang masing-masing, yang perempuan memasak di dapur dan pria membereskan sekitaran rumah.
Ya ampun~ baru acara lamaran aja udah udah ribet gini.
“Eleuh-eleuh ... ini gadis yang mau dilamar malah baru keluar kamar. Mana belum mandi lagi!” omel seorang wanita yang merupakan Kakak dari sang Ayah –Uwa Entin.
*) Uwa : panggilan orang Sunda untuk Kakak dari orangtua kita.
Harusnya Kanaya tau, kalau Uwa nya yang tukang ngomel sama bawel ini bakal datang. “Iya Wa’, ini Naya juga mau mandi,” dalihnya.
“Heleh ... ngeles aja kamu. Udah sana buru mandi, nanti kita ke salon!” balas Uwa Entin.
“Dibayarin gak, Wa’?” tanya Kanaya antusias.
“Iya!” jawab Uwa Entin singkat. “Tapi nanti Uwa kirim Bon nya ke calon laki kamu,” lanjutnya.
“Pelit amat, Wa’! Bayarin napa, Itung-itung kado buat Naya,” ujarnya.
“Ulang tahun kagak, nikah belom. Udah minta kado aja,” balas Wa Entin.
“Bacot! Mandi sana,” ujar Dhika yang tiba-tiba muncul dan menepuk punggung Kanaya keras hingga membuat sang empu mengaduh. Lalu dia berjalan ke kulkas dan menenggak air di botol Tamparware ukuran seliter.
“Jorok!!” teriak Kanaya dan menepak belakang kepala sang Abang.
Dhika ingin menyambar mengomeli Kanaya, tapi sebuah suara lembut mengintrupsinya.
“Pake gelas, Bang,” ucap Ibu Nurlela mengingatkan putranya.
“Nanti aku cuci, Bu,” jawab Dhika.
“Lela,” panggil Uwa Entin pada Adik Iparnya. “Kok bisa sih si Dhika dilangkahin sama Adeknya?” tanyanya.
“Ya~ jodohnya si Naya yang duluan dateng,” jawab Dhika memotong.
“Bukan, kamu jelek sih,” ucap Uwa Entin memberi pukulan telak buat Dhika.
“Uwa sekata-kata, gini-gini Dhika udah pun___.” Sebelum Dhika selesai bicara, suara tawa menggelegar terdengar dari belakangnya –itu Kanaya.
“Makanya kamu perawatan, biar cewek pada nempel. Ini mah ... muka minyakan, kumis kayak Lele, terus perut nyaingin Dita. Nanti ikut kamu ke salon, sekalian nyupirin,” ujar Wa Entin.
“Siap Wa’! Ini langsung manasin mobil,” jawab Dhika.
“Tapi kamu mah, bayar sendiri,” imbuh Wa Entin dan terdengar desah kekecewaan dari Dhika.
◦
◦
◦
Pukul 13:23, sekitar setengah jam lagi sebelum rombongan keluarga Pak Adhi datang. Sementara saat ini Kanaya tengah bersiap di kamarnya, memakai pakaian juga aksesoris rambut.
“Teh, pegang,” ujar Sofi seraya memberikan sebuket bunga White Baby Breath –yang menjadi simbol cinta sejati, kemurnian, ketulusan dari cinta abadi. “Merapat ke dinding,” titahnya lagi dan Kanaya mengikuti intruksi sang Adik tanpa tahu maksudnya.
Cekrek!
“Dek, bilang-bilang dong kalo mau foto,” sewot Kanaya.
“Ngetes dulu, Teh,” sahut Sofi. “Ini aku foto lagi ya, satu ... dua ... tiga!”
“Bagus gak?” tanya Sofia seraya menunjukan hasil jepretannya pada sang Teteh.
“Lumayan,” jawab Kanaya. “Sekali lagi,” pintanya dan kembali berpose.
Setelahnya mereka kembali berfoto ria, bahkan diikuti beberapa saudara lainnya. Lalu di tengah keasikan mereka, dorongan pintu dari luar disertai kabar –mengejutkan Kanaya.
“Buru! Udah dateng itu calon besannya,” ujar Uwa Entin memberitahu. “Terus dirapihin lagi make-up si Naya,” titahnya dan kembali menghilang.
Setelah mendengar kedatangan Pak Adhi dan keluarganya, jantung Kanaya mulai berpacu berkali-kali lipat. Akan seperti apa nanti acara Tunangannya dengan sang Dosen?
●
●
●
T
B
C
●
●
●
Pak Adhi udah di depan rumah Kanaya, gimana ya penampilannya yang mau ngelamar anak orang?? Sekeren apa dia bakal ngelamar Kanaya?
○ ○ ○
Maaf baru update lagi ya, reader ku sayang~~
Asli, aku bingung banget mau nulis Part Lamaran ini .. selain karena sempat gak enak badan juga ..
Okeh, sebagai gantinya .. Part selanjutnya bakal langsung di post ..
Penasarakan, sama gaya lamaran ala Adhiandra??
°
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you ~