Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 45 - Pertemuan Singkat]



Kanaya sampai lebih dulu di rumah Eyang Putri karena menaiki sepeda, sementara Adhi tertinggal di belakang mengejar sang Istri -tapi meski dia berlari sekalipun, dia tak bisa menyusul karena Kanaya juga mengayuh sepeda dengan semangat.


Hah … hah … hah …


Kanaya berjalan dengan terengah-engah sembari mendorong sepeda menuju teras depan rumah Eyang Putri, lalu setelah memarkirkan sepeda -dia duduk di dipan bambu untuk menunggu kepulangan sang Suami yang akan datang setelah berjuang melawan jalan tak rata dan mendaki.


Di saat itu, Bude Ratna keluar dengan membawa tas belanja anyaman. Kanaya beranjak dari duduknya dan menyalimi punggung tangan wanita tersebut.


"Udah jalan-jalannya? Gimana, bagus gak pandangannya?" tanya Bude Ratna.


"Iya, seneng banget bisa ke sini. Pemandangan masih asri dan udaranya sejuk," jawab Kanaya dan mengusap peluhnya.


"Loh … kamu sendiri? Adhi mana?" tanya Bude Ratna karena tak melihat keberadaan keponakannya.


"Oh~ Mas Adhi masih di jalan, katanya dia mau jogging," dalih Kanaya. "Ngomong-ngomong Bude mau pergi ke mana?" lanjutnya bertanya.


"Mau ke pasar."


Mata Kanaya berbinar. "Naya boleh ikut gak, Bude?" pintanya.


"Boleh, malah Bude seneng ada yang nemenin."


"Kalo Kanaya ganti baju dulu, kelamaan gak Bude? Soalnya Naya gak betah, ini bajunya basah sama keringet," ijinnya.


"Silakan Mbak Naya, masa Bude ngelarang."


Tanpa menunggu lagi, Kanaya masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian -sekalian membawa dompet dan ponselnya. Lalu setelah selesai, dia segera kembali menemui Bude Ratna. Namun saat tiba di teras, dia menemukan Suaminya sedang duduk bersama Bude Ratna.


"Mas baru sampe?" tanya Kanaya sembari memandangi sang Suami yang kondisinya tak kalah banjir keringat.


Adhi tak lantas menjawab, dia masih mengatur nafasnya. "Keliatannya gimana?" balasnya agak ketus.


Hah~ dari nada bicaranya itu, Kanaya tau Suaminya kesal karena dia tinggal. Merasa bersalah, Kanaya kembali masuk ke dalam untuk mengambilkan air.


"Ini, diminum dulu Mas," ujar Kanaya dan memberikan segelas air.


Adhi menerima airnya dan langsung menandaskan isinya.


"Mau lagi airnya, Mas?" tanya Kanaya.


"Enggak, udah cukup. Makasih Neng," jawab Adhi dan meletakkan gelas tersebut. "Kamu udah ganti baju lagi? Emang mau ngapain?" tanyanya lantaran melihat penampilan istrinya yang sudah berganti pakaian dan berbeda dari sebelumnya.


"Mau ikut Bude ke pasar," jawabnya senang.


"Kamu gak capek?"


"Udah enggak tuh. Mas mau ikut?" ajak Kanaya.


Adhi baru saja hendak menolak, namun sang Bude lebih dulu menyelaknya. "Kamu ikutlah, Dhi. Temani istrimu … masa udah jauh-jauh ke sini, tapi cuman di rumah aja."


Tak bisa mengelak, akhirnya Adhi menuruti permintaan istrinya. Tetapi nyatanya, lain dari yang sebelumnya dikatakan sang Bude, saudara dari Ibunya itu malah mangkir untuk ikut bersama mereka. Jadi hanya Adhi dan Kanaya yang pergi ke pasar, tak lupa dengan belanjaan yang harus di beli.


o


o


o


Sesampainya di lokasi, pasangan Suami/Istri itu langsung menelusuri seluk beluk pasar untuk menemukan barang belanjaan sesuai yang ada di daftar. Tetapi selain itu, barang yang tak ada di daftar pun ikut masuk. Pelakunya tak lain adalah seorang gadis, sementara gadis itu terus tertarik untuk membeli sesuatu, sang suami langsung mencegahnya.


"Udah Neng, ini udah banyak. Kamu beli buat apa lagi?" ucap Adhi yang menahan istrinya untuk terus masuk lebih dalam ke pasar. "Kita pulang sekarang, Bude pasti udah nungguin belanjaannya."


"Ihhh~ Mas, sekalian beli oleh-oleh. Mumpung kita lagi di pasar, kan kalo beli pas mau pulang atau toko oleh-oleh kan mahal," dalih Kanaya.


"Masalahnya juga, ini Mas udah lelah, Neng. Mana tadi kamu tinggalin Mas, jadi kudu lari-larian dan belum sarapan lagi. Terus ini disuruh bawa belanjaan juga," ujar Adhi mengeluh.


"Maaf ya, Mas. Ya udah, kita cari makanan dulu aja, gimana?" tawar Kanaya. "Kira-kira yang enak makan apa ya, Mas? Eneng juga penasaran pengen nyobain makanan khas sini."


"Makanan khas sih banyak, Neng," jawab Adhi. Lalu dia tampak berpikir, sebelum membawa ke suatu tempat.


Kini mereka duduk di sebuah rumah makanan yang masih satu kawasan dengan pasar, meski tak terlalu besar -tetapi rumah makan ini ramai pengunjung dan karena itu juga, mereka perlu menunggu pengunjung lain selesai makan sebelum mendapatkan bangku untuk duduk.


Syukurnya, perjuangan mereka sepadan dengan hasil yang mereka nikmati. Ketika sajian pesanan mereka mendarat di meja, bukan saja mengalihkan pandangan dengan penampilan yang menggiurkan, tetapi juga saat mereka sesap kuahnya -rasanya sungguh nikmat.


Semangkuk Soto Karang yang masih mengepulkan asap, sepiring nasi hangat, segelas Teh dingin menjadi santap mereka pertama hari ini dan sate juga gorengan sebagai tambahan.



Kata Adhi yang menjelaskan pada Kanaya, meski Soto Karang memiliki kemiripan dengan soto kwali yang dikombinasikan dengan rasa sop buntut, tetapi Soto Karang ini salah satu kuliner khas Karanganyar.


Lalu jika dilihat, isi dari soto ini terdiri dari kentang goreng, kecambah, bawang goreng, irisan daun seledri serta potongan iga sapi dengan ukuran besar dan teksturnya empuk. Nah, tampilannya yang menyerupai karang di laut membuatnya disebut soto karang.



Yang istimewa dari kuliner ini tak hanya potongan iganya. Cita rasa dari kuah gurihnya bikin pengen nambah lagi. Perpaduan rempah dari serai, bawang putih, daun bawang, lengkuas, serta jahe sangat pas di lidah. Belum lagi perasan jeruk nipis serta sambal yang tak kalah menggoda.


Tanpa disadari, Kanaya sudah meludeskan isi mangkoknya lebih dulu. Sementara sang suami masih makan dengan tenang.


"Mau tambah lagi?" tawar Adhi.


Kanaya tampak berpikir, sebelum menjawab, "pengen lagi sih, tapi udah keburu kenyang." Kanaya menepuk-nepuk perutnya yang terasa begah.


"Ya udah, bungkus aja buat makan di rumah," saran Adhi. Tetapi setelah dijawab begitu, sang istri masih duduk di bangkunya. "Gak jadi dibawa pulang?" tanyanya.


"Nunggu Mas," jawab Kanaya sembari mengemut es batu yang tersisa di gelas Teh nya yang sudah habis.


"Mas kan lagi makan, kamu pesan lah sana," titah Adhi.


"Maksud Eneng, biar nanti sekalian bayar," dalih Kanaya.


"Kelamaan dong, nanti nunggu lagi. Udah, pesan sana!! Sekalian buat yang di rumah."


Kanaya mendehem dan beranjak dari duduknya menuju meja pelayan untuk memesan, lalu setelah itu kembali ke mejanya dan tepat saat itu Suaminya telah selesai makan -sedang membereskan piring mereka.


"Udah pesennya?" tanya Adhi.


Kanaya mengangguk dan hendak duduk, namun sebelum bokongnya mendarat di bangku, sang suami sudah mengajaknya pulang. Lalu mereka mendatangi meja kasir untuk membayar makanan mereka.


"Berapa Mbak totalnya?" tanya Adhi pada kasir dan menyebutkan pesanannya dan dia terkejut ketika sang kasir menyebutkan nominal yang harus dibayarnya. Seketika dia menghujamkan tatapan pada sang istri yang berdiri di sebelahnya. "Mesen apa aja kamu, Neng?" Ada nada memelas dalam pertanyaannya.


"Banyak banget, Neng! Buat siapa aja?" Seru Adhi.


"Buat Eyang, Pakde, Bude, Mas sama aku."


"Kita lima orang, satu lagi buat siapa?"


"Aku porsi double," jawab Kanaya dan menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya -membentuk tanda 'V'.


"Kecil-kecil banyak makannya kamu. Emang yakin bisa ngabisin? Jangan sampe nanti mubazir ya, Neng!" peringat Adhi.


"Tenang aja, Mas. Aku udah ngatur waktunya, nanti sampe rumah aku makan lagi. InsyaAllah, pas itu udah turun lagi yang tadi dimakan," dalih Kanaya.


"Dasar~ Aji mumpung ya, kamu!"


Kanaya hanya menjawab dengan cengiran.


Lalu setelah membayar dan pesanan mereka diterima, mereka keluar dari rumah makan tersebut -hendak pulang. Namun sayangnya, bagi Kanaya tidak semudah itu perjalanan mereka selesai. Dia mengajak sang suami untuk mampir lagi ke kedai yang menjual aneka minuman, mulai dari ; Es Teh, Es Kopi, Es Krim, Boba, Jus, Dawet dan lainnya.


"Mas mau minum apa?" tanya Kanaya.


"Kamu gak kenyang apa, Neng?" tanya Adhi heran.


"Ini kan cuman minuman, masuk tenggorokan cuman ngalir doang nanti," dalih Kanaya. "Mau gak, Mas? Seger loh~ apalagi panas gini. Aku traktir dah," bujuk Kanaya.


"Terserah kamu," jawab Adhi pasrah.


Sementara Kanaya masuk ke dalam untuk memesan minuman, Adhi menunggu di salah satu meja kosong dan menarik bangku untuk duduk.


"Mas Adhi!" seru sebuah suara yang memanggilnya.


Adhi sejenak tertegun ketika mendengar suara itu, sebab dia merasa mengenali suara tersebut -sebuah suara yang lama tak dia. Dan saat dia menoleh ke sumber suara, keterkejutan yang tak dapat dia elak menyeruak keluar hingga dia tak dapat mengontrol diri.


"Sukma!!" ucapnya dengan nada suara tinggi sembari mendorong bangkunya kasar saat beranjak bangun hingga menimbulkan bunyi derit yang kencang.


"Apa kabar, Mas Adhi?" tanya wanita yang dipanggil Sukma itu dengan senyum yang terlihat sungkan.


Seakan suaranya tertelan, Adhi tak mampu bicara.


"Ah~ maaf. Mas pasti gak suka liat aku, ya?" tanya Sukma merasa tak enak hati lantaran tiba-tiba muncul. "Kalau begitu, saya pamit. Permisi," ucapnya undur diri.


"Tunggu!" cegah Adhi. Dia menahan kepergian wanita tersebut dan memintanya untuk duduk. "Saya ada yang ingin dibicarakan dan saya yakin, begitu juga dengan kamu," ucap kali ini dengan nada yang lebih tegas.


Entah terlihat atau tidak, ekspresi wajah Sukma menunjukkan kekecewaan lantaran mendengar tutur kata dan nada tak bersahabat dari pria yang dulu pernah mengisi hatinya. Tetapi biarpun begitu, dia tak menolak permintaan dari Adhi.


Sejenak terjadi kecanggungan diantara mereka, belum lagi duduk saling berhadapan yang membuat mereka bingung hingga saling menghindari kontak mata. Bagaimana pun, mereka sudah lama berpisah dan juga karena diakhiri dengan buruk.


Namun setelah keheningan yang memakan waktu, nyatanya, maksud mereka belum dapat tersampaikan dengan tuntas.


"Ya ampun~ yang mesen ini banyak banget, tau Mas -sampe ngantri!! Syukur-syukur rasanya sebanding sama ___," ujar seorang gadis yang menghampiri meja berisi dua orang sembari membawa dua gelas Es Dawet Campur. Namun ucapannya tak dia lanjutkan lantaran mendapati seorang wanita asing yang duduk di meja yang sama dengan sang suami.


"Eneng!" panggil Adhi yang terkejut dengan kedatangan istrinya. Ya Tuhan~ dia sampai lupa dengan siapa pergi tadi.


"Mas ini …," ujar Kanaya menjeda ucapannya sembari menatap wanita yang duduk berseberangan dengan suami. "Ini es nya," lanjutnya dan meletakkan gelas tersebut, lalu pergi.


"Neng, mau kemana? Tunggu!" panggil Adhi pada Kanaya, namun tak dihiraukan oleh Istrinya itu. "Sukma, nanti kita bicara lagi," ucapnya mengingatkan kalau urusan mereka belum selesai, lalu beranjak meninggalkan bangku sembari mengangkat belanjaannya untuk mengejar sang istri.


"Maaf Mas, sepertinya kita gak perlu bicara lagi. Toh kita sudah punya kehidupan masing-masing sekarang," ucap Sukma berniat mengakhiri pembicaraan mereka kembali tanpa penjelasan. "Saya permisi."


Adhi mendesah kasar, lantaran dihadapi dua pilihan -mengejar Istrinya yang tampak marah atau Mantannya yang penuh pertanyaan. Tetapi akhirnya dia mengejar sang istri, lantaran dia juga khawatir pada gadis itu. Apakah dia tau jalan?


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Akankah kesalahpahaman diantara mereka selesai dengan baik?


x x x x x x


Mo'on maaf daku lama sekali gak nongol


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Otakku ngadat gak bisa mikir karena kecapean, terus sempat sakit ..


jadi kerjaan ku setelah pulang langsung tidur ..


o x o x o x o


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you~