Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 22 - Kelompok Rusuh]



“KANAYA!!”


Kraak!


Rasanya mimpi yang sedang dia rajut baru saja hancur menjadi puing-puing, bak kaca yang pecah. Belum lagi jantungnya yang berpacu cepat dan matanya yang terasa sepet, karena terkejut setelah dipaksa bangun dengan diteriaki.


“Woy Kebo!! Bangun!! Sarapan,” teriak Bang Dhika lagi masih belum insyaf juga.


“Nanti aja gue makan,” sahut Kanaya.


Dugh ... Dugh ... Dugh ...


Seakan tak paham dengan ucapan Kanaya, Dhika malah makin semangat menggedor pintu kamar Kanaya dengan kencangnya.


Tak tahan, Kanaya turun dari kasur dan menggeret gulingnya, dia berjalan masih dalam keadaan setengah sadar dan langkah-langkah tertatih. Dia membuka pintu dan menemukan Abang nistanya itu, si Dhikamprett senyum padanya dan rasanya pengen banget dia tampol.


“Ah~ akhirnya bangun juga lo, Nay.”


Bugh!


Kanaya melayangkan gulingnya pada wajah sang Abang. “Dasar Abang gak ada akhlak! Gue ngantuk Dhika! Ngerti gak sih lo, bahasa Indonesia?” kesal Kanaya.


Brak!!


Kanaya banting menutup pintu kamarnya dari dalam, namun lagi-lagi Abangnya itu tak menggubrisnya dan malah menerobos masuk lalu menarik kerah belakang bajunya.


“Makan dulu, abis itu terserah dah lo mau tidur sampe gaya lilin segala,” ujar Bang Dhika. “Jaga kesehatan. Udahlah itu perut lo penyakitan, Maag tukang kambuh mulu kalo telat makan.” imbuhnya kali ini mengomel pada sang Adik.


Kanaya cuman diam, tak membantah karena ucapan Abangnya itu benar. Hanya saja mukanya ditekuk habis-habisan, mencoba menahan kesal.


“Jaga kesehatan, benjol loh! Abis makan terus tidur, di mana sehatnya? Yang ada lemak numpuk,” ujar Kanaya lalu dia mencubit pinggang sang Abang hingga Bang Dhika mengaduh dah melepaskan kerah belakang bajunya. “Badan dah kayak samsak lo, Bang. Gak ada indah-indahnya.”


“Kok malah ngina, sih lo?” kesal Bang Dhika tak terima dan merasa harga dirinya terluka.


Namun yang diajak bicara tidak peduli, Kanaya malah mencari posisi nyaman bersender pada dinding sembari memeluk guling –bahkan sempat memejamkan matanya dalam keadaan berdiri.


“Ayo, makan. Malah pe-lor di situ.” Dhika kembali menarik kerah baju belakang Kanaya.


“Lepas ih!” Kanaya menepis tangan Abangnya. “Ngapa sih, lo hobi banget narik gue kayak Kucing?” tanyanya protes.


“Karena emang lo mirip Kucing,” jawab Bang Dhika dan mendapatkan tatapan heran dari Kanaya. “Kucing garong,” lanjutnya lalu segera berlari untuk menghindar dari serangan kedua.


“Nah ... nah ... berantem terooos!! Masih pagi juga, udah pada ribut,” omel Teh Dita yang baru saja lewat sembari berkacak pinggang untuk menahan perut besarnya. “Awas aja kalo nanti anak gue lahir terus kalian berisik, nanti Teteh kirim kalian ke rumah Uwak biar jadi kuli cabut rumput kebon.”


“Ya elah Teh, masih aja ngancem kita pake alasan itu –basi tau,” balas Kanaya meremehkan.


Tetapi memang ancaman seperti sudah tidak berpengaruh padanya sekarang, karena situasi Kampung Halamannya sudah cukup banyak berubah dan lebih baik. Dulu tuh, kalau keluarganya pulang kampung –Kanaya paling malas. Selain karena perjalanannya lama dan ekstrim, kampungnya juga belum masuk listrik. Jadi untuknya yang saat itu anak kota yang doyan nonton tv dan jalan ke mall, bikin mati gaya. Terus kalau di kampung cuman main kebon dan disuruh ini-itu, berasa di hukum bukannya liburan.


“Teteh sama Eneng, ngapain? Ayo kita sarapan,” panggil Ibu.


- - - - -


Selesai sarapan, Kanaya benar-benar melanjutkan tidurnya –bahkan hingga sudah masuk waktu Sholat Zuhur dia masih menggulung diri di kain seprainya yang sudah tak berbentuk. Rasak!!


Dugh ... Dugh ... Dugh ...


Allahu Rabbi, berikanlah dia kesabaran dalam menghadapi takdir menjadi Adik dari seorang Randhika.


Kanaya membuka pintu dan menodongkan sikat giginya pada sang Abang.


“Buat apaan lo sodorin sikat gigi ke gue?” tanya Bang Dhika heran.


Kanaya tak menjawab, dia malah memasukan sikat gigi ke dalam mulutnya dan menggosok gigi di depan sang Abang. “Bang!” panggil Kanaya seraya mengacungkan sikat gigi yang telah berlumur jigongnya pada sang Abang. “Gue punya salah apa sih, sama lo? Sampe lo gangguin gue mulu. Padahal gue dah bilang, kalo gue capek plus ngantuk banget. Kuping lo masih berfungsi, kan? Atau perlu gue gosok pake ini?”


Bang Dhika refleks mundur sembari memandang ngeri sekaligus jijik. “Apaan sih lo, Nay! Jorok banget! Buang, gak!” bentaknya.


Tetapi Kanaya masih terus melangkah maju mendekati sang Abang. “Gue cuman disuruh Ibu buat bangunin lo, udah Zuhur,” jawabnya. Kanaya menyipitkan mata, tak percaya. “Terus itu di depan ada Dimas,” ujar Bang Dhika lagi.


“Demi apa lo?” ancam Kanaya dan menodongkan sikat giginya kembali.


“Liat aja sana sendiri! Dia di depan sambil bawa laptop, katanya mau ngerjain skripsi,” beritahu Bang Dhika.


“He? Yang bener lo, Bang. Jangan boong!”


Randhika menangkap tangan Kanaya yang memegang sikat gigi berbakteri, lalu memasukannya kembali ke dalam mulut sang Adik dan kabur.


Uhuk ... Uhuk ...


Kanaya terbatuk akibat kelolotan, karena sikat gigi tersebut menyodok langit-langit mulutnya.


“Si*lan lo Bang!” umpat Kanaya dan kemudian terkejut melihat sosok di hadapannya saat dia berbalik.


“Kanaya?”


Omegat! Jadi Adimas, pacar barunya beneran kesini? Ya Rabbi, mana kucel awut-awutan banget temapangnya abis bangun tidur. Terus tadi Dimas dengar gak pas dia ngomong kasar? Denger Nay, jelas banget malah. Tercemar sudah image –ku.


Kok bisa-bisanya sih, Dimas main ke rumahnya gak ngabarin dia dulu? Buat apa? Kan rumahnya cuman di sebelah.


Kanaya panik, sampai-sampai dia bertanya-tanya dalam benaknya dan selanjutnya menyadari sendiri kesalahannya.


Kanaya menatap Adimas malu-malu dan tersenyum kikuk. “Maaf ya, Dim. Gue ke dalem bentar ya,” pamit Kanaya.


◦ ◦ ◦ ◦ ◦


Kanaya buru-buru mandi, dandan dan bebenah kamarnya. Meskipun gak tau apa maksudnya ikut bebenah kamar, Adimas juga gak mungkin masuk ke kamar dia.


Setelahnya Kanaya kembali menghampiri Adimas yang duduk di ruang tamu dengan membawa minum dan kudapan, lalu dia duduk di bangku seberang Adimas.


Sumpah! Kalo bukan di rumahnya, Kanaya pengennya duduk sebelah Adimas.


“Di minum, Dim,” tawar Kanaya.


“Makasih, Nay,” ucap Adimas dan meninum air sirupnya. “Manis,” ucap Adimas sembari menatap pada Kanaya. “Yang buatnya,” lanjutnya.


Kanaya tercengang sekaligus senang dan malu-malu. Dia sampai menunduk dan menangkupkan wajah pada telapak tangannya untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas dan mungkin juga sudah merah. Arrrkkkk! Gilaaaaaaa ... gue gilaa~


Kanaya tak tahu, sampai kapan dia harus menunduk. Rasanya tidak sanggup, karena efek geli menggelitik perasaannya belum hilang juga.


“Emmm ... Dim, kata Bang Dhika lo ke sini mau ngerjain skripsi. Emang kenapa skripsi lo?”


“Bukan, itu si Adel nge –chat gue. Katanya lo perlu bantuan buat ngerjain skripsi, jadi gue disuruh dateng,” jawab Adimas.


“Oh begitu,” respon Kanaya masih sama kikuknya.


Dan keheningan kembali terjadi, sampai suara cetar membahana dari seorang gadis memecah kesunyian di ruang yang tadinya hanya terisi dua sejoli.


“Assalamualaikum~ Adel yang cantik udah dateng!” teriak Adel mengucapkan salam dengan semangat saat memasuki rumah Kanaya setelah dipersilakan masuk oleh Bang Dhika yang dia temui di depan. “Lah? Lo pada kenapa?” tanya Adel bingung melihat tingkah laku dua orang yang dia ketahui pasangan itu. “Hmmm ... pasti ada sesuatu deh,” tebak Adel.


“Gak, gak ada apa-apa,” jawab Kanaya cepat lalu dia menarik Adel dan membawanya ke dapur. “Uhhh ... lo bawa makanan, Del? Kita siapin dulu ya.”


Sementara itu, setelah mereka di dapur –Kanaya mengintrogasi Adel.


“Del, kenapa lo ngajak Dimas?”


“Kenapa? Lo mau bilang makasih sama gue? It’s okay, My friend. Gak perlu repot-repot, karena selain memperhatikan kesusahan temen, gue juga memperhatikan kebahagiaannya,” jawab Adel sembari merentang-rentangkan tangannya.


“Bukan, bukan soal itu. Tapi ya sudahlah, gak masalah juga. Alhamdulillah, nambah yang bantuin ngerjain skripsi gue,” jawab Kanaya sejujurnya namun malah disalah artikan maksudnya oleh Adel.


“Ah, suka muna loh. Bilang aja seneng kan, gue ajakin Dimas –kan ... kan ... kan???” goda Adel sembari mengedip-ngedipkan matanya dan memberi tatapan genit pada Kanaya.


Fuuhhhh!!


Kanaya meniup mata Adel yang pecicilan dengan kencang. “Kenapa lo? Kelilipan Biji Salak?”


“Urgh!!” Adel segera membekap hidung serta mulutnya bersamaan. “Rasa nyuim bau comberan deh gue, uwek!”


“Sekate-kate lo Del, gue udah mandi ya!” sahut Kanaya tersinggung namun dia tetap mencoba tes aroma nafasnya juga.


“Mau ngerjain Skripsi, Teh. Apa kabar, Teh Dita? Masih belum lahiran, Teh?” tanya Adel.


“Kamu kalo nanya suka ngaco ya, Del. Kalo Teteh udah lahiran, terus ini yang ngegelembung apa?” tanya Teh Dita balik sembari menunjuk perut buncitnya. “Buntelan lemak?”


“Ya elah, basa-basi kali Teh.”


“Hmmm.... Asal kalian jangan berisik aja, ya. Kalau gak, nanti kalian Teteh usir –biar gak main di luar sana. Teteh udah pusing ya, dari tadi pagi Dhika sama Naya udah ribut. Kalau ditambah kamu, pecah kepala ini,” ucap Teh Dita lalu langsung pergi.


“Nay, gue ngeri nanti anak Teh Dita malah mirip gue pas lahir. Abis Teh Dita kayak sebel banget sama gue, gitu. Iya gak, sih? Atau cuman perasaan gue doang?” bisik Adel.


“Hmmm ... lo bener, kok Del. Soalnya kadang gue juga gedek sama lo,” jawab Kanaya.


“Sue!”


- - - • - - -


Pada akhirnya mereka mengerjakannya di rumah Adimas, karena diusir Teh Dita akibat Adel dan Bang Dhika yang bekakakan. Mereka asik berdua, sementara Kanaya dan Adimas mengerjakan revisi skripsi. Kanaya sampai protes pada Adel, padahal dia yang janji bantu dan Kanaya mulai menanyakan keberadaan Jani – karena Jani itu pawang yang bisa menjinakkan Adel dan mengusir Bang Dhika.


Ting!


Pesan masuk dari What'sup Grup, itu Jani -katanya dia sudah sampai dan sedang berbalik arah dari rumah Kanaya menuju ke rumah Adimas. Yah, dia lupa ngabarin Jani kalau mereka pindah lokasi.


Kanaya beranjak dari duduknya dan pergi untuk menjemput Jani.


Jani menunggu di luar gerbang rumah Adimas, tak tau apa alasannya kenapa tidak segera masuk atau memencet bel.


"Maaf ya, gue telat. Banyak cucian soalnya," jawab Jani tanpa ditanya.


"Gak apa-apa, Jan. Selow aja, kita juga belum lama mulai. Malah gue makasih, lo udah mau dateng dan bantuin gue."


"Sama-sama, Nay. Selagi gue bisa, pasti gue bantu kok -tenang aja," balas Jani.


Kanaya mengampit lengan Jani dan mereka bersama masuk ke rumah Adimas.


"Kayaknya rame banget, Nay," komentar Jani saat mereka masih berada di teras.


"Coba tebak," ucap Kanaya.


"Gak perlu, udah tau gue klo ada tamu tak diundang. Terus pasti ada yang gak kerja juga," jawab Jani.


"Tolong diurus ya, Jani," pinta Kanaya.


"Beres. Serahin aja ke gue."


Jani menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat dua kepala perusuh, namun sebelum dia menyapa Tuan Rumah lebih dulu.


"Hi, Dim. Sorry ya, gue telat."


"It's okay, Jan. Duduk sama minum aja dulu," ucap Adimas dan menawarkan kudapan.


"Makasih," balas Jani. Dan tibalah giliran dua perusuh yang dia maksud sebelumnya. "Eh, ada Bang Dhika juga rupanya? Mau bantuin ngerjain skripsi juga?" tanya Jani dengan nada sedikit antusias sebagai permulaan. "Kalo enggak, mending pulang aja. Soalnya ganggu," lanjutnya tanpa basa-basi dan menusuk.


Bang Dhika langsung berdiri dan pamit. Kanaya yang sebagai adiknya, hanya menonton dengan perasaan kagum juga bertanya-tanya. Sebenarnya Bang Dhika takut sama Jani itu karena apa?


"Adel? Mana kerjaan lo? Jangan cuman ngomong gede -kerja, lo kan yang harusnya tanggung jawab. Sadar diri dong," ucap Jani pada Adel.


Dan begitulah situasi aman tertangani. Lalu selanjutnya Jani menarik Adel untuk kerja bersamanya, sementara Kanaya bersama Adimas. Mereka bergantian mendikte dan mengetik, ada juga yang menandai halaman dan tulisan.


Disela-sela kesibukannya dengan revisian, Kanaya diam-diam memperhatikan Adimas.



Ya Rabbi, sungguh tampan ciptaan -Mu.


"Nay ... Nay?" panggil Dimas dan Kanaya tertangkap basah. "Malah bengong~ abis itu apa?" ucap Dimas menanyakan kalimat selanjutnya yang sedang didiktekan Kanaya.


"Ya? Eh, maaf!" sahut Kanaya salah tingkah, lalu dia jadi bingung sendiri dan balik-balik halaman untuk mencari kalimat terakhir sebelumnya.


Adimas mengambil buku dari tangan Kanaya dan membalik ke halaman yang benar. "Sampe sini loh, Nay," ucap Dimas dan menunjukkan letak kalimatnya.


"Oh iya, makasih," jawab Kanaya.


Sementara itu, Adel dan Jani ikut memperhatikan dua pasangan itu.


"Uwuuuu~ ini mah kayaknya Naya sama Dimas kudu dipisahin, kalo gak nanti Kanaya bakal hilang fokus sama lupa diri gara-gara Dimas," goda Adel dan Jani mengangguk menyetujuinya.


"Tolong mesra-mesranya nanti aja ya, kalo kita udah pulang. Gue gak mau jadi obat nyamuk," timpal Jani.


Ya ampun, Kanaya malu banget.


Akhirnya saat hari beranjak Sore, mereka baru menghentikan pekerjaannya dan rehat sejenak.


"Makasih semuanya, udah bantu gue. Alhamdulillah, ini kebantu banget," ucap Kanaya.


"Emang temen itu, harusnya saling bantukan," timpal Jani dan semakin membuat Kanaya terharu.


Lalu tiba-tiba Adel melebarkan tangannya dan memeluk Kanaya juga Jani bersamaan.


"Dimas jangan ngiri ya, gue peluk-peluk Kanaya," goda Adel tak lupa.


"Enggak," jawab Dimas biasa saja tak tersinggung.


"Ya, gak ngirilah dia. Kan mereka mah, pasti udah sering anget-angetan," timpal Jani.


"Emm … siapa yang udah laper? Yuk, makan di rumah gue," sambar Kanaya mengalihkan topik pembicaraan.


Dan tentu saja tak ada yang menolak makanan gratis.


- - - -



Sepulang teman-temannya, nyatanya Kanaya masih berkutik dengan revisiannya. Dia memeriksa kembali hasil kerjaan mereka hari ini, tetapi selain itu juga dia masih memiliki revisian lainnya. Bab dua yang memerlukan banyak referensi buku, belum semua dia kerjakan karena tidak memegang buku tersebut. Jadi rencananya, mungkin besok dia akan ke Perpustakaan Kampus.


Bismillah, semoga revisiannya bisa selesai tepat pada waktunya.


••


T


B


C


••


Gimana ya, nanti pas Kanaya mulai bimbingan sama Pak Adhi?


>>>


Hi! Aku up lagi hari ini, berhubung aku seneng banget!! Soalnya SIBWOL masuk karya Level Tiga, Alhamdulillah~


Terima kasih untuk para pembaca atas dukungan kalian. Luv you all~


°°°


Oh ya, untuk nantinya setiap part cerita yang membutuhkan gambar maka akan aku post di grup dulu sebelum aku edit untuk tambahkan gambar.


•••


Terima kasih sudah membaca dan dukung aku.


See you later~