
Setelah mereka selesai sarapan, Adhi yang membereskan peralatan makan termasuk mencuci piring juga alat masa. Sementara Kanaya, dia sedang membersihkan diri.
“Kita berangkat sekarang, Neng?” tanya Adhi pada sang Mahasiswi/Istri yang telah rapi.
“Iya Pak,” jawab Kanaya.
“Eh Neng, itu Kecoa terus siapa yang ngurus?” tanya Adhi masih gusar.
“Yang pasti bukan saya, Pak,” jawab Kanaya dan nyenyir.
“Saya juga gak niat menawarkan diri,” sahut Adhi enggan. “Nah, kalo di rumah kamu siapa yang suka nangkepin Kecoanya?”
“Bang Dhika atau gak ya, Bapak saya.”
“Ya udah, suruh Abang kamu aja.”
“Hal itu sangat tidak direkomendasikan, Pak. Soalnya bukan cuman Kecoanya yang nanti musnah, tapi kamar juga ikut hancur lebur,” jawab Kanaya.
Adhi menghela nafas. “Mungkin nanti saya bakal panggil pembasmi hama.”
Akhirnya mereka pergi untuk kembali ke Kediaman Harisdarma, sekaligus mengurus barang-barang Kanaya yang akan dipindahkan ke apartemennya. Namun sebelum itu, mereka terlebih dahulu menyambangi Mini Mart untuk membayar hutang.
o o o
“Assalamualaikum,” ucap Adhi dan Kanaya ketika memasuki rumah.
Namun rumahnya tampak sepi, pada ke mana coba keluarganya?
“Waalaikumsalam,” jawab suara yang dikenali mereka –Bang Dhika.
“Bang! Rumah sepi, pada ke mana?” tanya Kanaya seraya menghampiri sang Abang.
“Lo yang ke mana? Dicaraiin di Kamar kagak ada, ditelepon kagak diangkat!” omel Bang Dhika.
“Panjang ceritanya. Terus pada ke mana yang lain?” tanya Kanaya lagi.
“Ke Rumah Sakit ___,” jawab Dhika yang dipotong Kanaya.
“Hah! Kok bisa? Siapa yang sakit Bang?” tanya Kanaya yang keburu panik.
Tak!
Dhika menjitak kepala sang Adik.
“Makanya ... orang ngomong dengerin dulu, jangan maen potong aja,” omel Dhika. “Teh Dita lahiran semalam.”
“Teh Dita udah lahiran? Lah~ kan rencananya awal bulan.”
“Mana gue tau!” seru Dhika sembari mengangkat bahunya. “Kalo bayi nya udah mau lahir, masa kudu ditahan-tahan.”
“Kan gue cuman nanya, Bang. masih aja salah,” gerutu Kanaya.
“Udah sana gih, siap-siap. Gue kan mau liat ponakan baru gue,” ujar Bang Dhika dan keluar untuk menyalakan mesin motornya.
“Ini gue udah siap kali,” jawab Kanaya lalu berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Dan ternyata, di sisi lain meja ada ponsel juga dompet Pak Adhi, lalu dia ikut membawanya.
Sementara berjalan menuju teras, tempat Bang Dhika dan Dosen/Suaminya yang sudah menunggu di luar –Kanaya sembari mengecek ponselnya, barang kali ada yang kangen dia semalam.
Namun ternyata, baterai daya ponselnya habis. “Ya elah, pake mati lagi,” keluhnya lalu kembali masuk ke kamar untuk men –charge ponselnya. Akhirnya dia terpaksa meninggalkan ponselnya di rumah untuk diisi daya.
“Ayo berangkat!!” teriak Kanaya saat tiba di muka pintu dan mengagetkan dua pria yang tengah duduk di teras. “Maaf,” ucapnya, lalu menghampiri Pak Adhi untuk memberikan barang miliknya.
“Terima kasih,” ucap Adhi dan menerimanya dan beranjak bangun dari kursi sembari menekan Remot Kunci Mobil untuk membuka pintunya. “Loh ... Dhika, gak bareng aja?” tanya Adhi pada sang Ipar.
“Enggak Mas Adhi, nanti saya mau jalan lagi,” jawab Dhika dan Adhi mempermasalahkan itu.
–Rumah Sakit Cipta Kasih, Kamar Tulip 104.
Saat mereka memasuki kamar tersebut, bukan saja ada keluarga dari Kanaya yang berkumpul, tetapi keluarga sang Dosen/Suami juga ada disana –sangat ramai. Dan seketika topik pembicaraan berubah sasaran pada pasangan baru yang tiba-tiba hilang di malam pertama.
“Eneng mah, ikut aja apa kata suami,” jawab Kanaya dan kini tersisa Pak Adhi yang menanggung semua cercaan pertanyaan. Lalu Kanaya, dia beralih pada sang Kakak Sulung. “Teh, Dedek Bayi nya di mana?”
“Telat sih loh, Neng. Anak gue keburu dibawa sama perawat ke Kamar Bayi,” jawab Teh Dita.
“Yah~ terus kapan dibalikin?”
“Nanti, ada jam nya dia nyusu,” jawab Teh Dita. “Eh ... semalam lo ngilang ke mana sama laki lo? Mana gak bisa di hubungin lagi dua-duanya, berasa takut diganggu aja malam pertamanya,” ujar Teh Dita masih penasan.
“Ke Apartemen Pak Adhi, dia ngajak pindah. Maaf soal itu, Hape ketinggalan di kamar.”
Lalu Kanaya akhirnya menceritakan detail kejadian semalam dan Teh Dita kerkekeh dan geleng-geleng kepala.
“Ya ampun~ Neng, jadi laki lo takut Kecoa? Sumpah! Gak kebayang gue,” ujar Teh Dita.
“Iya, parah ihh~ sampe gak inget sama Sofi dan ditinggal sendirian pas tidur,” rungut Sofi.
“Uuuu~ maaf ya Sofia,” ujar Kanaya dan mencubit pipi Adik Bungsunya itu.
“Eh ... Nay! Ikut gak? Gue mau ke kamar Bayi,” ajak Bang Dhika.
Tanpa menjawab, Kanaya langsung menghampiri sang Abang dan mereka berjalan beriringan menuju Kamar Bayi.
“Ihhh~ pada gemesin banget!!” seru Kanaya dengan sorot mata bersinar saat melihat deretan bayi yang tertidur di box. “Jadi pengen.”
“Sana bikin kalo pengen, dah punya laki juga,” sahut Bang Dhika.
Kanaya memasang tampang datar menahan kesal, namun selain itu tangannya ikut melayang dan mendarat dengan keras di belakang kepala sang Abang.
“Adoww!!” ringis Bang Dhika dan mengusap kepalanya.
“Ngomong sembarangan!! Pengen gue jait mulut lo, Bang!!” ujar Kanaya kesal lalu menjaga jarang dari sang Abang –layaknya kuman yang harus dijauhi.
Tak lama setelah itu, Adhi ikut bergabung dan melihat Bayi di balik kaca. “Yang mana anak Teteh kamu?” tanyanya yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Kanaya.
“Itu Pak, box ke empat dari kiri,” jawab Kanaya sembari menunjuknya.
Tak banyak berkomentar, hanya terdengar –oh dari sang Dosen/Suami. Namun saat Kanaya menoleh, dia melihat Pak Adhi tengah menyunggingkan senyum yang tak jauh berbeda dari dirinya sebelumnya –saat melihat para bayi itu.
“Nay, laki lo lagi kode tuh. Udah, sana bikin,” bisik Bang Dhika yang tiba-tiba ada di sebelahnya.
“Isshhh!!” desis Kanaya seraya mengangkat kepalan tangannya dan sang Abang kabur. Lalu Kanaya segera beralih pada sang Dosen/Suami. “Pak, saya mau ke kamar Teh Dita,” beritahunya.
“Ya udah, kamu duluan aja,” jawab Adhi lalu kembali.
o o o
Saat Kanaya kembali ke kamar, ternyata hanya ada dua kakaknya saja –Teh Dita dan Bang Dhika.
“Pada kemana yang lain?” tanya Kanaya.
“Nyari makanan,” jawab Dhika.
“Tumben lo gak ikut, Bang. Biasa lo paling pertama pergi kalo soal makanan,” ejek Kanaya.
“Gue disuruh nungguin Teh Dita,” jawab Dhika setengah hati.
Cukup bicara dengan Abangnya –yang sudah tak menarik lagi, Kanaya mendekati sang Teteh sembari tangannya curi-curi Anggur yang diletakan di meja dekat ranjang (Brankar).
“Laki lo mana, Neng?” tanya Teh Dita.
Kanaya lebih dulu mengunyah dan menelan buah dalam mulutnya, sebelum menjawab. “Ada, tadi sih katanya masih mau liat bayi,” jawab Kanaya.
“Wah~ ada sesuatu tuh Nay!” seru Teh Dita.
“Lah, bukan sesuatu lagi Teh –tadi Mas Adhi udah kode,” timpal Dhika.
“Kode apaan?” tanya Teh Dita mulai tertarik.
Kanaya masih diam saja sembari mencomot buat Jeruk kali ini, kayaknya sarapan Nasi Gorengnya udah turun.
“Kepengen punya orok,” sambung Dhika.
Teh Dita mencolek bahu Kanaya. “Terus semalam udah cetak berapa gol, Neng?”
“Apaan sih, Teteh? Gol apaan? Orang semalam kita sibuk sama Kecoa,” sahut Kanaya jutek.
“Yah~ kesian dong Mas Adhi, udah nikah ... tapi masih puasa. Dasar Bini kagak peka!” sungut Bang Dhika.
“Iya, loh mah pikiran mesum –kesono mulu!” balas Kanaya. “Lagian kan gue masih kuliah, kata Bapak juga nunggu dulu –seenggaknya sampe lulus. Malah Eneng pengennya, nanti kerja dulu abis itu,” imbuhnya.
“Ya~ jangan nyiksa laki lo juga Neng, gak dikasih jatah. Nanti kalo dia nyari di luar, gimana coba? Emang lo mau, begitu?”
“Eneng tau, Teh ... urusan orang nikah soal gituan. Biar kata takut-takut dikit, tapi Eneng gak ngelarang Pak Adhi kok. Cuman yang masih kepikiran itu, gimana nanti kalo misalnya hamil terus punya anak! Eneng belom siap, apalagi kalo inget Ibu sama Teteh yang mabok sama sakit-sakitan dari awal hamil sampe menjelang ngelahirin –terus ngelahirin kan juga sakit,” keluh Kanaya panjang.
“Ya~ itu udah resiko dan tanggung jawab perempuan, Neng. Biar gimana juga, emang udah masanya laki lo itu bisa bina keluarga utuh –ada anak,” jawab Teh Dita. “Tapi kalo emang lo belum siap, kan bisa diomongin bareng-bareng; mau ditundanya sampe kapan dan rencana punya anak berapa juga jaraknya. Lagian abis begitu, gak sekonyong-konyong langsung jadi. Kalo pun belum pengen punya anak, kan sekarang banyak alat pencegah kehamilan,” saran Teh Dita.
Kanaya hanya mengangguk-angguk. “Terus semalam lahiran jam berapa, Teh?”
“Detik-detik pergantian hari, tapi akhirnya lahir di hari yang sama kayak tanggal nikah lo. Dramatis banget, sumpah!” jawab Teh Dita.
“Nama? Udah di kasih nama Dedek nya?”
“Belum, semalam aja masih dipikirin.”
“Pake nama gue aja~ keren dah!” sahut Dhika.
“GAK!!” jawab Teh Dita dan Kanaya bersamaan.
Setelah itu, dua anggota keluarga besar tersebut kembali berkumpul dan memenuhi kamar –berbagai pembicaraan dibincangkan, termasuk rencana pindah si pasangan baru. Nampaknya Kanaya dan Pak Adhi akan sibuk di sisa-sisa akhir liburan semester mereka sebelum masuk perkuliahan.
Namun dibalik itu, sepertinya ada seseorang yang melupakan hal terpenting untuknya. Siapa kira-kira? Dan apa itu?
o
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
o
Selamat ya, Teh Dita~ atas kelahiran putra pertamanya.
Ditunggu Eneng Naya, kapan nyusul? –Adhi.
x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~