
Setelah turun dari mobil, Kanaya segera berlari memasuki sebuah warung kopi yang terletak di pinggiran jalan yang tak jauh dari tempat dia turun, lalu duduk di bangku panjang di antara mahasiswa/i lainnya yang sedang nongkrong –dia mencoba membaur. “Bang, pesen es teh manisnya satu, dibungkus aja,” pinta Kanaya pada seorang pria yang merupakan pemilik warung kopi tersebut.
“Ya, Neng,” jawab si Abang Warkop seraya membuatkan pesanan gadis itu. Dan tak lama, pesanan Kanaya selesai –Es Teh Manis dalam gelas kemasan plastik.
“Makasih Bang, ini uangnya,” ucap Kanaya yang menerima Es nya dan memberi uang pembayarannya.
Biar lebih merasa lega, Kanaya ingin menikmati Es Teh Manis nya terlebih dahulu sebelum beranjak dari bangku tongkrongan di warkop. Namun tampaknya keberuntungan tak berpihak padanya, bahkan seteguk Es Teh Manis yang dia telan belum sampai melewati kerongkongannya –sudah harus keluar lagi.
"Eh, Nay! Tumben lo dateng pake mobil, dianter siapa?" Sebuah teguran dan tepukan ringan dari seseorang yang dia kenal, sanggup kembali, membuat jantungnya yang sudah tenang sebelumya, mendadak berdendang lagi.
"A ... Adel?!" ucapnya Kanaya menyebutkan nama temannya itu seraya mengelap area bibirnya.
“Ihhh ... jorok lo, Nay!” teriak Adel yang tak sengaja ikut terkena semburan dari temannya.
“Maaf, abis lo ngagetin.”
“Nanya kayak gitu doang, ngagetin dari mananya coba?” protes Adel dengan wajah dan nada bicara datar. “Terus gak biasanya lo kagetan, Nay. Ngapa dah, lo? Pasti ada sesuatu,” curiganya.
“Engg ... enggak kok.”
“Noh kan, lo gagap ngomongnya,” tuduh Adel kali ini.
“Eh ... lo bimbingan jam berapa, Del? Nanti Pak Adhi keburu dateng loh,” sanggah Kanaya.
“Enggak, masih lama,” jawab Adel dan kemudian dia sadar kalau telah diperdaya. “Eh! Bisa banget, ngalihin topik. Tadi lo dianter pake mobil sama siapa, Nay?”
Kanaya tersenyum tipis. “Bang Ojek. Dah ya, gue mau ke admistrasi dulu,” ucapnya sebelum kabur.
“Heee! Lo utang penjelasan sama gue, Nay! Awas aja lo, nanti gue tagih,” teriak Adel.
Kanaya tidak memperdulikan teriakan temannya itu, meski dia jadi tatapan orang disekitarnya –karena kalau dia berbalik, dia tak akan sanggup melangkah lagi. Jadi mari mantapkan hati dan pergi.
Sementara Adel cukup kesal karena diabaikan oleh Kanaya, teman yang dikenalnya sebagai anak yang baik, sopan dan seganan. Tetapi kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya dia merasa ada perubahan dari Kanaya akhir-akhir ini dan juga semacam ada batas diantara mereka. Kanaya yang mulai jarang ikut bermain dengan mereka dan lebih tertutup.
Adel menghela nafas. Jangan sampai akhir perkuliahan mereka, menjadi akhir kebersamaan mereka juga –hanya karena sudah berbeda jalan. Entah itu karena kesibukan perkerjaan atau nantinya satu-persatu dari mereka mulai berumah tangga dan sibuk dengan keluarga mereka masing-masing.
Perasaan pedih tak dapat Adel tutupi, dia hanya dapat menggantinya dengan senyuman kecut. Lalu dia memilih pergi dan mengakhiri pikiran tersebut, karena masih banyak hal lain yang perlu dia lakukan dan dapat dia nikmati menjelang kelulusannya.
“Semangat Adel!! Pak ganteng udah nunggu lo,” ucapnya memulihkan energinya lagi.
o o o o o
Adel membuka pintu ruang Dosen, dijulurkan kepalanya lebih dulu sebelum seluruh badannya masuk –untuk mengecek keadaan, ternyata belum ada tanda-tanda dari teman bimbingannya yang lain dan itu artinya dia yang pertama. Dia berlonjak senang, hingga sebuah suara mengintrupsinya.
“Adel, ngapain kamu ngintip-ngintip depan pintu? Mau masuk atau enggak?” tanya seorang dosen.
“Eh ... Pak Joko~ Apa kabar, Pak? Sehat?” sapa Adel pada Dosen tersebut dan menyalimi punggung tangannya.
“Sehat dong, kalo sakit mah saya rebahan di rumah,” jawab Pak Joko. “Kamu mau ngapain, heh?” lanjutnya kembali bertanya.
“Mau ketemu Pak Adhi buat bimbingan skripsi.”
“Bimbingan? Bukannya dia lagi cuti dulu,” gumam Pak Joko.
“Ya?” Adel setengah budek.
“Hih! Dasar kamu ya, Del. Giliran sama dosen muda ganteng, garcep banget datangnya. Tapi tiap di kelas saya, kamu malah sering telat juga ngobrol,” omel Pak Joko tiba-tiba. “Dulu saya pas muda juga gak kalah ganteng dari Pak Adhi tau, cuman aja sekarang badan bulat mekar sama ubanan.”
“Tenang aja kok Pak, saya tetep suka sama Pak Joko –kan bapak dosen terbaik.”
“Ho .. oh, depan saya doang mujinya –di belakang pasti nyinyirkan kalian,” tuduh sang dosen.
“Heee ... mana ada Pak, saya gak mau kualat sama dosen,” elak Adel.
“Terserah. Udah, jangan ngalangin pintu.”
“Maaf Pak,” jawab Adel sembari mundur.
Dan ...
Dughh!!
Dia menabrak seseorang di belakangnya, lalu terdengar suara ringisan.
“Maaf,” ucapnya penuh sesal dan berbalik. “Pak Adhi?!” pekiknya karena kaget ketika melihat siapa yang dia tabrak dengan punggungnya. Lalu tak kalah kaget saat melihat kondisi dosen pujaannya. “Ya Allah~ Pak Adhi, tangannya kenapa?” histerisnya. “Duh! Pasti sakit ya, Pak? Maaf Pak.”
“Eh ... Pak Adhi masuk toh? Bukannya masih cuti hari ini? Loh, tangannya kenapa?” Pak Joko ikut bertanya.
“Iya Pak, saya ada bimbingan ... terus ini juga mau cari Asdos,” jawab Adhi. Lalu dia beralih pada lengannya. “Kalau ini, saya jatuh dan tangan saya nahan.”
“Oh ... enggak Pak Joko, alhamdulillah gak sampe patah dan beberapa hari lagi juga udah bisa dibuka perbannya.”
“Tapi tetap harus jaga kondisilah, Pak Adhi. Udah, tambah aja cutinya,” hasut Pak Joko kali ini.
“Kesian dong mahasiswanya, Pak –nanti ketinggalan perkulihan sama molor bimbingannya.”
“Hee~ mana ada, yang ada mereka merdeka karena kelas kosong,” ucap Pak Joko mengungkapkan fakta.
“Jangan salah Pak Joko, gak semua mahasiswa gitu kok –contohnya saya,” sanggah Adel. “Apalagi kalo Dosennya model Pak Adhi, tiap hari masuk kelasnya saya rela,” sambungnya dengan semangat. Namun beberapa saat kemudian dia sadar sudah kelepasan bicara. “Eeehh?” Adel menaruh tangan di mulutnya.
“Nah kan, ketauan ada udang dibalik bakwan,” goda Pak Joko.
“Yah Pak, belajarkan juga butuh motivasi,” balas Adel tak malu lantaran sudah tertangkap basah.
“Maaf, ini sampai kapan ya –kita berdiri di depan pintu? Pundak saya kebetulan udah pegel,” ucap Adhi sebari menunjukkan tas yang harus dia gemblok di salah satu bahunya.
“Oh! Mari saya bantu bawa Pak Adhi,” tawar Adel.
“Modus ... Modus ...,” cicit Pak Joko.
“Namanya juga usaha, Pak,” balas Adel pada Pak Joko dengan berbisik lalu pergi membuntuti Adhi.
Pak Joko hanya dapat geleng-geleng kepala, menyayangkan nasib asmara anak didiknya itu yang harus pupus lebih awal tanpa dia sadari.
Kembali lagi pada Dosen dan Mahasiswa yang baru saja menyelesaikan bimbingan dan satu persatu mahasiswa mulai meninggalkan ruang dosen, hingga menyisakan Adel.
“Ada perlu apa lagi, Mbak Adel?” tanya Adhi.
“Itu ... kan Bapak lagi nyari Asisten Dosen dan kalau masih ada lowongan, saya berminat mengajukan diri,” beritahu Adel.
Adhi berdehem panjang. “Kamu tau kan, mata kuliah apa yang saya ajar?”
“Iya, Statistik,” jawab Adel singkat dan entah kenapa dia mulai merasakan firasat gak enak.
“Nah ... jadi, kalau kamu lihat dari cara kamu mengerjakan perhitungan untuk skripsinya selama ini yang masih revisi sampai sekarang, kamu taukan jawaban saya?” jawab Adhi mengakhirinya dengan senyuman tipis.
Adel hanya dapat tersenyum pasrah sembari menyembunyikan kekecewaannya. Hah~ meskipun Pak Adhi tak menolaknya secara gamblang, tapi hatinya tetap terasa nyeri. Dan setelah itu juga, dia merutukinya –sebab sudah tau otak pas-pasan kalau pelajaran hitung-hitungan, tetapi masih saja nekad.
“Kalau begitu, saya permisi Pak Adhi. Terima kasih, Assalamualaikum,” pamit Adel undur diri dan meninggalkan ruang dosen.
“Ya, sama-sama. Waalaikumsalam,” jawab Adhi. Dan sepeninggalan mahasiswinya itu, Adhi menghela nafas panjang –tampak jelas di wajahnya kalau dia tengah memikirkan sesuatu dan sepertinya nanti dia perlu membicarakan hal tersebut dengan sang istri.
o
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~