
"Assalamualaikum," ucap Adhi yang memasuki unit apartemennya.
"Wa'alaikumsalam," jawab sang Ibu masih dengan raut wajah sebal plus nada suaranya juga terdengar demikian.
"Maaf Bu, kan aku tadi masih ada bimbingan. Masa mahasiswaku mau ditinggal," jawab Adhi berdalih.
"Kan Ibu udah minta kamu jauh-jauh hari buat luangin waktu, Dhi," balas sang Ibu sembari berjalan menghampiri putra sulungnya dengan berkacak pinggang.
"Aku kan juga udah janji sama mahasiswaku, kesian loh mereka kalo diundur bimbingannya." Adhi sedikit menunduk untuk menyalimi punggung tangan Ibunya, namun sepertinya sang Ibu masih betah menaruh tangannya di pinggang. "Salim, Bu," ucap Adhi memberitahu.
Barulah setelah itu Ibu Ranti mengulurkan tangannya, tetapi masih tetap menggerutu. Bahkan tak segan-segan mengantukkan tangannya pada kening sang anak hingga putra sulungnya itu meringis. "Ini kan hari libur weekend, tapi kamu masih aja pergi ke kampus."
"Mereka bentar lagi mau ujian, Bu. Belum lagi nanti Proposal Skripsi mereka bakal di seminarkan, jadi harus segera diselesaikan."
"Banyaklah alasanmu, Dhi."
"Ya~ emang begitu keadaannya, Bu. Tapi janji dah, nanti pas libur semester aku bakal ikutin apa mau Ibu. Disuruh ikut kencan buta berapa kali pun, aku pasrah dah."
Padahal sebenarnya Adhi malas -pake banget- kalau di comblangin sama Ibunya, disuruh kesana-kemari buat ketemu perempuan. Belum lagi tidak kenal orangnya ataupun selama pertemuan itu tidak tahu harus ngomong apa.
"Gak mau! Ibu maunya pas itu kamu udah nikah." Bukan saja terdengar ada penekanan, tetapi juga paksaan dalam nada bicara Bu Ranti.
Pupil mata Adhi sampai melebar karena keputusan spontan sang Ibu.
'Bercanda kan?' batinnya bertanya seolah tak percaya.
"Astaghfirullah Bu, ngebet ngawinin aku gak segitunya juga kali. Calonnya juga belum ada," jawab Adhi dan berjalan meleos hendak menghindari serangan kedua sang Ibu, karena tampak seperti akan menancapkan cubitan mautnya.
"Wuuuuhhh~ masak apa nih, Bu? Tumben amat. Enak kayaknya ... Aku makan ya? Ibu udah makan belum?" ujar Adhi panjang.
Bu Ranti menghela nafas, dia sudah tahu gelagat putra sulungnya ini -tampak jelas kalau dia sedang mengalihkan pembicaraan.
"Bisa aja ya, kamu Dhi. Ibu lagi ngomong juga, malah dicuekin."
Tetapi tentu saja Bu Ranti tak akan langsung menyerah, lihat saja. Bu Ranti tersenyum, namun itu memiliki arti lain. Bagus sang korban tak melihatnya.
"Aduuuh!!" pekik Adhi ketika telinganya jadi korban jeweran sang Ibu.
"Makanya, orang tua ngomong itu, dengerin sampe selesai!!"
"Ampun~ Bu," pinta Adhi sembari memegangi telinganya.
"Janji dulu, kamu bakal nikah tahun ini!"
"Insya Allah, kalo jodohnya ada," jawab Adhi main aman. Namun ternyata, itu bukan jawaban yang Ibunya mau dengar. Jadi Bu Ranti semakin menarik telinganya.
"Emang selama ini Ibu ngapain, Dhi? Kalo bukan jodohin kamu!"
"Belum ada yang cocok, Bu."
Bu Ranti menghela nafas, sudah lelah tampaknya. Dan beliau melepaskan tangannya dari telinga sang putra. "Sudah, kita makan dulu."
Adhi tersenyum riang dan menarik bangku untuk duduk. "Masak Soto, Bu? Tapi kayaknya beda ya, kuahnya rada kental kayak Opor," komentarnya pada hidangan yang tersaji di meja.
"Soto Medan," jawab Bu Ranti dan memulai meracik bahan isian Soto sebelum di siram kuahnya. Lalu dia menyodorkannya pada sang putra. "Cobain!" ucapannya menitah.
"Dengan senang hati, Ibuku," jawab Adhi tak dapat menyembunyikan kegembiraan karena semangkuk Soto yang tampak istimewa itu.
Adhi menyuap sesendok kuah Soto yang kaya akan campuran kaldu, santan dan bumbu rempah itu.
'Heum? Ada sesuatu di dalamnya, Ayam?' gumam Adhi saat mengunyahnya. Dia menatap sang Ibu, namun hanya dibalas dengan senyuman.
"Cobain juga, Sambal Teri Kacangnya!" titah sang Ibu lagi dan tentu saja dia turuti.
Merasa ada yg berbeda, Adhi mengamati lebih seksama tampilan Sambal Teri Kacang itu. Agak gosong ya, Sambalnya. Lalu dia kembali menatap Ibunya, tetapi sang Ibu masih membalas dengan senyumnya.
Mencurigakan.
Ya~ biarpun begitu, Adhi masih lanjut makannya sampai mangkuk Soto ke dua.
Berasa kelaparan deh dia. Tetapi itu persiapan perbekalan yang pantas, karena ternyata sang Ibu kembali memulai melepaskan serangannya.
"Gimana? Enak? Satu sampai sepuluh, berapa nilainya?" tanya Ibu Ranti.
"Enak sih, Bu. Tapi agak asin, tumben amat begini rasanya. Ibu bukan mau kaw …," Adhi buru-buru tutup mulut, sebelum salah bicara.
Huh, hampir saja dia mengucapkan kata terlarang.
Tetapi sepertinya Ibunya sudah keburu paham maksudnya.
"Kawin, maksud kamu? Iya, pengen banget emang ibu kawin…," sahut Ibu Ranti santai, namun berbeda dengan respon heboh dari sang Anak.
"Hee?? Bercandanya gak lucu ah, Bu! Kalo Ibu kawin lagi, Bapak mau dikemanain?!"
Gregetan rasanya Bu Ranti sama putra sulungnya ini, sampai dia beranjak dari bangku dan menarik kembali telinga Adhi di sisi yang sama dengan sebelumnya. "Kebiasaan! Orang tua belum selesai ngomong, maen potong aja!!"
Tidak cukup ditarik, Bu Ranti juga memelintir telinga sang putra sulung. "Kalo kayak gini, makin gak sabar Ibu mau kawinin kamu, Dhi. Denger? Kawinin! Ibu mau ngawinin kamu, biar gak kelamaan capek batin begini sama kelakuan kamu."
"Aduh, Bu~ jangan dijewer lagi ini kuping, nanti caplang. Mana sebelah doang ... Awww!!" pekik Adhi makin kenceng tatkala telinganya yang satu lagi juga ditarik sang Ibu.
"Nih! Ibu tambahin, biar sama lebarnya. Adil kan, Ibu?"
"Ampun Kanjeng Mami," mohon Adhi sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Heh~ ngeledek kamu ya?"
"Enggak, Bu."
Ckckck! Memang begini kelakuan Ibu sama Putra sulungnya kalau lagi bersama, apalagi tidak ada sang Bapak yang biasanya bantu lerai. Habislah si Adhi sama Bu Ranti.
••
T
B
C
••
See you next part~
Be healthy and happy.
Stay at home.