Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 15.4 - Pre Test]



Kanaya menunggu di luar Kedai, sementara Ibu Ranti sedang membayar minuman yang mereka pesan tadi.


"Kanaya," panggil Ibu Ranti yang suaranya terdengar dekat di belakang Kanaya dan ternyata memang benar demikian, Kanaya menemukan Ibu Ranti saat dirinya berbalik.


"Ya Bu, ada apa?"


"Itu …," Ibu Ranti menjeda ucapannya dan tampak berpikir sebelum bicara. "Ibu ternyata lupa bawa dompet. Jadi Ibu mau minta tolong, boleh bayarin dulu minumannya -nanti pas pulang Ibu ganti," pinta Ibu Ranti.


"Iya, gak papa kok Bu," jawab Kanaya dan menghampiri si Penjual. "Jadi berapa tadi minumannya, Bang?"


"Dua puluh dua ribu, Mbak."


Kanaya mengeluarkan uang tiga puluh ribu dari dompetnya.


"Ini kembalinya, Mbak. Delapan ribu, ya."


"Terima kasih, Bang," jawab Kanaya dan menerima kembaliannya itu. Lalu dia kembali menghampiri Ibu Ranti. "Sudah Bu, sekarang gimana?" tanya Kanaya yang bingung karena mau belanja, tetapi Ibu Ranti lupa membawa dompet.


"Tau tuh ya, Ibu juga bingung. Kalau ambil dompet dulu, kayaknya bakal buang waktu nanti bulak-baliknya," ucap Ibu Ranti sembari melirik pada Kanaya.


Samar-samar Ibu Ranti melihat ekspresi ragu dari gadis tersebut, seperti ada yang ingin dikatakan, tetapi ditahannya.


"Kanaya bawa uang sih, tapi enggak tau … cukup atau enggak."


"Kamu emang bawa uang berapa?" tanya Ibu Ranti.


Kanaya kembali masuk ke kedai dan duduk untuk mengecek uang cash nya.


"Ini ada … sekitar dua ratus ribu, Bu," beritahu Kanaya.


"Ohh … Insya Allah cukup," jawab Bu Ranti mengira-ngira. "Jadi kita belanja apa dulu, nih?" sambungnya bertanya.


"Kalo Ibu Kanaya belanja, biasanya suka beli bumbu dulu. Soalnya bumbu itu paling penting buat masak," jawab Kanaya.


"Ah ya, betul juga. Beli bumbu dasar dulu berarti, ya?" timpal Ibu Ranti. "Ya udah, ayo kita belanja," ajak Bu Ranti.


---


Setelah berbelanja bumbu-bumbu, lalu lanjut sayuran dan daging. Akhirnya perjalanan Kanaya mengelilingi pasar dan berbelanja selesai.


Hah~


Kanaya menghembuskan nafas panjang setelah semua bahan belanjaannya masuk ke dalam mobil, termasuk dirinya.


"Makasih ya, Kanaya sudah bantu Ibu belanja. Kamu pasti capek banget ya? Maaf ya, Kanaya," ucap Ibu Ranti yang duduk di sebelahnya.


Kanaya yang tadinya duduk bersandar, kini dia menegakkan punggung dan buru-buru menoleh pada sang lawan bicara.


"Ahh … enggak kok Bu, saya udah biasa belanja sama Ibu saya. Apalagi kalo Ibu itu, sering belanja buat bulanan atau acara. Jadi lebih banyak dari ini," jelas Kanaya.


Namun sebenarnya itu separuh dusta yang dia katakan. Memang benar dia sering diajak belanja, tetapi dia tak pernah merasa secapek-serepot dan sebingung ini.


Karena kalah belanja dengan sang Ibu, dia hanya sebagai orang yang membantu membawa belanjaan. Itupun tidak sendiri; ada Bang Dhika, Sofi dan kadang Bapaknya ikut.


Lain dengan Bu Ranti, dia melakukan semuanya sendiri. Mulai dari bingung mencari tempat belanja, menawar harga dan repot membawa belanjaan.


Meskipun Ibu Ranti juga membawa beberapa belanjaan, tetapi punyanya lah yang paling berat. Dan ini seperti Kanaya sedang di tes atau di ujian. Entahlah.


"Nanti kirim nomor rekening kamu ya, biar Ibu transfer uang kamu yang kepake buat belanja tadi," ucap Ibu Ranti.


"Iya Bu," jawab Kanaya seadanya.


Sebenarnya uangnya tidak terpakai banyak. Kalau boleh sombong dan memuji diri, Kanaya ternyata cukup handal menawar harga -mungkin ini yang namanya naluri Emak-emak.


Ya, meskipun beberapa belanjaan ada yang dia kurangi, seperti Ayam yang hanya dia beli setengah potong.


°°°


Setelah kira-kira beberapa belas menit perjalanan dari pasar, mobil mereka memasuki sebuah kawasan apartemen elite.


Kanaya sempat berdecak kagum sembari bergumam, 'Kerenlah, anak Bu Ranti udah punya tempat tinggal sendiri.'


Tetapi rasa kagum Kanaya tak berhenti sampai disitu, setelah mereka menaiki lift hingga ke lantai lima dan memasuki unit nomor 502 -mata bahkan mulutnya nyaris terus terbuka.


Apartemen tersebut terbilang mewah untuk ukuran minimalis. Setelah melewati lorong dari pintu masuk, ada toilet terpisah dan selanjutnya ruang tamu yang menjadi satu untuk dapur.



"Alhamdulillah, anak saya ini setelah lulus sekolah mulai mandiri. Dia kerja sambil kuliah, ngajar-ngajar les di beberapa tempat. Ada juga les privat sama les untuk masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri), itu yang penghasilannya lumayan dan dia tabung,' jelas Ibu Ranti.


Kanaya tersenyum menanggapi cerita Ibu Ranti, namun dalam batinnya dia terenyuh. Sebab selama ini, dia masih meminta pada orang tuanya -baik itu untuk biaya kuliah ataupun jajannya.


Ah~ sekarang jadi terpikir bagi Kanaya untuk segera lulus dan memiliki penghasilan sendiri, termasuk untuk membantu orangtuanya.


"Nak Naya, duduk dulu. Ibu mau ambil minumnya terus nanti kita ngobrol sebentar, sebelum mulai masaknya. Oke?"


"Iya Bu, terima kasih. Maaf ngerepotin."


"Ya, enggak dong," balas Ibu Ranti cepat sembari tersenyum.


\=°\=°\=°\=°\=


Seperti katanya, setelah berbincang sedikit sembari mendinginkan tubuh. Kini mereka berpindah ke dapur untuk mulai mengolah bahan belanjaannya.


Ibu Ranti berdiri di sebelah Kanaya sembari memperhatikan dengan seksama setiap gerak-gerik Kanaya, dan itu tentunya membuat dirinya cukup gugup.


Bener deh, ini mah berasa lagi di Tes.


"Tenang aja Kanaya, gak bakal Ibu omelin kok kalo salah. Ibu bukan juri Super Chef," ucap Ibu Ranti seakan bisa membaca pikiran Kanaya.


Hah? Apa jelas banget di mukanya kalo di segugup itu.


Tapi kalo gini terus, dia gak bisa fokus masaknya.


Bisa gak Bu Ranti duduk manis aja sambil nonton TV?


"Kanaya!" ucap Bu Ranti dengan intonasi agak naik. "Jangan tegang, ah. Kamu natap Ibu dah kayak saya kuman yang harus dijauhin," ujarnya.


"Enggak kok, Bu," jawab Kanaya cepat. Dia tak ingin Bu Ranti salah paham meskipun kalau diartikan, kurang lebih seperti itu pikirannya.


"Anggap aja saya Ibu kamu di rumah," tambah Bu Ranti seperti hendak menenangkan Kanaya.


"Iya Bu," jawab Kanaya meskipun bertolak belakang dengan hatinya.


Bu Ranti tersenyum.


Kanaya menarik nafas dalam, sebelum akhirnya dia mulai bergerak.


Pertama dia membersihkan/mencuci semua bahan, lalu baru mulai mengolahnya.


Membuat bumbu, sembari membaca resep di internet.


Memasukan bahan-bahan yang akan dimatangkan, sembari terus dia cicipi untuk mendapatkan rasa yang pas baginya.


Bu Ranti masih memperhatikan, sejauh ini menurut pendapatnya mengenai cara masak Kanaya itu meskipun masih tampak kaku -dia cukup baik. Dan sangat jelas jika gadis itu sangat memperhatikan cita rasa masakannya, bisa dilihat dia banyak sekali mencicip saat masak.


Setiap menambah bumbu seperti garam atau bahan lainnya, tangannya terus saja menyendokannya dalam mulut.


Mungkin gadis itu akan kenyang saat masakannya matang, pikir Ibu Ranti.


---


Setelah lebih dari satu jam? Ya, kira-kira hitungan kasarnya adalah segitu, waktu yang Kanaya habiskan untuk menyelesaikan hidangannya.


This is it … Soto Ayam Medan dan Perkedel Kentang Spesial.



Kanaya menyajikannya di atas meja makan.


"Keliatannya enak nih, Nak Naya. Ibu gak sabar pengen cepet makan," ucap Ibu Ranti sembari membau aromanya.


"Semoga masakan saya cocok," balas Kanaya sungkan.


"Kalau Ibu cocok kok, tadikan sudah nyobain juga," jawab Ibu Ranti.


'Kapan?' Batin Kanaya menjerit. Sebab dia tak tahu kapan Ibu Ranti mencolek masakan.


"Tadi Ibu sempat mencicipin kuah Sotonya pas kamu lagi sibuk nata-nata," jawab Ibu Ranti seakan tahu pertanyaan yang mengusik benak Kanaya. "Tinggal Perkedel Kentang aja nih," ucap Bu Ranti sembari menyomot sebiji Perkedel Kentang. "Heum … enak loh! Wah~ ada Ayam nya juga?"


Yaps, Kanaya menambahkan Ayam pada adonan Perkedel Kentangnya.


"Mantul ... tul … tul …,' ucap Bu Ranti sembari mengacungkan jempolnya.


Kanaya tersenyum, seolah tak dapat menyembunyikan rasa senangnya karena masakannya diterima dengan baik.


"Tapi gak tau nih anak saya, dia agak cerewet kalo bukan seleranya," imbuh Bu Ranti. "Bentar ya, saya telepon lagi, tadi sih katanya bentar lagi selesai bimbingannya," ucap Ibu Ranti sembari berlalu.


Kanaya duduk menunggu sembari memainkan ponselnya, mengirim chat iseng pada tetangga favoritnya -Adimas.


Dan tanpa disangka, dia segera mendapatkan jawaban.


Adimas :


Ayuk!


Kebetulan sekarang gw lagi gabut


Kanaya tersenyum girang.


Pengennya kalo bisa, Kanaya langsung cus~~ jalan sama Dimas.


Tapi dia gak enak sama Bu Ranti.


Tapi juga, dia gak enak kalo ngebatalin Dimas, padahal dia yang ngajak.


"Kanaya," panggil Ibu Ranti yang sepertinya sudah selesai menelepon. "Itu … kayaknya anak saya agak lama, dia masih ada bimbingan."


Merasa mendapat kesempatan, Kanaya segera bicara. "Iya gak papa kok Bu. Kebetulan … ini ada temen saya ngajak ketemu."


"Oh … begitu. Ya udah, kalo kamu sudah ada janji sama temen mah. Ibu juga gak enak kalo nahan kamu buat nunggu anak Ibu dulu. Cuman kan, kamu belum makan ini."


"Gak masalah kok Bu, tadi pas masak Kanaya juga makan. Lumayan kenyang jadinya," dalih Kanaya tak sepenuhnya bohong.


Bu Ranti tersenyum, dia bisa mengerti. "Ya sudah, kalo gitu kamu bawa juga Soto nya. Boleh tuh nanti kamu minta Ibumu buat nyobain," ucap Ibu Ranti sembari berlalu ke dapur.


Beliau tampak menyiapkan Tamparware.


"Ini, makasih ya Kanaya sudah ngajarin Ibu masakan kamu," ucap Ibu Ranti dan memberikan Tamparware isi Soto pada Kanaya.


"Terima kasih kembali, Bu. Malah saya yang banyak belajar," balas Kanaya.


"Terus ini kamu mau pergi kemana? Biar Ibu pesenin Oj-Ol nya."


"Saya pulang dulu, Bu. Soalnya juga yang ngajak pergi itu teman di dekat rumah. Tapi gak usah dipesenin nya, Bu. Biar Kanaya aja sen…," ucap Kanaya tak selesai karena segera dipotong Bu Ranti.


"Sudah Ibu pesenin," ucap Ibu Ranti dengan tersenyum seraya menunjukkan layar ponselnya. "Kebetulan ada promo," sambungnya.


'Ya Tuhan, kayaknya Ibu Ranti ini tipe yang gak mau ditolak dan gerak cepat,' batin Kanaya. "Terima kasih, Bu."


"Ayo, ini udah mau sampe Abang Oj-Ol nya."


Ibu Ranti mengantar Kanaya sampai ke luar dari gedung apartemen.


"Hati-hati ya, Nak Naya," ucap Bu Ranti seraya memeluk lalu cipika-cipiki pada Kanaya yang sudah ditunggu Abang Oj-Ol.


"Iya Bu," balas Kanaya dan mencium punggung tangan Ibu Ranti. Lalu dia mengenakan helm dan naik ke jok belakang motor Abang Oj-Ol.


"Mas, hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut loh," ucap Ibu Ranti pada sang Abang Oj-Ol.


"Iya Bu, pasti. Keselamatan penumpang kan nomor satu, baru nanti dapet bintang lima," jawab si Abang Oj-Ol.


"Kanaya nanti telepon Ibu kalo Abang Oj-Ol nya macem-macem," ucap Ibu Ranti lagi.


"Iya Bu," jawab Kanaya sembari terkekeh. "Kalo begitu saya pamit ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Bu Ranti dan melambaikan tangannya pada Kanaya yang mulai pergi meninggalkan kawasan apartemen.


Setelah anak gadis temannya itu tidak terlihat lagi, Ibu Ranti kembali masuk ke gedung apartemen menuju unit sang anak. Namun saat beliau hendak menaiki lift, ada seseorang yang memanggilnya sembari berlari menghampiri.


"Tunggu Bu, saya ikut naik," cegat seorang pria.


Ibu Ranti berbalik dan menemukan sosok familiar.


"Adhi!" panggil Ibu Ranti menyebutkan nama pria tersebut yang merupakan anak sulungnya.


Ting.


Bukannya menunggu sang anak agar ikut masuk dan naik bersama, Ibu Ranti malah menutup pintu lift dengan raut wajah kesal.


"Lah … lah … Bu, kok ditutup? Tungguin," ucap Adhi tampak tergesa-gesa.


Bruk …


Tubuhnya menabrak pintu lift yang tertutup.


"Hah~ Ibu ini kenapa toh?" tanya Adhi bingung lalu kembali menekan tombol lift naik dan menunggu.





T


B


C





Jumpa lagi ~~


Setelah penantian panjang, ku balik dengan 1700++ words. Semoga terobati buat yang kangen.


wkwkwk


Sorry for being late to update.


I have a reason, but I can't explain specifically . .


Intinya mood aku buruk banget ...


Dan ...


semoga kita sllu sehat lahir/batin serta dalam lindungan -Nya.


#stayathome


See you~~