Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 39.1]



Kanaya terus memperhatikan Adel sejak temannya itu masuk ke kelas, si Adel benar-benar diam dan tampak tak semangat. Dia hanya memandang ke depan, tetapi tatapannya kosong. Selain itu, kalau ditanya jawab seadanya atau gak apa-apa.


Adel kenapa sih?


Namun di sisi lain, Kanaya tak menyadari ada sepasang mata yang juga sama terus memperhatikannya.


Lalu jam demi jam pelajaran berganti, hingga waktu makan siang tiba dan sebagian besar mahasiswa/i pergi meninggalkan kelas untuk berburu makanan agar bisa segera mengisi perut mereka yang lapar.


"Del, kantin yuk!" ajak Kanaya.


"Gak ah~ gue di kelas aja, males," jawab Adel enggan.


"Atau gak, lo mau nitip apa gitu? Nanti gue beliin," tanya Kanaya lagi -masih membujuk Adel.


"Gak usah Nay, makasih. Gue gak kepengen makan apa-apa … udah, kalian jajan aja berdua," tolak Adel lagi.


"Udah lah, Nay … si Adel mau sendiri dulu kali. Kita cabut dah, jajan," ujar Jani seraya mendorong bahu Kanaya untuk keluar kelas. Namun sembari itu, dia menyempatkan diri untuk bicara pada Adel. "Del, kalo lo udah tenangan -gue harap lo bakal cerita. Ingat, lo punya kita yang bakal bantu lo."


Saat ini Kanaya dan Jani sedang mengantri membeli jajanan di salah satu pedagang kaki lima -Pentol Mercon level Nyinyiran Netizen. Meski lumayan ramai, mereka tetap menunggunya lantaran itu jajanan kesukaan Adel.


"Nay," panggil Jani.


Kanaya menoleh dan mendehem. "Kenapa?"


Bibir Jani sudah terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun dia malah menghela nafas. "Ini kapan punya kita dibikin, dah?" tanyanya tak sabar.


"Sabar aja, Jan," jawab Kanaya.


Lagi-lagi Jani menghela nafas.


Kanaya terkekeh, temannya itu memang tak sabaran.


Akhirnya, mereka mendapatkan pesanannya dan bisa kembali ke kelas untuk makan bersama Adel.


"Adel sayang~ gue bawain makanan kesukaan lo. Makan bareng, yuk!" ajak Jani dengan manis sembari menarik kursi di depan Adel.


Adel awalnya tak tertarik, namun setelah mencium mau pedas menusuk -dia langsung berbalik dan Jani dengan senang hati menyuguhkan pemandangan indah dihadapannya.


Kanaya memberikan tusukan pada Adel. "Dimakan Del, biar stress lo nguap!"


Tak perlu waktu lama, bahkan kurang dari lima menit -Pentol Mercon itu sudah ludes.


Haaahhhh~ makan makanan pedas memang cocok buat ngilangin stress, tapi abis itu lo juga stress gara-gara kepedesan!!


Kini mereka bertiga sedang memulihkan kewarasan, tampak seperti ikan yang megap-megap berteriak Air!! Air!! Aiiirrrr~


"Sumpah! Gue gak bakal makan ini lagi," ujar Kanaya penuh sesal.


"Rasanya kayak mau mati!" komentar Jani.


"Plis~ mungkin saat ini gue udah di Neraka," imbuh Adel.


Tetapi setelah itu, mereka bertiga malah saling menertawakan lantaran melihat penampilan masing-masing.


"Gue baru pertama kali, liat Jani si Cewek Strong mewek," ucap Kanaya. "Nih tisu, Jan."


"Nay, liat bibir lo … seksi banget!! Bengkak merah membara!!" balas Adel dan tertawa.


"Gak ngaca lo, Del~ ingus lo tuh kayak air terjun!!" ujar Jani.


"Masa?" Adel tak percaya dan menyentuh bagian atas bibirnya -terasa basah dan lengket.


"Dia bukan temen gue," ucap Jani dan menghindar.


"Jorok banget sih lo, Del!!" Kali ini Kanaya memberikan sebungkus tisunya pada Adel.


"Hahah … maaf-maaf!!" ujar Adel kini dapat tertawa kembali dan tentu saja, Kanaya/Jani juga ikut senang.


Tetapi mereka tak lantas meminta temannya itu untuk cerita, Kanaya dan Jani memilih menunggu agar Adel menceritakannya sendiri.


o o o o o


Ternyata kelas selesai setelah jam istirahat berakhir, benar-benar suatu kegembiraan. Tapi, kalau tau begitu -Kanaya bakal pulang dari tadi.


"Dah ya, gue mau langsung balik," pamit Adel.


Kanaya dan Jani tidak mencegahnya, mereka membiarkan Adel pulang lebih dulu karena melihat temannya itu sedang terburu-buru


Lalu setelah Adel pergi, Kanaya mengeluarkan ponselnya -berniat untuk mengirim pesan pada sang Dosen/Suami. Namun ternyata ada pesan yang lebih dulu masuk di Grup Bimbingan Skripsi.


Mas Adhi (Suami) :


Saya sudah selesai mengajar.


Bagi kalian yang mau bimbingan duluan, langsung saja datang temui saya di Ruang Dosen. Terima kasih.


Lalu di bawah chat itu, banyak chat dari teman sebimbingan yang berebut untuk segera bimbingan. Setelah membaca pesan sampai bawah, Kanaya menutup grup chat tersebut dan beralih pada personal chat.


Kanaya :


Mas, kelasku dah sel


"Ngapain, Nay?" tanya Jani Dan menepuk bahunya.


Kanaya berlonjak kaget, ponselnya sampai jatuh dari genggamannya. Dia buru-buru membungkuk dan mengambilnya.


"Ya ampun~ Nay, sampe segitunya lo kaget. Ngapain loh, Nay? Mencurigakan."


"Eng … enggak," jawab Kanaya tergagap.


"Gak pulang lo? Atau nunggu Dimas dulu?"


"Enggak, gue pulang sendiri aja. Dia masih ada kelas," dusta Kanaya akhirnya.


Jani hanya mendehem. "Ya udah, ayo pulang."


"Ya," jawab Kanaya dan menaruh ponselnya kembali.


Fuh~ dia gak ketahuan sama Jani kan?


Tapi kayaknya dia mesti ganti nama kontak dari Dosen/Suaminya deh, mungkin juga harus hapus percakapannya juga.


"Udah pesen ojek nya, Nay?" tanya Jani saat mereka sudah keluar dari kawasan kampus.


"Dim! Dimas!" teriak Jani dan Kanaya langsung menoleh.


Adimas segera berhenti lantaran namanya dipanggil, lalu melihat Jani melambai padanya -dia memundurkan motornya.


"Nay, tuh Dimas dah balik juga," ucap Jani. "Gak bareng lo?"


"Oh … gue mau pergi ke tempat lain," dalih Kanaya.


Karena Kanaya bilang demikian, kini Jani balas menatap Adimas.


"Iya," jawab Adimas singkat -hanya dapat mengiyakannya.


"Hmmm … ya udah," jawab Jani tak memperpanjangnya.


"Gue duluan ya," pamit Adimas.


"Ya~ dah, Dim!" ucap Jani.


Sepeninggal Adimas, Kanaya langsung diam seribu bahasa. Lantas Jani menegurnya, "Nay, Lo lagi marahan ya sama Dimas?"


"Enggak kok," jawab Kanaya seraya menghindari tatapan Jani. "Eh … Jan, itu Ojek gue udah dateng," beritahunya.


"Ya udah, hati-hati ya Nay."


Kanaya melambaikan tangannya sembari tersenyum. Namun nyatanya, itu hal yang sulit baginya -menyembuyikan kebenaran dari teman terdekatnya.


o o o o o X o o o o o


Menjelang waktu Isya, bimbingan baru selesai. Selain karena banyaknya Mahasiswa/I yang bimbingan hari ini, mereka juga antusias untuk menyetor skripsi mereka -bahkan ada yang menuntaskannya sampai bab terakhir. Namun sebagian besar dari mereka banyak yang harus dia revisi, terutama pada bagian pengolahan data statistik. Dan karena itu juga, Adhi melakukan kelas Statistik dadakan untuk mahasiswa/i bimbingannya.


Lalu segera Adhi pulang setelah ikut sholat berjamaah. Inginnya, kalau bisa … dia cepat sampai di rumah dan istirahat. Tetapi saat ini dia juga lapar, karena belum sempat makan kecuali Roti yang diberikan Mahasiswinya. Kalau makan dulu di jalan, dia ingat sudah ada istri di rumah. Lalu akhirnya Adhi menelepon Kanaya untuk menanyakannya.


'Ya halo, Assalamualaikum Mas. Kenapa?'


"Wa'alaikumsalam Neng," jawab Adhi ketika panggilan telah tersambung. "Kamu udah makan?"


Hening sejenak. 'Kenapa emangnya Mas? Mau beliin sesuatu?' jawab Kanaya malah balas bertanya.


"Kamu ada yang mau dititip?" tanya Adhi.


'Ah~ enggak, becanda kok,' sahut Kanaya dan terdengar kekehannya. 'Eneng udah makan, tadi siang. Kalo sore belum, soalnya nungguin Mas dulu. Mas sendiri udah makan?'


Ya Ampun, ternyata begini rasanya ada yang nungguin di rumah?


"Belum. Ya udah, kamu mau makan apa? Nanti Mas beliin di jalan."


'Emmm … Eneng udah masak, Mas.'


Alhamdulillah, dia tak kalah senang kali ini karena ketika pulang juga ada makanan yang sudah dimasakan untuknya.


"Masak apa, Neng?" tanya Adhi mulai antusias.


'Cuman masak Sayur Sop sama Telur Sambal Balado aja,' jawab Kanaya. 'Mas kapan pulang?'


"Ini lagi di jalan."


'Ya udah, biar Eneng panasin sayurnya.'


"Kayaknya Mas masih agak lama sampenya … kalau kamu mau, kamu makan aja duluan."


'Gak apa-apa kok, aku bisa nunggu -belum kepengen makan juga.'


"Ya~ kalau kamu maunya makan bareng, Mas juga gak bisa larang," jawab Adhi yang terdengar senang."


'Gak sampe segitunya juga,' sahut Kanaya.


"Ya sudah, ini Mas masih nyetir. Sampe jumpa di rumah ya? Assalamu'alaikum," ucap Adhi dan hendak mengakhiri panggilan teleponnya.


'Ya, hati-hati Mas. Wa'alaikumsalam.'


Sementara itu, sembari menunggu sang Dosen/Suaminya tiba -Kanaya memilih untuk mengobrol dengan dua temannya di grup chat. Namun tiba-tiba, Adel melakukan Video Call Grup. Kanaya lantas menolaknya dengan alasan muka buluk belum mandi, namun Adel masih bersikeras melakukan Video Call. Jadi membuat alasan lainnya, dia lagi mengerjakan skripsi dan ribet kalau Video Call.


Untung saja Adel tak terus mendesak, kalau tidak, bagaimana dia menjelaskan pada temannya -sedang berada di mana dia saat ini. Lalu akhirnya mereka melakukan panggilan telepon grup dan Kanaya mengeraskan suaranya ke mode speaker -sembari dia membereskan kamar.


Namun suatu yang tidak Kanaya duga, tiba-tiba muncul dan mendatangkan masalah baginya -hingga dia terjebak diantara dua sisi yang rumit.


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Neng, kamu kenapa?


x x x x x


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


See you~