Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 17.2]



Kanaya, gadis itu sudah berdiri di depan pintu kelas beberapa menit lalu, lantaran sangat berat baginya untuk mendorong pintu. Sebenarnya bukan pintunya yang berat, melainkan orang yang akan dijumpainya segera setelah dia membuka pintunya. Siapa lagi kalau bukan Dosen Kelas Sebelah yang menjadi Dosen Gebetannya Adel dan sekarang merangkap sebagai Dosen Pengujinya untuk hari ini.


Hah~ Huft~ Hah~ Huft~


Kanaya mengatur nafas sekaligus menenangkan diri juga pikirannya.


"Bismillah," ucapnya seraya memegang gagang pintu.


Cekrek.


"Astaghfirullah," ujarnya kaget seraya melangkah mundur dan memegangi dadanya lantaran pintu sudah lebih dulu terbuka sebelum sempat dia tarik.


Pintu terbuka dari dalam dan menampilkan wajah seseorang yang justru semakin menambah rasa terkejutnya, Pak Adhi!!


Brugh.


Kanaya jatuh terduduk di lantai karena tersandung kakinya sendiri sangking kagetnya.


"Aww!" rintihnya merasakan nyeri di bokongnya.


Udah tepos, lama-lama ilang dah ini.


"Mbak ngapain ngedeprok di ubin? Lagi ngadem?"


Kanaya mendongak mendengar pertanyaan sang Dosen yang bernada seperti mengejek, belum lagi tampangnya yang bikin tambah kesel.


Bapak ini becanda ya?


Emang dia jatoh gara-gara siapa? Dia!!


Meskipun enggak secara teknis.


"Mbak abis nangis?" tanya Pak Adhi kali ini sembari membungkuk -mendekatkan wajahnya pada Kanaya dan berekspresi meneliti.


Kanaya segera mengalihkan wajahnya, sementara gestur tubuhnya menunjukkan ketidaknyamanan.


Pak Adhi kembali berdiri tegak. "Saya kira kamu kabur gara-gara takut sama saya, makanya gak balik ke kelas."


'Ya, gak salah sih. Dia emang takut,' delik Kanaya dalam benaknya. 'Tapi tunggu! Jadi ini Dosen keluar buat nyari dia. Demi apa?' pikir Kanaya yang terlalu percaya diri.


"Kamu balik kelas, gak ada yang boleh pergi mentang-mentang udah kelar. Pulang bareng-bareng!" tegas Pak Adhi lalu merogoh sesuatu dalam saku celananya, ponsel. "Ya halo, assalamualaikum. Ada apa, Bu?" Pak Adhi mengangkat panggilan dan pergi.


'Ch! Dasar ke Ge'eran,' cibir Kanaya pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia lupa peraturan Pak Adhi yang sempat Adel certain, kalau tiap bimbingan sama tuh Dosen kudu nunggu yang lain selesai dulu, baru boleh pulang.


Kanaya kembali ke kelas, namun sebelum itu dia perlu memperbaiki penampilannya. Kanaya menyapukan rambut untuk menutupi wajahnya yang sembab.


Pokoknya abis ini dia harus touch up!! Muka dia kucel banget pasti, gara-gara cuci muka -make up nya luntur semua.


Kanaya berjalan ke bangkunya dengan tergesa-gesa dan wajah tertunduk. Setelah mendudukkan diri, dia langsung menyambar alat perangnya. Setidaknya dia pakai bedak dan memerahkan sedikit bibirnya, kalau sempat dia akan pakai eyeliner juga maskara sebelum Pak Adhi datang.


"Mbak Kanaya! Kelas saya hari ini bukan untuk kamu dandan-dandan." Suara Pak Adhi yang bagai dentuman bom di telinga Kanaya, hal itu telah membuatnya luar biasa terkejut dan hilang fokus.


Srettt ….


Pluk!


Kanaya baru saja menggoreskan lipstik hingga melewati garis bibirnya dan corengan itu lumayan, KACAU!


Belum lagi lipstik berharganya yang dia dapat dari sampel gratisan itu, jatuh dan patah.


Malangnya nasibmu, Kanaya.


Dan sekarang dia bukan saja kehilangan muka dan lipstik. Nilainya bisa saja bukan cuman merah, tetapi juga melayang.


Tamat!!


Selamat tinggal sarjana lulusan tahun ini.


Selamat datang semester sembilan~


- - -


Kini Kanaya mencoba bersikap sewajar dan setenang mungkin menunggu di bangkunya, berusaha tak menarik perhatian sang Dosen Penguji (lagi).


'Bosan!' jeritnya yang tertahan dalam benak.


Sebab ponsel harus di nonaktifkan. Jadi hiburan baginya hanya sebatas pulpen, entah itu mencoret-coret atau mencetik-cetikan ujungnya.


Meskipun mulut gatal pengen ngobrol apalagi nge-ghibahin si Dosen ke teman duduk sebelahnya, nyatanya dia juga harus menahan kesenangan itu. Kalau tidak, bisa-bisa dia digeret dan disuruh bicara di depan kelas. Tentu Kanaya tidak ingin itu terjadi.


Dan kesabarannya kini telah berakhir dengan manis, pasalnya Pak Adhi baru saja menutup Seminar hari ini dengan ucapan terima kasih dan permintaan maaf. Ya, meskipun tidak di khususkan pada dirinya yang sepanjang hari menjadi korban cecaran sang Dosen.


Tidak ketinggalan doa agar selamat sampai tujuan dan dapat melanjutkan menggarap Bab Skripsi selanjutnya.


"Selamat Sore," ucap Pak Adhi sebelum meninggal kelas.


Namun tampaknya beberapa mahasiswi enggan sang Dosen pergi buru-buru, mereka mengerubungi Pak Adhi dan menghalangi jalannya -entah apa tujuan mereka.


Kanaya sendiri bodo amat, dia ingin segera pulang lalu mandi dan tidur. Ah~ dia baru ingat kalau Adimas katanya akan menunggu dan pulang bersama.


Adimas emang perhatian banget, sayang cuman teman. Padahal Kanaya sayang. Elah … jadi baper 'kan!!


Kanaya mengaktifkan kembali ponselnya dan benar saja, ada chat What'sup -katanya Adimas udah nunggu di depan kelas.


Demi apa? Kok Adimas bisa tau ruang Seminar nya.


Kanaya :


Iya Dim, nih gw udah kelar kok


Kanaya mengirim balasan chat dan segera menyampirkan tasnya lalu berjalan meninggalkan kelas.


"Ayo dong Pak, foto dulu. Sekali aja," ucap seorang mahasiswi dan diikuti mahasiswi lainnya yang tampak berusaha membujuk sang Dosen dengan suara lembut mereka.


Ch! Emang ya, biarpun galak yang nama Dosen idola, tetep aja banyak penggemarnya.


"Oke, jangan lama-lama ya. Soalnya ini sebentar lagi masuk waktu Magrib," jawab Pak Adhi akhirnya mengabulkan permintaan beberapa mahasiswi tersebut dan membawa angin sejuk pada mereka. "Siapa yang fotoin?" tanyanya.


"Minta tolong fotoin sama yang lainlah, Pak. Jangan dari kelas sini, kan kita semua mau foto bareng Bapak," sahut seorang mahasiswi dengan nada antusiasnya.


Dan kayaknya gue gak masuk itungan lo, deh. Makasih, soalnya gue gak minat foto bareng tuh Dosen Empet!


Kanaya mempercepat jalannya menuju pintu dan saat tinggal sedikit lagi dia menuju kebebasan ___.


"Mbak Kanaya, mau kemana?" Itu mahasiswi yang tadi duduk di sebelahnya. "Foto dulu, sini!" ajaknya.


Hah! Tak disangka, ternyata teman duduk sebelahnya itu salah satu penggemar Sang Dosen. Lihat aja, dia berdiri di tempat terbaik -tepat di samping Pak Adhi.


Kanaya melangkahkan kakinya dengan berat menuju kerumunan yang berkumpul di depan kelas yang berlatar papan tulis. Kanaya tak mau repot-repot nyerobot tempat agar wajahnya terpampang jelas, dia berdiri di barisan paling pinggir -selain karena dia datang terakhir.


"Mana tukang fotonya?" tanya seorang mahasiswi.


"Ini," sahut mahasiswa yang baru saja masuk ke kelas lalu diikuti seorang pria di belakangnya.


What?! Adimas? Kok bisa ketangkep dia sih?


"Minta tolong ya, Mas." Seorang mahasiswi menghampiri Adimas dan memberikan ponselnya.


Adimas berdiri di tengah depan para mahasiswa Seminar sembari mengatur posisi mereka dan menyesuaikan kamera ponsel.


"Siap ya? Satu-Dua-Tiga," ucap Adimas berhitung.


Cekrek!


"Sekali lagi?" tanyanya dan dijawab 'Iya'.


Adimas menyetujui untuk kembali mengambil foto, namun sebelum itu dia melihat pada Kanaya yang tengah memasang ekspresi jenuh.


"Senyum," titah Adimas dengan gerakan bibir tanpa bersuara. Kanaya menggeleng samar. "Jelek!"


Cekrek!


Setelahnya, Adimas mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.


"Makasih Mas," ucap si mahasiswi pemilik ponsel.


"Ya, sama-sama Mbak," jawab Adimas dan menghampiri Kanaya yang masih berdiri di tempat dan tak terlihat berminat meminta berbagi foto barusan seperti mahasiswa lainnya yang mulai mengelilingi si pemilik ponsel.


Namun sebelum Adimas sampai pada Kanaya, ada seseorang yang memanggilnya sembari menghampirinya.


"Ya, Pak. Ada apa?" tanya Adimas pada orang tersebut, yang tak lain adalah Dosen Penguji Seminar di ruangan ini.


"Boleh tolong fotoin?" tanya sang Dosen.


Adimas tak perlu berpikir untuk menjawab permintaan tersebut, "Iya Pak."


Pak Adhi memberikan ponselnya pada Adimas. "Mbak Kanaya, tolong kemari," panggilnya.


Hah?


Kanaya merasa aneh sekaligus bingung.


"Saya? Bapak manggil saya?" tanya Kanaya sampai mengulangi pertanyaannya.


"Iya, kamu," sahut Pak Adhi.


Entah apalah mau nih Dosen, tetapi perasaan Kanaya gak enak.


"Kenapa Pak?"


"Foto sama saya, buat kenang-kenangan. Hari ini kamu kan bintangnya," ucap Pak Adhi dengan nada suaranya yang terdengar senang.


Bapak Dosen ini lagi ngejek dia, ya?


Bintang dari apanya coba?


Terus 'senang' gitu mukanya?


Senang di atas penderitaan orang, iya!


Terutama dirinya.


"Saya tidak memaksa, kalau Mbak Kanaya tidak mau," ucap Pak Adhi namun terdengar sebaliknya bagi Kanaya.


Kalau dia udah ngomong gitu, mana bisa Kanaya nolak. Ck! Curang nih Dosen.


"Iya Pak."


Kanaya pasang badan agar tidak terlalu dekat dengan sang Dosen, namun dasar Adimas d*blek -dia malah nyuruh Kanaya buat geser lebih dekat ke Pak Adhi.


Ya elah Dim, elo kagak cemburu apa?!


Cekrek!


"Sudahkan Pak?" tanya Kanaya mencoba untuk terdengar sopan, namun sepertinya masih kurang.


"Kamu gak suka foto bareng saya, sampai minta udahan?" tanya Pak Adhi retoris.


'Hmm! Emang enggak,' jawab Kanaya dalam benaknya, namun dia lebih memilih memberikan senyuman pada Pak Adhi sebelum beralasan, "Itu … temen saya sudah nunggu, Pak." Kanaya menunjuk ke arah Adimas dengan telapak tangannya yang bergerak sopan.


"Oh … dia ternyata teman kamu toh." Pak Adhi tampak mengamati Adimas. "Saya pikir, dia saudara kamu."


"Sodara saya? Kok Bapak bisa kepikiran begitu? Memang Bapak pernah lihat teman saya itu?" tanya Kanaya kepo.


"Pas malam kamu pingsan, yang saya nganterin kamu pulang. Kamu kan masuk ke rumah itu," jawab Adimas.


Ah! Sekarang Kanaya inget tuh. Yang dia sengaja turun di rumah Adimas buat ngelabuin nih Dosen yang gak mau pergi sebelum dia masuk rumah.


*)Part 9 - Unexpected situation.


Tapi itu masih belum menjawab pertanyaan Kanaya, kok bisa Bapak Dosen ini tau Adimas?


Kayaknya nih Dosen gak liat Adimas deh malam itu.


"Saya liat temen kamu itu nunggu di halaman rumah kamu, pas saya nganter Ibu saya ke rumah temannya," jawab Pak Adhi tanpa perlu ditanya.


Emang dasar ini Dosen peka nya belom luntur. Gak nyangka ada manfaatnya, jadi Kanaya gak perlu capek-capek bacot.


"Ohhhh …," sahut Kanaya yang kehabisan ide harus ngerespon apa. "Kalau begitu saya pamit pulang Pak, Assalamualaikum."


"Ya silakan, wa'alaikumsalam."


Alhamdulillah, akhirnya gue bisa bebas juga dari nih Dosen,' batin Kanaya bersorak gembira merayakan. Padahal seharusnya dia masih was-was sama nilainya, tetapi sepertinya gadis itu lupa sejenak.


••


T


B


C


••


Dear Pak Adhi, jangan iseng godain Kanaya. Nanti demen loh.


×××


Finally, kelar juga seminar hari ini. Semoga kau disematkan olehku ya, Kanaya (read : melalui perantara Pak Adhi.


Btw, hari itu aku seminar proposal skripsi juga lama banget -setelah magrib baru pulang dan karena memang harus nunggu yang lain.


Dan situasinya gak seketat seminar sama Pak Adhi yang kudu sikap sempurna memperhatikan.


Tapi Dosenku ada yang begitu ngajarnya. Dia gak mau ada gangguan sedikitpun, kita harus benar-benar fokus sama dia.


Kalau enggak, ya gitu~ siap-siap di panggil ke depan kelas atau lo ditandain di buku laporan si Dosen.


Hah~ aku pernah kena. Sekali dan malu banget rasanya.


Hiks … Hiks ... citra baikku ternoda karena menghela nafas kekencengan. ASLI!!


×××


Okay, sebelum kita benar-benar berpisah pada part ini. Aku ada permohonan, tolong dibantu.


Suddenly I Became A Wife Of Lecturer, saat ini sedang dalam proses pengajuan kontrak. Itu kenapa kemarin aku ada revisi Part sebelumnya.


Jadi aku minta untuk dukungan kalian, tolong tinggalkan jejak setelah kalian membaca.


Satu LIKE, berarti buat kami para author.


Kalau berkenan, boleh tinggalkan KOMENTAR atau VOTE.


Itu akan sangat membantu aku untuk lebih semangat update.


Karena kalau novel ini sudah di kontrak, maka ada aturan untuk Author komitmen update dan lainnya.


Sekian.


Terima kasih atas perhatiannya.


°°°


See you~