
Kanaya menghela nafas panjang segera setelah dia mendudukkan dirinya di bangku mobil.
"Cepet banget, Neng. Biasanya lo kalo maen ke sebelah sampe lupa pulang," komentar Bang Dhika yang duduk di kursi kemudi. Namun tak kunjung ada jawaban dari orang yang diajaknya bicara, tetapi dia malah merasakan aura di sekitar seakan berubah panas dan kelam -jadi dia menoleh ke belakang.
Nyaaww!!
Haauuwwmm!!
Apa yang sedang dilihat olehnya ini? Kucing Betina dan Harimau Jantan yang sedang mengamuk padanya?
Bang Dhika buru-buru menghadap depan. "Udah siap? Kita berangkat sekarang ya," ucapnya mengalihkan topik lalu menyalakan mesin mobil.
Di sepanjang perjalanan menuju pulang, hanya keheningan yang menyelimuti -hingga dering ponsel milik Adhi menginterupsi.
"Ya ampun," desah Adhi saat melihat panggilan yang masuk.
Kanaya menoleh. "Siapa Mas?" tanyanya bingung .
Adhi menunjukan layar ponselnya, sebuah video call dari sang Ibu -Bu Ranti.
Kanaya hanya dapat tersenyum -geli. Dia tau, kalau suaminya paling malas mengangkat panggilan dengan video call. "Jawablah Mas, Ibu nungguin nanti."
"Ya Bu, Assalamualaikum. Ada apa?" jawab Adhi.
"Wa'alaikumsalam. Dhi, katanya kamu udah pulang dari rumah Bu Nurlela."
"Iya Bu, ini lagi di mobil -perjalanan pulang."
"Mampirlah ke sini juga, kan Ibu mau liat menantu cantik Ibu. Eh, mana Kanaya? Jangan mukamu mulu yang mejeng depan Ibu -dah bosen liatnya."
"Ya ampun, Bu. Tega banget sama anak sendiri," keluh Adhi, lalu dia membalik ponselnya ke samping -horizontal- hingga tampak wajahnya juga Kanaya di layar.
"Assalamualaikum Bu, apa kabar?" sapa Kanaya pada Ibu Mertuanya dengan ceria sembari melambaikan tangan.
"Wa'alaikumsalam, Anak Cantikku~ Alhamdulillah, Ibu baik. Kamu juga apa kabar, Nak? Ibu kangen sama kamu, mainlah ke sini," jawab Bu Ranti tak kalah riang -disertai permohonan diakhir yang terdengar sedih.
Adhi menghela nafas. "Ini yang anak Ibu, siapa sih sebenernya? Orang bisa salah paham," keluhnya.
"Iya Mas Adhi, nanti disangkanya malah -Anak Yang Tertukar," komentar Bang Dhika dan terkekeh.
"Loh, ada Dhika toh?" tanya Bu Ranti yang menyadari suara milik Abangnya Kanaya.
"Iya Bu, aku lagi jadi supir nih," jawab Bang Dhika sesekali menoleh ke belakang -Adhi pun mengarahkan layar ponselnya ke depan.
"Ibu kira kalian naik Oj-Ol."
"Kalo kita naik Oj-Ol, video call Ibu gak akan aku angkat," jawab Adhi datar.
"Dasar anak durhaka! Untung sekarang Ibu punya Menantu yang perhatian dan manis, jadi bisa senang hati Ibu ini. Beda sama anak-anak Ibu yang susah kalo diajak ini/itu," keluh Bu Ranti. "Itulah kenapa Ibu lebih sayang sama Kanaya -jadi kamu jangan iri, Dhi."
"Aku gak iri, Bu. Emang ada tampang muka aku iri, apa?"
"Enggak kok, Mas kan juga disayang sama Ibu/Bapakku -katanya mereka senang punya Menantu Dosen Keren," bela Kanaya.
Adhi tergelak sesaat, dia merasa senang. "Syukur dah, kalau Menantu sama Mertuanya bisa akur."
"Ya, pasti akurlah~ Menantu pilihan Ibu mah emang paling oke," balas Bu Ranti membanggakan dirinya. "Nah, jaga baik-baik ya Menantu kesayangan Ibu," peringatnya.
"Itu mah gak usah diminta, Bu," jawab Adhi tanpa ragu.
"Duh~ yang di belakang udah nikah, terus sayang-sayangan. Aku yang di depan, udah sendiri -jomblo pula. Bikin iri aja," ujar Bang Dhika dengan sedih yang dibuat-buat.
"Nak Dhika, kalo Ibu punya anak perempuan yang masih lajang -mungkin udah Ibu jodohin sama kamu," jawab Bu Ranti.
"Gak apa-apa Bu, niat mau diambil mantu aja saya udah senang. Tapi kalo ada anak perempuannya, keponakannya juga boleh kok," tawar Bang Dhika dengan canda.
"Ya udah, kamu sekalian aja main ke rumah Ibu sekarang -kebetulan ada beberapa saudara yang datang, nanti Ibu kenalin sama keponakan," ajak Bu Ranti.
"Wah~ boleh Bu? Terima kasih," ucap Bang Dhika.
"Emang aku dah bilang 'iya' -kalau bakal mampir ke rumah, Bu?" tanya Adhi setengah hati.
"Tuh kan, baru tadi dibilang kalau Ibu sedih karena anak sendiri malah susah diajak ini/itu."
"Maaf Bu, bukannya nolak. Tapi sekarang aku juga capek, tangan juga lagi begini," dalih Adhi.
"Ya udah, kalo kamu gak mau -Kanaya sama Dhika aja yang ke rumah," ucap Bu Ranti terdengar mengambek.
"Yah~ gak bisa gitu dong Bu -masa Kanaya misah sama aku. Nanti yang ngurus aku sakit siapa?"
"Dasar kamu, emang kalo di rumah Ibu gak ada yang bakal ngurus kamu apa? Ibu juga masih mampu ngurus kamu kok. Yah~ itu mah paling cuman alasan kamu aja yang mau memonopoli Kanaya," balas Bu Ranti.
"Ya, gak salah dong Bu -kan Kanaya Istri aku," jawab Adhi.
"Hah~ susah dah ngomong sama kamu kalo udah begini," ucap Bu Ranti pasrah. "Nak Naya, Ibu minta tolong ya," pintanya pada sang Menantu sebagai harapan terakhirnya.
Kanaya tersenyum. "Mas, kita ke rumah Ibu ya~ Aku juga kangen, pengen ketemu langsung sama Mertua aku -lagian kan ada saudara Mas juga yang datang. Masa kita gak hadir," bujuk Kanaya dengan nada lembut.
Adhi mendesah. "Ya udah, iya," jawabnya kalah.
"Nak Naya emang yang terbaik, makasih ya," puji Bu Ranti ada sang Menantu.
"Heleh, kan yang ngijinin aku -tapi yang dipuji malah siapa," keluh Adhi. "Kalo gitu, gak ada acara nginep-nginep di sana ya."
"Bodo," Ibu Ranti tak ingin mendengarkan sang Putra Sulung. "Nak Naya - Dhika, Ibu tunggu di rumah ya~ Salamualaikum," ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Adhi, Kanaya dan Dhika.
"Mas Adhi, ternyata Ibunya asik juga ya," komentar Bang Dhika.
"Ya, begitu dah~ tapi saya kurang cocok kalau bergaul sama Ibu."
"Soalnya sifat Mas sama Ibu saling bertolak belakang. Mungkin Mas sama kayak Pak Dekan, gak banyak ngomong," ucap Kanaya.
"Iya, makanya aku sama Ibu sering ribut."
Kanaya tertawa. "Iya, tau kok aku, Mas."
O
O
O
"Akhirnya yang ditunggu sampai juga. Ayo masuk!" ajak Bu Ranti. "Kanaya," panggilnya pada sang Menantu lalu memeluknya.
Kanaya membalas pelukan hangat dari Ibu Mertuanya.
"Anak ini Ibu kalo diliat langsung makin cantik," puji Bu Ranti.
Meskipun malu-malu, Kanaya tak dapat menutupi rasa senangnya saat dipuji -terlebih oleh Ibu Mertua. Bahkan Suaminya saja jarang memujinya, Kanaya ngedumel saat memikirkannya.
"Ibu juga, kalo diliat sepertinya lebih mudaan dan cerah wajahnya," balas Kanaya memuji.
"Oh ya? Beneran?"
Kini Kanaya bingung menjawabnya, karena dia sebelumnya hanya sekedar membalas pujian.
"Syukur dah, kalo keliatan gitu -berarti krim nya cocok," ucap Ibu Ranti seakan tau kebingungan Kanaya. "Ibu lagi coba perawatan -skin care dari Korea, terus katanya dipake sama Artis terkenal juga," imbuhnya. "Kanaya mau coba? Nanti kalo cocok, minta beliin sama Adhi."
"Eh, kok jadi aku yang beliin? Kan Ibu yang nawarin," protes Adhi.
"Heh, Dhi! Kamu jangan pelit sama Istri, toh kalo Istrimu cantik dan terawat -nanti kamu juga yang senang sama bangga," balas Bu Ranti.
Adhi hanya menjawab dengan deheman, tak berniat membalas ucapan Ibunya lagi -karena hasilnya mungkin dia akan kalah debat. Sebagai gantinya, dia berbisik pada sang Istri. "Neng, kamu gak nyangkakan -cuman balas muji Ibu dikit … Eh~ dapat skin care gratis. Kayaknya kamu ada bakat terpendam jadi SPG, deh -pinter banget bujuk orang."
Kanaya menoleh dan menatap tajam sang Suami. "Mas ngejek aku, ya?"
"Mana mungkin -itu pujian, Neng. Masa gak tau," goda Adhi.
Kanaya mendengus dan membuang muka dari Suaminya, lalu kembali mengikuti Ibu Mertuanya dan meninggalkan sang Suami juga Abangnya yang padahal repot membawa oleh-oleh. Sementara Adhi hanya tersenyum kecil melihat ekspresi cemberut Istrinya.
"Enak banget si Nay, dapat Mertua baik kayak Bu Ranti. Biasanya kan Menantu Perempuan sama Ibu Mertuanya yang ribut mulu, ini malah Mas Adhi yang keliatannya dimusuhin sama Bu Ranti," komentar Kanaya.
"Kalau saya sih wajar aja ngeliat Ibu saya begitu, soalnya Ibu gak bisa main boneka-bonekaan sama anak-anaknya. Punya anak tiga, tapi perempuannya cuman satu dan itu pun si Diandra orangnya susah diatur juga tomboy dulu," ujar Adhi.
Dhika mengangguk paham, karena dia punya tiga saudara perempuan dan dulu sering melihat Ibunya mendandani saudara-saudaranya. Entah itu mencocokkan pakaian ataupun mengikat rambut mereka, bahkan dia juga senang bermain dengan rambut Adik-adiknya *dalam artian menarik/menjambaknya.
#DhikaAbang_Laknat
"Jadi mungkin, karena udah punya menantu perempuan dan Kanaya juga orangnya penurut -Ibu memanfaatkan kesempatan buat melampiaskan hasratnya yang udah lama terpendam," lanjut Adhi seperti bisa membaca pikiran Ibunya.
"Kok dengernya malah jadi kayak ngeri-ngeri horror, ya?" komentar Dhika.
O O O X O O O
Sesuai ucapan sebelumnya pada Bang Dhika, kini Bu Ranti menepati janjinya dan mengenal salah satu keponakannya. Lalu tak butuh waktu lama untuk Dhika buat PDKT, dia sudah bisa akrab dengan keponakan perempuan tersebut -bahkan juga dengan anggota Keluarga Darmawan yang lain. Tak aneh, Bang Dhika memang orangnya sangat supel.
Berbeda dengan Dhika, Bu Ranti tidak bisa janji untuk menepati ucapannya pada Putra Sulungnya -soal tak ada menginap. Bu Ranti terlalu menikmati kebersamaannya dengan sang Menantu, atau mungkin sengaja mengulur-ulur waktu.
Ditambah lagi pembicaraan keluarga tersebut setelah mendengar kabar dari Bude Ratna soal Sukma, syukurnya hal itu tak berlangsung lama dan terselesaikan dengan baik. Mereka semua beranggapan itu sebagai kejadian lama yang telah berlalu dan melupakannya, bagaimanapun juga mereka yang sekarang merasa lebih baik atas pernikahan Adhi dan Kanaya.
Pembicaraan tak berhenti sampai di situ, topik selanjutnya tentu saja tak jauh-jauh dari soal perkuliahan.
"Kanaya gimana skripsinya, apa ada kesulitan?" tanya Pak Efendi -Bapak Mertuanya.
"Alhamdulillah, lancar Pak -Mas Adhi banyak bantu saya," jawab Kanaya terdengar segan -lantaran Bapak Mertuanya juga merupakan Dekan di kampusnya.
"Kalau itu mah sudah harus, masa Istrinya sendiri gak dibantu. Tapi bukan berarti dibantu kerjain juga, ya," ucap Pak Efendi lagi.
"Ya~ enggaklah Pak. Adhi juga paham kalau itu gak boleh, bagaimanapun aku juga Dosennya," ucapnya penuh penekanan seakan sengaja agar seseorang mendengarnya.
Kanaya tau dah, siapa orang yang disindir nya -ya pasti dia.
Dasar! Mau ingkar janji tuh kayaknya, padahal sebelumnya manis banget omongannya -sampe mau bantuin ngetik. Huwek! Janji busuk!!
"Lalu kamu kapan mau ngampus lagi, Dhi? Ini Semester Akhir loh, apalagi kamu juga ada mahasiswa bimbingan."
"Kalau mahasiswa bimbingan sih, aku masih bisa handle. Tapi untuk mengajar yang agak sulit, saya kan bukan Dosen teori yang cukup menjelaskan dengan omongan."
Ya, Pak Efendi paham posisi dan kesulitan anaknya itu -tapi kelasnya tidak mungkin selalu mengandalkan Dosen pengganti apalagi kelas kosong. "Mungkin kamu bisa tunjuk mahasiswa sebagai Asisten Dosen, tapi kamu tetap mengajar sebagai pendampingnya," sarannya.
"Ya, nanti aku pikirkan lagi. Besok aku juga rencananya mau mulai buka bimbingan dan ke dokter buat check up," jawab Adhi. "Makanya Bu, kami gak bisa nginap," ujarnya kembali bernegosiasi dengan sang Ibu.
"Hiy! Dibilang nginep aja, kamu kan lagi sakit jadi nanti biar Ibu yang urusin. Lagian udah malam ini," dalih Bu Ranti.
"Bu," panggil Pak Efendi pada Istrinya. "Jangan suka mempersulit urusan orang, gak baik. Anak kamu kan Dosen dan punya tanggung jawab dengan mahasiswanya -terus ingat, Menantu kamu juga sama-sama mahasiswa statusnya."
Gak nyangka, Ayahnya juga mengucapkan hal yang sama seperti Kanaya untuk membungkam Ibu dan dirinya.
Akhirnya setelah ucapan Pak Efendi yang tak dapat disangkal oleh istrinya itu, Adhi dan Kanaya dapat pulang.
O
O
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
O
O
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~