Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 15 - Pre Test]



Meskipun sempat tidak masuk karena sakit, kini Kanaya sudah kembali beraktivitas dan menjalani hari-harinya seperti biasa -termasuk menyelesaikan Proposal Skripsinya. Sebab kalau dihitung-hitung, beberapa minggu lagi akan memasuki masa ujian dan tentu saja Seminar Proposal skripsinya.


Mahasiswa semester akhir termasuk Kanaya dan teman-teman lebih rajin mampir ke perpustakaan dan bimbingan, tidak ketinggalan revisi tentunya.


Beruntung sejauh ini, Proposal Skripsi Kanaya dan Jani lancar saja. Sayangnya berbeda dengan Adel yang harus lebih-sangat-banyak berjuang untuk ACC.


Tetapi yang namanya usaha, tidak akan mengkhianati hasil. Itu adalah kata-kata pelipur lara untuk Adel yang tak pernah absen revisi sama Dosen Pembimbing Gebetannya.


'Gak papa, dicoret-coret terus revisi, asal jangan pas Sidangnya yang dicoret terus ketahan untuk wisuda.'


Kanaya mengangguk -menyetujui ucapan Adel, sembari mendekap bendel kertas Proposal Skripsinya yang sudah dia selesaikan sesuai bagaimana mestinya, hingga Bab Tiga.


Berdoa saja, semoga bisa mengikuti jejak Jani yang sudah di ACC dan nanti tinggal daftar Seminar Proposal Skripsi.


Semangat!


"Siapa selanjutnya?" tanya Bu Andin yang duduk di balik meja -menyembunyikan perut besarnya.


"Saya Bu!" jawab Kanaya dan maju menyerahkan Proposal Skripsi nya.


Bu Andin memeriksa dari lembar awal, karena Kanaya bilang -dia sudah menyelesaikan semua Bab.


Setelah selesai, Bu Andin menandatangani lembar Kartu Bimbingan Seminar Proposal sebagai bukti bagi mahasiswa/i telah melaksanakan bimbingan.


ACC SEMINAR PROPOSAL SKRIPSI, begitu keterangan yang tertulis di lembar kertas tersebut.


Kanaya menjerit senang dalam hati. Akhirnya dia bisa tenang juga, setelah berbulan-bulan pusing sama teori, jurnal dan bahan bacaan lainnya.


"Terima kasih, Bu," ucap Kanaya.


"Belum selesai, Kanaya," ucap Bu Andin yang membuat rasa senang Kanaya buyar dan berganti resah.


"Ini kamu perlu ditambahkan lagi untuk Penelitian Relevan nya."


Kanaya menghembus nafas lega, seenggaknya dia gak perlu revisi lagi.


"Dan betulkan typo nya," tambah Bu Andin.


"Baik Bu," jawab Kanaya.


Setelah Kanaya, bimbingan kembali berlanjut. Hanya saja, hari ini yang sudah selesai belum boleh pulang karena Bu Andin mau buat acara perpisahan dan doa bersama.


Pasalnya, hari ini terakhir bimbingan karena Bu Andin akan cuti hamil melahirkan.


Sementara itu, untuk mahasiswi yang masih ada revisi -mereka akan bimbingan via online dengan mengirim berkas lewat email. Ya, termasuk Kanaya sih. Biarpun labelnya sudah ACC tetapi dia masih ada yang harus diperbaiki.


×××


Setelah semua mahasiswinya mendapat bimbingan, Bu Andin menepati janjinya untuk acara perpisahan. Mereka menuju kantin yang ada di luar kampus.


Dan Bu Andin tak segan-segan untuk mentraktir mahasiswi bimbingannya, meskipun hanya untuk menghilangkan dahaga mereka dengan minuman dingin.


Ya~ itu juga permintaan mahasiswinya, karena tidak enak harus makan juga dibayarin oleh Dosen yang sudah membimbing mereka. Padahal harusnya mereka yang memberikan sesuatu sebagai tanda terima kasih.


Semua mahasiswi meng -Aamîîni.


Setelah berdoa, Bu Andin dan mahasiswi bimbingannya mulai makan. Dan dilanjut bincang-bincang.


"Bu, kira-kira yang jadi Dosen Penguji kita siapa nanti?" tanya seorang mahasiswi.


"Ibu ikut nguji juga gak nanti pas Seminar Proposal Skripsi?" kali ini Jani yang bertanya.


"Ibu gak tau, soalnya sudah bukan pihak Dosen yang menentukan, itu dari bagian Administrasi. Dan Dosen Pembimbing biasanya hanya mengamati saja saat kalian seminar nanti, tidak ikut menguji. Tapi kayaknya Ibu gak bisa nengok kalian juga nanti, kan tau sendiri," ucap Bu Andin sembari menatap perut besarnya.


"Yah … Bu, kalo kita dibantai sama Dosen Penguji gimana?"


"Ya~ makanya, pelajari lagi Proposal Skripsi kalian. Setidaknya kalian tau apa yang kalian bahas; tujuan, latar belakang, metode dan hipotesis kalian," ucap Bu Andin memberitahu sedikit gambaran apa yang kira-kira ditanyakan.


"Terus apa lagi Bu, yang ditanyain?" tanya Jani semangat.


Sementara Kanaya, dia diam-diam mencatat.


"Itu …," Bu Andin menggantung ucapannya. "Itu rahasia!" sambungnya. "Ya, kalo saya kasih tahu namanya bukan ujian!" Ada penekanan dalam kalimat terakhirnya.


Mahasiswi Bu Andin berseru kecewa.


Jani mencolek Kanaya yang duduk di sebelahnya.


Mungkin ini saatnya dibuka diskusi umum sebelum Seminar Proposal Skripsi dan Ujian Semester, Pre-Test. Mari goyang jempol.


°


°


°


T


B


C


°


°


°


Hi! baru nongol lagi nih .. habis dari goa, bersemedi. Wangsit macet, kebawa banjir ~~


Hope you enjoy this story.


Keep support me, Like - Comments - Vote and Share.


Thank you for reading.