
Warning!! Harap jaga pikiran, jangan sampai kemana-mana. Saya tidak bertanggung jawab atas segala efek samping yang muncul nantinya.
- - - x x x o x x x - - -
Saat ini, waktu menunjukkan hampir menuju tengah malam dan sebagian besar dari seluruh penghuni rumah tersebut dalam keadaan terlelap.
"Eungh!"
Mungkin tidak.
Suara rintihan itu milik seorang perempuan.
"Aa …," panggilnya seraya mencengkeram erat lengan seorang pria -suaminya. "Akkhhh!!" kali ini dia sampai setengah berteriak lantaran tak kuat menahan sakit yang menghujamnya.
"Kenapa Neng?" tanya sang Suami panik -segera setelah dia tersadar.
"Sakit A'!" rintihnya lagi -bahkan sampai air matanya menitik.
"Tahan, tahan sebentar ya Neng," jawab sang Suami berusaha menenangkan Istrinya yang tengah dilanda rasa sakit yang hebat.
"Tahan-tahan!! Apa yang ditahan? Ini udah mau keluar!!" marahnya kepalang emosi lantaran sang suami tak mengerti betapa tersiksanya dia dengan rasa sakit tersebut.
"Ya udah, i … ini dilepas dulu," pinta sang Suami pada lengannya yang masih dicengkeram.
"Buruan!!" teriaknya dan berganti memegangi perutnya yang besar.
"I ... iya, ini aku siapin perlengkapannya," ucapnya namun tampak kebingungan. "Dit, ini apa aja yang harus dibawa?" tanya sembari mendekap beberapa baju bayi dan menenteng tas.
Arrggg!! Bisa-bisa dia keburu lahiran. Kenapa lakinya mendadak b*go sih?
"Taro!! Taro itu, Mario!" titah Anindita sampai memanggil nama suaminya. "Sekarang kamu sana, panggil Ibu sama Bapak. Terus nyalain mesin mobil."
Setelah sang Suami keluar, Dita berusaha sekuatnya menahan rasa sakit tersebut. Ya~ sepanjang hari ini dia memang sudah beberapa kali mengalami kontraksi, tetapi saat ini benar-benar tidak tertahankan.
Akh! Seharusnya waktu lahirnya masih beberapa hari ke depan. Apa anaknya ini sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya dan melihat dunia? Ya Rabbi~ kuatkan lah dia dan lancarkan.
Sementara di tengah kepanikan yang melanda rumah tersebut, beberapa anggota tampaknya tidak terusik dan masih terbuai oleh mimpi -contohnya sepasang pengantin baru dan seorang gadis remaja.
Meskipun begitu, tampaknya suara deru mesin mobil cukup membuat seseorang yang tengah terlelap itu kaget. Kanaya bangun dengan perasaan sesak dan berat di atas dadanya, selain itu juga seperti ada yang melilit pinggangnya.
"Ugh!" lenguhnya berusaha melepaskan diri dari jerat yang tak dia ketahui -sebab penglihatannya belum sepenuhnya pulih dan juga kondisi kamarnya yang gelap.
Salah satu tangannya bergerak menggapai benda yang menimpa dadanya, lalu mengusap untuk merasakan teksturnya.
Heum? Apaan nih? Tangannya kayak megang helaian pendek … benang kasar??
Masih belum yakin, kali ini Kanaya menariknya.
Oh~ Rambut. Rambut?!
Kanaya terkejut sekaligus bingung dengan pemahaman yang dia dapat.
Rambut siapa pendek gini?!
Panik. Kanaya kembali menariknya menjadi lebih kuat, namun selanjutnya terdengar suara pekikan yang tak dikenalnya. Kanaya jadi takut.
"Kyaaaaa!! Apaan tuh!" teriaknya histeris sembari menjauh dan menendang entah apa yang ada di sekitarnya.
"Tenang Neng, tenang! Ini saya," ucap sebuah suara lalu ada yang menahannya.
Klik!
Lampu duduk di meja kecil dekat tempat tidur menyala.
"Pak Adhi?"
"Iya, saya suami kamu," jawab Adhi terengah.
"Duh! Maaf Pak," sesal Kanaya.
"Iya, tapi jambakan sama tendangan kamu kenceng loh," sahut Adhi sembari mengusap kepala juga badannya.
"Maaf Pak~ saya gak maksud buat KDRT ke Bapak. Sumpah!" aku Kanaya. "Saya panik banget, tiba-tiba orang yang pegang-pegang badan saya. Kan biasanya saya tidur sendiri," dalihnya kali mencoba membela diri.
*) efek kelamaan jomblo
"Iya, saya juga minta maaf kalau buat kamu kaget. Tapi kan saya bukannya sengaja, orang tidur mana sadar," balas Adhi. "Udah kalau gitu, sekarang lampunya nyala aja pas tidur," lanjutnya.
Kanaya mengangguk, menyetujuinya. Lalu dia beranjak dari tempat tidur dan keluar.
"Kamu mau kemana?" tanya Adhi.
Ya elah Pak, mau keluar kamar sendiri aja pake ditanya dulu -ini Dosen/Suaminya takut dia tinggal apa? "Belakang Pak."
"Oh … ya udah, sana."
Dih! Dasar laki gak jelas.
Selang beberapa menit kemudian Kanaya selesai dengan urusan belakangnya, lalu dia hendak kembali ke kamar. Namun tanpa disangka-sangka, kini dia melihat sang Dosen/Suaminya kini tengah berada di dapur dan duduk di meja makan.
"Ngapain Pak? Laper?" tanya Kanaya.
"Bukan, lagi ngadem -di dalam panas," jawab Adhi hanya sebagai alasan untuk menutupi alasan lainnya.
Namun lain dengan Kanaya yang menanggapinya, dia merasa sensitif lantaran sedang Datang Bulan dan menjadi gampang tersinggung. "Maaf deh Pak, di rumah saya gak ada AC nemplok kayak di apartemen Bapak," jawabnya agak ketus, lalu kembali menuju kamarnya.
Duh! Jadi salah kan gara-gara dia bohong. "Bukan gitu Neng ___," ucap Adhi mencoba menjelaskan, namun sudah keburu dipotong.
"Terus Bapak gak mau tidur di kamar? Mau di luar? Ya udah, saya ambilin alas sama selimutnya dulu."
"Bukan Neng, itu ... bukan saya mau tidur di luar atau tidur misah. Tapi itu ___." Adhi masih belum bisa mengatakan alasan sebenarnya.
"Ya udah, saya ambilin kipas tambahan di kamar Bang Dhika buat Bapak biar lebih adem," ucap Kanaya seraya berjalan ke kamar sang Abang yang sedang tak berpenghuni.
"Oh iya, kamar Abang kamu kosong ya? Kita tidur sana aja," saran Adhi.
"Ihh! Ngapain? Kamar Bang Dhika mah bukan tempat untuk manusia, Pak. Lebih mirip kandang binatang, mana ada peliharaannya," sahut Kanaya seraya menunjukan kegeliannya.
"Kamu takut sama peliharaannya Abang kamu? Emang binatang apa?" tanya Adhi yang pikirannya tak sejalan dengan Kanaya.
"Lebih ngeri sama nyeremin dari Kadal atau Buaya Darat pokoknya Pak," jawab Kanaya.
"Loh?"
"Udah, gak usah dipikirin Pak," tandas Kanaya dan berlalu untuk mengambil kipas, lalu membawanya masuk ke kamarnya.
Sementara Adhi menjaga jarak dari kamar, tak ikut masuk -dia tampak menunggu sesuatu.
Dan dalam hitungan detik selanjutnya terdengar suara gaduh dari dalam kamar gadis itu, seperti benda-benda dilempar dan berjatuhan.
o
o
I
K
L
A
N
o
o
Kira-kira apa yang menjadi alasan sebenarnya dari Pak Adhi yang enggan masuk kamar dan teriakan cetar membahana Kanaya?
Lanjut di bawah ^^
>
>
>
Braakkkk!!
Pintu itu tertutup dengan keras, seiring langkah cepat Kanaya keluar dari Kanaya.
"Pak! Tolong~ itu … itu di dalem ada KECOA!!" ucap Kanaya penuh kengerian dramatis.
Adhi hanya terpaku di tempatnya, tak dapat berbuat banyak untuk melakukan permintaan Mahasiswi/Istrinya. "Maaf Neng, saya juga sependapat sama kamu soal makhluk itu lebih nyeremin dari binatang jadi-jadian yang kamu sebutin," jawab Adhi pelan.
"Hah?"
"Saya takut Kecoa," jelas Adhi lagi.
"Ya Allah~ Pak! Yah … terus kita tidur gimana dong?"
"Mungkin di apartemen saya aja dulu."
"Ribet banget, Pak. Minta usirin aja sama Bapak saya atau Bang Rio," sahut Kanaya.
"Yah~ gak enak dong Neng, masa ngebangunin orang tua tidur."
Hmmm … emang bener sih, gak sopan juga. Tapi tunggu! "Pak, bukan Bapak malu kalo misalnya ketahuan takut sama Kecoa kan?" selidik Kanaya.
"Enggak Neng!" bantah Adhi telak. "Udah, ayo kita jalan."
Kanaya tidak tau, dia menurut saja dan ikut dengan sang Dosen/Suaminya -sepertinya mereka sudah sama buntunya gara-gara Kecoa.
"Eh, tunggu Pak! Saya mau siapin baju salin dulu," pinta Kanaya.
"Ngapain? Kan besok kita kesini lagi, buat ambil barang-barang kamu," sahut Adhi.
"Masa saya balik pake baju sama, mana baju tidur. Nanti aneh, Pak," dalih Kanaya.
Akhirnya Adhi menunggu Mahasiswi/Istrinya itu untuk menyiapkan baju salinnya. Dia mencoba memahami, melihat dari dirinya sendiri yang juga sama-sama memperhatikan betapa pentingnya penampilan saat keluar dari rumah -tampaknya Kanaya juga tak jauh berbeda.
Setelahnya Kanaya kembali dengan menggemblok ransel kecil di punggungnya.
"Udah?" tanya Adhi.
"Iya Pak," jawab Kanaya sembari menunjukkan ranselnya.
Mereka menuju halaman tempat mobil Adhi di parkir. Ugh! Di luar gelap dan dingin. Kira-kira apalagi yang lebih gak enak dari ini?
"Yah!" desah Adhi saat hendak menarik pintu mobilnya.
"Kenapa Pak?"
"Kunci mobil saya."
"Kenapa konci mobilnya?" tanya Kanaya lagi.
"Ada di kamar kamu," jawab Adhi lemas.
"Ya Rabbi~ cobaan apa lagi ini?"
o
o
T
B
C
o
o
Wkwkwk … ada-ada aja emang hal gak terduga. Jadi malam yang panjang buat penganten baru kita deh~
Sabar ya, Neng Kanaya sama Pak Adhi.
Ngomong-ngomong, mereka bakal nemuin hal baru apalagi ya? Soal pribadi mereka masing-masing.
Kira-kira nanti bakal keliatan cocoknya gak, ya?
> > >
Makasih udah baca dan dukungannya^^
Biar aku tambah semangat, ditambah lagi juga dong Jempol sama Komennya ..
Part sebelumnya cendrung berkurang :(
Btw, part selanjutnya lagi aku kerjain.
Tembus 100 LIKE, aku update lagi!!
See you soon~