
Akhirnya setelah molor tuh tanggal bimbingan, hari ini telor mereka pecah juga. Yey! Hari ini mereka bertiga bimbingan pertama!!
Meskipun terpisah karena beda Dosen pembimbingnya, tapi mereka tetap semangat. Apalagi Adel, jangan ditanya ... motivasinya tinggi -mau ketemu Dosen Pembimbing Ganteng Gebetannya.
Tapi .... Sumpah ya~ Dosen giliran ada urusan buat bimbingan gini, susah banget buat ketemu. Eh ... malah sering banget tiba-tiba nongol batang idung nya di luar jam bimbingan. Apa mereka itu punya radar yang mendeteksi mahasiswa/i akhir semester yang rempong mau bimbingan?
Pokoknya mereka gak sabar rasanya di ACC nih skripsi yang masih tahap proposal.
Semangat ya kita~ pejuang skripsi!! Lulus kloter pertama!!
“Nay, dah siap?” tanya Jani yang menjadi teman satu Dosen Pembimbingnya.
“Siap donk!! Bimbingan pertama, ACC ... Lancar terus sampai lulus!!
“Semangat!!” balas Jani berteriak tanpa malu dan pandang tempat.
Padahal mereka lagi ada di tempat foto copy yang ramai -itu karena mereka habis print skripsi nya. Dan tak ayal, teriakan spontan Jani mengundang tanya dan tatap mata pada mereka. Kanaya langsung menarik Anjani.
-
Kanaya, Anjani dan beberapa mahasiswi bimbingannya Bu Andin tampak duduk di lorong-lorong gedung kampus, menunggu dosen tersebut yang saat ini masih mengisi mata kuliah di kelas yang diampunya.
Pukul empat sore, dosen perempuan yang sedang berbadan dua itu keluar dari kelasnya. Satu per satu dari mahasiswi bimbingannya itu mulai menyalimi punggung tangan dosen tersebut, selanjutnya mereka berjalan menuju ruang dosen yang terletak di lantai dua.
-
“Siapa yang mau bimbingan duluan?” tanya dosen wanita itu pada mahasiswi bimbingannya, setelah dia duduk di balik mejanya. Namun semua mahasiswinya masih tampak bergeming, belum ada yang berani untuk maju lebih dulu.
Bu Andin tersenyum tipis, menyadari raut gugup dari mahasiswi bimbingannya. “Jadi bimbingan, gak? Saya pulang nih,” gertak dosen wanita itu.
“Saya Bu.” Anjani bersuara sembari menarik kursi di hadapan Bu Andin, lalu dia menyerahkan print out proposal skripsinya.
Bu Andin mulai memeriksa hasil pekerjaan milik Anjani, halaman demi halaman diteliti olehnya hingga selesai pada halaman terakhir dan menutup lembaran tersebut. “Bagus. Kamu silakan lanjutkan ke Bab selanjutnya.”
Sesi bimbingan kembali berlanjut, setelah Anjani nyatanya satu per satu mahasiswi mulai berebut untuk mendapatkan konsultasi dari sang dosen perihal skripsi mereka lantaran melihat respon baik dari sesi pertama.
Tak terasa waktu terus bergulir hingga memasuki waktu sholat Magrib, jadi sesi bimbingan perlu ditunda sejenak. Kanaya yang belum mendapatkan bimbingan pada skripsinya jadi masih harus menunggu, dia tak mempermasalahkannya sebab dia juga mau menunaikan ibadahnya -begitu juga dengan sang Dosen dan teman bimbingannya yang lain.
Mereka yang tersisa, langsung pergi ke mesjid untuk menunaikan shalat Maghrib. Namun pada akhirnya, mereka tidak kembali ke ruang dosen untuk melanjutkan bimbingan.
Mereka masih menetap di mesjid, mengambil bagian dan sudut ruangan untuk melanjutkan bimbingan di sana.
“Kita bimbingan di sini aja, ya? Saya capek kalo harus balik ke ruang Dosen, apalagi bawa perut gede gini,” ucap Bu Andin setelah mereka selesai sholat Magrib.
Kanaya tersenyum geli mendengar penuturan sang Dosen perihal keluhannya tentang kondisinya yang sedang hamil besar, seketika dia teringat Kakak Sulungnya yang juga sedang hamil -Anindita. Katanya, 'kalau bisa dicopot, dia udah taro tuh perut.'
Atas permintaan Beliau, sesi bimbingan diadakan di mesjid kampus dan sekali lagi itu tak masalah bagi Kanaya, termasuk seorang mahasiswi yang juga belum bimbingan.
Kanaya memperhatikan Bu Andin yang memeriksa lembaran skripsinya, halaman demi halaman terus dibalik oleh Beliau dan langsung berganti ke skripsi mahasiswi satunya. Cepat, itu yang ada dalam benak Kanaya. Hanya butuh sekitar sepuluh menit bagi dosen tersebut untuk memeriksa dua judul skripsi, rentan waktu yang terasa berbeda dari sesi sebelumnya yang memerlukan waktu lebih dari seperempat jam.
Bu Andin mengakhiri sesi bimbingan pada dua mahasiswinya dan segera undur diri hendak pulang, meskipun Kanaya merasa seperti ada yang mengganjal, tapi dia tak dapat mencegah kepulangan dosennya itu.
“Cepet banget gak sih, sesi bimbingan kita di banding sama yang sebelumnya?” ujar Kanaya pada mahasiswi yang bernasib sama dengannya.
“Ah~ gue mah malah bersyukur, gak ada revisi,” jawab mahasiswi tersebut. “Cabut yuk, Nay.” Ajaknya dan beranjak meninggalkan mesjid kampus.
“Ya, duluan aja. Gue sama Anjani,” ucap Kanaya.
-
Kanaya menghampiri Anjani yang sedang duduk di tak jauh dari pelataran masjid.
“Udah selesai, Nay?” Ada keterkejutan dari pertanyaan Jani.
“Udah.”
“Gila. Cepet banget!”
“Iya, kan? Cepet banget.”
“Terus gimana? ACC?”
Kanaya memberikan print out skripsinya, terdapat tulisannya tangan 'lanjut bab selanjutnya' yang terbubuh di halaman depan print out tersebut.
“Asik!! Lancar terus, sampe lulus!!”
Kanaya dan Anjani bertos ria sembari berjalan menuju di gerbang fakultas, disana juga sudah ada Dimas. Sementara Anjani masih harus menunggu, karena tukang ojek Online pesannya belum datang.
“Duluan aja Nay, kesian Dimas kali -dah nungguin dari tadi. Nanti dia ngambek lagi, dianggurin kelamaan,” ujar Jani mengusir Kanaya dengan menggodanya.
“Apaan sih Jan, rese ... Ihhh!! Lagian Dimas sendiri yang bilang biar gue nemenin lo dulu. Tadi lo juga udah nemenin gue bimbingan sampai selesai, padahal lo bisa pulang duluan,” bantah Kanaya.
“Gue kan cuman bilang, kesian Dimas dianggurin. Gak maksa kalo lo tetep kekeh mau nemenin gue sampe ojek dateng,” balas Jani.
“Halah ... Gengsi mu tinggi, Jan.” Kanaya mencubit pinggang Anjani.
“Ih ... Bisa gak, gak pake cubit-cubit. Sakit! Dasar emak-emak!”
“Hahah ... Maaf,” ucap Kanaya tapi dia masih nyubit pinggang Anjani lagi.
Anjani beringsut menjauh dari Kanaya dan menghampiri Dimas.
“Eh ... Sini Jan, jangan jauh-jauh, nanti diculik,” ledek Kanaya.
“Halah ... bilang aja lo gak suka kalo gue mepet-mepet ke Dimas,” goda Anjani. “Jok belakang kosong, Nay. Apa perlu gua duduk situ sambil peluk Dimas?” tambahnya lagi.
“Gue mau cerita, nih,” dalih Kanaya menyembunyikan rasa kikuknya.
Sementara Dimas tampak cuek bebek meskipun ikutan diledek Anjani.
“Cerita apaan?” teriak Anjani dari jarak sekitar tiga meter dengan Kanaya. “Soal temen lo yang gak peka-peka?”
Gosh!!
Kanaya langsung menarik Jani, sebelum mulut frontal nya makin gak ke kontrol.
“Hahahah....” Jani tertawa puas meledek Kanaya. “Nay ... Nay .... Di luar lo malu-malu, padahal di dalamnya mau, kan? Dimas juga lagi, betingkah kayak Kambing Conge', geregetan gue.”
“Udah ya, Jan ... Gue mau cerita nih.”
“Kira-kira Adel apa kabar ya, bimbingannya?”
“Nay, gue kira mah penting pertanyaan loh, ini si Della di khawatirin. Selow aja, udah bahagia dia di sana.”
“Maksud lo, mati?”
“Kanaya, bukan itu maksud gue. Si Della kan lagi sama Dosen Gebetannya -ya, bahagialah dia. Ngulang setahun lagi skripsinya, rela kali dia -asal terus sama Pak Adhi. Toh nanti juga si Della bakal cerita sendiri, tampang dia mah gak tahan kalo gak nge -ghibah semenit."
“Gue cuman memperjelas, Jan. Abis tuh kalian suka ngomong ambigu. Kemarenan si Adel bilang, Pak Adhi itu Dosen Penggoda. Gue celetukin aja -setan.”
“Pikiran lo gak nyantai banget, Nay.”
Kanaya hanya mengangkat bahunya samar.
-
Tak lama, ojek Jani datang. Barulah setelah itu Kanaya dan Dimas pulang.
“Dah, Nay?” Tanya Dimas sebelum dia menjalankan motornya.
“Jalan Dim.”
Hening sesaat selama perjalanan, sebelum Dimas mulai membuka pembicaraan.
“Bimbingan pertama, apa rasa?” tanya Dimas.
“Biasa aja sih, sebelumnya aja gue khawatir bakal revisi. Tapi cepet ternyata, malah kesannya Dosen Pembimbing gue pengen buru-buru khataman aja. Alhamdulillah -nya masih mau bimbingan dan bisa lanjut Bab selanjutnya.”
“Syukur Alhamdulillah, kalo gitu. Semangat ya, Kanaya.”
“Makasih, Dim. Lo juga, semangat. Biar kita bisa wisuda bareng.”
“Pastinya.”
°°°
Sementara itu, atmosfir berbeda dari bimbingan Kanaya dan Anjani tengah dirasakan Adel. Mencekam-Tegang, tak ada yang berani membuka mulut apalagi beradu argumen -semua dibuat bungkam oleh sang Dosen Pembimbing.
Bahkan Adel beberapa kali meneguk air liurnya sendiri, sangking keringnya tenggorokan dia.
Bahkan sebelum dia menyerahkan lembar print out skripsi nya, dia sudah dibuat panas-dingin oleh sang Dosen Pembimbing -lantaran dia datang terlambat. Yang lain sudah berbaris mengantri untuk bimbingan, dia yang datang paling belakang malah cengengesan gak jelas -gimana gak murka coba tuh dosen.
“Lain kali, kalau ada yang baru datang bimbingan setelah saya atau terlambat, gak usah bimbingan -pulang aja!! Kalian yang perlu, tapi malah saya yang nunggu!! Kalian serius gak?!” ultimatum sang Dosen lengkap dengan nada suaranya yang meninggi.
“Dan … buat janji dulu untuk tanggal bimbingannya dengan saya,” tambahnya lagi.
“Maaf, Pak Adhi … kita buat janjinya gimana?”
Pak Adhi menaruh lembar skripsi yang tengah di periksanya. Menopang dagu diantara dua kepalan tangannya, jangan lupakan tatapan tajamnya yang langsung mengarah menatap sang mahasiswi yang bertanya -Adel.
Tetapi Adel tak gentar dengan sepasang mata itu, terlebih itu adalah milik sang Dosen pujaan hatinya. Rasanya lebih seperti dia baru saja dipanah oleh Cupid.
“Kamu punya handphone -W.A, kan?”
Adel mengaguk dengan mata bersinar.
“Dipake. Dan saya mau, tolong dibuat grup.”
“Nomor telepon Bapak? Biar nanti langsung saya masukan ke grup,” ujar Adel lagi.
Pak Adhi mengusap wajahnya, si mahasiswi yang datang terlambat ini … bawel. Dia pusing dengernya.
“Minta sama bagian Administrasi,” jawab Pak Adhi.
Adel mengerutkan keningnya -bingung. Kalau ada orangnya langsung, kenapa repot nanya yang lain?
“Saya gak hafal nomor saya, terus HP saya mati,” aku sang Dosen pada akhirnya.
Gubrak!!
‘Lucu juga nih dosen gebetannya,' batin Adel.
---
Setelah mengantri panjang, akhirnya tiba juga giliran Della bertatap muka dengan sang Dosen Gebetan. Sudah gak sabar buat ACC … Bisa gak ACC dia juga buat jadi pendamping hidup?
Colek boleh kali~
Duh, pengen ngelus itu bewok tipis adu hay~ geli-geli gitu kali ya?
Adel menyusuri setiap garis lekuk wajah sang Dosen, memuja makhluk yang ada di hadapannya itu -yang saat ini tengah serius menatap lembaran skripsi nya.
Dia juga mau donk, di tatap serius gitu … apalagi di ajak ke hubungan serius.
Tuk …
Tanpa Adel sadari, karena sangking asik dia merhatiin wajah sang Dosen -ternyata Pak Adhi telah selesai memeriksa skripsinya.
“Adella ….”
Jantung Adel berdebar bak gendang ditabuh lantaran mendengar namanya disebut sang Dosen pujaan.
“Ya, Pak?”
Pak Adhi menyerahkan lembaran Skripsinya kembali pada sang pemilik.
Bagaimana hasilnya? Akankah Adel lolos di ACC cuma-cuma seperti Kanaya karena dapat bimbingan terakhir.
Let’s see next chapter ~
•
•
•
[TBC]