
Mereka berkendara menuju apartemen Adhi dengan motor milik Pak Haris. Semoga mertuanya itu gak keburu panik pas gak nemuin motornya di rumah, soalnya Adhi cuman nulis pesan di kertas buat jaga-jaga.
Lalu selama di perjalanan, Kanaya merapatkan lengannya memeluk dirinya sendiri. Meskipun tidak berangin, tapi jalan di malam hari dengan pakaian tipis -rasa dinginnya tetap terasa menusuk hingga ke tulang dan Kanaya merasakannya sendiri.
"Pak! Bawa motornya gak bisa lebih cepet? Dingin nih!" protesnya yang dibonceng.
"Yang ada kalau makin cepet jalannya, angin makin kenceng. Lagian udah malam, harus hati-hati," dalih Adhi. "Kamu juga duduknya terlalu ke belakang, jadi angin lewat depan kamu kan. Udah, majuan kamu duduknya!" titahnya.
Kanaya ragu untuk duduk merapatkan diri pada sang Dosen/Suami. Dia masih canggung kalau sampai mereka nempel-nempel.
"Terus kamu jangan pegangan ke belakang, saya yang bawa motornya jadi berasa berat dan gak seimbang bebannya. Kalau bisa, pegangan ke saya," imbuh Adhi.
Kanaya hanya dapat mendengus, Dosen/Suaminya ini sulit dibantah karena ucapannya sering kali benar. Tetapi akhirnya Kanaya tetap menurut dan melingkarkan lengannya di pinggang sang Dosen/Suami.
Dan tiba-tiba saja, dia merasa deg-degan sendiri. Padahal saat berboncengan dengan teman prianya -Adimas, dia biasa aja.
Semoga si Bapak gak ngerasain detak jantung dia yang heboh.
Kanaya kembali mundur sedikit, agar dadanya tidak terlalu menempel pada punggung sang Dosen/Suami. Namun ternyata, gerakannya kentara hingga dia diomeli.
"Neng, jangan goyang-goyang. Nanti kita jatoh!!"
"Maaf Pak."
o o o
Lalu sesampainya di apartemen, Adhi membuka pintunya dengan menekan password. "Ayo masuk Neng," ajak Adhi pada Mahasiswi/Istrinya itu.
Kanaya mengekor di belakang.
'Hah~ dia balik lagi kesini,' benaknya sembari menatap ruang tamu yang menyatu dengan dapur itu.
"Neng!" panggil Adhi lagi seraya menghampiri Kanaya. “Kenapa masih di sini? Kamu gak ngantuk?” tanyanya.
“Enggak, bukan Pak. Saya lagi mikir ... rasanya gak nyangka kalo saya balik ke sini lagi dan jadi istri Bapak sekarang,” jawab Kanaya.
“Kamu mau ma liat-liat dulu,” tawar Adhi. “Barang kali kamu takut nanti kesasar di sini,” candanya.
“Pak ___.” Dia tak meneruskan kalimatnya. “Gak jadi,” lanjutnya buru-buru.
Jadi dimulailah tour malam keliling apartemen Pak Adhi, start nya di dapur yang menyatu dengan ruang tamu dan balkon. Ya~ dia dulu pas pertama kali datang juga cuman di sini aja, gak mana-mana.
Lalu mereka mulai melangkah maju dan menemukan toilet di sebelah dapur.
Selanjutnya ada ruangan yang digunakan sebagai Ruang kerja oleh sang Dosen/Suami, namun sebenarnya itu adalah Kamar kedua.
Kanaya memperhatikan sejenak ruangan tersebut, lemari gantung di sudut ruangan terisi banyak buku. Lalu pandangnya tertuju pada papan tulis kecil yang terdapat penuh tulisan yang dia yakin itu adalah Matematika. Ah~ dia gak paham. Oke, tinggalkan.
Setelahnya mereka menyelusuri lorong hingga ke ujung, di sana ruang untuk mencuci, menjemur, mensetrika dan peralatan bersih-bersih yang sangat lengkap.
Hmmm~ mungkin nanti dia bakal banyak menghabiskan waktunya di sana. Entah kenapa Kanaya bisa merasakan hawa-hawa pekerjaan perempuan rumah tangga.
Dan ruangan yang terakhir, Kamar Utama untuk tidur. Ya Rabbi~ tiba-tiba kok dia jadi deg-degan ya?
Tapi ternyata rasa penasarannya terhadap kamar tidur yang nantinya akan dia tempati –harus tertunda karena ada pintu menghalangi pandangannya, selain itu juga titah sang Dosen/Suaminya.
“Ini toilet dalam, sana masuk –cuci kaki dulu!”
‘Ya ampun~ emang dia abis kemana sih? Di kakinya kagak bakal ada Tele Ayam kok,’ rungut Kanaya tetapi tetap menurutinya.
Setelah Kanaya selesai, gantian Adhi yang masuk ke toilet dan akhirnya dia dapat menuntaskan rasa penasaran.
Kanaya mendorong pintu yang menjadi penghalang menuju Kamar Utama dan masuk, sebuah lukisan kanvas besar bergambar salah satu tokoh Avenngers –Iron Man terpasang di atas tempat tidur. Lalu Kanaya dapat menemukan pernak-pernik lainnya seperti Tameng bersimbol bintang milik Captain America, Action Figure Deadpool dan beberapa Blu Ray Disc Movies.
Setelah puas melihat-lihat, Kanaya duduk bersila di bawah untuk membereskan barang bawaannya.
“Loh, belum tidur?” tanya Adhi yang baru saja masuk.
Kanaya menoleh dan menyunggingkan senyum. “Beresin baju dulu, takut keburu lecek Pak,” jawabnya dan fokus lagi melipat bajunya.
“Kanaya,” panggil Adhi pelan dan terdengar ragu.
“Ya, Pak!” sahut Kanaya seraya menoleh cepat dan secepat itu juga dia melihat ekspresi sang Dosen/Suami yang membuatnya merasa heran dan tak karuan, hingga dia berbalik badan kembali lantaran ragu untuk menatap sang Dosen/Suminya. “Emmm ... ada apa ya, Pak?” tanyanya hati-hati.
“Bisa kita bicara?” pinta Adhi seraya berjalan keluar kamar.
“Ya, Pak,” jawab gadis itu dan mengikuti sang Dosen/Suami yang berjalan ke ruang tengah.
Adhi duduk di sofa, begitu juga dengan Kanaya meski dia menempati sisi ujung hingga ada jarak diantara mereka.
“Ini mengenai pernikahan kita, kamu tau sendiri kalau kita dijodohkan dalam waktu yang singkat dan karena itu tak memiliki waktu untuk saling mengenal diri, apalagi perasaan.” Adhi berbicara pelan dan teratur.
Kanaya mengangguk singkat. Namun sebenarnya, jauh di dalam benaknya timbul pertanyaan. ‘Apa Pak Adhi mau agar mereka saling mengenal satu sama lain? Termasuk untuk menciptakan perasaan.’
“Baik, kamu juga telah sependapat dengan saya.” Adhi menjeda sejenak bicaranya dengan menarik nafas dalam. “Karena kondisi kita yang tak saling kenal sebelumnya, otomatis kita tak pernah tau masa lalu masing-masing.”
Kanaya masih menyimak dan lagi-lagi dia membenarkan ucapan sang Dosen/Suami, meskipun hanya dalam benaknya.
“Sebelumnya kamu pernah tanya dan saya menjawab pertanyaan kamu mengenai, perasaan saya dan alasan saya mau terima pernikahan ini. Lalu sekarang saya mau memberitahu kamu soal masa lalu saya, dan seperti yang kamu tau kalau saya sebelumnya pernah gagal menikah.”
Kanaya masih menunggu sang Dosen/Suami untuk melanjutkan ucapannya, meski perasaannya saat ini tak tenang.
“Sebelumnya saya minta maaf, karena hal ini mungkin akan membuatmu tersinggung.”
Entah kenapa Kanaya mulai merasakan firasat buruk.
“Sejujurnya ... saya masih belum dapat melupakan masa lalu, karena itu saya jadi selalu menunda untuk menikah. Rasa sakit saat itu, terus membekas,” ungkap Adhi terdengar pilu –begitu juga dengan Kanaya yang mendengarnya.
“Ada seorang wanita yang masih saya cintai, dia juga seseorang yang hendak saya nikahi –tapi dia pergi meninggalkan saya. Dan karena alasan itu, saya merasa tidak memiliki cukup ruang di hati saya untuk wanita lain –maaf mengenai itu,” lanjutnya terdengar penuh sesal.
Deg!!
Rasanya Kanaya seperti mendapat tikaman.
Menyakitkan sekali mengetahui kalau suami yang baru dia nikahi, masih belum dapat melupakan wanita dari masa lalunya.
Bolehkah Kanaya menangis? Belum genap sehari pernikahannya, tapi dia sudah patah hati (lagi). Nelangsa banget kisah asmaranya, padahal dia juga memiliki luka sebelumnya dan itu pun belum sembuh.
Keterlaluan!! Setelah mengaku memiliki wanita yang masih tidak bisa dilupakannya, sekarang Bapak Dosen ini meminta pernikahan layaknya suami/istri pada umumnya –seolah tidak terjadi apapun. Memangnya bisa? Kanaya sangat meragukannya, dia sudah terlanjur sakit hati.
“Saya berkata demikian, karena saya takut kamu merasa tidak nyaman dengan sikap saya kedepannya. Sedikit banyaknya perasaan saya yang saat ini -yang masih memiliki perasaan pada wanita lain, mungkin akan mempengaruhi sikap saya ke kamu yang tak dapat melimpahkan kasih sayang seutuhnya.”
Meskipun omongannya benar –soal hubungan masa lalu dan kasih sayang, Kanaya enggan mengakuinya. Toh sebelum pernikahan mereka pun, Kanaya juga pernah merasa tak nyaman dengan sikap masa bodo-cuek sang Dosen.
Tapi ini ... Ya Rabbi~ Pak Adhi!! Mikir gak sih, justru karena Bapak cerita –sekarang mereka jadi sama-sama gak nyaman.
Pengen deh rasanya Kanaya berkata kasar. Emosi banget, sumpah!!
“Lalu soal kewajiban dan hak yang saya bicarakan sebelumnya, saya akan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kamu –secara materiil– sebagai kompesasi tak dapat memberikan kasih sayang yang layak pada istri. Dan hak, saya tak menuntut untuk mendapatkannya –dalam hal memenuhi kebutuhan biologis. Hanya saja, tolong hargai privasi masing-masing. Kamu bisa terima semua hal itu?”
Kanaya tak lantas menjawab, dia masih menimbang-nimbang seraya meredam emosi jiwanya yang sudah sangat berkobar. Namun selanjutnya, kepalanya mendongak dan menatap langsung ke manik mata sang Dosen.
“Saya terima,” jawab Kanaya tegas sembari mengulurkan jabat tangannya.
Mendengar jawaban istri gadisnya, bisa dibilang kalau Adhi terkejut –ditambah reaksi gadis itu yang tak menyiratkan keraguan sedikitpun, malah terkesan menantangnya.
Adhi menyambut jabat tangan Kanaya.
“Baik Pak, saya juga mau kasih tau Bapak … kalau saya juga punya seseorang yang masih saya sukai. Jadi~ mari kita tidak saling libatkan perasaan dan mengganggu privasi masing-masing, seperti yang Bapak katakan. Bapak tolong juga penuhi janji Bapak sendiri, maka saya akan lakukan hal yang sama,” ujar Kanaya berani dan penuh penekanan.
Adhi tak kalah terkejut dengan jawaban sang Mahasiswi/Istrinya. “Loh, gak bisa begitu dong –itu namanya kamu selingkuh,” ujar Adhi menentangnya.
“Kenapa saya jadi selingkuh? Kalo gitu, Bapak juga dong! Malah lebih parah, soalnya Bapak udah mainin perasaan saya!” balas Kanaya tak terima.
Seketika Adhi kehilangan kata, setelah dia mendengar kalimat terakhir sang Mahasiswi/Istrinya. Jujur, ini kali pertama bagi seorang Adhiandra menerima reaksi di luar apa yang telah dia perkirakan seperti ini dari seorang perempuan. Sebab dia pikir, gadis itu akan bermonolog, memaki hingga menangis tersedu –mungkin.
“Ya ... ya, tetap gak bisa disamain. Biarpun saya bilang kalau saya tidak bisa melupakan perasaan masa lalu, tapi itu beda sama kamu yang masih suka dengan pria lain –sedangkan sudah menikah dengan saya. Bagaimana pun, kamu itu salah!”
Entah disadari atau tidak, sekarang Adhi bertingkah kekanak-kanakan -dia tak ingin kalah.
“Terserah Bapak mau bilang saya selingkuh atau apa kek’, intinya sekarang saya capek ngadepin Bapak! Saya mau pulang. Pulangin saya sekarang!” balas Kanaya tak kalah sama kekanak-kanakannya.
“Pulang? Pulang kemana, maksud kamu?” tanya Adhi yang tampaknya sudah buntu.
“Pulang ke rumah orang tua saya.”
Adhi tersentak mendengar jawaban tersebut dan menyebut, “Astagfirullah Neng, kok ngomongnya gitu –Ora ilok, gak baik,” ujarnya mengingatkan.
Lalu setelah Kanaya sadar akan kesalahannya dalam berucap, dia hanya dapat menyesali itu dan menangis di tempat sembari menangkup wajahnya.
Sekali lagi Adhi terkejut dengan reaksi Kanaya dan lantas dia segera menghampirinya seraya merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan memberikan tepukan lembut untuk menenangkannya.
“Ma ... maaf Pak, saya gak maksud ngomong gitu,” ucap Kanaya terbata lantaran tersendat karena tangisnya yang belum dapat dia hentikan.
“Sudah, saya paham kok. Saya juga minta maaf, karena tidak berpikir panjang dan menyakiti perasaan kamu. Tapi saya harap, Eneng percaya sama saya –niat saya cerita itu karena saya ingin memulai hidup baru dengan kamu tanpa ada yang saya sembunyikan,” jelasnya.
Kanaya mengangguk serasa mengusap wajahnya, begitu juga dengan Adhi yang ikut membantu Kanaya menyeka air mata dan membenarkan rambut gadis itu.
“Neng, gak jadi minta pulang kan? Tapi kalau masih gak nyaman, biar nanti saya tidur di kamar sebelah.”
Kanaya menyetujui usulan tersebut, meski tak enak harus ‘mengusir’ sang Dosen/Suami dari kamarnya sendiri. Tapi dia juga tak bisa membohongi perasaannya dan berdebat lebih panjang lagi.
“Ya sudah, ayo masuk kamar dan istirahat,” ajak Adhi. “Emmm ... saya mau ambil alas tidur.”
Setelah pembicaraan panjang itu, mereka kembali ke kamar masing-masing. Mereka tidur perpisah, tapi siapa yang tau apa yang akan waktu perbuat nanti?
o
o
–
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
–
o
o
Kanaya sama Pak Adhi biar akur ya~
● ● ●
Btw, Part ini terinspirasi dari cerita pribadi. Wkwkwk ...
Inget pas aku dkk puyeng ngerjain skripsi dan kita kena sindrom ‘pengennya di Halalin aja’.
Tapi ternyata –kata temen aku yang udah nikah, puyengnya double.
> > >
Pic Denah Made by Me
x x x x
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you ~