
Adhi menyusul Kanaya ke kamar dan dilihatnya sang Istri tengah berbaring miring di ranjang dengan membelakangi pintu hingga dia tak dapat langsung melihat wajah istrinya, tetapi ... pundak gadis itu tampak bergoyang samar –lantas Adhi menghampirinya.
“Neng?” panggil Adhi lembut seraya menyentuh bahu sang Istri dengan tangan kirinya. Tetapi gadis itu bergeming dan tak sedikit pun menoleh, malah Istrinya itu semakin meringkuk dan menyembunyikan diri di balik bantal.
Merasa tak berhasil hanya dengan menunggu, lantas Adhi pindah ke sisi lain dan menarik bantal yang digunakan Istrinya untuk menutupi wajah yang dilinangi air mata.
‘Astagfirullah~ dia membuat Istrinya menangis!’ sentak Adhi dalam benaknya sendiri. Dan seketika, hatinya langsung digelayuti perasaan sakit dan bersalah.
“Ya Allah~ Neng, maafin Mas!” ujar Adhi seraya merengkuh sang Istri dalam pelukannya –lama. Sementara Kanaya masih diam dalam posisinya, namun air matanya semakin deras keluar. “Maafin Mas, Neng,” ucap Adhi untuk kesekian kalinya dan menghujami dengan kecupan di wajah istrinya.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, hingga akhirnya Kanaya sudah lebih tenang dan Adhi melepas pelukannya untuk keluar mengambil minum.
“Diminum dulu, Neng.” Adhi menyerahkan segelas berisi air pada sang Istri dan Kanaya menerimanya, sembari itu ... Adhi membantu memegangi gelas saat istrinya minum. “Mau lagi airnya?” tanya Adhi.
“Enggak Mas, udah ... makasih,” jawab Kanaya singkat dan dia bersandar pada headboard tempat tidur.
“Neng, Mas minta maaf.”
Kanaya terdiam senjenak, sebelum menjawab, “Eneng mau denger dulu penjelasan Mas, sebelum nanti mutusin bakal maafin Mas atau gak,” jawab Kanaya tanpa ekspresi. “Eneng udah terlanjur sakit hati sama Mas dan sekarang juga terus berpikiran buruk soal Mas,” jelasnya. “Jadi apa maksud Mas, kalo Mas udah buat salah sama Mantan Mas itu dan apa hubungannya sama Anaknya itu?!” tuntut Kanaya meminta penjelasan.
“Kesalahan yang Mas maksud itu, gak seperti yang ada dipikiran Eneng ___,” jawab Adhi namun segera dipotong oleh Kanaya.
“Emang aku mikir apa?!” sentak Kanaya. “Mas ada hubungan sama Mantan sampai punya anak di luar nikah, gitu?” tuduh Kanaya.
“Enggak Neng, Astagfirullah. Mas gak seperti itu!”
“Mas sendiri yang bilang, kalo Anak itu seumuran saat Mantan Mas pergi!! Terus kalo bukan anak Mas, kenapa Mas merasa sebersalah itu?!”
Adhi merasa frustrasi dan bingung, bagaimana harus menjelaskan pada Istrinya –karena dia juga tak punya jawaban pasti. Semua itu hanya berasal dari firasatnya saja saat melihat dan memperhatikan sang Mantan, kalau Sukma punya beban yang tak dapat dia utarakan.
“Meskipun Mas gak tau, Ayah dari anak Sukma itu siapa –tapi demi ...,” ucap Adhi dan lagi-lagi Kanaya memotong ucapannya.
“Jangan mengucap sumpah, kalo Mas sendiri gak tau dengan pasti –apa yang sebenarnya terjadi!” peringat Kanaya.
“Terus Mas harus gimana, supaya Eneng percaya sama Mas?” erang Adhi. “Mas juga gak punya jawabannya, cuman Sukma yang tau.”
Ada perasaan tak nyaman yang tak merelakan jika Suaminya harus bertemu dengan sang Mantan, tetapi dia sama frustrasinya karena teka-teki tersebut. “Eneng akan ikut Mas buat ketemu sama Mbak Sukma,” jawab Kanaya dan membuat Adhi tercengang.
“Tapi Neng,” tahan Adhi.
“Eneng juga mau denger sendiri jawabannya,” putusnya bulat dan tak mau dibantah.
o o o X o o o
Akhirnya setelah Magrib mereka pergi ke rumah Sukma, meski sebelumnya Kanaya juga sudah dilarang untuk oleh Bude Ratna lantaran tak ingin gadis itu lebih sakit lagi ketika mengetahuinya secara langsung. Tetapi Kanaya bersikeras untuk ikut, sebab dirinya juga tak tenang jika sang Suami pergi sendiri, itu antara kondisi Suaminya yang baru saja mengalami kecelakaan juga hatinya yang tak siapa kalau Suaminya kembali pada sang Mantan.
Lalu sesampainya di rumah Sukma, Adhi diam sejenak sebelum melewati pagar rumah tersebut. Dia memandangi kondisi rumah yang tampak tak jauh berbeda dari beberapa tahun silam, hanya saja sedikit tidak terawat. Dan dia juga tidak menyangka akan kembali ke rumah tersebut bersama sang Istri untuk menjelaskan kesalah pahaman hubungan mereka.
“Neng, apa kita pulang aja?” tanya Adhi dengan ragu.
“Sebenernya apa yang Mas takutin? Kalo Mas gak buat salah, hadapin dengan berani! Jangan karena hubungan masa lalu Mas, jadi ngeganggu hubungan masa depan kita ... kecuali Mas mau sebaliknya,” balas Kanaya.
“Mas cuman gak mau Eneng lebih sakit hati lagi,” tutur Adhi lirih seraya menggenggam tangan sang Istri.
“Apa bedanya sama sakit hati Eneng yang sekarang, Mas? Atau Mas mau ngebiarin hati Eneng perlahan-lahan hancur sampai membusuk dulu, gitu?” balas Kanaya dan melepaskan tangannya dari sang suami dan beralih menepuk-nepuk dadanya.
“Bukan begitu maksud Mas, Neng,” bantah Adhi.
“Eneng ikut ke rumah Mantan Mas bukan karena cuman mau tau kejadian sebenernya atau gak percaya sama Mas, tapi sebaliknya –Eneng masih percaya sama Mas,” jawab Kanaya. “Jadi jangan buat Eneng ragu dan nantinya malah akan benar-benar kehilangan kepercayaan sama Mas,” lanjutnya.
Dan setelah perkataan sang Istri tersebut, kini Adhi lebih percaya diri untuk menghadapi dan menyelesaikan kesalah pahaman pada masa lalunya. Lantas dia memasuki pekarangan rumah tersebut dan mengetuk pintu rumahnya.
“Adhi?!” seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk mereka dan tampak terkejut dengan kedatangannya.
“Iya Bu, ini saya –Adhi. Bu Wanti apa kabar?” jawab Adhi menyapa dan mencium punggung tangan Ibu dari Sukma.
Bu Wanti masih terpaku dan belum menguasai keterkejutannya atas kedatangan Adhi yang merupakan Mantan Calon Menantunya, namun dia tak kalah terkejut ketika mendengar suara dari belakang punggunggnya.
“Siapa yang datang, Bu?” tanya Sukma yang terlihat menggandeng anak perempuannya seraya menghampiri pintu. “Mas Adhi?!” sentaknya tak kalah terkejut.
Akhirnya Adhi dan Kanaya dipersilakan masuk, mereka menempati ruang tamu –sementara Sukma sedang ke belakang untuk mengambil sesuatu yang akan disuguhkan pada tamunya, lalu Ibu Wanti sedang bersama dengan cucunya di kamar. Dan tak lama kembali dengan sebuah nampan yang dibawanya dan berisi air juga kudapan kecil.
“Terima kasih,” ucap Adhi dan minum, lalu menyicipi kue keringnya.
Sementara Kanaya hanya minum seteguk air –dengan sungkan, lantaran terus diperhatikan oleh Mbak Sukma. ‘Huh! Ada sesuatu apa di muka dia?’
Adhi yang juga menyadari kalau Istrinya jadi objek perhatian sang Mantan, dia lantas memperkenalkan Kanaya. “Ini Istri aku, Kanaya,” ucapnya seraya menggenggam tangan sang Istri.
“Jadi Mbak yang kabur pas liat aku di kedai, Istrinya Mas Adhi toh,” sahut Sukma. “Masih muda banget ya, Istrinya Mas,” lanjutnya berkomentar.
Kanaya tak merespon, meski sebenarnya dia tak suka dengan ucapan dari Mbak Sukma. ‘Memang kenapa kalo dia masih muda?’
“Ngomong-ngomong Bapak ke mana? Gak keliatan,” tanya Adhi yang mencoba memulai pembicaraan.
“Mas Adhi ke sini bukan cuman mau tanya soal Bapak doang, kan?” Sukma balik bertanya dengan nada enggan. Namun setelah itu dia tetap menjawabnya, “Bapak udah meninggal, udah beberapa tahun lalu.”
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun,” ucap Adhi dan Kanaya, lalu ikut berbela sungkawa dan mendoakan.
“Maaf, kenapa Bapak bisa meninggal?” tanya Adhi lagi.
“Bapak meninggalkan karena aku, Mas,” jawab Sukma dengan raut wajahnya yang terlihat kaku.
“Apa maksud perkataan kamu itu, Sukma?!” sentak Adhi yang terkejut mendengar penuturan dari Sukma.
Dan tidak jauh berbeda juga dengan Kanaya, tubuhnya sampai menegang saat mendengarnya hingga tak sadar tangannya mencengkram sofa.
‘Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Sukma?’ batin Adhi.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Menurut kalian, Sukma orang yang seperti apa?
Ada kah tanda-tanda bakal jadi bibit wanita jahat alias pelakor?
Terus ... masih kesalkah sama Mas Adhi?
x x x x x
Mohon maaf, aku baru update lagi. 🙏🏻🙏🏻
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~