Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 23 - First Time]



Tidak terasa dua hari itu, cepat sekali berlalu dan hari ini Kanaya akan melakukan bimbingan pertamanya bersama Pak Adhi. Sementara di detik-detik terakhirnya ini, dia masih berjuang untuk menyelesaikan revisiannya dengan telah mengorbankan banyak waktunya –terutama tidur dan santainya.


Bahkan waktu untuk makan dan membersihkan diri, dia lakukan dengan kilat. Lalu dia juga tak membantu sang Ibu, padahal Ibunya sangat baik hati sampai mengantarkan makanan untuknya –Kanaya sungguh merasa berterima kasih sekaligus bersalah. Namun waktu yang tak mungkin dia pangkas adalah saat beribadah, sebisa mungkin dia sholat di awal waktu.


“Bu, doain Naya biar bimbingannya lancar dan gak diomelin sama Dosennya,” ujar Kanaya sebelum berangkat ke Kampus.


“Aamiin,” jawab sang Ibu sembari membelai puncak kepala sang putri. Lalu arah pandang sang Ibu tertuju pada bawaan Kanaya, baik tas ransel maupun jinjingnya. “Itu kenapa banyak banget bawa buku? Bukannya sekarang masih liburan semester?” tanya sang Ibu sedikit prihatin melihat kesusahan putrinya yang membawa bawaan berat.


“Iya Bu, ini tuh buku untuk bimbingan Eneng semua,” jawab Kanaya.


“Yang bener? Subhanallah,” respon Ibu Nurlela sedikit terkejut. “Kok bisa sebanyak itu Neng, bukunya?”


Kanaya tersenyum getir. “Ya~ mau gimana lagi Bu, Dosennya yang mau begitu. Setiap kita ngutip kalimat, kita harus tunjukin bukti bukunya,” jawab Kanaya pasrah.


“Ya Allah~ disabarin aja ya, Neng. Insya Allah, kalo maksudnya baik nanti hasilnya juga baik,” lanjut Bu Nurlela menasehati putrinya.


“Iya Bu, Nay mah nurutin aja. Dosen Naya yang sekarang ini, dia Dosen Pembimbing Adel juga,” jelas Kanaya.


“Oh ... Pak Adhi-Adhi itu?” tanya Ibu Nurlela dan Kanaya terkejut mengetahui hal tersebut.


“Ibu tau Dosennya Naya dari mana?”


“Kemaren, pas Adel maen,” jawab Ibu Nurlela.


Emang dasar si Adel, mulutnya gak bisa banget diem –semua di ghibahin sama dia.


“Katanya Pak Adhi itu orangnya tegas, disiplin, bertanggung jawab, dapat dipercaya dan yang paling penting GANTENG,” imbuh san Ibu lagi.


Hmmm ... yang diceritain itu baiknya semua. Coba aja nanti kalo Ibunya ketemu sama Pak Adhi, kesel sampe pengen getok pake centong sayur kali.


“Bu, Naya jalan dulu ya –udah mau telat soalnya. Assalamualaikum,” pamit Kanaya dan mencium punggung tangan sang Ibu.


“Iya, Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya, Nak. Biar lancar juga bimbingannya,” balas Ibu Nurlela dan tak lupa mendoakan anaknya. “Eh Neng, naik apa ke sana? Udah pesan Ojek belum?” tanyanya ketika teringat bawaan anaknya yang berat.


“Gak perlu Bu, ini Naya diantar sama Dimas kok,” jawab Kanaya yang tak mampu menutupi senyum senangnya.


“Oh begitu, syukur deh kalo ada yang antar kamu,” jawab Ibu Nurlela kini tampak tenang.


“Iya Bu, Alhamdulillah~ Padahal Dimas juga lagi ngerjain skripsi, tapi bela-belain nganter Naya,” ucap Kanaya masih senang dan bersemangat.


“Dasar kamu ini, kalau begitu mah namanya minta tolong tapi gak liat situasi dulu terus jadinya malah ngerepotin. Jangan gitu Nay, gak baik,” nasihat sang Ibu.


Oww! Kanaya lupa kalau Ibunya saat ini tidak tahu kalau dia memiliki hubungan spesial lebih dari sekedar teman dengan tetangga mereka itu.


“Iya, tenang aja Bu, Naya nanti juga bakal bantu Dimas kok,” jawab Kanaya lalu dia teringat kembali harus pergi karena ponselnya berdenting dari pesan yang dikirim Adimas. “Bu, Naya jalan sekarang ya~ Assalamualaikum!”


◦◦◦


Adimas bukan saja mengantarnya ke kampus, tetapi sampai ke Ruang Dosen tempatnya akan bimbingan –bahkan Adimas turut membawakan buku-bukunya.


Ya Rabbi, beruntungnya dia punya pacar perhatian macam Adimas. Sudah begitu, ganteng dan dekat juga –jadi gak repot kalau pas kangen.


“Makasih, Dim. Gue masuk ya~ Doain biar bimbingan gue lancar,” ucap Kanaya.


“Iya, harus dong Nay. Gak tega gue liat lo begadang mulu,” ujar Adimas jujur akan perasaannya dan Kanaya tentu saja tersentuh sampai lupa kalau dia harus segera masuk. “Hee~ malah melamun, buru masuk sana,” ucap Adimas mengingatkan sang pacar sembari mendorongnya untuk masuk ke ruangan. “Semangat dan semoga dapet ACC!!”


Kanaya tersenyum. “Makasih Dim.”


Sementara itu di dalam ruang Dosen atau lebih tepat di sofa tunggu, sudah ada dua orang yang datang dan salah satunya adalah sang sahabat –siapa lagi kalau bukan Adel. Bisa Kanaya tebak dengan seratus persen keyakinan, kalau Adel datang pertama.


“Udah mulai belum bimbingannya?” tanya Kanaya sedikit cemas pada Adel sembari duduk di sebelah temannya itu.


“Belum, ini kan masih ada lima belas menitan sebelum mulai. Pak Adhi itu orangnya on time banget, dia gak bakal mulai bimbingan sebelum waktunya,” jawab Adel.


“Hi, Syifa ya?” sapa Kanaya pada seorang mahasiswi yang juga menunggu.


“Iya,” jawab mahasiswi berhijab itu ramah.


“Saya Kanaya, mahasiswi bimbingan baru. Salam kenal ya, Mbak Syifa,” ucap Kanaya memperkenalkan dirinya.


“Iya, salam kenal juga Mbak Kanaya,” jawab Syifa. “Oh ya, mending Mbak Kanaya setor muka dulu sama Pak Adhi,” imbuhnya.


Kanaya tampak bingung. “Kenapa emangnya? Harus ya begitu?”


“Iya, biar lo gak dikira telat sama doi,” sahut Adel.


Kanaya beranjak dari duduknya yang bahkan baru saja menempel dan segera menghampiri Pak Adhi di mejanya.


“Assalamualaikum, selamat sore Pak,” sapa Kanaya.


Pak Adhi hanya menoleh sesaat dan menjawab singkat, “ya, Wa’alaikumsalam.” Lalu setelah itu dia menundukkan kepalanya kembali fokus pada kerjaannya. “Kamu tunggu saja sama yang lain,” ucap Pak Adhi lalu melihat arlogi di tangannnya. “Dua belas menit lagi baru bimbingan,” beritahunya.


“Baik Pak,” jawan Kanaya dan undur diri.


Setelahnya Kanaya mengambil ponsel dan melihat jam pada layarnya.


Ya ampun!! Benar-benar dua belas menit lagi sebelum pukul empat sore. Dia gak paham dah sama jalan pikiran Pak Adhi. Padahal mahasiswa bimbingannya udah ada yang datang, kenapa gak mulai aja dengan yang ada –biar lebih mempersingkat waktu?


Dan dua belas menit kemudian, Kanaya melihat Pak Adhi beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka. Wah~ Kanaya benar-benar takjub dengan manajemen waktu Pak Adhi, meskipun tak tahu apa tujuannya.


Namun Kanaya cemas akan satu hal, yaitu seorang mahasiswa yang seharusnya ikut bimbingan hari ini belum datang juga. Padahal bimbingan sudah dimulai, biarpun masih orang pertama –si Adel.


Apa mahasiswa itu nanti akan diusir oleh Pak Adhi karena terlambat atau dia sudah sadar lebih dulu dan putar balik?


Kanaya terus memperhatikan jam pada ponselnya, sementara saat ini sudah orang ke dua yang bimbingan dan mahasiswa terakhir belum datang. Seperti dia tidak jadi bimbingan –pikir Kanaya menyayangkan hal tersebut.


“Mbak Kanaya,” panggil Pak Adhi.


“Ya Pak?!” sahut Kanaya sedikit tersentak karena tiba-tiba namanya dipanggil.


“Sudah siap bimbingan?” tanya Pak Adhi.


“Iya, sudah Pak,” jawab Kanaya kikuk.


“Baik, bawa kemari revisian kamu dan juga referensinya,” titah Pak Adhi dan berjalan menuju mejanya.


Kanaya mengikuti sembari membawa Proposal Skripsi dan buku-bukunya kepada Pak Adhi, lalu beliau tampak memeriksa hasil revisiannya.


“Permisi.”


Seorang mahasiswa dengan peluh dan nafas terengah-engah baru saja masuk ke ruang dosen dan tatapan beberapa orang langsung tertuju padanya, termasuk kami yang sedang bimbingan. Mahasiswa itu tampak melihat ke arah Pak Adhi.


Jangan bilang dia si Ravino?


Woohhh~ Dia kesini!!


“Selamat sore Pak, saya Ravino. Maaf saya terlambat, karena ada halangan saat di jalan.”


Pak Adhi hanya mendehem namun perhatiannya masih tertuju pada lembar revisian Kanaya. Sementara Kanaya sendiri, pikiran negatifnya pada Pak Adhi mulai berkembang menjadi kekesalan.


Juteknya nih dosen! Nyaut kek, elah.


“Sebelumnya saya sudah kirim kabar ke Bapak personal chat What’sup,” lanjut Ravino.


“Begitu?” respon Pak Adhi tak kalah singkat. Lalu dia tampak mengeluarkan ponsel dari saku celananya. “Berapa nomormu, Mas?” tanya Pak Adhi.


Ravino menyebutkan nomor What’sup nya.


“Kamu kirim pesan jam 15.23 dan bilang kalau ban motor kamu bocor?” tanya Pak Adhi setelah memperhatikan layar ponselnya beberapa saat.


“Iya Pak,” jawan Ravino penuh antusias.


“Baik, kamu tunggu –nanti kamu bimbingan setelah Mbak ini,” ucap Pak Adhi.


“Terima kasih, Pak.”


“Sama-sama,” jawab Pak Adhi dan kembali fokus pada revisian Kanaya.


Tuk ... Tuk ...


Pak Adhi mengetuk-ngetukan ponselnya pada meja sebelum beliau menaruhnya. “Ada apa Mbak Kanaya? Ada yang salah?” tanya terdengar risih.


Ups! Sepertinya Kanaya ketahuan kalau dia memperhatikan dosen tersebut.


“Kamu kira saya orangnya otoriter dan tanpa alasan main menghakimi orang?”


Seratus persen pertanyaan Pak Adhi sama dengan yang Kanaya pikirkan sebelumnya, kini dia merasa malu telah terburu-buru berburuk sangka.


“Saya semata-mata menerapkan aturan seperti itu tidak hanya untuk kedisiplinan, tetapi juga untuk saling menghargai waktu pribadi,” jelas Pak Adhi.


Kanaya tak bersuara, hanya kepalanya mengangguk. Sekarang dia sudah cukup paham, juga tatapannya kini berubah kagum.


Ya Rabbi, mungkinkan waktunya menjadi seperti Adel itu tiba? Gampangan banget gak sih, kalau terpesona secepat ini? Tapi gaya dan kepribadian Pak Adhi memang keren sih, menurut Kanaya sekarang. Beliau tegas tetapi tetap fleksible.


“Mbak Kanaya,” panggil Pak Adhi dan tatapan mereka bertemu.


Kanaya berdebar.


Oh My God! Ini bukan dia baru saja kesem-sem model Adel sama nih dosen, kan? Dia punya pacar, woy!


“Bisa kita lanjut bimbingannya?” tanya Pak Adhi.


“Iya Pak.”


“Harap fokus ya,” pinta Pak Adhi. “Tapi bukan ke muka saya, loh. Meskipun sebenarnya saya sudah sering mendapat tatapan seperti itu, tetapi masih belum terbiasa. Jadi harap kagumi sewajarnya saja, mengerti?”


Kanaya hanya menggangguk dan tersenyum kecil, biarpun dalam benaknya dia mendelik-hujat sang Dosen yang masih awet narsisnya.


“Baik! Bab Satu kamu sudah cukup baik, atau bisa dibilang BAIK dan saya cukup senang karena kamu dapat menyelesaikannya meskipun ini baru beberapa hari dari pertemuan saat konsultasi,” ucap Pak Adhi dan penanya mencontreng Bab Satu Kanaya. “Karena biasanya mahasiswa perlu beberapa kali pertemuan untuk dapat merampung satu Bab, tapi sepertinya kamu dapat memahami apa yang saya maksud dari pertemuan terakhir tentang apa yang harus diperhatikan dan diperbaiki,” imbuh Pak Adhi dan menuliskan kata penyejuk hati dan pelipur lara –ACC!


Kanaya tersenyum sumringah, mungkin sangat.


Sesi bimbingan terus berlanjut.


“Untuk Bab Dua, kamu masih perlu ditambah materi. Lalu Bab Tiga pada Instrumen Penelitian bagian Pedoman dalam Wawancara; kamu perlu perhatikan materi dan penggunaan bahasa yang akan kamu gunakan saat wawancara. Usahakan setiap pertanyaan yang kamu ajukan menjawab setiap masalah dalam penelitian kamu hingga tidak ada keraguan. Selebihnya sudah bagus dan penulisannya juga lebih rapi,” jelas Pak Adhi lalu kembali membuka Bab Pertama. “Selanjutnya saya akan periksa referensi kamu, silakan keluarkan buku-buku ataupun sumber kutipan kamu.”


Kanaya mulai mengeluarkan buku dan setumpuk kertas dari dalam ranselnya yang cukup banyak, namun tampaknya Pak Adhi tidak terkejut –soalah seperti sudah biasa melihat pemandangan tersebut.


“Pak, ini belum semua buku dan sumber kutipan saya bawa. Soalnya beberapa buku saya dapat pinjam dari teman dan belum sempat melampirkan bukti fisiknya,” jelas Kanaya.


“Tidak masalah, nanti bisa dicek kembali pada pertemuan berikutnya,” jawab Pak Adhi dan membuat Kanaya tenang sekaligus senang.


Pak Adhi membacakan Nama Penulis, Tahun Terbit dan Halaman yang Dikutip. Sementara Kanaya memegang buku yang di maksud dan menunjukan kalimat yang dia kutip, selanjutnya Pak Adhi memberikan contreng setelah sumber kutipan terklarifikasi.


“Baik, bimbingan kamu hari ini sudah selesai. Kalau kamu tetap mempertahankan kinerja kamu seperti ini, mungkin kamu bisa mengejar mahasiswa bimbingan saya yang lain dan selanjutnya segera melakukan penelitian di lokasi tujuan kamu,” ucap Pak Adhi dan menimbulkan keoptimisan bagi Kanaya.


“Terima kasih Pak, akan saya usahakan,” jawabnya mantap dan penuh semangat.


Kanaya merapikan semua barang bawaannya untuk bersiap pulang biarpun harus menunggu satu orang dulu. Sementara Pak Adhi tengah mengisi Lembar Asistensi sebagai laporan telah melakukan bimbingan hari ini.


“Sebenarnya saya sempat ragu, saat kamu ikut absen untuk bimbingan hari ini. Saya kira kamu cuman nafsu saja, lalu nantinya juga akan mundur. Tetapi ternyata, kamu ___.” Pak Adhi membubuhkan tanda tangannya pada baris pertama yang telah dia isi dengan keterangan REVISI BAB I, II dan III setelah Seminar Proposal – ACC BAB I. “Selamat ya Mbak Kanaya, ini pencapaian terbaik dari mahasiswa bimbingan saya yang lain selama ini.”


Kali ini rasanya Kanaya senang bukan main, bahkan rasanya melebihi senang saat dia dapat ACC cuma-Cuma saat bimbingan pertama dengan Bu Andin. Bimbingan dengan Pak Adhi, biarpun awalnya dia gondok setengah mati karena kerjaannya di komentari habis-habisan. Tetapi kini dia mengerti dengan alasan dari perlakuan Pak Adhi, malah rasanya, kini dia seperti dihargai.


“Terima kasih Pak, sudah mengarahkan saya dengan jelas. Tapi sebenarnya, alasan saya bisa menyesaikan sebaik ini bukan karena usaha saya sendiri –beberapa teman saya membantu dan memberi saran. Selain itu, bukan juga atas keinginan saya untuk mendaftar bimbingan skripsi hari –itu Adel yang menambahkan nama saya,” terang Kanaya.


“Ya~ terlepas dorongan positif dari orang-orang sekitar kamu, diri kamu sendiri juga memiliki peran. Kalau bukan karena rasa tanggung jawab kamu, mungkin saja kamu sudah mundur,” balas Pak Adhi menyemangati Kanaya kembali.


“Emmm ... mungkin bisa dibilang begitu, tapi sejujurnya saya lebih ke takut diomongin kalau tiba-tiba mundur. Jadi ini saya bela-belain untuk selesai, sampai begadang beberapa hari ini,” jawab Kanaya.


“Menyelesaikan tanggung jawab itu keharusan, tetapi menjaga kesehatan itu kebutuhan,” ucap Pak Adhi sebelum mempersilakan mahasiswi selanjutnya untuk bimbingan.


Kanaya kembali bergabung dengan Adel dan Syifa yang lebih dulu selesai bimbingan di luar ruang dosen, baru setelah Ravino selesai bimbingan mereka bisa pulang.


◦ ◦ ◦


Adimas yang mendapat pesan dari Kanaya kalau sang pacar telah selesai bimbingan, dia langsung bergegas kembali ke ruang dosen.


“Nay!” panggil Adimas sembari menghampiri Kanaya dan Adel yang sedang duduk mengobrol di bangku sepanjang koridor Ruang Dosen, tampaknya teman sebimbingan mereka sudah pulang duluan.


“Cieee~ dijemput pacar!! So sweet!” goda Adel dan mendapatkan cubitan dari Kanaya.


“Gimana bimbingannya?” tanya Adimas.


Kanaya mengambil selembar kertas dari map, itu Lembar Asistensinya dan dia menunjukan pada sang Pacar. “Acc dong!” seru Kanaya.


“Alhamdulillah, gak sia-sia perjuang lo Nay,” balas Adimas tak kalah senang dan mengusap puncak kepala Kanaya.


“Bukan cuman gue, tapi kita. Makasih ya, Dim,” koreksi Kanaya lalu dia mendapatkan cubitan gemas dari Adimas di pipinya.


“Hey!! Mau mesra-mesraan tau tempat dong!” protes Adel. “Lagiankan, bukan cuman Dimas yang bantu lo –gue sama Jani juga. Malah gue yang berperan besar atas kesuksesan dan pujian yang lo terima dari Pak Adhi.”


“Iya Adel yang maunya dibilang cantik, makasih ya,” ucap Kanaya seraya membujuk temannya itu.


Dan tampaknya Adel sangat senang setelah dipuji CANTIK. “Sama-sama, Kanaya cantik pacarnya Dimas ganteng,” balas Adel.


Baik Kanaya maupun Adimas, mereka tak kalah senang dipuji oleh Adel.


“Udah makan belum, Del? Mau gue traktir gak?” tanya Dimas.


“Itu mah enggak ... enggak bakal nolak, Dim!!” jawab Adel semangat. “Makasih Adimas yang paling ganteng.”


“Sama-sama,” ucap Adimas.


Sumpah, kok bisa sih dia punya temen gak tau malu kayak Adel? “Jangan makan banyak-banyak loh, Del!”


“Pacarnya Dimas emang orang yang paling baik,” pujian penuh akal tak henti-henti keluar dari mulut manis Adel demi makanan gratis.


Hah~ sudahlah, gak akan ada yang bisa ngelarang Adel kalau kayak gini.


Cus, kita makan aja!



T


B


C



Bimbingan pertama Kanaya sama Pak Adhi kelar juga. Dan gak nyangka ternyata Pak Adhi menyimpan pesona mematikan.


Gengs, jangan buru-buru menilai seseorang. Kenalan aja dulu, siapa tau nanti berubah –SAYANG! Eaaa~ hahay!


Menurut kalian, nanti siapa yang duluan jatuh cinta?


Kanaya atau Pak Adhi?


Huhuy~


○○○


Nyelesaian Bab ini sampe ngantuk-ngantuk.


>>>


Makasih sudah mampir membaca dan dukung aku ya.


See you next part~