
Kanaya hampir saja kesiangan jika dia tidak dibangunkan oleh Ibunya, bukan salah alarm yang tidak berdering –tetapi dia terlalu mengantuk. Dan saat alarm berbunyi, dia hanya mematikannya dan kembali tidur dengan dalih –lima menit lagi.
*kayak lagu dangdut deh.
Namun lima menit itu ternyata, dia malah molor lebih dari tiga puluh menit. Percuma saja dia pasang alarm sampai 10 kali dengan jarak lima menit sekali, tetapi antisipasi itu tak mempan sama sekali dengan matanya yang sudah tinggal 5 watt.
Wajar saja pukul dua malam dia baru menutup laptopnya, dan itupun –semua barang masih berserakan di atas ranjangnya. Kebayang tidak, betapa tidak nyamannya dia tidur. Dan semua sekaligus dia rasakan setelah bangun tidur, badannya pegal-pegal dan sakit bagai jadi samsak semalam.
“Nay~ buru!! Itu Dimas udah nunggu!” itu kakak sulungnya –Anindita– yang berteriak.
“Bilang aja, jalan duluan. Aku masih siap-siap,” sahut Kanaya.
Beberapa belas menit kemudian Kanaya keluar dari kamarnya, dengan penampilan sangat amat sederhana, tidak seperti biasanya yang cetar membahana yang lengkap dengan lip matte, eye liner hingga blush on. Lah ini mah boro-boro pake BB Cream, nyisir juga enggak tuh kayaknya –cuman dia empok-empok pake tangan biar gak jigrak tuh rambut.
“Naya jalan dulu ya, Assalamualaikum!”
“Eh ... Nay, sarapan dulu,” ucap Ibu.
“Gak sempet, Bu. Nanti aja di kampus,” sahut Kanaya sambil berlari.
Kanaya masih lanjut berlari hingga keluar dari pekarangan rumahnya dan berniat kembali berlari setelah menutup pintu gerbangnya. Namun karena sangking terburu-burunya, saat berbalik badan dia tidak melihat jika ada orang yang berdiri di belakangnya. Hal itu membuatnya terjatuh.
“Eh! Maaf Nay~ sakit gak? Sini aku bantu.” Sebuah tangan terulur.
Kanaya mendongak. “Dimas?” Dia masih bengong sampai lupa meraih tangan Adimas, hingga Adimas sendiri yang menarik Kanaya untuk berdiri. “Makasih.”
“Dah yuk, buru. Nanti lo telat.” Dimas naik ke motor dan memberikan helm pada Kanaya.
“Dim ... lo nungguin gue?”
“Ya, Iya~ kalo gak, gue gak disini Kanaya.”
“Yah~ maaf ya. Duh, jadi gak enak gue. Kalo lo telat gara-gara nungguin gue,” sesal Kanaya.
“Selow aja, jam pertama gue gak ada dosen.”
“Ihhhh ... enak banget. Emang dasar gue yang sial kali hari ini, Pak Mandor yang ngajar di jam pertama.”
“Ngomong jangan sembarangan, kalo jadi doa gimana?”
“Lah abis, gimana gak sial coba!! Semalam gue lagi ngerjain deadline skripsi, eh ... si Dhika malah bikin rusuh. Nih, jari gue jadi pengkor.” Kanaya menunjutkan jari tangannya yang berbalut kain kasa. “Ngetik juga jadi lelet, bangun kesiangan deh,” dumelnya panjang lebar seakan tak ada putusnya jika Adimas tidak memotongnya.
“Katanya udah telat. Ini mau jalan sekarang atau gue perlu dengerin curhatan lo dulu biar plong?”
“Jalan sekarang.”
“Naik kalo gitu.”
“Siap, Bos,” ucap Kanaya setelah mendaratkan bokongnya di jok motor Adimas dengan nyaman.
“Pegangan, kita ngebut.”
“Eh ... Eh ... Eh ... gak usah,” ucap Kayana buru-buru sembari menepuk bahu Adimas. “Jam segini mah kelas udah mulai, dateng telat sekalian juga sama aja –gak bakal diabsen.”
“Jalan-jalan dulu apa kita?”
“Ya~ gak gitu juga, Dim. Lo mah kebangetan selow nya.”
“Nyarap dulu, gimana? Bubur Ayam Kang Cecep, enak kayaknya. Dan lo belum sarapan pasti.”
“Tau aja loh.”
“Iya. Soalnya tadi denger suara auman perut loh.”
“Dikata gue abis makan singa, apa?”
“Bisa jadi.”
◦◦◦
Kanaya dan Adimas berhenti di dekat sebuah gerobak bercat Hijau, itu adalah milik Kang Cecep –tukang Bubur Ayam keliling langganan mereka sejak jaman sekolah.
“Yahhh ... rame kayaknya, Dim,” ujar Kanaya celingak-celinguk mencari bangku kosong.
“Eh~ ada Den Dimas sama Neng Naya, kumaha kabar na? Damang?” sapa Kang Cecep pada mereka.
*(Bagaimana kabarnya? Sehat?)
“Alhamdulillah Kang, sehat,” jawab Kanaya.
“Mangga calik.”
*(Silakan duduk)
“Iya Kang,” jawab Kanaya sebelum menoleh pada Adimas yang masih betah duduk di jok motornya.
“Lo aja yang duduk sana, gue mah gampang –duduk di jok motor juga bisa,” ujar Adimas.
Kanaya menuruti Adimas dan duduk di bangku kosong yang terletak di pojok.
“Kang Cecep, Buburnya bikinin satu aja buat Naya.”
Adimas bengong, dia tidak paham ucapan Kang Cecep yang pakai bahasa Sunda. Yang dia paham cuman kata ‘hente’ yang artinya Enggak.
“Den Dimas enggak mau makan Bubur Ayam juga?” ulang Kang Cecep.
‘Kayaknya, artinya lebih panjang deh,’ gumam Adimas. “Enggak Kang, tadi saya udah sarapan di rumah –masih kenyang,” jawab Adimas.
Kurang dari tiga menit, semangkuk Bubur Ayam panas sudah berada di tangan Kanaya. “Nuhun Kang Cecep,” ucap Kanaya setelah menerima Buburnya.
*(Makasih)
“Sami-sami Neng,” balas Kang Cecep.
*(Sama-sama)
Kanaya mengaduk semangkuk Bubur Ayam yang penuh dengan isian itu, mulai dari Kerupuk, Kacang Kedelai, Suiran Ayam, Potongan Cakwe yang ditambah taburan Bawang Goreng dan irisan Daun Seledri –serta Sambal Rawit dan Kecap Manis sebagai penguat cita rasa.
Kanaya menyuap sesendok Bubur Ayam ke dalam gua mulutnya, nyicip rasa apakah sudah pas di lidahnya.
Heumm ... Bubur Ayam Kang Cecep emang mantap, apalagi kalau pedes. Kanaya beranjak bangun, menghampiri gerobak Kang Cecep untuk menambah sambal lagi.
“Eh ... Dim, lo gak makan?” tanya Kanaya pada Dimas yang malah sibuk main HP.
“Katanya udah sarapan di rumah, Neng,” timpal Neng Naya.
“Yah ~ lo gimana sih? Padahal kan lo yang ngajakin gue kesini, malah lo gak makan!!” seru Kanaya. “Gak aci!! Lo juga kudu-harus-mesti makan! Sayang loh, padahal enak banget Buburnya,” paksa Kanaya.
“Gue masih kenyang, Nay,” tolak Adimas. Kanaya menyipit memandang Adimas. “Serius-suer-sumpah!”
“Sesuap aja, kalo gitu.” Kanaya masih maksa. Dia mulai menyendokan sesuap Bubur Ayam pada Adimas. “Aaaaa~ buka mulutnya,” titah Kanaya.
“Sini biar gue makan sendiri.”
“Udah! Tinggal buka mulut aja repot.” Kanaya yang ngotot dan Adimas cuman bisa pasrah membuka mulutnya hingga sesuap Bubur Ayam berhasil masuk dan menyalurkan rasa yang dulu pernah ada. #what
“Enak kan?” tanya Kanaya.
“Pengen lagi Nay,” pinta Adimas.
“Yeh ... ini punya gue. Kalo mau pesen sendiri,” tolak Kanaya –enggan menyuapi Buburnya lagi pada Adimas.
“Dikit doang, Nay. Kalo gue pesen semangkok mah kebanyakan.”
“Ya tinggal pesen setengah aja, kok dibikin repot,” balas Kanaya pada Adimas. “Bisa kan Kang, setengah porsi aja?” tanya Kanaya pada Kang Cecep. “Kang?” panggil Kanaya lagi. “Kang Cecep kenapa?”
“Eleuh-eleuh ... Neng Naya sama Den Dimas, meuni romantis pisan, euy!! Kos FTV yang suka Akang tonton,” ucap Kang Cecep.
Eh?
Blush ....
Kanaya rasanya baru saja merasakan pipinya memanas.
Emang iya? Dia sama Adimas, tadi itu romantis?
Uuuuu~
Lutut Kanaya jadi ikutan lemas kalau membayangkannya.
Berbeda dengan Dimas yang sama sekali hampir tidak bisa bahasa Sunda, dia biasa aja.
>>>>
TBC
>>>>
Aku mesem-mesem sendiri pas ngetik part Dimas-Naya. Jiwa joms –ku menggila!!
*ngarep punya BF model Adimas yang perhatian ...
But, Dosen pembimbing ganteng gebetan –nya Della belom nongol nih.
Siapa yang nunggu Pak Adhi si Bujang Lapuk –nya Bu Ranti. Hihihi ..
***
PS :
Bahasa Sunda ku tuh amburadul, itu juga pake kamus & translate ... hohoh ...
Hapunten nya’ Maklum, anak rantau –yang jarang pulang kampung .. gede di kota abdi mah ...
Gombal ala IFA –inspired by Adimas yang kangen makan Bubur Ayam
“Dia adalah rasanya yang pernah ada, kalau kamu ... kamu adalah rasa yang selalu ada.”
Wkwkkwkwk ....
See you~