
Kanaya tidak menyadari jika waktu akan secepat itu berlalu, saat ini hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum.... Ah~ dia tak ingin mengatakannya, sebab dari penampilannya yang telah bertransformasi –bahkan hampir tak dapat dikenali. Meskipun hanya bagian wajah saja, karena dia sedang di dandani.
Lalu sisanya seperti menata rambut atau baju, belum sempat diurus. Emmm ... mungkin satu hal, dia tampak lebih langsing karena memakai korset untuk lapisan kebayanya. Meski rasanya sedikit sesak!!
Tapi biarpun begitu ... Kanaya sampai berpikir, apakah dia baru saja menjalani operasi plastik untuk menjadi Barbie? Tukang make up jaman sekarang, tampaknya mereka bertangan ajaib bin sakti.
Hanya saja ... tak dapat dihitung lagi, berapa banyak foundation yang ditempelkan pada wajahnya. Sampai-sampai dia merasa pori-pori kulitnya tersumbat, kira-kira nanti berapa lama dia membutuhkan waktu untuk membersihkannya?
Bukan saja penampilannya, tetapi dia juga tak dapat mengenali rumah juga kamarnya yang telah di robak habis-habisan dan tertutupi oleh berbagai kain bercorak juga hiasan lainnya –saat dia pulang dari sekolah untuk penelitiannya skripsinya dan setelah itu ke salon seharian.
Ya~ untung saja orangtua dan Dosen yang merangkap menjadi calon suami itu mengijinkannya untuk pergi melakukan penelitian kemarin. Jadi setidaknya dia dapat lebih tenang sekarang untuk menjalani prosesi___. Arrggg!! Dia masih gak bisa ngomong. Demi apa dia hari ini dia ___?
“Anj*r~ ada Badut Ancol nyasar. Asli, muka lo putih banget kayak ditabur tepung,” cerca sebuah suara yang Kanaya sudah tau orangnya.
Kanaya melihat dari lirikan matanya –karena dia tak bisa menoleh, si Dhika yang saat ini sudah rapi mengenakan Batik seragam sedang memperhatikannya. Kanaya mendengus kesal. Tapi memang wajahnya ini terlihat lebih putih, kontras dengan tangannya.
“Lo tau apa sih, Bang ... soal Make Up? Ini tuh banyak tahapannya tau, gak asal nemplokin bedak. Liat aja nanti, hasil bakal CETAR!!” balas Kanaya tak mau kalah.
“Bisa-bisa nanti laki lo, nggak ngenalin. Duh ... konyol kalo sampe kejadian,” ujar Bang Dhika dan tertawa –namun tak berlangsung lama. “Adoww!!” ringisnya akibat sebuah tepakan di punggungnya.
Teh Dita yang telah memakai kebaya –berdiri di belakang Bang Dhika. “Keluar sana lo Dhik, atau lo mau di dandanin juga?” ucap Teh Dita galak.
“Iya, ini gue keluar,” jawab Dhika ciut pada Teh Dita. “Eh ... Nay,” panggilnya lagi. “Itu dada lo pake berapa lapis busa? Jangan kebanyakan, nanti laki lo syok pas liat ukuran aslinya,” imbuh Bang Dhika dan segera kabur secepat kilat –sepertinya dia tau akan seperti apa reaksi Kanaya.
“DHIKAMPRET!!” teriak Kanaya dari bangkunya –tanpa membuat gerakan berlebihan lantaran sadar masih didandani.
‘Huffttt~ sabar Nay, sebentar lagi lo bebas dari Abang gak ada akhlak model dia,’ ucapnya dalam benak berusaha menenangkan diri. Tapi sebelum itu, dia perlu lebih dulu bersabar dengan lamanya proses dandan. ‘Ya Rabbi~ ini kapan kelarnya? Rambut sama kebaya juga belom.’
o o o
Semilir angin dari putaran baling-baling kipas, bagai buaian pengantar tidur bagi Kanaya –belum lagi efek rasa seperti pijatan di kepalanya alih-alih sakit saat rambutnya di tata dengan di pasang konde, Siger Sunda sebagai mahkota, tusuk Kembang Goyang, ronce bunga Melati dan lainnya. Rasanya berat!! Kepalanya seperti membawa bakul.
“Mbak Kanaya,” panggil seorang wanita sang penata rias sembari menepuk bahu polosnya pelan.
Kanaya terhenyak dari tidurnya. “Ya?” tanyanya masih dalam keadaan mengantuk –meskipun dia tak benar-benar tertidur hingga pulas.
“Ayo, kita pake kebayanya,” ucap sang penata rias sembari memegang Kebaya putih dan kain bawahannya.
Kanaya kembali memakai Kebaya nya –setelah sebelumnya sempat dia lepas dengan alasan takut keringetan selama di rias.
Ya~ itu salah satu alasannya, tapi sebenarnya dia merasa risih dengan bahan kebaya dan beberapa payet kalau menempel langsung di kulitnya. Jadi dia melepas kebaya dan bertahan hanya memakai korset sebagai penutup atasnya.
“Ahhh~ cantiknya,” puji sang penata rias. “Tapi Mbak emang udah cantik sih aslinya,” imbuhnya. “Pasti nanti pada pangling deh.”
Kanaya hanya menyunggingkan senyumannya. Dia sendiri puas dengan hasil make over dirinya, meski juga khawatir kalau sampai-sampai dia tak dapat dikenali.
“Saya foto-foto boleh ya, Mbak Kanaya? Buat saya jadiin testimoni di sosmed,” ijin sang Penata rias.
Kali ini Kanaya tersenyum canggung, dia tak cukup yakin kalau fotonya sampai di upload juga ke sosmed. “Emmm ... boleh gak, jangan di upload? Saya malu,” ucap Kanaya.
“Loh~ kenapa malu? Mbak Kanaya cantik kok. Emmm ... kalo gitu, foto before nya gak bakal saya upload,” ucap sang penata rias masih bernegosiasi.
Ya~ dandannya cetar abis sih, mungkin aja gak bakal ada yang ngenalin muka dia setelah didandanin gini. Kanaya berpikir sejenak sebelum menyetujuinya.
“Terima kasih, Mbak,” ucapnya dan mengambil ponsel lalu memotret Kanaya.
o
o
o
Sementara itu di luar, mengalun musik Degung Sunda dan Keluarga dari pihak perempuan sudah bersiap –berbaris di depan pintu gerbang untuk menyambut rombongan mempelai pria.
Adhiandra mengenakan pakaian Adat Pengantin Sunda dengan Blangkon, Beskap putih sebagai atasan, Kain Batik Coklat untuk bawahan dan sepatu selop berwarna senada –yang semakin membuatnya sulit berjalan hingga dia perlu bergerak perlahan. Ya~ itu bukan tanpa alasan, sebelumnya Kain Batik bawahannya itu hampir lepas dan dia juga sempat tersandung.
Poin plusnya adalah ... dia terlihat anggun (?) tidak, kata yang cocok adalah berwibawa dan gagah.
Beberapa rombongan pengantin pria membawa berbagai bingkisan sebagai seserahan, lalu memberikannya pada pihak wanita.
Setelah diterima, Ibu Nurlela mengalungkan untaian Bunga Melati pada Adhi dan mempersilakannya juga rombongan masuk.
Adhi duduk di meja Ijab Qobul, bersama dengan penghulu dan Pak Harisdarma sebagai wali dari mempelai wanita. Lalu setelah hadirin duduk, Prosesi Pernikahan dimulai –dengan diawali membaca lantunan Ayat Suci Al Quran. Dilanjutkan dengan Khotbah Nikah, sebelum masuk ke acara inti.
“Siap Mas Adhi?” tanya sang Penghulu.
Adhi baru menyadarinya, jika saat ini jantungnya tengah berdetak dengan tidak normal –meskipun begitu dia menjawab. “InsyaAllah siap!” jawabnya tegas. Usahanya semalaman berlatih Ijab Qobul, harus sukses.
Penghulu meminta Pak Haris sebagai wali dari mempelai wanita untuk menjabat tangan Adhi sang mempelai pria.
“Saudara Adhiandra Putra Darmawan bin Mahmud Efendi Darmawan Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung perempuan saya Kanaya Cempaka binti Harisdarma Kuswara dengan maskawinnya berupa Emas seberat Tiga koma Dua Puluh Tujuh Gram, Uang Tunai sebesar Tiga Juta Dua Ratus Ribu Rupiah dan Seperangkat Alat Sholat di bayar Kontan,” ucap Pak Haris lugas.
Adhi menghentakkan jabat tangannya. “Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Cempaka Binti Harisdarma Kuswara dengan maskawin tersebut, Kontan!” jawab Adhi dalam sekali tarik hembusan nafas tegas.
“Sah?”
“Sah!” jawab hadirin.
Lalu semua mengucapkan Hamdalah dan berdoa.
Akhirnya Adhi dapat bernafas lega dan tubuhnya kembali relaks.
“Mas Adhi, silakan dijemput istrinya,” ucap sang Penghulu.
Adhi mengangguk, lalu beranjak bangun dan berjalan masuk ke dalam ruangan menuju tempat gadis yang kini telah sah menjadi istrinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Adhi mengetuk pintu beberapa kali sebelum mengucapkan salam dan ijin. “Assalamualaikum, Istriku. Boleh saya masuk?”
“Kyaaaaaaa!!”
Jerit histeris layaknya teriakan penggemar terdengar dari dalam kamar tersebut, hingga membuat Adhi tersentak kaget.
Sementara itu di dalam kamar, Kanaya yang mendengar sapaan sang Suami barunya –dia tak mampu menahan malu juga perasaan meleleh hingga membuat pipinya semakin merah.
“Ciee~ yang udah sah jadi istri. Dipanggil tuh, Neng. Jawab dong –Iya Suamiku,” goda Uwa Entin.
Auh! Rasanya seluruh tubuh Kanaya digelitik hingga dia tak kuasa untuk segera menjawab. “Iya Pak, silakan masuk,” jawab Kanaya.
“Eyyy~ dasar si Eneng!” kesal Uwa Entin.
Kanaya masih duduk mematung di bangkunya saat Pak Adhi masuk ke kamarnya, dia baru berdiri saat sang Dosen Suaminya berdiri di hadapannya –itupun karena didesak Uwa Entin.
“Ini siapa?” tanya Adhi pada sosok perempuan berbalut Kebaya putih di hadapannya.
‘Bang Dhika, lo nyumpahin gue ... jadi kejadian kan,’ rutuk Kanaya dalam benaknya. “Saya ___.”
Adhi tersenyum melihat ekspresi gadis tersebut. “Saya bercanda,” ujarnya riang. “Mbak Kanaya cantiknya kelewatan, saya jadi bingung mau putar balik,” guyonnya.
Bapak ini ngegombal apa maksudnya? Asli garing.
“Heh~ Malah diem aja!! Ayo dibawa istrinya, Mas Adhi. Atau mau langsung ditinggal di kamar berdua,” goda Uwa Entin lagi.
“Iya Wa’,” jawab Adhi lalu mengulurkan tangannya pada Kanaya dan menggandengnya berjalan kembali ke meja Ijab Qobul.
Saat pasangan pengantin baru itu keluar, cahaya dari kamera langsung menerpa mereka –disertai riuh dan tepuk tangan dari hadirin. Mereka duduk di meja Ijab Qobul, lalu Penghulu menyerahkan buku nikah untuk mereka tanda tangani dan menunjukan buku nikahnya.
"Mas nya, boleh sambil dirangkul Mbak nya," arah sang Fotografer.
Dengan kaku, Adhi menyampirkan tangannya di bahu Kanaya.
"Madep sini. Iya. Senyum!!"
Selanjutnya Adhi menyerahkan mahar pada Kanaya dan Kanaya menerimanya, lalu mencium punggung tangan sang Suami. Setelah itu mereka saling memasangkan Cincin Pernikahan di jari manis masing-masing dan kembali menunjukannya. Tentu saja momen tersebut kembali diabadikan.
Setelah dirasa cukup, mereka hendak duduk kembali –namun tidak semudah itu. Apalagi kalau ada permintaan dari hadirin. “Mas~ Dicium dulu Mbak Kanaya, biar afdol!!” ujar Rendra sang adik bungsu -semangat.
Baik Adhi maupun Kanaya sama-sama bingung atas permintaan tersebut, namun penonton belum puas kalau maunya belum dituruti. Dari pada jadi anarkis, akhirnya Adhi turuti. Dia menghampiri Kanaya dan memegang sisi wajah istrinya itu dengan dua tangannya, lalu terdiam sesaat ... dimana dia harus cium?
Bibir?
Ah~ dia tak terlalu berani melangkah sejauh itu.
Pipi?
Hidung?
Mata?
Tatapan Adhi kembali naik ke atas, kali ini –Kening?
Emm ... seharusnya itu jadi tempat yang cocok, tetapi malah ditutupi oleh mahkotanya. Namun selanjutnya dia kembali berpikir – Lebih Aman!
Adhi memajukan wajahnya mendekati Kanaya dan mendaratkan bibirnya pada lapisan perak itu, lalu menjauhkannya setelah beberapa saat.
Riuh dan tepukan dari hadirin kembali terdengar, namun tak sedikit yang kecewa karena berharap lebih.
“Eyyy ... Mas, mana boleh ciumnya gitu –gak nempel kulit. Bukan Skinship itu namanya, gak sah. Ulang!” protes Diandra sang adik.
“Stttt!! Berisik. Itu rahasia kamar,” jawab Adhi dengan gurau. Namun Kanaya malah balik badan –tersipu.
Rangkaian prosesi kembali dilanjutnya, kedua mempelai melakukan sungkeman pada orang tua dan meminta doa restu. Situasi tersebut berlangsung haru, tak heran sampai meneteskan air mata.
Setelah itu, foto dan menikmati hidangan bersama –lalu akhirnya selesai.
o o o
Meskipun acara telah selesai, dua pengantin baru ini belum benar-benar bisa untuk istrirahat. Mereka masih harus berganti pakaian, terutama Kanaya dengan make up hebohnya. Ah~ rebahan pun dia belum sempat, karena terhalang dengan konde.
‘Huhuh ... cepetan kek, dia udah capek banget. Asli!!’ batin Kanaya menjerit.
Tapi ... ngomong-ngomong, kemana Pak Adhi?
o
o
T
B
C
o
o
Tjiee~ yang udah sah!!
Hayo ... yang bacanya sambil mesem-mesem atau mendadak pengen dihalalin, ngaku!!
Btw, gimana nanti Kanaya sama Pak Adhi ya?? Prikitiww~
* * * *
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See You~