Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 53.1]



Akhirnya mereka baru makan setelah sholat Magrib, selain sudah dekat waktunya sebelumnya -juga karena menunggu anggota keluarga yang lain. Dan sekarang semua anggota keluarga Harisdarma sudah berkumpul di meja makan, suasana cukup tenang dengan sesekali percakapan hingga mereka selesai makan dan membereskan meja.


Setelahnya mereka berkumpul di ruang tengah atas permintaan Adhi dan Kanaya yang hendak membagikan oleh-oleh.


"Ya ampun, ini banyak banget bawa oleh-olehnya Nak Adhi. Padahal mah, gak usah dibawain juga gak apa-apa. Berapa duit coba ini? Kalian kan pasti juga masih ada keperluan lainnya, belum lagi repot dan berat bawanya," ucap Ibu Nurlela merasa sungkan.


Adhi tersenyum mendengar ucapan sang Ibu Mertua yang dirasanya familiar dan mulai berpikir, kalau sifat hemat sang Istri itu adalah turunan dari Ibu Mertuanya. "Enggak kok Bu, ini juga Eyang, Bude sama kenalan di sana yang bawain. Kalau gak kita bawa, mereka ngomel," jawab Adhi terdengar pasrah.


"Terima kasih kalau begitu, titip salam juga ya Nak Adhi buat keluargamu di sana yang udah bawain oleh-olehnya," ucap Pak Haris.


"Tapi apa ini gak terlalu banyak Nak Adhi? Untuk keluarga besan apa cukup?" tanya Ibu Nurlela yang khawatir.


"Tenang aja Bu, masih ada -malah lebih dari cukup juga untuk dibagiin ke yang lain," jawab Adhi.


"Iya Bu, semua kebagian jatah kok. Malah ini kalo dibagiin ke tetangga sama temen-temen aku dan Mas -masih ada sisanya," imbuh Kanaya.


Adhi mendelik mendengar kata 'tetangga' dari sang Istri, dia lantas berbisik di telinga gadis itu. "Bilang-bilang kalau kamu mau ke sebelah ya, Neng," peringatnya.


"Ya ampun, Mas~ maksud aku, tetangga di rumah kita juga," balas Kanaya berbisik lalu meniup telinga sang Suami.


Adhi bergidik geli sekaligus malu karena telah salah paham.


"Jangan bilang, kalo bawaan kalian yang segitu banyak isinya cuman oleh-oleh?" tanya Bang Dhika yang curiga karena tadi dia yang mengangkut semua barangnya.


"Iya," jawab Kanaya dengan nada riang. "Kita cuman bawa baju sekoper aja kok," beritahunya.


"Ya ampun, Teh~ kalo bawa oleh-oleh segitu banyak nanti dikira mau buka toko," komentar Sofi.


"Eh, apa dijualin aja kali ya?" tanya Kanaya yang mendapat pencerahan dari sang Adik.


"Neng, kalo amanahnya buat dibagiin -jangan malah kamu jualin," tegur Teh Dita.


Kanaya terkekeh kecil. "Becanda elah, Teh," jawabnya.


Disela-sela obrolan keluarga tersebut, azan Isya berkumandang.


"Udah berhenti, siap-siap sholat!" titah Pak Haris dan beranjak dari duduknya. "Mario, Adhi, sama Dhika -kita ke mesjid," ajak Bapak pada menantu dan putranya. "Neng?" panggilnya kali ini pada Kanaya.


"Ya, Pak?" Kanaya menoleh dan cepat menjawab.


"Jangan ditunda-tunda!" tegur Pak Haris.


"Kenapa Kanaya?" tanya Bang Rio pada Teh Dita yang duduk di sebelahnya, lantaran ketinggalan berita.


"Dia tinggal sholat Ashar tadi," jawab Teh Dita.


"Ihhh~ Nay, udah tau Bapak paling bawel soal sholat -malah kamu lewat pula," komentar Bang Rio.


"Siapa yang ninggalin sholat, sih? Teh Dita nih, fitnah aja," protes Kanaya.


"Dhi, kalau Kanaya susah dibilanginnya -omelin aja, kalau perlu sabet sekalian. Kami gak masalah, lagi pula Kanaya sudah kami titipkan sama kamu," ucap Pak Haris pada Menantunya.


"Iya Pak, saya pasti akan bimbingan Kanaya -tapi sebisa mungkin tanpa perlu kekerasan," jawab Adhi.


"Dhi, kalo dia susah diajak ibadah yang ini -ajak ibadah yang itu aja," ujar Bang Rio bermaksud bergurau, namun berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan oleh anggota keluarga tersebut.


Sebagian besar dari mereka terkejut dengan ucapan Bang Rio, kecuali Kanaya yang masih agak lurus pikiran jadi lumayan lambat nyernanya dan Sofi yang polos tentu tak tau sama sekali.


"Argh!!" ringis Bang Rio karena mendapat cubitan di pinggang dari sang istri.


"Ngomong jangan ngawur!" omel Teh Dita. "Udah, sono buruan sholat -sekalian tobat!" usirnya.


"Heugh!!" tiba-tiba Kanaya cegukan, tetapi selain itu wajahnya juga tampak memerah -sepertinya dia menyadari maksud dari ucapan Kakak Iparnya.


"Hahahahah," tawa Bang Dhika yang melihat ekspresi Kanaya. "Nah, udah konek kayaknya tuh dia. Hayo~ ngebayangin apa lo, Neng?" ledeknya.


'BERBAHAYA!!' ucap Kanaya dalam benak.


O


O


O


Atas permintaan orang tuanya, Kanaya dan Adhi menginap -mengingat hari sudah terlalu malam juga. Lalu pagi ini mereka berencana pulang atau mungkin mampir sebentar ke rumah keluarga Darmawan -itu rencana Kanaya yang ingin sekalian membagikan oleh-oleh.


Namun sebelum berangkat, pasangan itu mampir dulu ke tetangga -tentu saja Adhi menemani sang Istri.


"Assalamualaikum," panggil Kanaya di depan rumah Dimas sembari menjinjing oleh-oleh. "Assalamualaikum, Dimas," panggilnya lagi.


"Gak ada orang kali di rumah, Neng. Udah, oleh-olehnya dititipkan saja. Lagian kasihan Abang kamu kelamaan nunggu," desak Adhi yang tampak ingin segera meninggalkan rumah tersebut.


"Gak mungkin gak ada orang lah, Mas -aku tau kok. Terus biarin aja Bang Dhika nunggu, sampe bosen juga gak masalah -dia mah gak perlu dikasihani kalo segitu doang," jawab Kanaya dengan datar.


Adhi terkejut, punya dendam apa Istrinya dengan sang Abang sampai dia berhati dingin begitu? Tapi di banding hal itu, mau sampai kapan mereka menunggu? "Neng, kamu segitunya pengen ketemu sama mantan?" sinis Adhi.


Kanaya terkejut dengan sikap sang Suami, Suaminya segitu cemburunya apa? "Enggak Mas," jawab Kanaya singkat, tak ingin berdebat.


"Wa'alaikumsalam," jawab suara seorang wanita dari dalam rumah -itu Ibunya Dimas yang membukakan pintu. "Kanaya toh! Apa kabar, Neng?" sambutnya senang dan langsung memberikan pelukan.


"Alhamdulillah, baik. Tante apa kabar juga?" jawab Kanaya dan bertanya balik.


"Alhamdulillah, Tante juga baik," jawab Ibu Dimas. "Kamu lagi main ya, ke rumah Ibumu? Kapan datang?"


"Iya Tante, kemarin sore."


"Iya, katanya mau sekalian silaturahmi sama tetangga di sini," jawab Kanaya mengada-ada.


Adhi mendelik -kapan dia ngomong begitu? Namun dia menurut dan memperkenalkan dirinya -seadanya. Dan sekali lagi, kondisi tangannya yang sedang cedera itu kembali menjadi perhatian -Adhi hanya menjawab seadanya.


"Ngomong-ngomong, apa perlu apa pagi-pagi ke sini? Eh, masuk dulu yuk!" ajak Ibunya Dimas.


"Gak usah Tante, ini kita cuman mau kasih oleh-oleh dan langsung pulang -Bang Dhika juga udah nungguin soalnya.


"Oh begitu. Yah~ sayang banget dong, padahal Tante pengen ngobrol sama Neng Naya. Dimas pasti juga sama, kan kalian udah lama gak main," ucap Ibunya Dimas menyayangkannya.


Adhi diam-diam merasa waspada dengan Ibu dari Mantan Pacar Istrinya, bagaimana tidak? Sebelumnya dia juga mendengar cerita, kalau Kanaya dan teman tetangganya ini sering dipasang-pasangkan oleh Ibu-Ibu warga sini. Dan jangan bilang, Ibunya Dimas ini masih belum nyerah buat nikung menantu kesayangan Bu Ranti.


"Iya Tante, maaf -mungkin lain waktu Naya bakal main lagi ke sini."


"Iya, pasti Tante tunggu kok."


"Kalo gitu kami pamit dul __." Kanaya batin akan pamit, namun langsung dicegah.


"Tante panggilin Dimas sebentar, gak apa-apa kan? Kayaknya dia udah selesai rapi-rapi."


"Eh Tan, gak us --sah." Lagi-lagi Ibunya Dimas keburu pergi.


Sementara Adhi, yang tadi sudah merasa lega karena mereka akan segera pergi dan Kanaya tak bertemu dengan mantannya -kini dia kembali waspada.


"Hi Nay, apa kabar?" sapa seorang pemuda dengan riang.


Berbanding terbalik dengan Adhi yang bermuka masam.


"Hi juga, Dim~ Alhamdulillah, gue baik. Lo sendiri gimana?" balas Kanaya dan hendak menyambut jabat tangan Dimas, tapi tak sampai lantaran tangannya ada yang narik. "Eh?" Kanaya menoleh dan menemukan ___.


WAH~ GAWAT!! SUAMINYA MARAH.


"Alhamdulillah, gue juga baik," jawab Dimas dan segera ditimpali Kanaya.


"Syukurlah, kalo lo juga baik. Itu … gue bawain oleh-oleh dan udah dititip ke Tante, selamat dinikmati ya."


"Iya, makasih Nay," balas Dimas.


"Kalo gitu, gue pamit pula __." Lagi-lagi saat Kanaya hendak pamit pulang, dia kembali dipotong.


"Pak Adhi, apa kabar?" sapa Dimas.


Argggg~ Tidak!! Bisa perang dunia ke tiga ini!!


Adhi tersenyum tipis. "Baik, memangnya kenapa?" balasnya.


Bener-bener nih Suaminya, nanti malah dikira ngajak gelud, kalo jawabnya begitu!! Harus langsung dipisahin.


"Dim, maaf ya~ kita harus pamit sekarang, soalnya Bang Dhika udah nungguin. Dah ya~ salamu'alaikum," ucap Kanaya cepat sembari menggandeng Suaminya untuk pergi.


Sementara Adhi terhanyut dalam pikirannya sendiri, dia merasa perasaannya dan tindakannya saat ini sulit untuk dijelaskan. Seperti ada sesuatu yang berbeda antara sekarang dan dulu -saat dia bertemu dengan pemuda bernama Dimas itu dan Kanaya yang ada di tengah-tengah mereka.


Hah~ tampaknya ini karena dia terlalu lelah setelah menghadapi berbagai hal akhir-akhir ini.


o


o


B


E


R


S


A


M


B


U


N


G


o


o


Coba yang paham, bisa tolong kasih tau ke Pak Adhi -sebenarnya itu perasaan sama tindakan orang pas apa?


\=\=\=\=\=\=\=\=\= O \=\=\=\=\=\=\=\=\=


Makasih udah baca dan dukungannya ^^


*) kasih komen yang banyak dong, biar aku semangat ngetiknya 😘😘


btw, aku udah setengah jalan ngetik untuk part selanjutnya loh~


See you~