
Hari ini Adhi kembali ke kampus, memang tidak untuk langsung mengajar –tetapi dia akan mencari mahasiswa sebagai asistennya dan juga untuk bimbingan skripsi. Namun sebelum itu dia berniat mengunjungi dokter terlebih dahulu untuk konsultasi perihal cedera tangannya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ketukan pintu toilet dari luar membuat Adhi tersadar dari lamunannya yang tengah memandangi pantulan wajahnya yang berbalut krim cukur yang berantakan –di cermin. Ya~ memang sudah beberapa hari ini dia tak bercukur karena hanya di rumah saja dan juga kondisi tangan cederanya. Kali ini dia paksakan untuk bercukur karena hendak keluar, tapi ternyata sulit juga.
“Mas, masih lama?” tanya sang Istri -Kanaya.
Adhi langsung menaruh pisau cukurnya dan lantas membukakan pintu, bagaimanapun dia tak bisa bercukur sendiri –atau resikonya wajahnya akan terluka.
“Loh?” Kanaya memandang heran wajah suaminya. “Masih belum selesai, Mas?”
“Mandi mah udah, Neng. Tinggal cukur aja yang belum.”
“Terus kenapa belum dicukur?” tanya Kanaya lagi.
Adhi hanya mengangkat tangan kanannya sebagai jawaban dan Kanaya paham maksud sang Suami.
“Harus banget ya, Mas –cukuran?” tanya Kanaya.
“Iya lah, masa Mas keluar dengan tampang brewokan gini?”
“Tenang aja, Mas tetap ganteng kok –biar kata ada brewok tipisnya,” lanjutnya menggoda. “Aww!!” rintih Kanaya saat dibalas cubitan di pipinya oleh sang Suami.
“Kamu udah bisa genit-genit, ya,” komentar Adhi.
“Gak apa-apa kan, lagian sama laki sendiri ini –bukan laki orang,” balas Kanaya tak mau kalah.
“Wah~ udah pintar ngejawab juga ya?” timpal Adhi dengan ekspresi kagum yang dibuat-buat. “Siapa yang ngajarin kayak gitu coba?”
“Mas!” jawab Kanaya dengan memasang senyuman kemenangan.
Adhi hanya mampu menghela nafas mendengar jawaban tersebut. “Gak, Mas gak bisa kayak gini. Jadi sekarang Eneng bantuin Mas cukur,” pintanya sedikit memaksa.
“Yakin Mas minta tolong cukurin sama aku?” tanya Kanaya ragu.
“Kalau bukan sama kamu, Mas minta tolong sama siapa lagi?”
“Ke tukang cukur aja.”
“Masih pagi kali, Neng –belum buka tokonya.”
“Ya~ terserah Mas sih kalo maksa aku yang cukurin. Tapi resiko tanggung sendiri,” peringat Kanaya.
“Eneng ngomong kayak gitu, Mas jadi was-was,” ucap Adhi mulai khawatir.
Kanaya hanya memberikan cengingan, lalu mendorong sang Suami untuk masuk kembali ke kamar mandi. “Udah, ayo buruan.”
Mereka berdiri berhadapan di depan wastafel, dengan Kanaya yang naik ke atas bangku kecil agar dapat menjangkau wajah suaminya. Lalu gadis itu memoleskan krim cukur lebih dulu, sebelum mulai menggunakan pisau cukurnya.
“Hati-hati, Neng,” pinta Adhi.
“Iya Mas,” jawab Kanaya dengan nada serius tanpa mengalihkan fokus dari wajah sang Suami.
Sayangnya meski sudah mengerahkan seluruh kemampuan, kesalahan tak luput jua –namanya juga amatir.
“Akhhh!!” ringis Adhi.
“Yah ... Mas, kena ya?” tanya Kanaya terdengar panik.
Tak perlu jawaban, hasilnya sudah terlihat jelas. Pipi Adhi tergores dan mengeluarkan darah yang bercampur dengan krim cukur.
Kanaya yang masih diliputi rasa panik, dia mengambil handuk basah untuk membasuh luka di wajah sang Suami. “Maaf Mas,” sesalnya.
Namun sebelum itu, Adhi lebih dulu menghentikan tangan sang Istri yang hendak membasuh wajahnya. “Gak apa-apa, Neng. Luka kayak gini mah biasa. Udah, lanjutin lagi.
Kanaya masih termenung –dia penuh keraguan untuk melanjutkannya. “Mas yakin?”
“Iya, masa cuman cukur separo. Yang ada malu-maluin nanti.”
Kanaya yang baru sadar dan membayangkannya, dia tersenyum geli. Lalu setelah itu dia kembali melanjutkannya.
o o o o o o o o
Sebelum pergi ke Kampus, mereka lebih dulu mengunjungi Rumah Sakit untuk konsultasi dengan dokter terkait cedera Adhi. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata Adhi masih perlu kurang lebih semingguan lagi –untuk melepas penyangga lengannya. Sayang sekali, padahal dia sudah tidak betah. Tetapi mau bagaimana lagi, begitu kata dokternya –kecuali kalau dia mau ngeyel dan makin parah nantinya.
Lalu setelah urusan di rumah sakit selesai, mereka lanjut ke tujuan berikutnya -kampus. Dan sama seperti saat mereka berangkat ke rumah sakit, begitu juga kali ini mereka menggunakan jasa OjOl Car.
"Coba kalo sebelumnya Mas ngajarin aku ngemudi mobil, kan gak perlu repot-repot kayak gini tiap kali mau pergi," gerutu Kanaya. "Atau kalo Mas ijinkan aku bawa motor," lanjutnya.
"Gak repot kok, Neng. Apalagi sekarang kan udah ada OjOl, tinggal pesan dan nanti langsung diantar ke tujuan," dalih Adhi.
Adhi tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Mulai kambuhnya penyakit istrinya ini yang suka perhitungan soal uang. Lalu dia balik berbisik pada sang Istri. "Tenang aja, Mas gak bakal langsung jatuh miskin cuman karena bayar ongkos OjOl beberapa puluh ribu. Lagian hitung-hitungan berbagi rejeki, Neng."
Kanaya hanya dapat menjawab dengan deheman, lalu dia segera memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajah cemberutnya dari sang Suami. Kenapa sih, susah banget menang tiap kali adu bacot sama suaminya?
Namun Adhi yang sudah hafal gelagat Istrinya itu, tentu dia tau kalau tingkah sang Istri seperti itu -pasti ngambek deh. Yah~ dia bukannya gak paham soal khawatiran Istrinya soal uang, atau dia bermaksud dengan sengaja membuat Istrinya mengambek dengan jawabannya itu. Tapi yang penting sekarang dia harus ngebujuk Istrinya, biar gak ngambek lagi.
"Neng," panggil Adhi seraya mengangkat tangannya hendak meraih wajah sang Istri. Namun dia segera berhenti setelahnya, lantaran teringat tempat mereka sekarang ini bukan di mobil pribadinya.
Ugh! Ya ampun, ternyata dia ngerasain juga minusnya. Dia jadi gak bisa manja-manjaan di mobil dengan sang Istri seperti biasanya. Padahal tadi niatnya dia mau nyuri cium sang Istri, siapa tau luluh. Yah~ jadinya sekarang dia harus cari cara yang lain.
Sebagai gantinya, Adhi meraih tangan sang Istri yang ada di bangku jok dan menggenggamnya. Hal itu lantas membuat sang istri menoleh, berhasil! Seenggaknya dia dapat perhatian Istrinya lagi.
"Doain aja biar Mas cepat sembuh, jadi nanti Mas bisa nyupirin Eneng lagi atau gak, nanti Mas bakal ajarin Eneng ngemudi," bujuk Adhi.
"Aamiin," jawab Kanaya singkat.
Adhi menghela nafas, tampaknya bujuk rayunya belum berhasil sepenuhnya. "Yah~ siapa tau nanti juga bisa liburan ke tempat lain. Ke pantai, misalnya."
"Beneran, Mas?" tanya Kanaya antusias.
Melihat respon baik dari sang Istri, Adhi tak kalah senang. "Iya InsyaAllah, kemaren kan udah main ke daerah pegunungan."
"Ya ampun Mas, makasih!!" Kanaya senang bukan main, dia sampai melompat untuk memeluk tubuh sang suami. Lalu beralih hendak meraih wajah, namun ... dia segera sadar dan berhenti.
Astaghfirullah, hampir aja dia melakukan hal tak senonoh di mobil orang. Kanaya malu bukan main, dia segera menoleh kearah lain wajah dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Tetapi tatapan penuh usil sang Suami tak berhenti menghujaminya.
"Pak, boleh berhenti di sini?" pinta Kanaya pada sang supir OjOl.
"Eh, kan bentar lagi mau sampe ke tujuan?" sang Supir bingung.
"Gak apa-apa Pak, saya ada yang mau dibeli dulu," dalih Kanaya cepat.
Tanpa bertanya lagi, sang Supir langsung menurunkan Kanaya. Sebelum turun dari mobil, Kanaya menyalimi punggung tangan sang Suami. "Dah ya, Mas. Aku duluan, Assalamualaikum," pamitnya dengan segera.
"Ya, wa'alaikumsalam. Hati-hati Neng!" tegur Adhi pada sang Istri yang sembrono.
Kanaya tak lagi menoleh setelah turun, dia langsung menutup pintu mobil tanpa menjawab ucapan terakhir sang suami. Prioritasnya saat ini adalah menyelamatkan harga dirinya yang hampir tenggelam karena malu akan kebodohannya. Selainnya itu juga karena untuk menyembunyikan identitasnya dari warga kampus.
Fyuh~ akhirnya dia selam ... at!!!
"Eh, Nay! Tumben lo dateng pake mobil, dianter siapa?" Sebuah teguran dan tepukan ringan dari seseorang yang dia kenal, sanggup kembali membuat jantungnya yang sudah tenang sebelumya, mendadak berdendang lagi.
"Adel?!" ucapnya Kanaya menyebutkan nama temannya itu.
o
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~