Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 35.2]



Hari berlalu begitu cepat, rasanya Kanaya seperti kekurangan waktu –sebab hanya dalam hitungan jari lagi hari tersebut datang. Dia sudah melakukan wawancara tempo hari, tetapi menyalin kembali rekaman menjadi teks –itu sangat butuh perjuangan. Dan meskipun Kanaya mengusahakan sekuat tenaga untuk menyelesaikan lebih banyak bagian skripsinya, tetap saja hasilnya tak cukup terlihat.


Kanaya memilih rehat sejenak, dia keluar dari kamarnya –meninggalkan laptop dan tumpukan kertas juga buku. Dia pergi melihat langit jingga dari teras rumahnya, menengadahkan kepala ke atas –dan entah kenapa membuatnya menjadi begitu melankolis.


Ting!


Sebuah denting berasal dari saku celana trainingnya berbunyi dan disertai getar, Kanaya merogoh untuk mengambil benda tersebut.


Adimas :


Ngapain Nay? Serius amat ngeliatinnya


Emang di atas ada apa?


Kanaya terpaku sejenak membaca pesan tersebut, lalu menoleh ke sisi lain tubuhnya dan menemukan sosok pengirim pesan tersebut tengah berdiri –menyembulkan kepalanya di pagar pembatas rumah.


“Ngapain? Galau amat Nay keliatannya,” goda Adimas dan tersenyum.


Kanaya menghela nafas dan menghampiri temannya itu. “Lo sendiri ngapain, Dim?”


“Gue? Hmm ... mau keluar, cari jajan,” jawab Dimas. “Mau ikut?” tanyanya mengajak Kanaya.


Kanaya berpikir sebentar, sebelum menyetujuinya dan ikut dengan Dimas –dibonceng motor maticnya.


- - -


Kanaya dan Adimas pergi ke taman, tempat yang sering mereka kunjung dan beberapa orang lainnya dengan berbagai tujuan. Meski beberapa waktu lalu sempat menyimpan sejarah kelam hubungan mereka yang kandas. Tetapi mereka sudah melupakan kejadian di hari itu, ditambah dengan suasana taman yang ramai –entah pagi atau sore baik untuk jalan santai, bermain, nongkrong, olahraga atau mencari jajanan.


Adimas memarkirkan motornya, lalu mereka masuk ke area taman dan mulai berkeliling untuk mencari jajanan. Dia melihat Bakso Tusuk dan tertarik mencobanya, sementara Kanaya masih melihat-lihat. Tetapi tak butuh waktu lama sebelum dia menemukan CiMin alias Aci Mini, dan tentu saja bertabur bubuk cabe yang pekat –tak lupa Es Teh Manis Sachetan dalam plastik menemani perjalanan mereka.


Lelah berjalan, mereka memilih duduk di batu-batu yang tergeletak di sepanjang jalan.


“Gimana skripsi lo?” tanya Adimas sembari menyesap Es nya.


“Masih gue kerjain, tapi tetep aja keliatannya gak abis-abis,” jawab Kanaya merengut. “Lo?”


“Lagi ngumpulin niat,” jawab Adimas setengah-setengah.


“Tumben banget Dim, biasanya lo rajin,” komentar Kanaya.


Adimas tersenyum kikuk sembari menggedikan bahunya. “Tau dah ---.”


“Eh ... tunggu Dim, gue angkat telepon dulu,” potong Kanaya seraya beranjak bangun dan sedikit menjauh. “Ya halo, Assalamualaikum Abi’,” jawab Kanaya melalui sambungan telepon. “Enggak kok Bi’, ada apa?” tanyanya dan mendengarkan perkataan dari Kepsek –tempatnya melakukan penelitian. “Tiga hari? Oh! Iya Bi’, InsyaAllah saya bisa datang.” Sempat berpikir, namun Kanaya memilih menyetujuinya dahulu saat ini. “Iya Bi’ gak apa-apa, nanti Kanaya kabarin lagi. Terima Kasih Abi,” ucap Kanaya sebelum mengakhiri panggilannya.


Kanaya kembali menghampiri Adimas dengan senyum yang tercetak di wajahnya.


“Uuu~ kenapa tuh? Seneng banget. Siapa yang abis telepon?” tanya Adimas.


“Abi,” jawab Kanaya dan duduk di sebelah Adimas.


“Abi Luqman?”


“Iya, tadi Abi kasih kabar katanya –jadwalnya dimajuin, jadi gue bisa observasi penelitian lebih cepet,”


“Alhamdulillah kalo gitu, Nay!” seru Adimas turut merasa senang. “Kapan tuh? Kok bisa?” lanjutnya bertanya.


“Iya, seneng banget gue. Gak Nyangka, gue kira dengan gue ngadain acara –nanti penelitian gue ketunda. Alhamdulillah, malah lancar,” ujarnya semangat. “Tiga hari ke depan, Dim. Kata Abi, sekolah sibuk sama persiapan Ujian anak kelas III. Jadi dari pada nanti gue nunggu lama sampe Ujiannya selesai –kasian, mending di majuiin sekalian,” jelas Kanaya.


Namun berbanding terbalik dengan Kanaya yang sudah kepalang senang, Adimas seperti memikirkan sesuatu –dia tampak sedang menghitung. “Tunggu sebentar deh, Nay,” potongnya. “Kalo tiga hari lagi ... berarti kan, hari ke empat itu___.”


Tanpa perlu Adimas ucapkan lebih lanjut, Kanaya paham apa yang hendak Adimas ucapkan. Sebab hari ke empat itu –––HARI PERNIKAHANNYA!!


Kanaya termenung, dia melipat lutut dan menenggelamkan kepalanya di sana. “Ya Rabbi~ kenapa balik jadi bumerang buat gue sih?!” ujarnya seraya menengadahkan kepala kembali dengan penuh kekecewaan. “Kalau kayak gini, yang ada gue gak bakal lulus tahun ini!” marahnya.


“Hey! Tenang Nay, kalem,” ujar Adimas mencoba menenangkan Kanaya. “Jangan buru-buru pesimis, dipikirin dulu –barang kali lo bisa ambil waktu buat penelitian disela-sela persiapan atau setelah acara.”


Meskipun Adimas telah meyakinkannya, tetapi jika dia telah diliputi emosi –mustahil baginya untuk berpikir jernih. “Apa sekarang, nikah lebih penting dari pada gue nyelesaiin pendidikan? Kok bisa-bisanya orang tua gue mikir buat nikahin gue disaat krisis kayak gini? Terus Pak Adhi, dia kan Dosen dan tau kalo gue juga mahasiswi akhir semester –kenapa dia masih berani buat nikah sama gue? Gak mikir resikonya buat gue, apa?!”


“Stop Nay, udah ya~ mending kita pulang sekang, bentar lagi Magrib,” ajak Adimas membujuknya.


“Gak, gue enggak mau pulang!” tolak Kanaya dan beranjak meninggalkan taman.


“Terus lo mau kemana, Nay?” tanya Adimas sembari mengikutinya.


“Gak tau, pokoknya gue mau pergi aja. Lo, gak usah ikutin gue –pulang sana!” usir Kanaya pada Adimas.


Kanaya terus berjalan dengan langkah cepat, hingga dia lebih dulu meninggalkan area taman –sementara Adimas lebih dulu mengambil motornya yang terparkir.


“Nay!” panggil Adimas sembari mengendarai motornya perlahan di sisi Kanaya. “Naik.”


“Gak, gue bisa jalan sendiri,” tolak Kanaya.


"Gue bukan mau nganter lo pulang, cuman mau ikut lo aja -buat mastiin lo gak kenapa-napa," aku Adimas.


Kanaya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Adimas penuh selidik. "Beneran? Janji?"


"Iya, sumpah!"


Akhirnya Kanaya naik di jok belakang motor Adimas, lalu temannya memberikan helm.


"Udah?" tanya Adimas dan terdengar deheman dari Kanaya. Lalu Adimas kembali menjalankan motornya. "Lo mau gue anter kemana?"


Seperti permintaan Kanaya, jadi mereka hanya berkendara sembari menikmati sepoi angin senja. Lalu saat azan Magrib berkumandang, Adimas menepikan motornya -sebelum kembali bergerak untuk mencari mesjid terdekat.


"Kita sholat dulu, abis kita pulang," ujar Adimas setibanya mereka di sebuah mesjid. "Dan gak ada alasan lagi," imbuhnya penuh penekanan.


Kanaya masih enggan beranjak turun dari motor Adimas. "Gak bisa apa lo bawa gue pergi aja, Dim?" ucap Kanaya tersirat nada memohon dan putus asa.


"Sholat dulu, baru kita ngomong lagi," kilah Adimas.


"Tapi gue lagi dapet," jawab Kanaya polos.


"Hah?" Adimas bingung harus merespon apa. "Ya udah sana ke dalem dulu, seenggaknya lo ambil wudhu buat jernihin pikiran sama cuci muka lo biar gak keliatan kuyu," ujarnya seraya mendorong Kanaya berjalan.


- - -


Sementara menunggu Adimas yang sedang sholat Maghrib berjamaah, Kanaya duduk di pelataran masjid sembari melihat dengan suntuk ke layar ponselnya.


Lalu tiba-tiba sebuah tepukan dari belakang di bahunya, membuat dia tersentak dan segera menoleh.


"Ayo pulang!" ujar Adimas bagai perintah.


"Sebentar lagi boleh gak?" tanya Kanaya.


Adimas menghela nafas. "Ya udah, tapi jangan disini. Gak pantes banget, masa di mesjid."


"Hmm … sekalian, gue juga laper -pengen makan Sate Padang," pinta Kanaya.


"Dikasih Ati, minta Jantung, Ampela, Usus … dasar ngelunjak!"


Kanaya hanya tertawa mendengar ucapan sang teman.


"Pokoknya abis ini, pulang. Gue gak mau jadi tersangka penculikan calon orang," omel Adimas namun tak sepenuhnya demikian.


"Iya," jawab Kanaya menurut.


"Terus … kalo ada masalah, jangan dipendem sendiri. Lo punya banyak orang di sekeliling lo yang peduli, ditambah Dosen yang juga bakal jadi calon suami lo -pasti dia lebih paham. Cerita, tanya pendapat mereka!!" lanjut Adimas yang belum selesai mengomel.


"Iya Dim, iya~ udah kan ngomelin gue nya? Nah ayo, kita makan Sate Padang sekarang!!"


Adimas benar-benar mengajak Kanaya untuk makan Sate Padang, sampai mereka perlu berkeliling untuk menemukan pedagang tersebut.


"Anggep aja ini traktiran terakhir gue sebelum lo nikah, besok-besok kan udah ada yang nafkahin elo," ujar Adimas di saat mereka menunggu pesanan datang.


Kanaya tersenyum skeptis. Memikirkan hal tersebut membuat Kanaya kembali gusar, tetapi dia sudah lelah memperpanjang masalah itu. "Bersedekah mah, gak perlu dibatasin waktu Dim."


"Tau~ tapi nanti gue yang bangkrut."


- - -


Setelahnya Adimas mengantar Kanaya pulang, menunggu temannya itu sampai masuk ke dalam rumah untuk memastikan gadis itu tidak kabur.


"Langsung ngomong, jangan ditunda-tunda." Adimas mengingatkan.


"Iya, bawel!!" balas Kanaya. "Dah, sana lo balik," usirnya.


"Lo duluan, gue ngeri nanti lo puter balik," ucap Adimas.


"Apaan sih, lebay lo," sahut Kanaya sebelum dia masuk. "Makasih ya, Dim." Lalu dia buru-buru menutup pintu gerbangnya.


Sementara Adimas telah kembali ke rumahnya setelah Kanaya menutup pintu gerbang, gadis itu masih disana -mendengarkan deru mesin motor temannya yang perlahan menghilang.


Dia termenung dan hanyut dalam pikirannya sendiri.


Ya Rabbi~ cobaan apa lagi ini?


Apa ini yang namanya ujian sebelum pernikahan??


Kanaya menarik nafas dalam sebelum masuk ke rumahnya dan menghadapi orang tuanya untuk minta ijin pergi di hari pentingnya, termasuk pada sang Dosen yang sebentar lagi jadi suami.


Hah~


Entah dikasih atau enggak, yang penting dia ngomong dulu.


Semangat, Nay!!




T


B


C




Makasih udah baca dan dukungannya~