Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 35.1]



Keesokan harinya setelah waktu zuhur, Pak Adhi dan kedua orang tuanya benar-benar datang ke rumah Kanaya dengan mengendari mobil jenis MPV. Lalu mereka pergi mengunjungi sebuah Butik Baju Pangantin yang merupakan kenalan dari Ibu Ranti, namun saat tiba di lokasi –Adhi enggan untuk masuk.


“Bu, emang gak ada toko lain apa? Kenapa kesini lagi sih?” protes Adhi menahan Ibunya.


“Lah, kamu kan tau sendiri kalau toko Cinta ini baju sama harganya bagus-bagus,” jawab Ibu Ranti. “Udah ayo masuk, jangan bikin yang lain nunggu.”


Adhi menghela nafas, dia berjalan lambat di belakang.


“Kenapa, Pak?” tanya Kanaya yang heran.


“Nanti kamu juga tau," jawab Adhi ketara Bete nya.


Dilihatnya sekali lagi bangunan tersebut, Butik Pengantin Cinta Akika. Adhi geleng-geleng kepala berigidig ngeri lantaran membayangkan sang pemilik toko, doanya –semoga dia gak ketemu orang itu.


“Ya ampyun~ Jeng Ranti!!” ucap seorang pria kaget ketika melihat siapa yang memasuki tokonya. “Duh! Kemenong aja sih, Jeng? Lama gak pernah main tempat eike, jahara,” ucapnya dengan nada merajuk manja.


Doa Adhi tidak terkabul, bahkan dari luar dia bisa dengar rengekan manja si Cinta.


“Ya~ gak ada alasan juga kan saya buat sering-sering ke tempat kamu,” jawab Ibu Ranti datar.


“Ish ... Jeng Ranti nih, maen ke tempat eike mah gak perlu pake alasan segala,” jawab Cinta menepuk pundak Bu Ranti lembut, lalu tatapannya mengarah pada orang-orang di belakang Bu Ranti. “Wah~ Bawa rombongan nih, Jeng? Hoho ... kayaknya bakal panen nih eike,” imbuhnya tertawa malu-malu. “Hayuk-hayuk masuk~ silakan diliat-liat,” ajaknya.


Satu persatu dari mereka masuk ke toko tersebut, termasuk Adhi.


“Mau ada acara apa nih, Jeng?” tanya Cinta.


“Anakku mau nikah,” jawab Bu Ranti singkat.


“Sapose?” tanya Cinta lalu tatapannya tanpa sengaja tertuju pada Kanaya. “Amboy! Cantiknya anak gadis Jeng Ranti,” pujinya.


“Dia calon menantu saya,” koreksi Ibu Ranti.


“Lah, terus sapose? Sisanya pada tuir-tuir,” ujar Cinta tanpa ragu.


“Noh,” tunjuk Bu Ranti pada Adhi yang ngumpet-ngumpet diantara manekin baju.


Cinta mengikuti arah yang ditunjuk Ibu Ranti seraya menghampirinya. “Loh! Mas Adhi, toh!” ujarnya penuh kejut dan tak kalah senang. “Jadi yang mau nyari baju ini Mas Adhi? Mas Adhi mau nikah lagi? Lah, emang satu masih kurang Mas? Sampe nambahnya Daun Muda, cucok!!” tanya Cinta nyerocos bagai kereta tak henti-henti. “Alamak jang!!” teriaknya lantaran punggungnya ditepak oleh Ibu Ranti.


“Jangan sembarangan ngomong ya, kamu,” peringat Ibu Ranti.


Cinta diam seketika. “Maaf Jeng,” sesalnya. “Ya udah, yuk kita cus liat bajunya,” ajaknya.


Beberapa waktu berselang, akhirnya mereka menemukan baju yang cocok baik untuk pasangan pengantin maupun untuk orang tua dan seragam untuk pengiring.


“Makasih ya Jeng, udah belanja di toko eike. Gak sekalian make-up nya? Eike buka jasa rias pengantin juga loh sekarang,” ucap Cinta tak melupakan bisnis barunya.


“Enggak ini aja cukup, terus kayaknya si Adhi gak rela calonnya dipegang sama kamu,” balas Ibu Ranti.


“Ish ... Mas Adhi nih, posesif banget sih sama Mbak Kanaya. Cinta mati ya? Tapi tenang aja kok Mas, bisa kok nanti dirias sama yang lain –kan saya juga punya asisten,” ucap Cinta. “Atau Mas Adhi mau eike yang dandanin?” tanyanya dengan nada centil.


“Ayo, kita pergi –masih ada yang harus dibeli,” ajak Adhi dan tak meladeni ocehan Cinta –dia segera berlari keluar.


Kanaya tertawa di belakang, kini dia tau alasan sang Dosen enggan masuk ke toko tersebut.


° ° °


Setelah semua barang dibeli, mereka kembali ke kediaman Harisdarma untuk mengantar keluarga tersebut. Namun tidak selesai sampai di situ, kedua keluarga tersebut masih perlu mengecek semua kesiapan lainnya -termasuk kembali menghitung anggaran yang terpakai dan tersisa.


Sementara itu, dua insan yang sebentar lagi melangkah ke jenjang pernikahan -mereka tampak duduk bersebelahan dalam diam sembari memandangi langit gelap di teras luar.


Hah~ kalau para orang tua melihat kelakuan mereka, tampaknya akan gemas -karena bukan tanpa alasan dua orang itu diasingkan. Apalagi kalau bukan agar mereka bisa menikmati waktu berdua dan bercengkrama untuk saling mengenal dan mendekatkan diri.


Tapi sekalinya bicara pun, topiknya tak jauh dari status mereka sebagai Dosen dan Mahasiswi.


"Mbak Kanaya, gimana Skripsi nya?" tanya Pak Adhi.


"Ya~ gitu Pak, masih sama dari yang terakhir Bapak liat. Kan Bapak tau sendiri, setelah bimbingan hari itu gimana," jawab Kanaya lesu.


"Hmmm … iya, saya paham kok Mbak Kanaya. Tapi insyaAllah, semua persiapannya sudah selesai dan tinggal menunggu saja. Jadi di sela itu, Mbak Kanaya bisa nyicil dikit-dikit penelitiannya," ucap Pak Adhi.


"Iya Pak, saya rencananya juga gitu. Tadi saya udah tanya ke Kepsek untuk minta waktu wawancaranya, Alhamdulillah … kata Beliau besok bisa," ujar Kanaya mulai semangat.


"Jam berapa kamu ke sekolahnya?"


"Hah? Apa?" tanya Kanaya meragukan pendengarannya.


"Kalau sempat, saya mungkin bisa temani kamu atau sekedar mengantar saja. Soalnya saya besok juga kesini lagi buat bantu-bantu bebenah rumah," kilah Pak Adhi.


"Ya~ kalau kamu gak perlu, gak usah. Saya cuma tanya, barang kali kamu butuh bantuan," balas Pak Adhi cepat mengelak.


Kanaya hanya tersenyum canggung, tapi untung deh kalau si Bapak sadar -jadi Kanaya gak perlu repot-repot nolak.


Lalu sesaat, dia kembali teringat tentang pertanyaan yang terus mengusik benaknya -namun selalu dia tahan. Dan sekarang, dia mencoba memberanikan diri untuk bertanya.


"Pak, boleh saya tanya sesuatu," ujar Kanaya masih ragu-ragu.


"Ya, silakan. Apa itu?"


"Emmmm … gimana ya, ngomongnya?" ujar Kanaya yang bingung untuk memulai. "Saya tau ini topik yang gak enak dibahas, tapi saya penasaran Pak … jadi dari pada saya nebak-nebak sendiri, mending saya tanya langsung kan?" tanyanya.


Pak Adhi tampak mengulas senyum melihat raut wajah sang mahasiswi. "Mbak Kanaya ini kenapa toh? Kalo ada pertanyaan, ya~ silakan ditanya."


"Owh … jadi gini Pak, soal Bapak yang dulu batal menikah," ucap Kanaya dan menjeda kalimatnya. Namun tanpa Kanaya sadari, dalam sekejap senyuman hilang dari wajah sang Dosen. "Bapak paham kan, maksud saya?" tanya Kanaya yang masih belum dapat melontarkan pertanyaan intinya.


Adhi terdiam sejenak, dia mencoba mengerti maksud pertanyaan dari gadis yang akan dinikahinya itu. Tidak, sebenarnya dia sudah tau -kalau lambat laun akan muncul pertanyaan seperti ini. Tetapi entah mengapa, sekarang dia tidak ingin membahasnya. Mungkin karena waktu yang terus bergulir, dia merasa tidak perlu lagi atau momennya sudah lewat.


Adhi mengangkat wajahnya dan menatap Kanaya, memaksakan senyum yang sudah hilang sebelumnya. "Seperti yang Mbak Kanaya bilang sebelumnya, kalau bahas soal mantan itu rasanya pasti gak nyaman. Jadi untuk saat ini, saya belum bisa bilang. Selain juga karena waktunya kurang tepat sekarang, saya gak mau membuat kita nantinya ragu. Bagaimana pun, kita akan memulai lembaran baru -kurang baik rasanya membahas masa lalu saat ini. Ya kan?"


Kanaya setuju dalam diam, tetapi tetap masih ada perasaan mengganjal biarpun sang Dosen sudah berkata seperti itu.


Tangan Adhi beralih ke puncak kepala Kanaya dan menepuk-nepuk lembut, dan kali ini dia tersenyum lebih nyaman. "Tapi tenang aja, tidak ada yang terjadi di masa lalu saya yang dapat merugikan Mbak Kanaya. Kecuali hal itu telah membuat saya membujang lebih lama dan menjadi terlalu matang," imbuh Pak Adhi, namun terdengar desisan dari Kanaya.


"Tua, maksud Bapak?" Koreksi Kanaya tampak meremehkannya.


"Saya kira, saya gak tua-tua amat. Apalagi dengan tampang seperti ini, gak bakal ada yang bisa nebak umur saya," bela Pak Adhi pada diri sendiri.


"Bapak becanda ya? Bapak dipanggil Om sama Sofi," balas Kanaya gamblang.


Adhi terdiam, tampaknya dia terkejut dengan fakta tersebut. Dia bertingkah aneh dengan melirik arlojinya. "Uhh~ udah malam rupanya," ujarnya seraya bangun dari duduk dan masuk ke dalam rumah Kanaya untuk memanggil orang tuanya agar pulang.


° ° °


Akhirnya setelah Pak Adhi dan keluarganya pulang, Kanaya dapat masuk ke kamarnya untuk menyiapkan bahan wawancara penelitiannya besok. Semoga berjalan lancar, meskipun sebenarnya tidak kurang yakin akan segera rampung di sisa waktu sebelum hari mendebarkan baginya.


Ah!!


Kanaya merebahkan diri dengan kasar di tempat tidurnya. Dia masih tidak percaya, kalau dirinya akan segera menikah. Ya ampun~ terlebih itu dengan Dosennya.


Apa coba kata teman-temannya nanti saat dia kembali masuk kuliah??


Sepertinya dia perlu membahasnya dengan sang Dosen, sebab dia tak ingin dirinya tiba-tiba viral setelah liburan semester ini … lantaran menjadi istri dari Dosen di kampusnya.


Ya Rabbi~ banyak banget yang harus dia urus. Belum lagi soal rasa penasarannya yang masih digantung Pak Adhi. Semoga dia gak keburu stress dah.


"Arrggg!!" teriakan syarat akan rasa frustasi itu mengakhiri malam singkat sebelum hari perjuangannya esok.




T


B


C




Ayo Pak Adhi, buru dikelarin kenangan masa lalunya ... Kan sebentar lagi mau mulai lembaran baru.


Kesian Kanaya~


Jangan sampe ada konflik sama mantannya di rumah sebelah.


Kebayang gak sih?


> > >


Makasih udah membaca dan dukungannya ^^


See you~