Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 18.1]



Sekitar setengah jam lebih sebelum waktu janjian dengan Adimas, tetapi Kanaya sudah bertandang ke rumah pacar barunya itu. Uhuk!


Sembari menggemblok tas di punggung yang entah dia isi apa sampai menggelembung begitu dan tak ketinggalan bekal yang dia tenteng dalam tas Tamparware yang tak kalah besar juga berat.


"Assalamualaikum~ Dim! Gue masuk ya," ucap Kanaya mempersilakan dirinya sendiri untuk masuk ke rumah Adimas yang saat ini tampak sepi karena anggota keluarga lainnya sedang pergi ke kota. Ya, keluarga Adimas memang biasa berolahraga setiap weekend di kawasan CFD atau Car Free Day. Mereka hanya olahraga ringan seperti Jogging atau sepedaan, tetapi yang paling utama adalah setelah itu kulineran.


Kanaya duduk di ruang tamu, menunggu dengan anteng. Dan tak lama Adimas keluar dari kamarnya dengan celana training hitam juga kaos putih, sama seperti yang Kanaya kenakan karena mereka sudah janjian. Poin pentingnya, jangan lupakan rambut Adimas yang masih sedikit basah dan mengkilat karena Pomade.


"Dah siap aja, Nay. Bangun jam berapa?" tanya Adimas sembari menghampirinya.


"Abis Subuh," jawab Kanaya lalu terkekeh.


"Ya Ampun, niat banget lo ya Nay. Ini apaan?" tanya Adimas yang melihat banyaknya gembolan Kanaya.


"Ini bekel," tunjuk Kanaya pada tas bertuliskan Tamparware. "Ini semua barang berharga keperluan gue," ucapnya kali ini memeluk tas ranselnya.


"Apalah yang lo bawa Nay? Sampe ngegelembung gitu kayak Nyonya Pup," goda Adimas.


Namun lain dengan Kanaya yang menanggapinya serius dan suka rela menyebutkan barang bawaannya. "Alas duduk, payung, tisu basah-kering, make up, mukena, hand sanitizer, power bank, tongsis …," sebut Kanaya sembari menghitung dengan jarinya dan sepertinya masih banyak lagi yang belum dia sebutkan. Mata Kanaya tampak melihat ke atas, sedang mencoba mengingat.


Adimas mengulurkan tangan untuk mengangkat dua tas itu lalu menimbangnya. "Gue aja yang bawa tas bekel, biar gampang kalo gue nanti mau nyomot makanan," ucap Adimas dan tersenyum. Namun sebenarnya dia memilih setelah dirasa tas bekal lebih berat. "Nanti kalo bekelnya udah abis, gantian lo yang bawa. Adilkan?" imbuhnya.


Kanaya yang tersenyum sumringah lantaran tak dapat menyembunyikan rasa senangnya akibat perhatian sang pacar.


"Jadi kita jalan sekarang? Mau naik motor atau mobil? Atau sekalian mau bawa sepeda?" tanya Adimas.


"Naik mobil lebih luas sama nyantai sih, kalo bisa bawa sepeda lumayan nanti buat keliling gak banyak keluar duit. Tapi nanti bikin macet, jadi malah lebih bagus naik kendaraan umum kalo gitu. Atau Motor aja kali ya, cuman berdua ini," ucap Kanaya panjang lebar tapi masih tak bisa memutuskan pilihan.


"Jadi mau naik apa? tanya Adimas sekali lagi untuk memastikan. "Kita tinggal jalan loh ini, Nay."


"Terserah deh," jawab Kanaya pada akhirnya.


Adimas menghela nafas mendengar jawaban tersebut, yang bagaikan Buah Simalakama bagi kaum Adam.


"Cewek ribet ya? Kadang kita (cowok), gak ngerti kalian (cewek) mau apa," komentar Adimas yang kepalang frustasi dengan mau Kanaya.


"Lah … kan lo yang nawarin, Dim. Gue sih naik apa aja, gak masalah," balas Kanaya tak terima disalahkan karena Adimas yang kasih banyak pilihan dan membuat dia bingung.


Selamat datang di zona, Cewek selalu benar Adimas~


"Oke, kita naik motor aja! Gue ambil jaket sama helm ekstra," putus Adimas dan kembali masuk ke kamarnya.


° ° ° ° °


Adimas dan Kanaya berkendara ke arah Jl. Raya Taman Mini, karena memang ke sana tujuan mereka. Lokasi wisata yang memang mainstream bagi warga Jakarta, tetapi cukup berkesan bagi Kanaya dan sangat luas untuk dijelajah.


Destinasi pertama mereka, Museum Keprajuritan Indonesia. Salah satu spot yang jarang dikunjungi termasuk Kanaya yang bahkan gak pernah ke sana, karena dia juga baru tahu setelah Adimas cerita dan browsing di internet.


Museum Keprajuritan Indonesia ini adalah bangunan layaknya sebuah benteng pertahanan yang dikelilingi perairan semacam danau, karena di lokasi ini juga terdapat dua buah replika kapal yang berlabuh di sana, yaitu Kapal Phinisi dan Kapal Banten yang tentu saja dapat kalian naiki juga jadi spot foto apik.


Tetapi sebelum menuju ke kapal tersebut, kalian perlu melewati jembatan kecil yang lumayan bikin seru karena bergoyang. Dan Kanaya perlu berpegangan pada Adimas karena takut nyemplung ke air.


Setelah menjajakan kaki di dua kapal tersebut, mereka kembali bergerak menuju bangunan utama, Benteng Pertahanan yang merupakan Museum Keprajuritan. Sebelum masuk, Kanaya dan Adimas berfoto dahulu di sepanjang jalan menuju gerbang masuk. Keren~ dengan berlatar belakang Benteng megah.


Namun berbeda saat mereka memasuki bangunan di Benteng tersebut, suasana cukup gelap. Lalu mereka naik ke lantai dua yang menjadi tempat berbagai patung dan diorama perang di Indonesia, juga replika senjata, baju perang dan bendera yang berjajar di sepanjang lorong panjang nan remang-remang gelap karena hanya mengandalkan pencahayaan dari luar melalui jendela yang bahkan masih sangat kurang hingga memunculkan kesan seram layaknya menjelajahi bangunan angker.


Kanaya sampai merapat pada Adimas dan menggenggam lengan pria itu erat. "Dim, buruan dong jalannya. Horor sumpah!" pinta Kanaya yang sudah ketakutan.


Demi apapun, Kanaya beneran takut sampai merinding. Bahkan dia tak mampu mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong yang sebagian besar berisi patung, rasanya dia seperti ditatap oleh patung-patung itu di sepanjang jalan. Belum lagi pikirannya yang kelewat imajinatif, membayangkan kalau patung-patung tersebut hidup lalu berlari mengejar untuk memangsanya.


"A’udzu billahi minasy syaithonir rojiim … Bismillahirrahmanirrahim … Ya Allah, lindungilah hamba dari setan yang terkutuk," ucap Kanaya menyebut kalimat Ta'awudz lalu diikuti Basmallah dan berdoa. Dia bahkan juga menyebutkan Istighfar, Takbir dan Tahlil dalam hati sembari menutup mata.


Dan tak terasa dari balik kelopak matanya, Kanaya merasakan keterangan benderangan. Lalu Kanaya membuka matanya, langit biru yang luas! Alhamdulillah~


Tetapi kebahagiaan tak berlangsung lama, saat Kanaya melihat sekitar dan menemukan banyak meriam yang lubangnya mencuat keluar tembok -berjejer.


Ya Rabbi~ dia malah dibawa ke atap sama Adimas!


Mau pulang! Huhuh ~


😭😭😭


Adimas tega banget sumpah, kencan pertama malah diajak ke tempat serem.


Maksudnya apa coba? Biar nempel-nempel sama Kanaya. Dasar c*bul!!


° ° °


Setelah berkeliling yang menguras tenaga dan emosi batin, tinggal lapar yang tersisa bagi Kanaya. Jadi mereka mampir ke anjungan terdekat dan makan di sana.


Kanaya makan dengan lahap sangking takutnya dia. Loh?! Intinya dia perlu mengisi energinya kembali sebelum melanjutkan petualangan.


"Sholat Zuhur, dulu Nay," ajak Adimas setelah mereka selesai makan.


Setelah sholat Zuhur yang hanya mereka berdua dan Adimas sebagai imam dan dia makmumnya, Kanaya masih perlu waktu untuk touch up.


Baru setelah itu, mereka lanjut berkeliling dengan sepeda. Kanaya memilih sepeda couple atau two in one, yang terdapat dua jok (tempat duduk) dan dia tentu saja duduk di bangku belakang alias dibonceng.


Hahah~


Dia seneng banget, soalnya kali ini dia bisa balas kejahilan pada Adimas. Kanaya yang duduk di belakang, sering kali tidak membantu mengayuh sepeda hingga membuat Adimas kelelahan menggenjot sepeda dengan dua beban sendirian. Belum lagi Kanaya yang menjadikan Adimas asisten foto dadakannya.


Tetapi meskipun begitu, nyatanya mereka sangat menikmati kencan pertama ini. Hingga tak terasa hari sudah beranjak petang dan tentu saja mereka harus pulang.


Namun sayangnya perjalanan kembali ke rumah tak semulus saat berangkat, mereka terjebak macet saat melintasi pintu Tol Jagorawi hingga Hek. Belum lagi hujan yang tiba-tiba turun, jadi mereka harus menepi di sebuah halte yang bahkan hampir penuh karena orang terus berdatangan dengan niat yang sama dengan mereka atau hanya sekedar untuk memasang jas hujan.


Hujan yang tak ada tanda-tanda berhenti, malah semakin deras, membuat Kanaya melipat lengan membekap tubuhnya. Tetapi dia bahkan tak sadar jika kaos putihnya itu tembus pandang, hingga Adimas memberikan jaket pria itu padanya.


"Maka ... sih, Dim," ucap Kanaya yang sempat tercekat karena melihat pemandangan menakjubkan setelah Adimas melepas jaketnya. 'Astaghfirullah~ jangan c*bul, Nay!' ingatnya pada diri sendiri sembari berjuang untuk tidak melihat ke arah Adimas kembali.


Namun Adimas yang tak sadar dengan ulah tangannya yang membantu menarik seleting jaket, justru membuat Kanaya makin kenceng menjerit dalam benak.


Yang pertama rezeki, yang kedua dosa!!


Jangan nengok!!


Tahan godaan!!


Kanaya mencoba mencari pengalih fokus, entah itu menghitung mobil yang lewat atau tetesan yang jatuh ke telapak tangannya. Apapun itu, asal dia gak mikir kesono-sono.


Dan saat hujan sudah mulai reda, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang dan berpisah di depan rumah Kanaya.


Thanks. It's a good day and have a nice dream, Dear~


••


T


B


C


••


Kencan pertama Kanaya-Adimas, selesai. Gimana ya, kelanjutan hubungan mereka?


×××


Tadinya aku mau kasih gambar, tapi takut lama proses review-nya. Berhubung liat komen kalian yang sepertinya gak sabar dan nafsu banget, jadi aku skip foto-foto TMII.


Buat yang penasaran, boleh browsing atau main ke sana langsung. Tapi setelah dibuka lagi ya, TMII nya.


Btw, perjalanan Kanaya-Adimas itu hasil tuangan dari pengalaman aku bersama keluarga dan sahabat.


Aku mengunjungi Museum Keprajuritan sama tiga sahabatku. Yang diawal rasanya seperti menemukan dunia baru, tapi di pertengahan malah dikasih mimpi buruk. Sumpah! Aku bener-bener takut selama di dalam museum itu, auranya gelap dan dingin menusuk. Aku terus pegangan sama dua teman aku, kanan dan kiri -aku di tengah.


Terus naik sepeda boncengan, itu aku sama Bapake. Hohoh~ romantis kan??


Aku yang awalnya duduk di depan, langsung pindah setelah sekali genjotan, karena gak kuat dan gak bisa seimbang. Sepada koe oleng, guys!! Untung kagak nyusruk.


Dan begitulah Part tentang kencan ini tercipta dari seorang jomblo. Terus sebagai mood booster untuk nyelesaiin Part ini. So I play music, Boy with Luv - BTS.


×××^×××


Tadinya mau up pas agak sorean lah, tapi gak keburu. Seenggaknya aku up dua kali ya, hari ini~


Semoga kebayar yang part sebelumnya pendek.


Tapi tetap dukung aku ya~~


*)biar tambah semangat Up.


Syukur-syukur, aku bisa dapet salam dari pembaca yang selama ini malu-malu buat nyapa di LIKE, KOMENTAR sama VOTE.


Gak maksa kok, cuman ngarep. xD


---


Kalian Nastar nya udah berapa loyang?


°°°°


Makasih udah mampir dan baca~


#wink