
Ibu Gayatri, selaku Dosen P.A atau Penasehat Akademik. Beliau telah menjadi Wali Kelas Kanaya selama hampir tujuh semester perkuliahannya, begitu juga teman sekelasnya yang mereka-mereka terus.
Karena kampusnya memang tidak melakukan shuffle atau semacam pergantian Mahasiswa juga Dosen kelas, dengan alasan kepraktisan administrasi. Jadi meski bosan dengan orangnya yang itu-itu saja, tetapi mereka akan menjalin ikatan sampai hari kelulusan dan menjadi satu keluarga karena kebersamaan yang lama.
Oh! Ada juga mahasiswa pindahan atau kelas terbang yang hanya mampir kuliah sebentar di kelasnya. Bahkan tak jarang, golongan tersebut menetap di kelas tersebut karena betah.
Okeh, kembali pada Ibu Gayatri yang sudah duduk manis untuk memberikan pengarahan pada mahasiswanya sebelum membagikan lembaran kertas yang menumpuk di mejanya. Ya, kepada kami -bukan orang tua yang harus datang mengambil hasil perkuliahan atau dengar ceramah. Jadi tenang saja, kena omel orang tua bisa ditunda dahulu sampai kalian pulang ke rumah.
Ah~ Kanaya penasaran, seancur apa IP nya kali ini. Dia cuma bisa menyiapkan hati untuk menjadi babu sang Abang nantinya.
Baik, selesai Ibu Gayatri memberi pengarahan. Beliau meminta tolong Ketua Kelas untuk membagikan lembaran yang sudah Kanaya ketahui itu adalah lembar KHS, KRS dan Kuesioner Penilaian Mengajar Dosen.
Hmm~ taukah kalian? Kalau sebagian mahasiswa menjadikan saat mengisi kuesioner sebagai ajang untuk balas dendam pada Dosen Killer atau jenis menyebalkan, karena pendapat kita anonim alis tanpa nama. Tapi ini bukan untuk ditiru ya, berikanlah pendapat kalian seobyektif mungkin untuk memperbaiki kualitas mengajar sang Dosen. Ya~ meskipun ketegasan atau sindiran itu terkadang perlu.
Namun dibanding KHS atau dokumen lainnya, Kanaya dan kawan-kawan paling nunggu sajen Bu Gayatri. Hahah … mahasiswa kalau dikasih makanan gratis pasti gak nolak, apalagi kalau sering-sering kayak Dosen nya ini, makin ngelunjak!!
Alhamdulillah, rezeki anak sholeh/ah. Dosen kelasnya ini memang idaman dah!!
Makasih Mak~ Makin cinta kita sama Mamak.
"Nay! Nilai Sem-Pro lo, berapa?" tanya Adel pada Kanaya yang mulutnya masih ngunyah dan tangannya memegang secomot Brownies.
Glup!
Itu Brownies yang belum alus dia kunyah, langsung dia telen. Seret!!
Kanaya menaruh kasar Brownies di tangannya tadi hingga bentuknya nyaris penyet di meja, lalu dia kelabakan mencari air.
"Nih!" Anjani berbaik hati memberikan minuman pada Kanaya.
Glek … Glek … Ah~
Setelah kerongkongannya lega, Kanaya balas menatap Adel tajam. Gil* nih temen, gak kira-kira nanyanya pas orang lagi makan. Konyol banget kalo dia sampe dijemput Malaikat karena keselek Brownies.
"Maaf Nay," ujar Adel dengan tampang melasnya yang membuat Jani mulas dan berakhir dengan satu tabokan di wajah Adel.
Biarpun begitu, Kanaya tetap luluh dan mengambil lembar KHS nya yang dalam posisi tengkurap di atas meja.
"Bismillah, Nay!" Kali ini Adel menyemangatinya.
Pelan-pelan dan penuh debaran Kanaya membalik kertas tersebut, bahkan sampai takut-takut mengintipnya.
"Cepet elah, Nay!!" sungut Jani tak sabar dan mengambil alih untuk membalik kertas KHS Kanaya.
"Huaaaaa …," tangis Kanaya pecah ketika melihat nilai yang berupa huruf di kertasnya.
C-
Dramatis sekali itu nilai IP -nya itu, dan nyaris saja dia ngulang semester.
Ya Rabbi~ Alhamdulillah!!
"Jangan lupa bilang makasih sama Dosen Gebetan gue ya, Nay. Kalo bisa, sekalian bawa parsel," ujar Adel.
"Eh, Perkedel! Ngapa jadi Naya harus makasih sama Dosen Pembimbing loh?! Yang ada, gara-gara dia makanya Kanaya apes," sewot Jani.
"Plis deh, Jan~ Pak Adhi tuh cuman ngejalanin tugasnya sesuai dengan syarat, ketentuan dan yang pastinya objektif," balas Adel.
"Susah deh, ngomong sama orang yang udah buta sama perasaan -temen sampe dilupain," sahut Jani tak mau kalah.
Kanaya menghela nafas, kerena berada di tengah perselisihan dua temannya. Dan dia juga tak bisa memihak, meskipun dia ingin Adel sama perhatiannya dengan Jani pada dirinya saat ini. Tetapi perkataan Adel tidak salah juga, sebab Dosen memang harus melakukan penilaian.
"Udah, jangan ribut mulu sih. Nanti gue traktir jajan dah," ujar Kanaya berusaha mencairkan suasana kembali.
Namun lain dengan Adel yang dari awal sudah curiga padanya perihal gelang, dia menangkap maksud lain dari tawaran Kanaya. "Pasti ada sesuatu kan? Siapa cowok lo? Ngaku!" tuduh Adel keras.
"Nanti gue cerita, tenang aja," ujar Kanaya menenangkan Adel.
"Jangan coba-coba kabur loh, Nay~ Sumpah! Gue penasaran, meskipun sebenernya bisa aja gue sebut satu nama dan gue yakin itu seratus persen bener. Iya kan?" ngotot si Adel.
"Berisik! Makan aja nih, Brownies!" ujar Jani dan menyumpal mulut Adel.
- - -
Selesai mengisi semua dokumen, Kanaya dan Jani -tak ketinggalan Adel yang ikut menemani, mereka pergi ke ruang Administrasi untuk mengambil Surat Pemberitahuan Pergantian Dosen Pembimbing.
"Buruan, woy! Gue gak sabar pengen tau, sapa Dosen Pembimbing barunya," desak Adel pada Kanaya dan Jani yang tampak masih merapikan isi tas.
"Kita yang mau ganti Dosen, kok lo yang ngebet," sahut Jani.
"Ya kali aja, siapa tau gitu … kita bakal bimbingan bareng sama Dosen terkeceh gue," ujar Adel penuh harap.
"Idih~ ogah!! Makasih dah, gue gak mau," tolak Jani mentah-mentah, bahkan sampai mengetuk-ngetuk meja dan keningnya berulang kali dengan keras. "Amit-amit, jangan sampe dah punya Dosen Pembimbing model tiran kayak dia."
Kanaya meskipun tak menolak segamblang Jani, tetapi dia bergidik ngeri hanya dengan membayangkan hal itu. Hatinya komat-kamit berdoa, semoga Skripsinya dijauhkan dari marabahaya semacam Pak Adhi. Aamiin~
"Belom tau aja lo pesonanya Pak Adhi, udah sembarang ngomong aja lo, Jan! Gue sumpahin lo, kena karma terus kecantol sama Pak Adhi," balas Adel berapi-api membela Dosen Gebetannya.
Tak rela dengan ucapan meremehkan Jani, akhirnya Adel melampiaskannya pada Kanaya yang tampak lugu dengan menarik lengan gadis itu untuk segera meninggalkan kelas.
Bruk!
Sangking kesalnya dengan Jani, Adel berjalan cepat dan Kanaya yang hanya mengikuti karena tangannya ditarik -dia terantuk daun pintu ke dua yang tertutup.
"Aww …," rintih Kanaya sembari memegangi hidungnya yang memang kelewat maju.
"Aduh! Maaf Nay," ucap Adel dan mencoba membantu memegangi Kanaya yang linglung.
Di samping itu, keributan mereka menimbulkan perhatian pada seseorang yang baru saja keluar dari kelas sebelah.
"Mbak Kanaya?"
Jantung Kanaya berdetak kencang mendengar suara yang memanggil namanya, lalu beberapa saat kemudian dia tersadar kalau dirinya sudah ditandai oleh orang tersebut.
"Ya?" Kanaya menoleh seraya mendongak dan mendapati seorang pria yang tadi terlintas dalam benaknya.
"Pak Adhi," beo Adel penuh curahan tatapan pujaan ketika melihat sosok Dosen Idamannya.
"Temui saya di Ruang Dosen," ujar Pak Adhi menitah. "Setelah mengobati hidung kamu tentunya," imbuhnya seraya menunjukkan gestur mengusap pada hidungnya.
Kanaya melotot melihat darah di tangannya, lalu dia segera mendongak kembali untuk menoleh pada Pak Adhi -namun Dosen tersebut sudah meninggalkannya. Kanaya buru-buru menyeka hidungnya yang mimisan dengan punggung tangan dan mengejar Pak Adhi, kerena dia sangat perlu penjelasan dosen tersebut.
"Pak Adhi," panggil Kanaya. "Maaf Pak, ada perlu apa … saya bicara sama Bapak?"
Pak Adhi berbalik badan, namun secepat itu dia melihat lawan bicaranya -Pak Adhi langsung menghampiri dan mendekat pada Kanaya. "Eh … itu, idung!" ucap Pak Adhi yang suara meninggi seraya menyambar hidung Kanaya dan memencetnya.
Kanaya terkejut sampai matanya melotot nyaris melompat, dan tanpa sadar dia melangkah mundur. Namun Pak Adhi malah semakin menarik hidungnya dan Kanaya mulai merasakan nyeri sekaligus terengah.
"Hidung Mbaknya berdarah," beritahu Pak Adhi. "Diam, berdiri yang tegak -jangan nunduk," lanjutnya menitah.
"Hah? Kenha … pha?" suara Kanaya terdengar sengau akibat lubang hidungnya masih dijepit oleh Pak Adhi hingga aliran udara di area hidungnya terhambat, bahkan ucapannya tak terlalu jelas.
Lalu Kanaya megap-megap dan terbatuk.
"Heh~ nafas Mbak!" sentak Pak Adhi memberitahunya.
"Ghima … nha mhau nha … pass, idhung shaya dhipen … chet ghinih," protes Kanaya masih tak jelas bicaranya.
Tetapi Pak Adhi kurang lebih paham apa maksudnya. "Ya Ampun, kan masih bisa nafas lewat mulut," ujar Pak Adhi terdengar kesal.
Namun Kanaya yang kepalang engap, dia lemas dan jatuh terduduk di lantai.
Di belakang, Jani dan Adel berlari menghampiri Kanaya karena temannya itu dibawa pergi dalam gendongan sang Dosen entah ke mana.
"Kalian cari es batu sana," titah Pak Adhi. "Eh, ini tas temennya juga dibawa," imbuhnya.
Tanpa tau apa gunanya, Adel dan Jani menurut begitu saja untuk mencari es batu.
••
T
B
C
••
>>>
Jumpa lagi kita setelah Lebaran~
Gimana, Nastarnya masih adakah?
Hahah … Nastarku sudah ludes, sampai mules.
Maaf, baru update lagi … karena libur lebaran sudah usai, maka kembali ke kesibukan.
Tapi … aku datang bawa kabar bahagia.
Alhamdulillah, Suddenly I Became A Wife Of Lecturer LULUS REVIEW TAHAP AWAL KONTAK.
Huhuh … aku terharu sekali.
Dan tentunya ini semua berkat kalian.
Terima kasih sudah membaca dan memberi dukungan pada novel ini.
Terima kasih … Terima kasih ….
Semoga aku bisa terus menghadirkan tulisan yang bisa menghibur kalian dan tentunya update teratur.
Huhuh … Terima kasih ….
Ku sayang kalian~
°°°
Btw, aku mau cerita.
Dosen kelas aku itu, dia baek banget.
Suka kasih makan anak-anaknya.
Ngomong juga lembut dah~
Aku hampir gak inget, Beliau itu pernah marah. Padahal kelasku itu terkenal berisik banget, sampe diomongin dosen-dosen yang lain.
Semoga Beliau sehat selalu. Aamiin~
Terus tau gak, ngeliat nilai 'C' di KHS itu rasanya kayak ... UGH!! Pengen ngelabrak dosen, protes.
Kenapa coba, bisa muncul itu nilai yang ibarat Nilai Belas Kasihan. Pas banget KKM gitu.
Dan gw kena dua kali, di mata kuliah yang menurut gw gampil. #belagu
Tapi emang begitu kenyataannya, karena isi mata kuliahnya itu cuman dengerin dongeng temen yang presentasi sambil baca buku.
Yang lebih parahnya, ada temen gw yang jarang masuk. Eh~ dia dapet nilai 'A'
Bener-bener merasa dikhianati dosen.
Sabar~
Terlepas apapun nilai kalian pas kuliah, itu semua perjuangan!!
Tapi jangan terpaku dengan nilai, karena di luar bangku kuliah -nilai itu gak berarti segalanya.
#Semangat
×××
Makan tupat, pake opor.
Eh, udah abis deng …
See you later~