
Kanaya baru sama mau merebahkan dirinya di tempat tidur setelah sholat Subuh, tetapi ke dua tangannya ditarik kembali dengan paksa untuk bangun.
“Mas, Eneng ngantuk,” ujarnya dengan mata terpejam.
“Iya boleh kok tidur lagi, tapi nanti ya di jalan. Sekarang kita harus siap-siap.” Adhi masih berusaha membangunkan Istrinya.
“Hah? Emang ke mana?” tanya Kanaya yang bingung. Karena semalam mereka hanya berdebat soal tempat liburannya tanpa hasil, jadi dia pikir tidak jadi.
“Udah, pokoknya bangun aja dan siap-siap. Soalnya kapal nyebrangnya berangkat jam 7 –an, jadi kita sebelum jam 6 harus udah jalan,” beritahunya.
“Apa?!” Kanaya kaget dan langsung bangun, hilang sudah rasa kantuknya. “Kok Mas bisa-bisanya gak bilang ke aku dulu kalo udah booking tempat? Terus kapal nyebrang? Mau ke mana sih?” nada bicara Kanaya naik karena kesal.
“Abis kamu nolak terus setiap pilihan Mas,” dalihnya.
“Ya, karena mahal banget!”
“Ya ampun, Neng ... sesekali kan gak apa-apa.”
“Kebiasaan tau gak, Mas. Boros!!”
“Iya maaf, lain kali enggak.” Suara Adhi merendah untuk membujuk Istrinya, tak lupa dia juga memeluk sembari memberikan tepukan lembut di punggung. “Ayo dong, jangan kelamaan ngambeknya Neng. Nanti kapalnya keburu berangkat, kita gagal liburan ... lebih rugi loh.”
Kanaya hanya membalas dengan decakan kesal sebelum masuk ke kamar mandi. Namun baru beberapa saat, dia keluar kembali.
“Kita kan belum packing barang, Mas.”
“Udah, tenang aja,” jawab Adhi dan menunjuk sebuah koper besar yang ada di pojok kamar.
“Mas itu sesuatu banget, ya,” ucap Kanaya ambigu. Entah itu pujian atau sindiran.
o x o x o x o x o
Setelah selesai bersiap-siap, mereka berangkat –menggunakan taksi online dan Kanaya tak lupa melanjutkan tidurnya seperti yang dijanjikan. Sepuluh sampai lima belas menit pertama, dia masih tidur dengan posisi bersandar pada jok. Namun menit berikutnya, kepalanya mulai oleng ke kanan atau ke kiri –sesekali terantuk jendela mobil setiap kali jalan bergelombang.
Adhi, sang Suami yang menghela nafas. Lantas dia membawa Kanaya ke sisinya untuk bisa tidur dengan bersandar di bahunya.
“Pengantin baru ya, Mas?” tanya sang Supir sembari melihat ke spion.
Adhi tersenyum lebih dulu, sebelum menjawab, “Gak juga kok, Pak.”
“Ahh~ Mas nya pake malu-malu, bilang aja ‘iya’ gitu,” goda si Bapak supir. “Rencananya mau pergi ke pulau mana, Mas?”
“Pulau Macan, Pak.”
“Wahhh~ bagus itu Mas pulaunya, penginapan juga keren ... cocok buat bulan madu.”
“Iya Pak, ssya ke sana juga tertarik karena itu. Semoga aja Istri saya suka tempatnya.”
“Ya, pasti sukalah Mas. Masa diajak jalan-jalan ke tempat bagus gak senang.”
“Ahhh ... soalnya istri saya agak irit orangnya, ini aja hampir batal liburannya karena dia nolak harganya kemahalan. Ya udah, pas dia tidur saya booking aja,” curhat Adhi.
Sang Bapak Supir tertawa mendengar cerita penumpangnya. “Wahh~ Istrinya Mas masih muda, tapi jiwa Emak-emaknya udah keluar ya,” komentarnya.
“Iya, kadang saya pusing sendiri kalau ini itu dilarang karena kemahalan, disuruh cari yang lebih murah aja. Kan padahal ada harga, pasti lebih berkualitas dan bagus.”
“Bener itu Mas, tapi Istrinya gak salah juga. Kerasa sama saya soalnya, pas sebelum nikah sama punya anak terus setelahnya –bisa gak makan nanti kalo boros, masih banyak kebutuhan yang lebih penting.”
Adhi hanya tersenyum. Dia sendiri juga merasakan setidaknya sedikit perubahan setelah menikah, meski saat ini baru seorang yang menjadi tanggung jawabnya. Tapi dengan penghasilannya sekarang, dia masih punya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan.
o o o x x x o o o
Tak terasa, kini mereka telah sampai di Dermaga Marina Ancol untuk melanjutkan menyebrang ke Pulau Macan dengan jalur laut menggunakan Speed Boad selama kurang lebih 2 jam.
“Hati-hati Neng,” ucap Adhi yang hendak membantu sang Istri dengan memeganginya yang akan naik ke Speed Boad.
“Ya ampun Mas, aku udah kayak anak kecil aja dijagain gini.” Kanaya terkekeh dengan perlakuan manis suaminya.
“Kan kamu baru bangun, barang kali masih linglung.”
“Enggak kok, kata siapa aku baru bangun?”
“Eh?” Adhi bingung sendiri –ditinggalkan sang Istri yang sudah berjalan lebih dulu mencari tempat duduk mereka. “Jadi kamu pura-pura tidur? Dari kapan?” lanjutnya bertanya saat telah duduk di sebelah Istrinya.
“Gitu doang kok kamu sampe kebangun? Biasanya tidur dah kayak orang pingsan.”
Kanaya manyun karena diledek. “Gimana gak bangun, orang Mas nepuknya sampe ke muka. Terus mulut Mas deket kuping aku, mana ngobrol mulu sepanjang jalan ... dan aku yang diomongin,” gerutunya dan menghela nafas kasar. “Ternyata gini ya, rasanya diomongin di depan muka sendiri tapi gak bisa jawab apa-apa. Ngebatin!!”
“Maaf Neng, Mas gak maksud ngomongin kamu kok.”
“Hmmm ... gak apa-apa,” jawab Kanaya sekenanya.
“Ikhlas gak sih Neng, maafinnya?”
“Kalo ikhlas mah, gak perlu diumbar-umbar Mas.”
“Abis kamu kayak masih kesel sama Mas.”
“Enggak kok Mas, Eneng cuman masih agak pusing aja karena tadi tidurnya gak tuntas.”
“Ya udah sini, sandaran lagi sama Mas,” ucap Adhi menawarkan bahunya lagi untuk dijadikan bantal sang Istri.
“Tapi akunya jangan ditabok lagi mukanya sama diomongin.”
Adhi tergelak. “Ya ampun, enggak Neng. Udah sini sandaran.”
“Baiklah kalau Mas memaksa,” jawab Kanaya yang riang kembali dan merapat pada sang Suami untuk tidur dalam sandarannya.
“Tidur aja sekenyang kamu, nanti Mas bangunin kalau udah sampe –lagian waktu tempuhnya ke pulau sampe lebih dari dua jam.”
Kanaya menjawab hanya dengan deheman, dia tengah bersiap untuk terlelap dengan mencari posisi nyaman –bahkan kini dirinya ikut bergelayut pada lengan sang Suami. Namun hal yang dia lakukan itu justru membuatnya sulit untuk tidur. “Ugh! Mas~ sakit,” aduhnya saat ke dua pipinya jadi korban cubitan sang Suami. “Tadi katanya, aku suruh tidur. Tapi belum apa-apa udah digangguin,” lanjutnya menggerutu.
Adhi tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. “Abis kamu gemesin banget, manja-manjaan gini sama Mas. Tumbenan.”
“Aku cuman ngantuk dan mau tidur nyaman aja kok,” jawab Kanaya tak mengada-ngada. “Jadi aku boleh lanjut tidur sandaran di Mas, gak nih?”
“Iya ... iya ... silakan dilanjut tidurnya, mimpi indah,” jawab Adhi.
Kanaya tersenyum dan kembali bergelayut di lengan sang Suami, sementara Adhi berusaha agar tidak mengganggu Istrinya lagi.
o
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
o
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you again ~