Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 20.1]



Kanaya memasuki rumahnya dan mengucapkan salam, lalu dijawab oleh orang tuanya yang kebetulan duduk di ruang tamu bersama dengan dua orang lainnya yang Kanaya ketahui seorangnya adalah Ibu Ranti, tapi pria yang duduk di sebelahnya ___!!


Pupil mata Kanaya melebar ketika menyadari sosok tersebut yang merupakan Dosennya. “Bapak....” Lalu lidahnya seakan kelu tak dapat langsung menyebutkan nama dosen tersebut, lantaran terhalang oleh pikirannya yang kalut.


‘Ya ampun, kenapa Bapak Dekan yang juga Dosen Kewarganegaraannya dulu ada di rumahnya? Terus sama Bu Ranti lagi? Jangan bilang kalau ...,’ Kanaya tak berani membenarkan tebaknya.


*) Dekan, salah satu pejabat di Perguruan Tinggi yang memimpin sebuah fakultas.


“Nak Naya,” panggil Ibu Ranti seraya tersenyum dan meraih tangan Kanaya.


“Maaf Bu,” ucap Kanaya segera menyadari kesalahannya dan menyalimi punggung tangan Bu Ranti, kemudian sang Dosen lamanya. “Pak Arifin, saya Kanaya –mahasiswi Bapak waktu semester satu. Apa kabar, Pak?” sapa Kanaya lebih dahulu dan memperkenalkan dirinya.


Pak Arifin diam sejenak, sepertinya beliau sedang mengingat Kanaya yang bagaikan butiran debu diantara mahasiswanya yang tak terhitung. “Alhamdulillah, kabar saya baik. Kamu juga bagaimana kabarnya, Nak? Sudah lulus atau masih kuliah?” tanya Pak Arifin dan Kanaya tersenyum menyadari sesuatu. “Maaf ya, saya kurang ingat. Kamu mahasiswi semester ke-berapa?” tanyanya lagi.


“Saya masih kuliah Pak, sekarang semester tujuh. Jadi sekitar tiga tahun lalu saat Bapak mengajar di kelas saya,” jawab Kanaya memberitahu.


“Nak Kanaya pernah jadi anak didiknya suami saya juga, toh?” tanya Ibu Ranti dengan antusias. “Ternyata Jakarta emang sempit banget ya, atau mungkin takdir kali? Bapak kamu juga dulunya teman kuliah suami saya,” beritahu Ibu Ranti lagi membeberkan informasi.


Kanaya tersenyum kikuk dan menyetujuinya.


Entah kebetulan apa lagi yang bakal dia temui di Jakarta yang sempit ini?


“Kalau begitu saya permisi ke dalam dulu ya, Bu Ranti dan Pak Arifin,” ujar Kanaya pamit.


Di belakang itu, Ibu Nurlela menyusul anaknya yang hendak masuk ke kamar. “Neng,” panggil sang Ibu.


Kanaya berhenti sebelum membuka pintu kamarnya dan menoleh. “Ya, kenapa Bu?”


“Nanti bantuin Ibu masak ya? Soalnya Bu Ranti sama Suaminya mau makan siang di sini,” ucap Bu Nurlela.


“Iya Bu, nanti Kanaya bantu abis ganti baju ya,” jawab Kanaya.


“Bajunya ganti sama yang rapi juga sopanaan ya, Neng,” ujar Ibu meminta.


“Ya? Kenapa emangnya? Kan mau masak,”


“Hmmm ... yaudah, abis masak aja ganti baju bagusnya,” lanjut sang Ibu berubah pikiran.


“Yah, sayang dong Bu. Ini kan baju suka dipake kuliah atau pergi, masa buat ke dapur juga.”


“Ini kamu ganti baju rumah dulu, nanti baru baju yang bagusan kalo udah selesai masak. Oh, mandi sekalian dandan.”


“Ihhh ... ada apa sih, Bu? Kok ribet amat, Kanaya disuruh ganti baju mulu. Mau kemana emangnya nanti?”


“Gak kemana-mana, di rumah aja. Udah, nurut omongan Ibu,” ujar sang Ibu tak mau dibantah dan segera meninggalkan Kanaya.


Ck! Saudara-saudaranya pada ke mana sih, rumah sepi amat. Auah~ masa bodo, Ibunya mau main rahasia-rahasiaan apa sama dia.


Kanaya masuk ke kamarnya dan menutup pintu untuk berganti baju sebelum membantu sang Ibu ke dapur.


- - - - -


“Mau masak apa, Bu?” tanya Kanaya yang muncul dengan kaos lengan pendek dan celana kulot belel.


“Masak yang cepet aja deh kayaknya, Neng. Tapi Ibu juga gak tau apa, masih bingung,” jawab Ibu Nurlela sembari menyiangi bumbu dapur dasar.


Kanaya mengeluarkan ponselnya dan mulai berselancar di internet untuk mencari menu yang gampang dan cepat di masak. Sementara itu Ibu Nurlela memperhatikan anaknya itu, dengan senyum yang menyimpan sesuatu arti.


“Adanya bahan apa aja Bu?” tanya Kanaya.


“Ya, karena belum lama belanja jadi bahan masih lumayan banyak,” jawab Ibu seadanya.


Kanaya menghampiri kulkas dan melihat isinya, lalu dia membuka box sayur dan melihat Jagung.


“Kalo masak Sayur Asem aja gimana, Bu?” tanya Kanaya sembari mengangkat Jagung.


“Terserah kamu,” jawab sang Ibu sekenanya.


“Masa terserah Kanaya sih, Bu?”


“Kan kamu yang mau masak.”


“Lah, kok jadi Kanaya yang masak? Emang Ibu mau kemana?”


“Itu kan ada tamu di depan, jadi Ibu harus temanilah. Atau kamu yang mau temani?”


Hmmm ... itu pertanyaan menjebak kan? Biar dia tertahan di dapur. Kalau kayak gini, mau gimana lagi? Gak ada pilihan lain, dia yang harus masak. “Yah~ ini mah emang Ibu sengaja biar Kanaya yang masak,” tuduh Kanaya pada sang Ibu namun nada bicara terdengar seperti merajuk.


Sang Ibu hanya terkekeh.


Udah, ini pasti emang direncanain.


“Nih, udah Ibu bantu kupasin bumbu. Jangan kelamaan ya masaknya, kesian nanti tamunya nunggu. Dah, Ibu balik ke depan ya Neng. Anteng-anteng masaknya, jangan bikin keheboh,” ucap sang Ibu membercandai putrinya.


“Iya,” jawab Kanaya dengan wajah cemberut.


Oke, jadi kanaya siapin dulu bahan-bahan yang akan dia pakai nanti. Selain sayuran untuk Sayur Asem, Kanaya mengeluarkan Ikan Tongkol dan Tempe dari dalam kulkas –yang rencananya dua bahan itu akan dia goreng biasa saja. Lalu sebagai tambahan dia akan membuat Sambal Terasi.


“Bismillah,” ucap Kanaya sebelum memasukan Ikan Tongkol yang telah dibumbuinya ke dalam wajan berisi minyak panas bekas goreng Tempe. Dan tentunya dia mengambil jarak aman.


Ugh! Paling malas kalau harus goreng-goreng, takut minyaknya nyepret.


“Aww!!” pekiknya ketika membalik Ikan dan minyaknya mengenai lengannya. “Aduh!! Yah, bisa melepuh dah nih,” rancau Kanaya sembari mengusap-ngusap lengannya.


Kanaya mengecilkan sedikit api kompor dan berjalan menuju kulkas, lalu dia mengambil Gel Lidah Buaya dan mengoleskannya pada permukaan kulit yang terkena minyak secara merata.


*) Perlu di ketahui; mengoleskan Odol, Minyak, Margarin, Es dan Putih Telur itu tidak membantu untuk mengatasi luka bakar seperti yang banyak diketahui. Melainkan malah memperparah hingga menjadi iritasi atau infeksi pada kulit.


Setelahnya Kanaya kembali ke kompor, namun kali ini dengan pengamanan tubuh. Sebuah tutup panci yang besar dia jadikan tameng, tak lupa sarung tangan yang membungkus hingga pangkal lengannya.


Satu jam lebih.


Yah~ gak buruk-buruk amat waktu yang dia habiskan untuk menghidangkan tiga masakan sederhana tersebut. Lalu Kanaya menatanya di meja makan, sebelum dia pergi menemui Ibunya untuk memberitahu kalau makanan telah tersaji. Setelah itu, dia kembali ke kamar untuk bersiap dengan baju bagus sesuai permintan Ibunya.


- - - - -


“Ngapain Bu?”


“Kita makan bareng.”


“Eee, ngapain Naya pake ikut makan bareng? Ibu sama Bapak aja,” tolaknya.


“Bu Ranti yang minta. Udah, buru.”


Entah apa mau dua Ibu-ibu itu, setelah meminta memasak –kini juga makan bersama.


Sekitar lima menit kemudian, Kanaya keluar dari kamarnya dan menyambangi dapur.


“Ayo Nak Naya, kita sekalian makan bareng –kan kamu sudah repot-repot masak, masa gak ikut makan. Suami saya juga sengaja datang ke sini karena penasaran sama kamu,” ucap Bu Ranti.


Hah? Yang bener? Penasaran apa Pak Dekan ini sama dia?


“Soalnya pas kemaren kamu masak Soto di tempat anak saya itu, saya juga bawain masakan kamu ke rumah dan makan sama keluarga. Terus kata anak-anak saya, masakan kamu enak dan mereka pengen tau siapa yang masak. Tapi karena anak saya belum ada waktu buat main ke sini, jadi Ibu bawa suami duluan deh,” jelas Bu Ranti.


Kanaya tersenyum sungkan. “Saya juga masih belajar, Bu,” jawab Kanaya.


“Ya sudah, kita makan saja ya,” ajak Pak Haris –sang Ayah.


Mereka makan siang dengan tenang dan sesekali mengobrol, kecuali Kanaya tentunya.


Tanpa terasa, masing-masing piring sudah bersih dari makanan. Selanjutnya menjadi bagian Kanaya kembali untuk merapikan dan mencuci piring. Sementara para orang tua sudah meninggalkannya, berpindah ke teras.


‘Arg! Kanaya kangen Sofi, kalau lagi gini. Soalnya Adeknya itu yang suka bebenah piring sesudah makan,’ keluh Kanaya saat sedang menggosok piring-piring.


“Neng!” panggil sang Ibu.


“YA?” sahut Kanaya setengah berteriak tanpa menoleh.


“Ini Ibu Ranti sama suaminya mau pamit pulang,” beritahu Bu Nurlela.


“Ya ... sebentar,” jawab Kanaya lalu membilas tangannya dari sabun.


Kanaya menyusul sang Ibu menuju teras, tempat Ayah dan dua tamunya berada.


“Nak Naya, Ibu sama Bapak pamit pulang ya. Terima kasih makan siangnya, enak! Kalau bisa mah, mau Ibu bawa pulang,” ujar Bu Ranti yang terselip candaan. “Tapi nanti aja ya, kamu masak lagi di rumah Ibu,” lanjutnya kini penuh harap.


“Alhamdulillah, kalau masakan saya keterima. Iya Bu, InsyaAllah nanti Kanaya masak lagi,” balas Kanaya dan menyalimi punggung tangan Bu Ranti, baru setelah itu pada Pak Arifin.


“Bapak juga terima kasih, sudah dijamu dengan baik. Iya, Bapak juga nunggu kamu nanti buat main ke rumah. Dan semoga kuliah kamu lancar,” ucap Pak Arifin.


Setelah berpamitan, suami/istri itu pergi meninggalkan rumah Kanaya. Orang tuanya sudah kembali masuk ke rumah, sementara Kanaya baru saja menutup pintu gerbang.


“Bu!” panggil Kanaya seraya berlari menghampiri.


Bu Nurlela menunggu sang putri. “Kenapa, Neng?”


“Ibu, ada apa sih Bu Ranti sama suaminya sampe dateng ke rumah kita?”


“Ya, main aja. Masa gak boleh,” jawab Ibu Nurlela sekenanya.


“Masa? Naya ngerasa ada sesuatu deh. Pokoknya setiap ketemu Bu Ranti tuh, Naya terus mikir aneh-aneh. Apalagi sekarang suaminya juga dateng, mana taunya Dekan di kampus nanya,” gerutunya.


“Tenang aja, nanti kalo lancar, Ibu cerita kok ke Eneng,” jawab sang Ibu santai.


“Ih~ yang bener Bu! Itu tadi Bu Ranti bilang mau ajak keluarganya yang lain juga. Siapa lagi coba nanti yang bakal datang, terus taunya Kanaya kenal juga. Sumpah ya Bu, Naya tuh gak bisa diginiin.”


“Gak bakal ada yang mau macam-macamin kamu kok, Neng. Ibu jamin, mereka itu orang baik,” jawab Ibu dan mengusap pipi Kanaya.


“Bukan itu Bu, maksud Naya,” desaknya.


“Dah ya, Ibu masuk dulu.”


Kanaya mendesah pasrah, dan dia kembali ke dapur untuk cuci piring.


••


T


B


C


••


Memang seharusnya dirimu patut curiga, Kanaya. Mohon bersiap aja ya.


Btw, di part sebelumnya ada yang ngira kalau yang datang itu Pak Adhi.


Hohoh~ tidak semudah itu Esmeralda!!


karena aku bakal buat kalian makin gemes ..


😆😆😆


>>>


Hi, aku mau tanya nih ... karena ada yang komen soal Visual para tokoh SIBWOL.


Adakah yang sama mau tau tampang mereka?


Harap acung jempol.


×××


Thank for reading.


Please keep support me.


See you ~