
WARNING!!
DIPERLUKAN KEBIJAKSANAAN PEMBACA.
PART INI MENGANDUNG KONTEN YANG MENGADUK-ADUK PERASAAN. AWAS BAPER!!
😉 😉 😉
O
O
O
O
O
Seselesainya Adhi menyusun makan dari tetangganya ke dalam kulkas, dia masuk ke kamar dan melihat Kanaya sudah ada di atas tempat tidur-berbaring sembari memainkan ponselnya. Adhi mendekati dan duduk di pinggir ranjang, sembari menenteng sebuah kotak.
"Tangan kamu sini," pinta Adhi.
"Ya?"
Adhi mengulurkan telapak tangannya, Kanaya beringsut di atas ranjang menuju sang Dosen/Suami dan melakukan apa yang dimintanya tanpa tau apa alasannya.
"Bukan, yang tangan satunya -yang kamu ikat pakai tisu."
Kanaya menukarnya.
"Ini kenapa?" tanya Adhi sembari membuka kotak yang ternyata P3K, membuka ikatan tisu di jari sang Mahasiswi/Istri.
Kanaya tampak ragu untuk bicara. "Emm … itu, maaf Pak sebelumnya. Tadi saya lagi beresin baju di lemari, terus gak sengaja nyenggol figura dan jatuh," akunya.
"Figura di lemari?" tanya Adhi tampak berpikir. Lalu seketika ekspresinya berubah, matanya membelalak -terkejut. "Kamu?!!" Sentaknya dan tanpa sengaja menekan tangan Kanaya saat mengobatinya.
Kening Kanaya mengernyit -menahan nyeri di jarinya. "Maaf Pak, nanti saya ganti," sesalnya.
Sekarang perasaan Kanaya benar-benar tak enak, sepertinya dia baru saja merusak salah satu barang berharga sang Dosen/Suami.
Lalu sebenarnya, foto siapa yang tersimpan di figura itu? Kanaya penasaran, tak berani bertanya dan menebak. Bagaimanapun hubungan mereka sudah cukup baik, dia tak mau sampai canggung dan berdebat lagi.
Adhi beranjak dari duduknya dan menuju lemari. "Terus di mana?" tanya Adhi masih dengan nada tingginya.
Takut-takut Kanaya bangun dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja yang ada di samping tempat tidur. "Ini Pak," ucapnya dan memberikan benda tersebut.
"Ya ampun!!" Adhi menatap tidak percaya pada benda di tangannya dan juga gadis di hadapannya. Lalu dia tampak memijat keningnya. "Apa yang kamu pikirin setelah liat foto ini?"
Kanaya terkejut mendapat pertanyaan tersebut. "Saya gak tau. Kenapa Bapak tanya begitu?" balasnya dengan nada seolah dia tersinggung.
"Maaf, saya gak maksud," jawab Adhi tampak bingung. "Saya sengaja udah sisihin, niatnya nanti mau saya buang,” jelas Adhi.
“Pak, saya gak ngerasa cukup dengan Bapak cuman buang foto itu. Sekarang saya penasaran dan juga gak nyaman, sama mau Bapak jelasin siapa orang di foto itu. Tadi saya udah cerita soal mantan saya, bukannya sekarang giliran Bapak?” balas Kanaya.
Adhi tersenyum getir. “Eneng tenang dulu, biar saya obatin luka kamu,” ujarnya seraya menggenggam tangan Kanaya.
Baiklah, Kanaya bersabar menunggu selama sang Dosen/Suami mengobati lukanya yang tidak seberapa dibanding kegusarannya. Lalu sesaat kemudian Pak Adhi selesai dan menaruh kotak P3K dan beralih mengambil kembali foto perempuan tersebut.
“Dia orang yang saya bilang, belum bisa lupakan. Tapi sekarang, saya ingin membuangnya dari ingatan saya.”
Kanaya ingin percaya, tetapi masih tak cukup yakin. Dan Adhi kembali melanjutkan ucapannya.
“Ini foto lama, tepatnya saat pertunangan kami,” ucap Adhi mengawali. “Seperti kamu, saya sudah cukup lama menyukainya dan kami sempat berpacaran –sebelum akhirnya berpisah saat masuk kuliah karena perbedaan jarak yang cukup jauh. Lalu saya sempat sengaja untuk menemuinya, bela-belain beli tiket pesawat antar pulau. Tapi ternyata dia sudah bersama yang lain, memutuskan hubungan dengan saya secara sepihak,” jedanya menarik nafas sejenak dan tampak menahan emosi.
“Saya sangat marah dan kecewa saat mengetahuinya, ada rasa tidak terima diperlakukan tidak adil oleh perempuan yang saya cintai saat itu. Kamu tau apa yang saya lakukan setelah itu?” imbuh Adhi dan bertanya pada Kanaya dengan menunjukan guratan amarah dari wajahnya.
Kanaya hanya menggelengkan kepala samar, tak berani menjawab.
“Saya berpikir untuk membalasnya,” jawab Adhi dan tersenyum nanar. “Saya bekerja keras untuk memperlihatkan padanya, kalau dia salah telah meninggalkan saya seperti itu. Lalu saya mendatangi orang tuanya dan mengajukan lamaran, juga menunjukkan betapa pantasnya saya dengan semua yang telah saya berhasil raih dan miliki,” lanjutnya dengan perasaan bangga.
“Dan tentu saja ... orang tuanya menerima lamaran saya dengan senang. Kamu bisa tebak kan, alasannya?” tanya Adhi masih menyombong. “Orang tua mana yang gak bakal nolak, kalo calon menantunya semenjanjikan saya.”
Rasanya sekarang Kanaya mengerti, dari mana muncul sifar narsis Pak Adhi.
“Setelah itu semua semua berjalan lancar sesuai yang saya inginkan –dia kembali pada saya dan saya sangat senang ... sampai saya tidak melihat kebenaran dan resiko dari tindakan egois saya.”
Untuk kesekian kalinya Adhi menghela nafas dan membuat Kanaya merasa bersalah karena memaksanya untuk kembali bercerita sesuatu yang menyakitkan.
Kanaya balas menggenggam tangan Pak Adhi. “Saya udah ngerti sekarang Pak, jadi gak perlu Bapak lanjutin,” ujar Kanaya menahan sang Dosen/Suami.
Adhi tersenyum dan mengelus wajah Kanaya. “Gak apa-apa, saya yang mau cerita –biar semua jelas dan gak ada salah paham lagi diantara kita,” jawabnya lembut.
Kanaya mengangguk dan balas mengusap tangan Pak Adhi yang masih betah berada di wajahnya –sembari mendengarkan kembali.
“Setelah beberapa waktu dari hari pertunangan kami, dia pergi -pada saat itu saya tidak menyadari karena sibuk mempersiapkan pernikahan. Hingga saat itu hanya tinggal beberapa hari menuju pernikahan dan semua keperluan sudah disiapkan, termasuk undangan yang sudah disebar -tapi dia belum juga kembali dan menghilang tanpa kabar. Saya mencarinya sampai putus asa seperti orang gila –sampai akhirnya menyerah sendiri lantaran tak kuat menahan sakit untuk yang kedua kalinya.”
Tangan Adhi yang sebelumnya ada di wajah Kanaya, jatuh ke pundak dan dia merasakan remesan disana. Sayangnya, Kanaya tak dapat melihat wajah Pak Adhi –karena sang Dosen/Suami menundukan kepala.
"Setelah itu, saya menyadari kesalahan saya –yang dari awal seharusnya merelakan dia yang meninggalkan saya untuk orang lain. Tetapi saya yang bodoh dan gelap mata, memaksa dia untuk bersama saya di saat dia enggan. Ya~ mungkin saja itu karma buat saya, di saat saya sudah disadarkan dan diberi kesempatan untuk memulai yang baru, malah berbalik untuk membalasnya. Yang akhirnya malah menyakiti lebih banyak orang,” pungkas Adhi penuh sesal dalam kepalanya yang tertunduk –bicara dengan suara dan tubuhnya yang tampak bergetar.
Oh ... Ya Rabbi~ ternyata Pak Adhi menahan sakit dan sesal seperti itu untuk waktu yang lama.
Kanaya meringsut mendekati sang Dosen/Suami dan merengkungnya dalam pelukan. “Udah Pak, itu sudah berlalu –jadi lupakan, ikhlaskan, maafkan diri Bapak sendiri dan mulai yang baru,” ucap Kanaya lembut seraya memberikan tepukan di punggung sang Dosen/Suami.
Adhi mengangguk. “Makasih, Neng. Tapi sejujurnya saya takut untuk memulai hubungan yang baru, itu kenapa saya cerita soal masa lalu di malam pertama pernikahan kita –saya takut menyakiti kamu. Dan ternyata saya melakukan kesalahan lagi –dengan kamu yang bilang mau dipulangkan ke rumah orang tua kamu. Akh~ saat mendengar perkataan kamu, itu menohok saya,” akunya.
“Maafin saya yang bersikap kekanakan saat itu. Saya janji, saya akan bersama Bapak dan gak pernah ninggalin Bapak,” ucap Kanaya sepenuh hati.
Adhi melepaskan pelukan mereka dan menatap gadis di hadapannya. “Manis sekali, omongan kamu,” ucap Adhi dan sudah bisa tersenyum. “Makasih atas kalimat menghiburnya, saya senang sekali.”
Kanaya mendesis frustrasi. “Saya serius, Pak! Lagian saya mau ke mana? Bukannya skripsi saya ada ditangan Bapak,” balas Kanaya setengah menggoda sang Dosen/Suami dengan ucapan bagai ancaman yang pernah dia dengar itu.
Adhi tertawa kali. “Ya ampun ... Mahasiswi/Istriku,” ucap Adhi gemas lalu menangkup wajah Kanaya dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajah mereka, sampai hidung mereka bertemu dan mengeleng-gelengkan kepalanya hingga ujungnya saling bergesekan.
Rasanya seluruh aliran darah Kanaya mengalir dengan derah, hingga dia merasakan panas di sekujur tubuhnya. Selain itu, dia juga mendengar desiran aneh di otaknya –yang mendorong dia melakukan hal konyol.
Spontan, Kanaya menahan kepala Pak Adhi yang terus bergerak dan menjauhkan wajah mereka seraya menatap langsung sang Dosen/Suami. “Bapak bisa diem gak? Dan jangan giniin saya!! Aneh tau, rasanya –sampe saya mikir mau ciu ___,” omel Kanaya menggebu-gebu, namun saat sadar dia langsung bungkam.
Adhi sempat terdiam sejenak, mencoba mengartikan kata yang terputus. Namun selanjutnya, sebuah senyuman penuh kesenangan dan terkesan nakal terbit di wajahnya. “Kamu mau apa, Neng?” godanya.
“Engg ... enggak, saya mau tidur,” elak Kanaya dan bergerak menjauh dari sang Dosen/Suami ke sisi lain ranjang.
Sementara Kanaya yang terlalu terkejut dengan tindakan sang Dosen/Suami, dia hanya mampu diam seperti membeku. Bahkan dia tak mampu segera memulihkan kesadarannya, meski itu hanya sebuah ciuman kilat dalam sekejap –kecupan?
Ya Rabbi~ ciuman pertamanya udah dicuri?
“PAK ADHI!!” bentak Kanaya.
“Apa? Kamu mau lagi?” tanya Adhi menggodanya dengan santai.
Kanaya memelototinya.
Adhi mendekat dan berbisik pada Kanaya, “Neng, kalau saya minta malam ini. Dikasih gak?”
Glekk!!
Adhi terkekeh. “Ya Ampun ... kamu sampe nelen ludah?”
Kanaya tak mampu menjawab, dia terlalu malu –bahkan wajahnya dia sembunyikan dalam tangkupan tangannya.
“Jangan bilang kamu, halangan. Saya tau kamu udah selesai Datang Bulannya,” ujar Adhi yakin.
Kanaya menengadahkan kepala kembali.
Ini Pak Adhi kesambet ya? Tadi melo drama, tapi sekarang malah ... penuh hasrat. Terus, tau-tauan dari mana coba, kalo dia udah selesai Datang Bulan?
Tangan Adhi mengambil helaian rambut Kanaya, lalu memilin dan membaunya. “Kamu baru tadi keramas kan, Neng?”
“Emang saya gak boleh keramas?” balas Kanaya gelagapan.
"Keramas gak masalah, tapi kalo malam-malam keramasnya -bukannya patut dipertanyakan alasannya?" sahut Adhi.
“Pak~ besok saya ada penelitian,” dalih Kanaya lagi.
“Saya yang tanggung jawab. Nanti saya bangunin, buat sarapan, antar dan jemput kamu,” tawar Adhi.
Kanaya tersenyum kikuk dan mengalihkan pandangannya dari sang Dosen/Suami.
Adhi tak mau kalah, dia berusaha mendapatkan kembali perhatian sang Istri. Jadi langsung dia saja memagut bibir Kanaya sembari menekan tengkuknya untuk memangkas jarak mereka dan memberikan ciuman lebih dalam dari sebelumnya -bahkan sesekali menghisap, melum*t dan menggigit bibir Istrinya.
Interaksi yang begitu intens … namun cukup menguras oksigen, hingga Kanaya kewalahan dan mendorong dada sang Suami.
"Maaf," ucap Adhi ketika menyadarinya dan memberi ruang untuk Istrinya.
Kanaya menarik nafas panjang, mengisi kembali paru-parunya. Sementara Adhi masih memperhatikan gadis di hadapannya yang baru saja dia cumbu dengan ganas, hingga bibirnya tampak memerah.
Oh! Ternyata seluruh wajah Istrinya juga memerah, bahkan sampai ke telinganya. Ya ampun~ menggemaskan sekali istrinya!!
"Mau dimatiin lampunya?"
Satu anggukan dari Kanaya, mengartikan sebuah senyuman di wajah Adhi dan dia segera bergerak mematikan saklar, lalu secepat kilat melesak kembali ke ranjang.
Walau gagal di malam pertama, tapi nyatanya masih bisa di malam ke dua.
o
o
B
E
R
S
A
M
B
U
N
G
o
o
Soal mantan, clear!!
Malam pertama, mission completed!!
Ini pasangan, ibarat … sekali dayung, dua/tiga pulau terlampaui.
x x x x
Okay … gimana? Kalian puas, kan??
*Smirk
Ahk~ gilaa!! Aku malu banget nulisnya .. bibir rasanya ikutan berkedut .. gara-gara adegan terakhir ..
Dan sebenarnya aku bingung mau nulis part ini.
Kejutan juga buat aku, karena ini diluar dari rencana .. baik itu tentang sang mantan .. juga kecepatan kedekatan hubungan Kanaya & Pak Adhi ..
Tapi tuh, part Kanaya/Adimas sebelumnya itu pas banget momennya ..
Hahaha .. tau dah 😂 😂 😂
0 0 0
Makasih udah baca dan dukungannya ^^
See you~