
Pak Adhi memarkirkan mobilnya di depan sebuah Cafe and Bakery, lalu dia mematikan mesin mobilnya. Namun seseorang yang duduk di sebelahnya masih bergeming, tak menunjukan pergerakan.
“Mbak Kanaya mau di mobil aja?” tanya Pak Adhi.
“Ini bukan rumah saya, katanya tadi Bapak mau nganter pulang,” sindir Kanaya yang masih belum hilang rasa betenya.
“Kan Mbak Kanaya udah janji mau ikut saya, kalo pulang –nanti bakal saya antar kok,” sahut Pak Adhi santai, tak terpengaruh dengan nada suara Kanaya.
Akhirnya Kanaya turun dari mobil.
“Gak dibawa Mbak, tas bekalnya? Kirain bakal dikekepin terus,” balas Pak Adhi terdengar bagai ledekan.
“Mobilnya gak bakal jalan sendiri kan, Pak?” sahut Kanaya tak mau kalah.
“Enggak, tenang aja ... rem mobil saya pakem,” jawab Pak Adhi.
“Ya udah, aman kalo gitu,” ujar Kanaya tak mau memperpanjang pembahasan. Pasalnya dia sudah capek dengan tingkah sang Dosen seharian ini yang ngeselin banget. Gak paham dah dia, apa motif Pak Adhi yang terus menggodanya dan bikin gara-gara.
Lalu mereka memasuki Cafe and Bakery tersebut dan menganteri di depan kasir untuk memesan menu.
“Mau minum apa?” tanya Pak Adhi.
Kanaya melihat ke arah papan menu yang tergantung dan membacanya satu persatu sembari melihat harganya –mungkin itu kebiasaan ya, karena semenjak ngerjain skripsi dia jadi kaum irit. Tapi Kanaya tidak memesan sebatas Es Teh kali ini, dia memilih harga standar. “Ice Chocoffee.”
“Cake, Roti, Biskuit atau lainnya?” tawar Pak Adhi.
Kanaya menggeleng. “Gak kepengen Pak, udah itu aja,” jawab Kanaya –merasa dia harus tau diri, karena bisa saja nanti dia disuruh bayar sendiri. Tapi masa iya Pak Adhi sekored itu? Seenggaknya dia gak aji mumpung, yang kalo ada gratisan langsung serbu.
“Ya udah, kamu cari tempat duduk,” titah Pak Adhi.
Kanaya berjalan menuju tempat duduk favoritnya –dipojok dekat jendela, tapi dia mikir lagi karena pergi dengan sang Dosen. Akhirnya dia berpindah beberapa meja ke depan.
Tak lama Pak Adhi datang membawa nampan yang berisi dua minuman dan cemilan, lalu beliau meletakannya di meja dan duduk. Pak Adhi menaruh Ice Chocoffee pesanan Kanaya. “Kamu mau yang mana Cake nya?” tawar Pak Adhi.
Kanaya melirik pada dua pisin, yang berisi Chocolate Cake dan yang satunya ... Kanaya tak yakin itu rasa apa, Caramel Cake?
“Yang ini aja, Pak,” pilih Kanaya pada Chocolate Cake.
Pak Adhi memberikan Chocolate Cake tersebut pada Kanaya, lalu beliau mengambil bagiannya dan memakannya sembari menyesap cangkir Kopi.
Sementara Kanaya belum menyentuh minuman maupun Cake nya, dia masih memperhatikan sang Dosen. Kanaya menunggu Pak Adhi mengatakan maksud dan tujuannya membawa dirinya pergi.
“Mbak Kanaya mau nyobain punya saya?” tanya Pak Adhi seraya mengangkat garpunya yang berisi sepotong Cake miliknya.
“Eh! Enggak Pak,” jawab Kanaya setengah berteriak karena kaget ditegur oleh sang Dosen.
“Abis ngeliatin saya mulu, saya kira Mbak Kanaya kepengen,” sahut Pak Adhi. “Beneran gak mau? Kalo mau pesen aja, dari pada ngiler ngeliatin saya,” godanya.
Ya ampun~ dikiranya dia celamitan kali ya? Punya dia aja belum dimakan, tapi penasaran sama punya orang.
“Eng.gak Pak,” tekan Kanaya. “Saya tuh nungguin Bapak ngomong,” ujar Kanaya.
“Oh~ itu mah nanti aja dulu, tenang aja Mbak Kanaya. Buru-buru amat,” jawab Pak Adhi. “Ayo, dimakan.”
Kanaya mengambil Ice Chocoffee dan menyedotnya, lalu memakan Cake nya hingga tanpa sadar sudah lenyap dari piringnya. Entah karena itu enak, atau dia lapar.
“Mau nambah, Mbak Kanaya?” tanya Pak Adhi.
Okay, jadi sekarang dia rakus gitu?
“Enggak Pak, cukup. Makasih,” jawab Kanaya seraya membereskan piring dan garpu bekasnya makan.
“Baik, bisa kita mulai sekarang pembicaraannya?” ucap Pak Adhi bernada serius.
Kanaya mengangguk singkat, namun rasanya dia seperti dibawa ke waktu pas Seminar Proposal Skripsi deh –mendadak hawanya mencekam. Mau ngomongin apa sih, Pak Adhi?
“Apa Mbak Kanaya sudah memikirkan dengan baik, ingin melanjutkan hubungan ini atau cukup sampai disini saja?” tanya Pak Adhi tanpa berbasa-basi.
Pak Adhi ini, nanya soal perasaan orang atau sidang terdakwa sih? Berasa terancam masa dia.
“Iya, sudah Pak,” jawab Kanaya.
“Terus apa keputusannya?”
“Masa saya yang harus jawab duluan,” protes Kanaya.
“Ya~ gak apa-apa, Ladies First,” jawab Pak Adhi.
‘Prett! Kentutlah,’ cibir Kanaya dalam hati.
“Ayo, Mbak Kanaya~ ini saya udah ngalah buat kasih kesempatan loh,” bujuk Pak Adhi.
“Bapak takut ya, kalo Bapak yang duluan jawab terus jawaban saya beda,” selidik Kanaya.
“Saya sih gak masalah, mungkin kamu yang sebenarnya gak siap denger jawaban saya dan bisa aja kamu berubah pikiran setelah itu,” balas Pak Adhi.
Kanaya menarik nafas. Kalau begini, bisa-bisa dia minggat nih –kesel! Kanaya meraih gelas Ice Chocoffee nya yang bahkan hanya tersisa cairan Es Batu dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya. “Saya terima,” jawab Kanaya singkat.
“Kamu yakin? Karena setelah ini kamu gak bisa mundur lagi,” ucap Pak Adhi memastikan. “Dan saya gak ada waktu untuk main-main sama perasaan,” imbuhnya.
“Iya!” jawab Kanaya kali ini lebih mantap. “Sekarang giliran Bapak yang jawab,” pinta Kanaya.
“Saya juga berpikir hal yang sama, saya mau serius untuk menjalin hubungan sama kamu,” jawab Pak Adhi lugas dan tegas, namun tetap lembut.
Entah kenapa saat itu Kanaya merasa, kalau waktu seperti berhenti berputar dan berpusat pada sang Dosen. Selain itu, dia merasakan getaran aneh. Kanaya tidak mengerti, dia seperti terhipnotis.
“Mbak Kanaya,” panggil Pak Adhi dan itu mungkin sudah kesekian kalinya.
“Ya?” sahut Kanaya yang belum pulih dari efek kejut yang baru saja menyerangnya.
“Sudah kan? Kalo gitu, sekarang kita pergi ke tempat selanjutnya,” ucap Pak Adhi yang sudah berdiri dari bangkunya.
“Kemana Pak?”
“Nanti kamu juga tau,” jawab Pak Adhi sembari tersenyum namun penuh kemisteriusan.
◦ ◦ ◦
Sekarang mereka sudah kembali berada di dalam mobil, bersiap untuk menuju tujuan selanjutnya yang masih dirahasiakan oleh sang Dosen. Dan Kanaya kembali memegang erat tas bekal titipan Ibunya, Pak Adhi hanya dapat geleng-geleng kepala melihatnya.
Namun sebelum sang Dosen menyalakan mesin mobilnya, dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan.
“Aku mau kasih kabar yang Ibu tunggu-tunggu,” jawab Pak Adhi setelah ada jeda beberapa saat sebelumnya. “Aku mau datang ke rumah, bawa calon mantu Ibu,” imbuhnya.
Doeng!
Mata Kanaya membulat, dia terkejut bukan main. Dosennya bilang apa tadi? Calon mantu? Gak salah denger nih dia? Siapa?
Kanaya menatap Pak Adhi, dilihatnya Dosennya itu tampak mengkerutkan kening.
“Bu?!” sentak Pak Adhi bicara di telepon sebelum beliau menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat layarnya. “Heh~ malah dimatiin,” dengusnya.
Kanaya masih memperhatikan Pak Adhi yang duduk di sebelahnya, ekspresinya kembali berubah saat ponselnya kembali berdering.
“Halo Bu! Kenapa dimatiin?” ucap Pak Adhi bicara pada layar ponselnya. “Ngapain ini Video calls?”
'Mana Nak Naya nya, Ibu mau ngomong langsung,' ucap Bu Ranti yang terdengar dari speaker ponsel Pak Adhi.
“Ini.” Pak Adhi memberikan ponselnya pada Kanaya.
“Halo, Assalamualaikum Bu Ranti. Apa kabar Bu?” sapa Kanaya.
‘Waalaikumsalam, Nak Naya. Alhamdulillah, Ibu baik. Kamu sendiri apa kabar? Udah lama gak ketemu, Ibu kangen,’ balas Ibu Ranti.
“Alhamdulillah Bu, saya juga baik,” jawab Kanaya singkat dan tampak canggung. Harus jawab apa coba dia, dikangenin sama Emaknya Dosen.
“Makasih ya Nak Naya, mau nerima anak Ibu yang kolot itu. Ibu seneng banget, akhirnya udah gak pusing mikirin jodoh-jodohin si Adhi lagi,” ujar Bu Ranti.
“I ... iya Bu,” jawab Kanaya masih memasang senyum kakunya.
‘Ibu gak nyangka, dia bakal setuju sama Nak Naya. Padahal dulu waktu disuruh cari perempuan di kampus, dia emoh –apalagi sama mahasiswi. Gak suka yang piyik katanya,’ cerita Bu Ranti.
“Bu! Yang itu gak usah diomongin,” protes Adhi di tempat duduknya, tapi tampaknya sang Ibu tak terusik sama sekali.
‘Eh ... taunya malah sama mahasiswi bimbingannya sendiri. Ya~ ampun. Hahahah...,’ ledek Bu Ranti girang.
Kanaya tak banyak berkomentar, hanya mendengarkan sembari mempertahankan untuk tak tertangkap senyumannya.
Tak tahan dengan ocehan Ibunya sendiri, Adhi meminta Kanaya untuk mengembalikan ponselnya. “Mbak Kanaya, coba pinjam HP nya –saya mau ngomong sama Ibu saya,” pinta Pak Adhi.
Meskipun Kanaya bingung harus menjawab apa omongan Ibu Ranti, tapi dia senang saja –karena bisa lihat ekspresi tak berdaya sang Dosen.
“Bu, ngomongnya nanti dilanjut lagi di rumah ya. Aku mau nyetir,” ujar Adhi.
‘Ya~ kamu kalo mau nyetir ... ya, nyetir aja. Toh Ibu ngomong sama Nak Naya, bukan kamu,’ balas Ibu Ranti judes pada sang putra.
“Orang nyetirkan butuh konsentrasi, tapi Ibu ngomong sama Mbak Kanaya –yang diominginnya aku,” jawab Adhi.
“Ini.” Pak Adhi memberikan ponselnya kembali pada Kanaya. “Mbak Kanaya, nanti kalo Ibu saya kebanyakan ngomong lagi –langsung matiin aja,” ujarnya pelan.
‘Ibu denger, Dhi!! Dasar gak sopan,” teriak Ibu Ranti.
“Maaf,” jawab Pak Adhi singkat.
'Nak Naya, Ibu tunggu di rumah ya,' ucap Bu Ranti dan suaranya berubah lembut.
“Iya, Bu,” jawab Kanaya.
‘Dhi!’ panggil Bu Ranti pada putranya –sementara ponselnya masih dipegang oleh Kanaya.
“Ya, kenapa?” tanya Adhi.
'Nyetirnya hati-hati, calon mantu Ibu jangan sampe lecet,' ujar Bu Ranti.
Pak Adhi mengambil ponselnya kembali dari Kanaya. “Waalaikumsalam Bu, sampe jumpa di rumah ya,” ucapnya dengan tersenyum dan mengakhiri panggilan video calls nya.
Kanaya menatap sang Dosen. “Itu gak apa-apa, Pak? Langsung dimatiin,” tanyanya sedikit khawatir.
“Gak masalah, kalo gak gitu –nanti kita bisa parkir seharian di sini,” jawab Pak Adhi. Lalu setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya dan menyetir menuju rumah orang tuanya.
◦
◦
Sedikit memakan waktu untuk sampai di kediaman Keluarga Darmawan dari lokasi mereka sebelumnya, sekitar lebih dari tiga puluh menit.
Tin ... Tin ...
Adhi menekan klakson mobilnya saat mereka sampai di depan gerbang rumah keluarganya yang terbuka, tampaknya keluarganya sudah mempersiapkan diri untuk kedatangan mereka.
“Ayo turun, Mbak Kanaya,” ajak Pak Adhi. “Gak usah tegang, tenang aja ... saya cuman mau kenalin kamu ke keluarga saya. Mereka juga udah tau kamu kok, dari cerita Ibu sama Bapak saya,” ujar Pak Adhi.
Kanaya hanya mengangguk singkat.
“Assalamualaikum,” ucap Pak Adhi dan Kanaya saat mereka masuk ke rumah.
“Waalaikumsalam!” jawab Ibu Ranti dengan semangat, lalu disusul sang suami dan seorang pria muda di belakangnya.
“Akhirnya yang ditunggu-tunggu dateng juga,” sambut Bu Ranti dan memeluk Kanaya.
Kanaya dan Pak Adhi menyalimi punggung tangan Ibu Ranti dan Pak Efendi.
“Ini Adik bungsu saya, Narendra. Dia kuliah masih semester awal, cuman di kampus lain,” ucap Pak Adhi memperkenalkan saudara kandungnya. “Terus ada satu lagi adik perempuan saya yang ke dua, Diandra. Kemana Bu, si Dian?”
“Ya, kalo gak keliatan –berarti belom dateng,” balas Bu Ranti.
Adhi cukup mengangguk singkat, mengiyakan perkataan sang Ibu yang tak terbantahkan.
“Kanaya,” ucapnya seraya menjabat tangan Narendra.
“Panggil aja Rendra, Mbak calon ipar,” jawab Rendra bergurau dan membalas jabat tangannya.
“Udah, jangan kelamaan pegangin tangan calon Mas mu. Orangnya ngeliatin tuh, sampe matanya mau keluar laser,” ledek Ibu Ranti dan memisahkan tangan Rendra dari Kanaya.
“Lah? Mana ada, Ibu ngarang aja,” protes Adhi.
“Udah, ayo masuk Nak Naya. Ibu udah siapin kudapan,” ajak Ibu Ranti sembari merangkul Kanaya –mengabaikan protes Adhi.
“Oh iya Bu, ini ada titipan dari Ibu saya,” beritahu Kanaya sembari menunjukan tas bekalnya.
“Ya ampun~ repot-repot Ibu kamu masak. Padahal tadi Ibu mau ngajak kamu masak bareng,” ujar Bu Ranti dan menerima dengan senang bawaan Kanaya.
Plok!
Ibu Ranti menepuk lengan sang Putra sulung tiba-tiba, sampai sang empu kaget dan bingung entah telah berbuat salah apa dia.
“Kamu nih, Dhi! Dasar gak peka, masa Nak Naya yang bawa sih.”
“Ya ~ abis gimana, Bu? Dari tadi juga dikekepin terus sama dia, gak mau dilepas,” dalih Adhi.
“Ini, masak apa Ibu kamu? Baunya enak banget?” tanya Ibu Ranti pada Kanaya dan kembali mengabaikan sang putra sulung.
“Kurang tau, Bu,” jawab Kanaya.
“Ya udah, kita buka aja yuk,” ajak Bu Ranti dan pergi ke dapur bersama Kanaya.
Adhi menghela nafas, memperhatikan dari belakang sang Ibu yang tampak memonopoli mahasiswinya.
“Dhi! Telepon lagi Diandra sana~ suruh buruan datengnya,” titah sang Ibu yang bagai mengusir dirinya –tak ingin kebersamaan dengan calon mantunya diganggu.
Adhi tak jadi mengikuti dua wanita itu ke dapur, sebaliknya dia berbalik arah menghampiri Ayah dan Adik bungsunya. Namun dia masih bisa mendengar ucapan heboh sang Ibu dari dapur dan juga aroma enak, jadi dia memutuskan kembali ke dapur untuk melihat sebentar.
“MasyaAllah, banyak sekali lauknya ini,” ucap Bu Ranti setelah membuka wadah Tamparware nya. Lalu beliau mendekatkan hidungnya untuk membau aroma makanan tersebut. “Oh ... ini Gulai Daging, Kari Ikan, Tumisan sama Ikan Balado.”
“Aku mau coba dong, Bu,” ucap Adhi yang tiba-tiba muncul di samping sang Ibu.
“Astagfirullah!” sebut Bu Ranti yang terkejut sembari memegangi dadanya. Lalu beliau memukul punggung putranya. Namun Adhi tak gentar, dia tetap mengulurkan jari telunjuknya untuk mencolek salah satu makanan. “Pake sendok, jorok!” omel Bu Ranti dan menepak punggung tangan Adhi.
Adhi keluar dari barisan untuk mengambil peralatan makannya. Sementara itu, anggota lainnya mulai berdatangan.
“Kenapa ribut-ribut, Bu?” tanya Pak Efendi pada sang Istri.
“Ih ... bau apaan nih? Enak banget, jadi laper,” komentar Rendra dan mendekat di meja makan.
“Masakan calon besan,” jawab Ibu Ranti.
Nyatanya hal serupa terjadi kembali, Rendra juga tak dapat mengontrol jari telunjuknya untuk menjajal makanan yang dibawa Kanaya.
“Abang sama Adek, sama aja. Hayo~ siapa yang mau colek-colek lagi, Ibu kasih sabun krim nanti,” omel Ibu Ranti. “Ambil wadah sana!” titah Bu Ranti.
Adhi kembali dengan pisin, sementara Rendra plus nasi.
“Makannya nanti, bareng-bareng!” omel Ibu Ranti. “Mana, Diandra kapan dateng?” tanya Bu Ranti.
Adhi menaruh pisin dan pergi keluar sembari mengeluarkan ponselnya.
◦ ◦ ◦
Setelah semua keluarga Pak Adhi datang, suasana rumahnya semakin ramai –terutama dengan ikutnya dua anak laki-laki dari Diandra yang masih di usia sekolah dasar dan balita. Mbak Diandra, usia lebih tua beberapa tahun dari Bang Dhika. Dia cukup supel, tak kalah dengan anggota keluarga lainnya.
Kanaya sendiri sudah dapat beradaptasi dengan baik, dia merasa diterima dan nyaman dengan keluarga tersebut. Karena sangking asiknya pembicaraan mereka yang hampir tak ada ujungnya, waktu tak disadari sudah beranjak petang hingga Kanaya harus pamit untuk pulang.
“Semoga nanti keluarga kita juga bisa saling ketemu ya, Nak Naya,” ucap Ibu Ranti. “Titip salam sama orang tua kamu, tolong tentuin tanggal temunya.”
“Iya Bu, pasti saya sampein. Terima kasih juga, saya udah diterima dengan baik disini,” ujar Kanaya.
“Sama-sama Nak, kita juga seneng banget kamu bisa dateng,” balas Ibu Ranti.
“Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum.” Kanaya mencium tangan Pak Efendi, Ibu Ranti termasuk Mbak Diandra. Namun sebelum itu, Diandra lebih dulu menarik tubuh Kanaya dan ganti melakukan cipika-cipiki.
“Waalaikumsalam.”
“Dhi, nyetirnya yang bener dan antar Nak Naya sampe masuk rumah dengan aman,” ucap Bu Ranti.
“Iya Bu,” jawab Adhi. “Ayo, Mbak Kanaya,” ajak Pak Adhi.
Kanaya mengangguk dan mengikuti sang Dosen.
•
T
B
C
•
Udah ngaku tuh Kanaya sama Pak Adhi ...
Eee~ Cie, ada yang bentar lagi ngelepas masa bujang. *colek Pak Adhi
Mbak Kanaya, sehat? Gimana rasanya dapet pengakuan dari Dosen sendiri?
×××
Eits ... tunggu dulu, ada bonus -besok ku update lagi.
>>>
Makasih udah baca dan dukungannya ..
See you~