Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer

Suddenly, I Became A Wife Of Lecturer
[Part 12.2 - Jalan]



Sebelum masuk ke ruang teater, Kanaya dan Dimas membeli Popcorn dan minum dulu. Kali ini Kanaya yang bayar, karena Dimas yang sudah bayar tiket nontonnya, belum lagi tadi pas makan siang Kanaya yang makan paling banyak atau bisa di bilang dia yang ngabisin.


"2 gelas Softdrink ukuran medium dan 1 Popcorn rasa Caramel ukuran large," ujar Kanaya memesan.


Sebenarnya dia sempat galau tadi, gara-gara saran si Adel. Ngaco emang dasar tuh anak. Ya kali, Kanaya pesan 1 gelas minuman doang -bisa disangka pelit dia.


"Ini pesannya, Mbak. 2 gelas Softdrink ukuran medium dan 1 Popcorn rasa Caramel ukuran large, ya?" ujar si Abang penjual.


"Iya, terimakasih," ucap Kanaya dan menerima makanan dan minumannya itu.


"Sini, minumannya biar aku yang bawa," ucap Dimas.


Kanaya iya aja, dan mereka masuk ke ruang teater.


•••


Waktu satu jam berlalu begitu saja dengan gelak tawa yang mengisi seisi ruang bioskop dan di akhir film rasanya Kanaya mulai merasakan efek karena dia terlalu banyak tertawa -perutnya kram di tambah efek datang bulannya.


Tetapi Kanaya cukup puas, jika memikirkan dia yang sebelumnya merasa kecewa dengan genre film pilihan Dimas itu. Ternyata sekarang suasana hatinya malah bagus, otaknya juga kayak udah gak mumet lagi.


Dan yang paling penting, seenggaknya dia dapet momen romantis yang Adel bilang - mgak sengaja sentuhan tangan pas lagi ngambil popcorn.


Rasanya Kanaya gak mau cuci tangan deh.


Oke, stop bucin nya. Fokus!


"Mau kemana lagi abis ini, Nay?" tanya Dimas.


"Eh? Gak tau gue, Dim -kan lo yang ngajak. Gue mah ikut lo aja," jawab Kanaya.


Adimas tampak berpikir. "Lo mau cari buku, kan? Ke Gr*med dulu aja gimana? Sebelum makan malam."


"Udah makan malam aja, Dim. Ini aja gue masih kenyang, begah malah," sahut Kanaya.


Adimas tersenyum hingga matanya menyipit.


"Oh iya, lo hampir gak makan pas siang tadi. Maaf ya," sesal Kanaya.


"Slow. Btw, nyari buku tentang apa?"


"Tentang Supervisi akademik," jawab Kanaya terkait judul skripsinya.


"Ngambil tema pendidikan?" tanya Adimas.


"Iya, biar gampang cari tempat penelitiannya."


"Dimana? Jangan bilang, di sekolah lama kita?" tebak Adimas.


"Betul!! Di SMA Pertiwi tercinta," sahut Kanaya semangat.


"Cinta benget lo kayaknya sama Pertiwi, udah PPL di sana ... sekarang juga penelitian," ledek Dimas.


"Gak juga sih. Hahah ... Lo sendiri di mana?"


"Ngambil tema umum aja," jawab Dimas.


Ya, kampus mereka itu memang Universitas Keguruan -yang nanti lulusannya akan menjadi cikal bakal guru tentunya. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa juga non-kepedidikan. Soalnya ada juga fakultas dan mata kuliah umum sebagai pilihan.


Asli dah, Dimas agresif banget hari ini.



°



Menjelang magrib, mereka pindah lokasi untuk makan malam. Kata Adimas, dia mau makan di luar Mall -tempatnya itu restoran terapung.


Kanaya sudah membayangkan saja, karena Dimas bilang bisa sekalian liat sunset. Ugh! Romantis.


Namun sayangnya, saat mereka keluar dari gedung Mall ... hujan.


Bahu Kanaya langsung merosot.


"Yah~ Nay, maaf," sesal Adimas yang juga turut kecewa.


"Gak apa-apa kok, Dim. Belum waktunya kali," sahut Kanaya menyembunyikan dirinya yang juga kecewa. "Makan mah, kan bisa di mana aja. Yang penting halal dan perut kenyang," sambung Kanaya menyemangati Adimas. "Ayo, cari tempat makan." Kali ini Kanaya yang gantian menarik Adimas.


"Maaf ya, Nay," ucap Adimas lagi.


"Udah sih, Dim. It's not a big deal. Segini aja, gue udah seneng kok. Bisa jalan -ngebebasin pikiran. Makasih Dimas," ujar Kanaya tulus.


Adimas tersenyum seakan memancarkan sinar di matanya. "If that's so, I'm the happiest person right now. And I thank to you,"


Tatapan Kanaya terpaku karena ucapan Adimas, seiring dengan degup jantungnya yang berdetak kencang dan rona merah yang hampir mewarnai seluruh wajahnya.


Kanaya memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan raut malunya, dan karena itu genggaman tangan pada Adimas juga terlepas. Namun Adimas segera menggenggam tangan Kanaya kembali.


"Sekarang gue yang pilih makanannya, bolehkan?" tanya Dimas.


Kanaya mengangguk dengan kepala tertunduk. Dia tidak yakin bisa menghadapi Dimas dengan normal setelah ini. God, please save my heart.




T


B


C




Kira-kira kesampean gak ya, si Adel yang kepengen di traktir P.J


°°°°


Let's see on Monday at campus ^^